7 Mei 2026
HFMD di Indonesia Kembali Naik, DSA Sarankan Ini untuk Pencegahan!
Ditulis oleh

Dhia Priyanka
Topik: HFMD, Pencegahan, Hand, Foot, and Mouth Disease, Flu Singapura
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Dini Mirasanti, Sp.A.
Kasus HFMD di Indonesia atau Hand, Foot, and Mouth Disease kembali meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Penyakit yang sering dikenal sebagai “flu Singapura” ini banyak menyerang bayi dan anak usia di bawah 5 tahun, terutama di lingkungan daycare, sekolah, atau tempat bermain bersama.
Meski sering dianggap penyakit ringan, peningkatan kasus HFMD di Indonesia tetap perlu diwaspadai karena penularannya sangat cepat dan dapat menyebabkan komplikasi pada sebagian anak.
Lalu, apa sebenarnya HFMD dan bagaimana cara mencegahnya menurut dokter spesialis anak (DSA)?
Kenapa Kasus HFMD di Indonesia Bisa Kembali Naik?
HFMD dadalah penyakit infeksi virus yang umumnya disebabkan oleh Coxsackievirus dan Enterovirus, yang ditandai dengan demam, sariawan atau luka di mulut, dan ruam atau lepuhan tangan di kaki
Penyakit ini paling rentang menyerang bayi, balita, dan usia prasekolah.
Peningkatan kasus HFMD di Indonesia dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti:
1. Penularan Sangat Mudah
Virus HFMD menyebar melalui:
- Air liur
- Percikan batuk/bersin
- Feses
- Permukaan benda yang terkontaminasi
Anak kecil yang sering memasukkan tangan atau benda ke mulut lebih mudah tertular.
2. Aktivitas Anak di Lingkungan Ramai
Penularan lebih cepat terjadi di:
- Daycare
- PAUD
- Playground
- Sekolah
Sebab, kontak antar anak berlangsung sangat dekat.
3. Kebersihan Tangan Belum Optimal
Anak-anak sering:
- Tidak mencuci tangan dengan benar
- Berbagi alat makan atau mainan
Hal ini mempermudah penyebaran virus.
Gejala HFMD pada Anak
Gejala HFMD di Indonesia umumnya muncul 3–6 hari setelah terpapar virus.
Gejala yang sering ditemukan:
- Demam
- Sakit tenggorokan
- Anak sulit makan atau minum
- Sariawan di mulut
- Ruam atau lepuhan di telapak tangan dan kaki. Pada beberapa anak, ruam juga bisa muncul di bokong, lutut, atau siku
Apakah HFMD Berbahaya?
Sebagian besar kasus HFMD bersifat ringan dan dapat sembuh sendiri dalam 7–10 hari.
Namun, pada kondisi tertentu, HFMD dapat menyebabkan komplikasi seperti:
- Dehidrasi akibat sulit makan/minum
- Infeksi pada kulit
- Komplikasi neurologis (jarang)
Oleh karena itu, peningkatan kasus HFMD di Indonesia tetap perlu diperhatikan.
Untuk mencegah HFMD dialami si Kecil, berikut saran DSA:
“Jaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar untuk membantu menurunkan risiko penularan HFMD pada anak. Biasakan anak mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, terutama sebelum makan, setelah dari toilet, dan setelah bermain. Orang tua maupun pengasuh juga perlu menjaga kebersihan tangan secara rutin karena virus dapat menular melalui kontak langsung maupun benda yang terkontaminasi.
Jika anak sedang sakit, terutama mengalami gejala seperti demam, batuk pilek, atau muncul ruam dan sariawan, sebaiknya sementara tidak diantar ke PAUD atau daycare agar tidak menularkan ke anak lain. Selain itu, perlindungan ekstra juga dapat dipertimbangkan melalui vaksin EV71, yang dapat membantu melindungi anak dari infeksi Enterovirus 71, salah satu penyebab HFMD yang berisiko menimbulkan komplikasi lebih berat.”
Jangan sampai jadwal imunisasi si kecil terlewat, ya MomDad! Yuk, rutin cek jadwal vaksin anak agar perlindungannya tetap optimal sesuai usia. Nah, apalagi sekarang makin praktis, karena MomDad bisa langsung booking vaksin lewat PrimaKu, sekaligus dapat konsultasi gratis dengan Dokmin sebelum vaksin.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera konsultasi jika anak:
- Tidak mau minum sama sekali
- Demam tinggi terus-menerus
- Tampak lemas
- Kejang
- Sesak napas
Peningkatan kasus HFMD di Indonesia menjadi pengingat penting bagi MomDad untuk lebih memperhatikan kebersihan dan kesehatan si Kecil sehari-hari. Meski sebagian besar kasus ringan, penularannya sangat cepat terutama pada anak usia kecil.
Dengan langkah pencegahan yang tepat dan deteksi dini, risiko penyebaran HFMD dapat dikurangi dan anak bisa pulih lebih nyaman.
Referensi:
- World Health Organization. Hand, Foot and Mouth Disease. WHO; 2023.
- Centers for Disease Control and Prevention. Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD). CDC; 2024.
- Kementerian Kesehatan RI. Waspada Penyakit HFMD pada Anak. Kemenkes; 2023.
- Ooi MH, Wong SC, Lewthwaite P, et al. Clinical features, diagnosis, and management of enterovirus 71. The Lancet Neurology. 2010;9(11):1097–1105.





