8 Mei 2026
Bisakah Anak Terinfeksi HFMD Berulang?
Ditulis oleh

Dhia Priyanka
Topik: HFMD, Hand, Foot, and Mouth Disease, Flu Singapura
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Lucyana Alim Santoso, Sp.A.
Kasus HFMD di Indonesia kembali meningkat dalam beberapa waktu terakhir, terutama pada bayi dan anak usia di bawah 5 tahun. HFMD atau hand, foot, and mouth disease yang sering disebut “flu Singapura” merupakan infeksi virus yang sangat mudah menular melalui percikan air liur, kontak dengan cairan lepuhan, hingga permukaan yang terkontaminasi virus.
Banyak orang tua mengira bahwa setelah anak pernah terkena HFMD, tubuhnya akan kebal sepenuhnya dan tidak akan tertular lagi. Padahal pada kenyataannya, anak yang sudah pernah mengalami HFMD tetap bisa terinfeksi kembali. Kondisi ini sering membuat orang tua bingung, apalagi saat kasus HFMD di Indonesia sedang meningkat dan penularannya terjadi sangat cepat di daycare, sekolah, atau playground.
Lalu, sebenarnya kenapa anak bisa terkena HFMD berulang? Apakah infeksi kedua akan lebih ringan atau justru lebih berat?
Apa Itu HFMD?
HFMD adalah penyakit infeksi akibat kelompok virus enterovirus, terutama Coxsackievirus A16 dan Enterovirus 71 (EV71). Penyakit ini paling sering menyerang anak usia di bawah 5 tahun, meskipun orang dewasa juga tetap bisa tertular.
Pada beberapa kasus, ruam juga dapat muncul di bokong, lutut, atau siku. Sebagian besar kasus HFMD dapat sembuh sendiri dalam 7–10 hari, tetapi beberapa jenis virus seperti EV71 dapat menyebabkan komplikasi serius pada otak, saraf, hingga jantung. Karena itu, peningkatan kasus HFMD di Indonesia perlu tetap diwaspadai.
Apakah Anak Bisa Terkena HFMD Lagi?
Ya, anak yang sudah pernah terkena HFMD tetap bisa tertular kembali.
Hal ini terjadi karena HFMD tidak disebabkan oleh satu jenis virus saja. Setelah sembuh, tubuh memang akan membentuk kekebalan terhadap jenis virus yang sebelumnya menginfeksi. Namun, kekebalan tersebut tidak selalu melindungi anak dari jenis enterovirus lainnya.
Sebagai contoh, jika sebelumnya anak terkena HFMD akibat Coxsackievirus A16, maka di kemudian hari ia masih bisa tertular HFMD akibat Enterovirus 71 atau jenis enterovirus lainnya.
Apakah HFMD Kedua Bisa Lebih Berat?
Tingkat keparahan HFMD dapat berbeda pada setiap infeksi. Sebagian anak mengalami gejala yang lebih ringan saat terkena kembali, tetapi ada juga yang mengalami keluhan lebih berat tergantung jenis virus penyebab dan kondisi daya tahan tubuh anak.
Jenis Enterovirus 71 (EV71) diketahui lebih berisiko menyebabkan komplikasi dibanding beberapa virus penyebab HFMD lainnya. Komplikasi yang perlu diwaspadai meliputi:
- Dehidrasi berat akibat anak sulit makan dan minum
- Infeksi pada otak (ensefalitis)
- Peradangan selaput otak (meningitis)
- Gangguan saraf
- Gangguan jantung dan paru pada kasus berat
Oleh karena itu, MomDad tetap perlu memantau kondisi anak meski sebelumnya sudah pernah terkena HFMD.
Berapa Lama Virus HFMD Bisa Menular?
HFMD sangat mudah menular, bahkan saat gejala mulai membaik. Virus dapat tetap keluar melalui feses selama beberapa minggu setelah anak sembuh.
Penularan dapat terjadi melalui:
- Air liur
- Batuk dan bersin
- Cairan lepuhan kulit
- Feses
- Mainan atau benda yang terkontaminasi
Inilah sebabnya kebersihan tangan menjadi salah satu langkah paling penting untuk mencegah penyebaran HFMD di Indonesia.
Cara Mencegah HFMD Berulang pada Anak
Nah, karena anak tetap bisa terkena HFMD kembali, pencegahan tetap perlu dilakukan secara konsisten.
Beberapa langkah yang dapat membantu menurunkan risiko penularan antara lain:
- Rutin mencuci tangan dengan sabun
- Membersihkan mainan dan permukaan yang sering disentuh
- Tidak berbagi alat makan atau minum
- Mengistirahatkan anak di rumah saat sakit
- Menghindari kontak dekat dengan anak yang sedang mengalami gejala HFMD
Selain itu, saat ini juga sudah tersedia vaksin HFMD untuk perlindungan terhadap Enterovirus 71 (EV71), yaitu salah satu penyebab HFMD berat pada anak. Orang tua dapat berkonsultasi dengan dokter anak mengenai kebutuhan vaksinasi sesuai usia dan kondisi anak.
Kasus HFMD di Indonesia yang kembali meningkat membuat orang tua perlu lebih waspada terhadap penularan penyakit ini. Anak yang sudah pernah terkena HFMD ternyata tetap bisa tertular kembali karena penyakit ini disebabkan oleh berbagai jenis enterovirus yang berbeda.
Meski sebagian besar kasus dapat sembuh sendiri, HFMD tetap berpotensi menyebabkan komplikasi serius, terutama pada anak usia kecil. Karena itu, menjaga kebersihan tangan, membatasi kontak saat sakit, dan berkonsultasi dengan dokter mengenai perlindungan tambahan seperti vaksinasi tetap menjadi langkah penting untuk melindungi si Kecil.
FAQ seputar HFMD
1. Anak saya sudah pernah kena HFMD, kok bisa kena lagi?
Bisa. HFMD disebabkan oleh berbagai jenis enterovirus. Setelah sembuh, tubuh hanya membentuk kekebalan terhadap virus tertentu yang sebelumnya menginfeksi, bukan terhadap semua penyebab HFMD. Karena itu, anak tetap bisa terkena HFMD lagi dari jenis virus yang berbeda.
2. HFMD di Indonesia sekarang lagi naik ya?
Ya, dalam beberapa waktu terakhir kasus HFMD di Indonesia kembali meningkat, terutama pada bayi dan anak usia di bawah 5 tahun. Penularan paling sering terjadi di lingkungan dengan kontak dekat seperti daycare, sekolah, dan playground indoor.
3. Kalau sudah pernah HFMD, apakah infeksi berikutnya pasti lebih ringan?
Belum tentu. Ada anak yang mengalami gejala lebih ringan, tetapi ada juga yang bisa mengalami keluhan lebih berat tergantung jenis virus penyebab dan daya tahan tubuh anak.
4. Berapa lama anak harus di rumah setelah terkena HFMD?
Idealnya anak tetap di rumah sampai demam hilang, kondisi membaik, dan luka atau lepuhan mulai mengering. Meski begitu, virus masih bisa keluar melalui feses selama beberapa minggu setelah sembuh, sehingga kebersihan tangan tetap harus dijaga.
5. HFMD menular lewat apa saja?
HFMD dapat menular melalui:
- Air liur
- Percikan batuk dan bersin
- Cairan dari lepuhan kulit
- Feses
- Mainan atau permukaan yang terkontaminasi virus
6. Apakah orang dewasa bisa tertular HFMD?
Bisa. Meski lebih sering menyerang anak-anak, orang dewasa juga dapat tertular, terutama jika sering kontak dekat dengan anak yang sedang sakit.
7. Kapan anak dengan HFMD harus segera dibawa ke dokter?
Segera periksa ke dokter jika anak:
- Tidak mau makan atau minum
- Tampak lemas atau mengantuk terus
- Demam tinggi tidak turun
- Sesak napas
- Kejang
- Mengalami tanda dehidrasi seperti bibir kering atau pipis berkurang
8. Apakah ada vaksin untuk HFMD?
Saat ini sudah tersedia vaksin HFMD untuk perlindungan terhadap Enterovirus 71 (EV71), yaitu salah satu penyebab HFMD berat pada anak. Vaksin ini bisa MomDad booking melalui PrimaKu dengan harga mulai dari Rp900 ribuan. Chat dan konsultasikan dengan DokMin sekarang, gratis!
9. Apakah HFMD sama dengan cacar air?
Tidak. HFMD dan cacar air disebabkan oleh virus yang berbeda. HFMD biasanya ditandai dengan luka di mulut dan ruam di tangan serta kaki, sedangkan cacar air lebih sering berupa bintil berisi cairan yang menyebar di tubuh.
10. Apakah anak boleh mandi saat terkena HFMD?
Boleh. Anak tetap perlu mandi untuk menjaga kebersihan tubuh dan membantu mencegah infeksi sekunder pada kulit. Gunakan air hangat dan sabun yang lembut agar anak lebih nyaman.
Referensi:
- World Health Organization. Hand, Foot and Mouth Disease.
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). About Hand, Foot, and Mouth Disease.
- American Academy of Pediatrics. Hand-Foot-and-Mouth Disease in Children.
- Ooi MH, Wong SC, Lewthwaite P, Cardosa MJ, Solomon T. Clinical features, diagnosis, and management of enterovirus 71. Lancet Neurol. 2010;9(11):1097–105.
- Koh WM, Bogich T, Siegel K, et al. The epidemiology of hand, foot and mouth disease in Asia: a systematic review and analysis. Pediatr Infect Dis J. 2016;35(10):e285–300.



