23 Juni 2026
Rumus Dasar MPASI Cegah Stunting berdasarkan Rekomendasi IDAI & WHO
Ditulis oleh

Dhia Priyanka
Topik: MPASI Adekuat, Stunting
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Susanti Himawan, Sp. A.
MPASI untuk mencegah stunting bukan sekadar soal memberi makan bayi, ini adalah intervensi gizi kritis yang menentukan pertumbuhan anak seumur hidup. Penelitian di berbagai negara berkembang menemukan bahwa weight faltering (awal dari proses stunting) paling sering terjadi mulai usia 3 bulan dan 18–24 bulan, periode yang bertepatan dengan transisi ASI eksklusif ke MPASI.
WHO menegaskan bahwa malnutrisi dapat dicegah dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), dari kehamilan hingga anak usia 2 tahun. Kemenkes RI (2023) mencatat prevalensi stunting Indonesia masih 21,6%, masih di atas ambang batas WHO sebesar 20%. MPASI yang adekuat adalah salah satu intervensi paling efektif dalam menurunkan angka ini. Artikel ini merangkum rumus dasar MPASI adekuat berdasarkan rekomendasi IDAI dari Dr. dr. Meta Herdiana Hanindita, Sp.A(K).
Apa Itu Stunting dan Kapan Risikonya Tertinggi?
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis yang ditandai dengan tinggi badan di bawah -2 SD dari standar WHO. Stunting bukan hanya soal tinggi badan, ia berdampak pada perkembangan otak, kecerdasan, dan produktivitas anak hingga dewasa.
1.000 Hari Pertama Kehidupan: Fondasi Mencegah Stunting
WHO menyatakan bahwa malnutrisi dapat dicegah dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Perjalanan 1.000 HPK mencakup:
Syarat MPASI yang Adekuat Menurut WHO dan IDAI
Tidak semua MPASI sama. IDAI dan WHO menetapkan 5 syarat MPASI adekuat yang harus dipenuhi sekaligus untuk mencegah stunting:
Rumus Dasar MPASI Adekuat: Proporsi Makronutrien
Dr. dr. Meta Herdiana Hanindita, Sp.A(K) dalam Instagram Live PrimaKu & IDAI (Hari Gizi Nasional 2023) memaparkan rumus dasar proporsi kalori MPASI yang harus dipenuhi untuk mencegah stunting. Rumus ini berlaku dari total kebutuhan kalori harian bayi:
■ Sayur dan buah hanya sebagai pengenalan, berikan dalam jumlah kecil di awal MPASI. Jangan mendominasi porsi karena dapat menggantikan kalori dari protein dan karbohidrat yang lebih dibutuhkan bayi.
Mengapa Protein Hewani (Prohe) Jadi Prioritas Utama?
Dari seluruh komponen MPASI, protein hewani mendapat penekanan paling kuat dalam rekomendasi IDAI dan WHO untuk pencegahan stunting. Ini alasannya:
■ Prinsip IDAI: Berikan protein hewani di setiap kali makan MPASI, bukan hanya sesekali. Tahu dan tempe tetap baik sebagai pelengkap protein nabati, tetapi protein hewani harus menjadi sumber protein utama.
Panduan MPASI Praktis berdasarkan Usia Bayi
Berikut panduan kuantitas dan tekstur MPASI per tahap usia berdasarkan rekomendasi IDAI (2023) dan WHO:
Contoh Menu MPASI Bergizi Sesuai Rumus IDAI
Berikut contoh menu MPASI yang memenuhi rumus makronutrien dan mengutamakan protein hewani:
■ MPASI Usia 6–8 Bulan
■ MPASI Usia 8–12 Bulan
■ MPASI Usia 12–24 Bulan
Responsive Feeding: Cara Pemberian MPASI yang Tepat
MPASI yang bergizi secara nutrisi belum lengkap jika cara pemberiannya salah. IDAI menekankan pentingnya responsive feeding, merespons sinyal lapar dan kenyang bayi, bukan memaksa makan:
FAQ: Pertanyaan Umum Orang Tua tentang MPASI dan Stunting
Q: Kapan MPASI boleh dimulai sebelum usia 6 bulan?
A: IDAI dan WHO merekomendasikan MPASI dimulai tepat usia 6 bulan. Namun dalam kondisi tertentu, misalnya bayi tidak tumbuh optimal dengan ASI saja, atau ada indikasi medis yang dievaluasi dokter, MPASI bisa dipertimbangkan setelah usia 4 bulan dengan pengawasan ketat. Keputusan ini harus berdasarkan evaluasi dokter anak, bukan inisiatif sendiri.
Q: Apakah tahu dan tempe bisa menggantikan protein hewani untuk cegah stunting?
A: Tidak sepenuhnya. Tahu dan tempe adalah sumber protein nabati yang baik, tetapi tidak bisa menggantikan peran protein hewani. Protein hewani memiliki asam amino esensial lebih lengkap dan bioavailabilitas lebih tinggi, serta mengandung zat besi heme yang jauh lebih mudah diserap. IDAI merekomendasikan protein hewani sebagai prioritas utama, dengan tahu/tempe sebagai pelengkap.
Q: Apakah bayi yang MPASI-nya sudah baik tapi tetap pendek bisa stunting?
A: Ya, bisa. Stunting dipengaruhi banyak faktor, termasuk infeksi berulang, sanitasi, gizi ibu saat hamil, dan faktor genetik. Namun MPASI adekuat signifikan menurunkan risikonya. Jika anak tampak pendek meski MPASI baik, konsultasikan ke dokter untuk evaluasi kurva pertumbuhan dan kemungkinan penyebab lainnya.
Q: Berapa banyak protein hewani yang dibutuhkan bayi per hari?
A: Kebutuhan bervariasi per usia. Secara praktis, IDAI merekomendasikan protein hewani hadir di setiap kali makan utama (bukan hanya sekali sehari). Untuk bayi 6–8 bulan: mulai 1–2 sdm ikan/ayam halus per sajian. Usia 8–12 bulan: 2–3 sdm. Usia 12–24 bulan: porsi setara 1/4 paha ayam atau 1 butir telur per makan.
Q: Apakah MPASI boleh diberi gula dan garam?
A: Untuk bayi di bawah 1 tahun, IDAI dan WHO merekomendasikan tidak menambahkan gula dan garam pada MPASI. Ginjal bayi belum matang untuk memproses natrium berlebih, dan kebiasaan rasa asin/manis dini membentuk preferensi yang berisiko di kemudian hari. Setelah usia 1 tahun, boleh ditambahkan dalam jumlah sangat terbatas.
Q: Apa perbedaan stunting dan underweight pada anak?
A: Stunting adalah tinggi badan di bawah -2 SD dari standar WHO, mencerminkan kekurangan gizi kronis jangka panjang. Underweight adalah berat badan di bawah -2 SD, bisa terjadi akut maupun kronis. Anak bisa stunting tapi berat badannya normal (stunting tanpa underweight), atau sebaliknya. Keduanya perlu penanganan berbeda, konsultasikan ke dokter anak.
“Prioritaskan protein hewani di setiap kali makan MPASI. Ini bukan sekadar saran — ini adalah kunci mencegah stunting.”
Referensi:
1. Instagram Live PrimaKu & IDAI, Hari Gizi Nasional 2023: "Cegah Stunting dengan Protein Hewani". Narasumber: Dr. dr. Meta Herdiana Hanindita, Sp.A(K). Moderator: dr. Lucyana Alim Santoso, Sp.A.
2. World Health Organization. Infant and Young Child Feeding (IYCF) Guidelines. WHO; 2023.
3. World Health Organization. Malnutrition Fact Sheet. WHO; 2024.
4. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Panduan Pemberian Makan Bayi dan Anak. IDAI; 2023.
5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022. Kemenkes RI; 2023.
6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan Stunting. Kemenkes RI; 2023.
7. Victora CG, et al. Worldwide Timing of Growth Faltering: Revisiting Implications for Interventions. Pediatrics. 2010;125(3):e473–e480.
8. Black RE, et al. Maternal and Child Undernutrition and Overweight in Low-Income and Middle-Income Countries. Lancet. 2013;382(9890):427–451.
Artikel ini bersifat informatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter spesialis anak atau ahli gizi klinik. Setiap keputusan pemberian MPASI perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan spesifik anak Anda.




