primaku
Mitra resmi kami:
idaikemenkes
Unduh PrimaKu di:
playstoreappstore

Benarkah minum es dapat menyebabkan Flu?

Author:

Topik: Pra-sekolah, Sekolah

Benarkah minum es dapat menyebabkan Flu?

 

Darmawan B Setyanto

 

Pertanyaan di atas kerap diajukan oleh orang tua pasien. Bahkan banyak anggota masyarakat yang memercayainya. Benarkah itu? Sebelum menjawab pertanyaan itu perlu diluruskan kekeliruan yang ada dalam pertanyaan tersebut. Istilah Flu dalam penggunaan sehari-hari dan dalam berbagai iklan obat di media massa sering dipahami secara keliru. Flu adalah kependekan dari Influenza, yaitu nama dari salah satu virus yang sering menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Infeksi adalah serangan (invasi) kuman dari luar ke dalam bagian tubuh. Huruf A dalam ISPA juga sering keliru dikira ‘atas’. Kata ‘akut’ sendiri juga sering keliru dikira ‘berat, parah’, padahal akut artinya ‘baru’, lawan dari kata ‘kronik’ yang artinya lama atau menahun. Semoga tidak jadi bingung dengan pelurusan kekeliruan pemahaman berbagai kata terkait tadi.

 

Dalam keseharian, kita biasa mengalami gejala ISPA berupa demam, batuk dan pilek. Saking biasanya kejadian itu, maka orang Barat menyebut sebagai common cold. Nenek moyang kita juga sudah mempunyai kosa kata khusus untuk penyakit tersebut yaitu selesma, suatu kata yang hampir terlupakan. Istilah medisnya rinofaringitis atau nasofaringitis. Selesma atau common cold ini yang sering keliru disebut ‘flu’. Keliru karena virus flu memang dapat menyebabkan selesma, namun  ada lebih daripada 100 jenis virus berbeda yang juga dapat menyebabkan selesma. Jadi virus penyebab selesma banyak sekali, bukan hanya virus flu. Penyebutan flu untuk selesma sama kelirunya seperti ketika menyebut semua sepeda motor dengan salah satu merk saja. Selain dikelirukan sebagai nama penyakit, kata flu juga sering dikelirukan dengan salah satu nama gejala yaitu gejala pilek.

 

Selesma sangat mudah menular dari satu orang ke orang lain yang kontak erat. Misalnya keluarga dalam satu rumah, bila salah satu anggota mengalami selesma akibat tertular dari orang lain di lingkungan kerja, sekolah, atau tempat bermain, maka sebagian besar warga rumah dapat tertular. Selesma sangat mudah menular karena virus penyebabnya menyebar ke udara saat seorang pasien selesma batuk atau bersin. Virus yang menyebar ke udara sekitar kemudian terhirup oleh orang lain yang berdekatan. Atau percik renik batuk pilek pasien selesma mengotori permukaan benda yang berada di dekatnya. Bila kemudian orang lain memegang permukaan yang tercemari tadi dan kemudian mengusap mulut atau hidungnya, maka virus dapat masuk ke saluran napas, dan terjadi selesma. Itu sebabnya sangat penting untuk menerapkan etika batuk-bersin, yaitu dengan menutupi hidung mulut saat batuk bersin. Tutupi hidung mulut dengan tisu yang kemudian kita buang segera ke tempat sampah, atau tutupi dengan lengan kita. Jangan menggunakan telapak tangan untuk menutupi hidung mulut saat batuk bersin, karena dapat mengotori benda yang kemudian kita pegang atau tangan orang lain jika kita bersalaman.

 

Setiap saat saluran napas kita menghadapi ancaman dan serangan berbagai hal yang berpotensi membahayakan dan merusak. Tuhan membekali kita dengan mekanisme pertahanan saluran napas, sehingga sebagian besar ancaman tadi dapat diatasi. Mekanisme ini antara lain produksi lendir saluran napas yang dapat memerangkap benda asing yang masuk. Lendir ini kemudian akan disapu oleh bulu getar dari suatu sistem berjalan yang disebut bersihan mukosilier, ke arah tenggorokan. Hasil sapuan lendir ini dalam jumlah sedikit secara tidak sadar akan kita telan dan dibuang lewat saluran cerna, bercampur dengan kotoran. Bila jumlah lendir yang terkumpul cukup banyak, akan mengaktivasi mekanisme lain yaitu batuk. Batuk ini yang akan mendorong keluar lendir dari saluran napas kita. Jadi sebenarnya batuk ini sangat diperlukan untuk menjaga saluran napas kita dari lendir yang berlebih atau benda asing yang masuk. Selain bersihan mekanis tadi saluran napas kita juga dijaga oleh sistem imunitas tubuh dalam bentuk organ limfoid (amandel, adenoid) yang berada di gerbang masuk bersama saluran napas dan saluran cerna. Organ imunitas ini terus mendapatkan pasokan sel kekebalan dan nutrisi melalui pembuluh darah.

 

Saat kita minum es atau minuman dingin, maka suhu dingin dari es akan berdampak terhadap mekanisme pertahanan saluran napas melalui dua hal. Pertama, suhu dingin akan mengurangi kemampuan menyapu bersihan mukosilier, karena gerakan silia (bulu getar) akan terganggu. Kedua, suhu dingin akan menyebabkan pembuluh darah mengerut yang disebut vasokonstriksi. Akibatnya aliran darah menjadi berkurang, pasokan untuk sistem imunitas juga berkurang. Dalam keadaan demikian, mekanisme pertahanan saluran napas akan mengalami pelemahan dan lebih rentan terhadap serangan kuman dari luar. Pada orang dewasa gangguan ini kurang bermakna dampaknya, namun pada anak dampaknya lebih besar. Dengan demikian minum es atau makanan dingin memang dapat meningkatkan risiko terjadinya selesma. Hal ini juga yang dapat menjelaskan mengapa di musim dingin terjadi peningkatan angka kejadian selesma.

 

Sudah tentu tidak otomatis jika minum es akan mengalami selesma. Penyakit terjadi akibat kombinasi antara tiga hal, yaitu keadaan pejamu (host), lingkungan, dan agen atau kumannya. Suhu dingin akan menurunkan daya tahan pejamu. Jumlah dan tingkat keganasan (virulensi) kuman juga berperan terhadap terjadinya selesma. Lingkungan yang tidak sehat, misalnya adanya pajanan dengan asap rokok juga meningkatkan risiko terjadinya selesma. Optimalisasi sistem pertahanan tubuh sangat perlu di samping menjaga lingkungan yang sehat. Peningkatan imunitas spesifik dapat dilakukan dengan imunisasi. Dari ratusan jenis virus penyebab selesma, yang sudah ada vaksinnya adalah virus flu. Dengan demikian seseorang yang sudah menjalani imunisasi flu, masih dapat mengalami selesma akibat virus yang lain.

 

 

 

Jakarta, Januari 2017.

 

Materi awam Komite Laman IDAI

familyfamily
Baca artikel tumbuh kembang anak di PrimaKu!
Unduh sekarang
playstoreappstore
Rekomendasi Artikel
Lihat semua
cover
Mitos dan Fakta Seputar Anak Bilingual, Benarkah Akan Telat ...
6 Jan 2022
cover
Picky Eater, Bikin BB Anak Susah Naik, Benarkah?
15 Jun 2022
cover
Mengenal Tongue Tie, Benarkah Bikin Bayi Sulit Menyusu?
3 Agu 2022
cover
Benarkah Mencukur Rambut Bayi Bisa Bikin Tumbuhnya Lebat?
18 Agu 2022
cover
Benarkah Bedak Tabur Tak Aman untuk Bayi?
7 Okt 2022
cover
Benarkah Obat Cacing Bisa Membuat Anak Gemuk?
7 Nov 2022
cover
Benarkah BPA dapat Menyebabkan Kanker? Ini Faktanya!
8 Nov 2022
cover
Bayi Mandi Malam bikin Tidurnya Nyenyak, Benarkah?
15 Nov 2022
cover
Posisi ‘W Sitting’ Pengaruhi Perkembangan Anak, Benarkah?
29 Nov 2022
cover
Pemberian MSG pada Anak, Benarkah Berbahaya?
10 Jan 2023
cover
Pijat Hidung Bayi Bisa bikin Mancung, Benarkah?
15 Feb 2023
cover
Metode BLW dapat Sebabkan Stunting, Benarkah?
17 Feb 2023
cover
Minum Banyak Air Putih Bisa Perbanyak ASI, Benarkah?
1 Mar 2023
cover
Anak Speech Delay Mirip dengan Autisme, Benarkah?
21 Mar 2023
cover
Minyak Telon Bisa Merusak Skin Barrier, Benarkah?
27 Mar 2023
cover
Produksi ASI Berkurang jika Busui Puasa, Benarkah?
31 Mar 2023
cover
Metode Kelahiran Pengaruhi Imunitas Anak, Benarkah?
15 Mei 2023
cover
Rotavirus: Benarkah Menular & Sebabkan Kematian pada Anak?
24 Jul 2023
cover
Benarkah Vitamin Bisa bikin Anak Lancar Bicara?
21 Agu 2023
cover
Benarkah Fresh Milk Bisa Tingkatkan Energi & Kebugaran Tubuh...
8 Nov 2023
cover
Benarkah Kurang Tidur Memengaruhi Tumbuh Kembang & Kecerdasa...
24 Nov 2023
cover
Benarkah Anak Rentan Alami Stunting & Wasting di Periode MPA...
8 Des 2023
primaku
Aplikasi tumbuh kembang anak Indonesia. Didukung penuh oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)
Mitra resmi kami:
idaikemenkes
Unduh PrimaKu
playstoreappstore
© 2023 All rights reserved PRIMAKU, Indonesia
Cari kami di: