8 September 2026
Paparan Abu Vulkanik pada Anak, Kenali Gejala Gangguan Kesehatan
Ditulis oleh

Dhia Priyanka
Topik: paparan abu vulkanik, gejala terpapar abu vulkanik pada anak, dampak abu vulkanik bagi kesehatan, ISPA akibat abu vulkanik, cara melindungi anak dari abu
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Susanti Himawan, Sp. A.
Paparan abu vulkanik pada anak perlu diwaspadai karena bayi dan anak termasuk kelompok yang lebih rentan menurut CDC dan Kementerian Kesehatan RI. Partikel halus dapat mengiritasi saluran napas, mata, serta kulit dan memperburuk asma. Artikel ini membantu MomDad mengenali ciri awal, tanda bahaya, serta tindakan yang perlu dilakukan.
Abu vulkanik terdiri dari fragmen batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang dapat berukuran sangat halus. Saat terhirup atau menempel pada tubuh, partikel ini dapat menimbulkan keluhan yang berbeda-beda. Beratnya gejala dipengaruhi oleh jumlah dan lama paparan, ukuran partikel, gas yang menyertai erupsi, serta kondisi kesehatan anak.
Ciri-Ciri Gangguan Pernapasan
1. Batuk dan Tenggorokan Gatal
Partikel halus dapat mengiritasi hidung, tenggorokan, dan saluran napas. Anak mungkin batuk kering, bersin, pilek, mengeluh tenggorokan perih, atau sering berdeham. Keluhan ringan biasanya membaik setelah anak dipindahkan ke ruangan dengan udara lebih bersih.
2. Mengi dan Sesak
Anak dapat terdengar berbunyi “ngik” saat bernapas, napas lebih cepat, atau mengeluh dada terasa berat. Pada anak dengan asma, abu dan gas vulkanik dapat mencetuskan serangan. Ikuti rencana tindakan asma dan gunakan obat yang telah diresepkan dokter.
Tanda Anak Bekerja Keras untuk Bernapas
Perhatikan cuping hidung yang kembang-kempis, tarikan kulit di sela iga atau bawah tulang rusuk, kesulitan bicara atau minum, serta posisi tubuh condong untuk bernapas. Tanda ini membutuhkan penilaian medis segera.
Selain mengenali tanda bahaya, jangan lupa lengkapi perlindungan anak melalui vaksinasi sesuai jadwal. Vaksin PCV membantu melindungi anak dari penyakit akibat bakteri pneumokokus, termasuk pneumonia.
Saat ini, MomDad bisa mendapatkan potongan harga Rp100.000 untuk booking Vaksin PCV melalui PrimaKu. Klik banner di bawah untuk booking.
Apakah Abu Langsung Menyebabkan ISPA atau Pneumonia
Abu terutama menimbulkan iritasi, bukan otomatis infeksi. Kemenkes mencatat ISPA, bronkitis akut, dan pneumonia perlu diwaspadai pada situasi erupsi, terutama ketika lingkungan padat, kebersihan terganggu, atau keluhan memburuk. Demam, batuk menetap, dan napas cepat harus diperiksa.
1. Ciri Gangguan pada Mata
Mata dapat terasa perih, gatal, merah, berair, silau, atau seperti kemasukan pasir. Partikel tajam dapat menggores kornea. Jangan biarkan anak mengucek mata; bilas perlahan dengan air bersih. Nyeri berat, sulit membuka mata, atau penglihatan kabur memerlukan pemeriksaan.
2. Ciri Gangguan pada Kulit
Kulit dapat terasa gatal, kering, perih, atau tampak kemerahan. Anak dengan eksim atau kulit sensitif mungkin mengalami kekambuhan. Bilas kulit, mandi dengan sabun lembut, dan ganti pakaian. Waspadai lepuh, bengkak luas, luka, nanah, atau ruam yang menyebar cepat.
3. Ciri Gangguan akibat Kontaminasi Air dan Makanan
WHO menyebut material erupsi dapat mencemari air dan makanan. Mual, muntah, sakit perut, atau diare merupakan risiko tidak langsung yang juga dapat dipengaruhi kondisi sanitasi. Waspadai mulut kering, mata cekung, urine berkurang, atau anak sangat lemas sebagai tanda dehidrasi.
Ciri Paparan pada Bayi
Bayi belum dapat menjelaskan rasa gatal, perih, atau sesak. MomDad perlu mengamati perubahan perilaku dan fungsi tubuh:
- Menyusu lebih sedikit atau sering berhenti untuk bernapas.
- Napas tampak lebih cepat, berbunyi, atau disertai tarikan dada.
- Rewel terus-menerus atau justru sangat mengantuk.
- Mata merah dan berair atau bayi terus menggosok wajah.
- Kulit kemerahan, kering, atau muncul ruam setelah paparan.
- Popok lebih jarang basah, terutama bila disertai muntah atau diare.
Tingkat Gejala dan Tindakan
Siapa yang Paling Rentan?
- Bayi dan balita karena saluran napas masih berkembang.
- Anak dengan asma, penyakit paru kronis, atau penyakit jantung.
- Anak dengan eksim, alergi, atau kulit sensitif.
- Anak yang berada di luar atau dekat area pembersihan abu.
- Anak yang tinggal di lingkungan dengan kualitas udara dan sanitasi buruk.
Langkah Pertolongan Pertama
1. Pindahkan anak ke ruangan paling bersih dan tutup sumber masuknya abu.
2. Longgarkan pakaian dan tenangkan anak agar kebutuhan oksigen tidak meningkat.
3. Bilas mata dengan air bersih tanpa mengucek; bersihkan kulit dan ganti pakaian.
4. Berikan minum atau ASI lebih sering bila anak mampu menelan.
5. Gunakan obat asma hanya sesuai resep dan rencana tindakan dokter.
6. Pantau napas, warna bibir, kemampuan minum, aktivitas, dan jumlah urine.
7. Cari pertolongan bila muncul tanda bahaya atau gejala memburuk.
Cara Mencegah Paparan pada Anak
- Batasi aktivitas luar dan ikuti informasi resmi PVMBG, BNPB, BMKG, Kemenkes, serta pemerintah daerah.
- Tutup pintu, jendela, dan jalur udara luar; matikan alat yang menyebarkan abu saat ruangan belum bersih.
- Jauhkan anak dari area pembersihan dan jangan biarkan bermain dengan abu.
- Hindari menyapu kering; gunakan vacuum HEPA bila tersedia atau kain lembap pada permukaan keras.
- Orang dewasa yang membersihkan abu sebaiknya memakai respirator N95 yang terpasang rapat dan pelindung mata.
- Anak di bawah 2 tahun tidak boleh memakai masker.
FAQ tentang Paparan Abu Vulkanik pada Anak
Q: Apa gejala awal anak terpapar abu vulkanik?
A: Keluhan dapat berupa batuk, bersin, tenggorokan gatal, mata merah atau berair, serta kulit gatal. Pada bayi, perubahan menyusu dan pola napas dapat menjadi petunjuk awal.
Q: Kapan batuk akibat abu harus diperiksakan?
A: Periksakan anak bila batuk menetap, disertai demam, mengi, napas cepat, anak sulit minum, atau kondisinya memburuk.
Q: Bagaimana mengetahui bayi sesak?
A: Waspadai napas lebih cepat, cuping hidung kembang-kempis, tarikan kulit di sela iga, suara mengerang, sulit menyusu, atau bibir kebiruan.
Q: Apakah mata merah setelah hujan abu berbahaya?
A: Mata merah ringan dapat terjadi karena iritasi. Jangan dikucek dan bilas dengan air bersih. Nyeri berat, silau, sulit membuka mata, atau penglihatan kabur perlu diperiksa.
Q: Apakah anak boleh memakai masker N95?
A: Respirator harus sesuai ukuran dan terpasang rapat agar efektif. Anak di bawah 2 tahun tidak boleh memakai masker. Untuk anak yang lebih besar, prioritaskan tetap di dalam ruangan dan ikuti saran tenaga kesehatan serta petunjuk produk.
Ciri gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik pada anak dapat terlihat dari batuk, perubahan napas, mata perih, iritasi kulit, hingga gangguan minum. MomDad perlu mengurangi paparan, mengamati tanda bahaya, dan mencari pertolongan lebih awal bila napas anak terganggu atau kondisinya menurun.
Referensi:
- Kementerian Kesehatan RI. Abu Vulkanik Anak Krakatau Menyebar, Menkes Meminta Masyarakat Batasi Aktivitas di Luar Rumah. Kemenkes RI; 2026.
- World Health Organization. Volcanic Eruptions. WHO; 2026.
- Centers for Disease Control and Prevention. Health Effects of Volcanic Air Pollution. CDC; 2024.
- International Volcanic Health Hazard Network. Health Impacts of Volcanic Ash: A Guide for the Public. IVHHN; 2026.
- Kementerian Kesehatan RI. Peristiwa Kesehatan: Masalah Kesehatan Pasca Erupsi. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan; 2024.
- Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jadwal Imunisasi Anak Usia 0–18 Tahun Rekomendasi IDAI Tahun 2024. IDAI; 2025.
- World Health Organization. Pneumococcal Conjugate Vaccines in Infants and Children Aged Under 5 Years. WHO; 2025






