26 Agustus 2026
Cara Membedakan Gejala DBD dan Tifus
Ditulis oleh

Dhia Priyanka
Topik: DBD vs tifus, perbedaan DBD dan tifus, gejala DBD pada anak, Vaksin DBD, DBD, gejala tifus pada anak, Tifus
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Dini Mirasanti, Sp.A.
DBD vs tifus sering membingungkan karena keduanya dapat menyebabkan demam, lemas, sakit kepala, mual, muntah, dan nyeri perut. Padahal, penyebab serta cara penularannya berbeda. WHO memperkirakan 100-400 juta infeksi dengue terjadi setiap tahun, sedangkan demam tifoid diperkirakan menyebabkan 9 juta kasus dan 110.000 kematian per tahun berdasarkan estimasi 2019. Artikel ini membantu Ayah dan Bunda memahami petunjuk pembeda, pemeriksaan yang tepat, dan tanda bahaya yang tidak boleh ditunggu.
DBD dan Tifus Disebabkan oleh Apa?
DBD atau dengue berat disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan terutama melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi. Sebagian infeksi dengue ringan, tetapi sebagian dapat berkembang menjadi kebocoran plasma, perdarahan berat, syok, atau gangguan organ.
Demam tifoid, yang sehari-hari sering disebut tifus, disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhi. Penularannya terjadi ketika makanan atau air terkontaminasi tinja penderita atau pembawa bakteri. Sanitasi, air bersih, kebersihan tangan, dan keamanan makanan berperan penting dalam pencegahan.
Catatan istilah: “tifus” dalam percakapan masyarakat biasanya merujuk pada demam tifoid, bukan penyakit tifus akibat bakteri Rickettsia.
Gejala pada tabel merupakan petunjuk umum dan dapat tumpang tindih. Diagnosis tidak boleh dibuat hanya dari satu gejala.
Mengapa DBD dan Tifus Sulit Dibedakan?
Pada hari-hari awal, berbagai infeksi dapat tampak sebagai demam tanpa fokus yang jelas. Anak dengan dengue maupun tifoid bisa sama-sama lemas, kurang nafsu makan, mual, atau nyeri perut. Diare atau konstipasi tidak selalu muncul pada tifoid, sedangkan ruam atau bintik merah tidak selalu ada pada dengue.
Pola “demam naik-turun”, “demam tinggi pada malam hari”, atau lidah tampak kotor tidak cukup akurat untuk memastikan tifoid. Trombosit rendah juga tidak otomatis berarti DBD karena berbagai infeksi dapat memengaruhi jumlah trombosit. Dokter perlu melihat tren hasil darah bersama kondisi klinis dan tanda kebocoran plasma.
IDAI mengingatkan bahwa pada demam baru 1-2 hari, orang tua perlu lebih waspada terhadap dengue karena kondisi dapat memburuk lebih cepat. Komplikasi tifoid lebih sering muncul setelah perjalanan sakit yang lebih panjang, tetapi tifoid tetap perlu dinilai sejak awal bila dicurigai.
Fase Kritis DBD Dapat Terjadi Saat Demam Turun
Turunnya suhu tubuh tidak selalu berarti anak sembuh dari dengue. Tanda bahaya dengue sering muncul setelah demam mereda, umumnya sekitar hari ke-3 sampai ke-7. Pada fase ini dapat terjadi kebocoran cairan dari pembuluh darah yang menyebabkan syok.
Segera cari pertolongan medis bila anak mengalami nyeri perut hebat, muntah berulang, perdarahan hidung/gusi, muntah darah atau BAB hitam, sangat lemas, mengantuk atau gelisah, sulit minum, buang air kecil berkurang, napas cepat, atau kulit pucat dan dingin.
KE IGD SEKARANG
Anak sulit dibangunkan, sesak, kejang, mengalami perdarahan banyak, tangan-kaki dingin, tampak sangat lemah, tidak bisa minum, atau tidak buang air kecil selama beberapa jam. Jangan menunggu hasil tes atau demam naik kembali.
Tes DBD dan Tifus: Mana yang Diperlukan?
Pemilihan pemeriksaan bergantung pada hari sakit, gejala, temuan dokter, dan situasi epidemiologi. Satu hasil laboratorium tidak berdiri sendiri.
CDC menyebut kultur darah sebagai pemeriksaan utama tifoid. Tes Widal tidak dianjurkan untuk memastikan diagnosis karena tingginya hasil positif palsu. Untuk dengue, CDC merekomendasikan kombinasi tes molekuler atau NS1 dengan IgM pada fase 0-7 hari; setelah hari ke-7, IgM menjadi pemeriksaan utama.
Apakah Anak Boleh Dirawat di Rumah?
Anak demam yang masih aktif, dapat minum, buang air kecil cukup, dan tidak memiliki tanda bahaya mungkin dapat dipantau di rumah setelah mendapat arahan tenaga kesehatan. Catat hari pertama demam, suhu, jumlah minum, frekuensi muntah, buang air kecil, obat yang diberikan, dan perubahan perilaku.
- Berikan cairan sedikit tetapi sering; lanjutkan ASI.
- Gunakan parasetamol sesuai dosis berat badan dan arahan tenaga kesehatan bila diperlukan.
- Hindari aspirin dan ibuprofen saat dengue dicurigai karena dapat meningkatkan risiko perdarahan.
- Jangan memberikan antibiotik sisa. Antibiotik tidak mengobati dengue dan pemakaian yang tidak tepat memperburuk resistensi tifoid.
- Lakukan kontrol sesuai jadwal karena kondisi dan hasil darah dapat berubah selama perjalanan penyakit.
Cara Mencegah DBD dan Demam Tifoid
Pencegahan kedua penyakit berbeda karena jalur penularannya berbeda.
Mencegah DBD
Kurangi tempat berkembang biak nyamuk dengan menguras dan menutup wadah air, mendaur ulang barang yang dapat menampung air, menggunakan pelindung dari gigitan nyamuk, dan mengikuti anjuran kesehatan setempat.
Mencegah Demam Tifoid
Biasakan mencuci tangan dengan sabun, minum air yang aman, memilih makanan matang dan higienis, serta menjaga sanitasi. Vaksin tifoid dapat menjadi bagian pencegahan sesuai usia, jenis vaksin, kondisi anak, dan rekomendasi dokter.
FAQ tentang DBD vs Tifus
Q: Apakah demam yang turun pada hari ke-3 berarti bukan DBD?
A: Tidak. Pada dengue, fase kritis justru dapat dimulai ketika suhu turun, biasanya sekitar hari ke-3 sampai ke-7. Pantau tanda bahaya dan kondisi umum anak, bukan suhu saja.
Q: Apakah trombosit turun pasti DBD?
A: Tidak. Trombosit dapat turun akibat berbagai kondisi, dan pada dengue awal nilainya bisa masih normal. Dokter menilai tren trombosit, hematokrit, gejala, dan pemeriksaan spesifik dengue.
Q: Apakah Widal positif berarti anak pasti tifus?
A: Tidak. Widal berisiko memberikan hasil positif palsu dan kurang baik membedakan infeksi aktif dari antibodi sebelumnya. Kultur darah merupakan pemeriksaan utama.
Q: DBD dan tifus apakah bisa terjadi bersamaan?
A: Koinfeksi dapat terjadi, tetapi tidak dapat disimpulkan hanya karena dua tes cepat menunjukkan hasil positif. Dokter perlu menilai mutu tes, perjalanan penyakit, dan pemeriksaan konfirmasi.
Q: Kapan anak demam harus diperiksa?
A: Periksakan lebih awal bila anak masih bayi, demam tinggi, tampak sangat lemas, sulit minum, muntah berulang, nyeri perut, perdarahan, atau buang air kecil berkurang. Syok, kejang, sesak, atau sulit dibangunkan memerlukan pertolongan darurat.
DBD dan tifus tidak dapat dibedakan secara aman hanya dengan mengamati pola demam. DBD merupakan infeksi virus yang ditularkan nyamuk dan dapat memasuki fase kritis ketika demam turun. Tifoid merupakan infeksi bakteri dari makanan atau air terkontaminasi dan membutuhkan antibiotik yang tepat. Karena gejalanya saling tumpang tindih, penilaian dokter serta pemeriksaan yang sesuai hari sakit menjadi kunci.
Saat anak demam, fokuslah pada kondisi umum, kemampuan minum, buang air kecil, tanda perdarahan, nyeri perut, dan perubahan perilaku. Bila ragu, pemeriksaan lebih awal lebih aman daripada menunggu gejalanya menjadi “khas”.
Referensi:
- World Health Organization. Dengue and Severe Dengue. WHO; diperbarui 2025.
- World Health Organization. Typhoid. WHO; 2023.
- Ikatan Dokter Anak Indonesia. Mengenal Demam Tifoid. IDAI; 2016.
- Ikatan Dokter Anak Indonesia. Waspada Demam Berdarah Dengue. IDAI; 2016.
- Centers for Disease Control and Prevention. Clinical Guidance for Typhoid Fever and Paratyphoid Fever. CDC; diperbarui 2024.
- Centers for Disease Control and Prevention. Clinical Testing Guidance for Dengue. CDC; diperbarui 2025.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Mengenal Demam Berdarah Dengue. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan; 2025.
- World Health Organization. WHO Laboratory Manual for Typhoid and Paratyphoid (Enteric Fever). WHO; 2022.


