Meta Pixel

20 Mei 2026

Penyakit Kawasaki pada Anak: Gejala, Diagnosis & Pengobatan

Ditulis oleh

avatar

Tim Medis PrimaKu

Topik: Kawasaki Disease, Diagnosis

Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Dini Mirasanti, Sp.A.

Penyakit Kawasaki pada anak adalah penyebab utama penyakit jantung didapat (acquired heart disease) pada anak di negara maju, dengan insiden 8–67 per 100.000 anak di bawah usia 5 tahun dan angka ini lebih tinggi di negara-negara Asia termasuk Indonesia. Saat anak mengalami demam lebih dari 5 hari yang tidak membaik dengan obat biasa, penyakit Kawasaki harus masuk dalam daftar kemungkinan yang diwaspadai. 

Apa Itu Penyakit Kawasaki? 

Penyakit Kawasaki adalah peradangan sistemik pada pembuluh darah berukuran sedang (vaskulitis) yang pertama kali dideskripsikan oleh Dr. Tomisaku Kawasaki di Jepang pada tahun 1967. Penyebab pastinya masih belum diketahui, namun para ahli menduga kondisi ini dipicu oleh respons imun abnormal terhadap infeksi tertentu pada anak dengan predisposisi genetik (Burns & Glodé, Lancet, 2004). 

Kelompok paling berisiko:

Faktor Risiko 

Detail 

Keterangan

Usia 

< 5 tahun (puncak 1–2 tahun) 

Jarang pada remaja & dewasa

Jenis Kelamin 

Laki-laki 1,5× lebih sering 

Rasio laki-laki : perempuan ≈ 1,5 : 1

Etnisitas 

Asia Timur & Asia Tenggara 

Insiden tertinggi di Jepang, Korea, Taiwan

Musim 

Musim dingin & awal semi 

Di Indonesia: tidak musiman jelas

Riwayat Keluarga

Saudara kandung memiliki risiko 10× lebih tinggi

Komponen genetik kuat


5 Gejala Utama Penyakit Kawasaki pada Anak 

Diagnosis Kawasaki klasik membutuhkan demam ≥5 hari ditambah minimal 4 dari 5 kriteria gejala berikut. Namun Kawasaki inkomplit dapat terjadi dengan lebih sedikit gejala, terutama pada bayi di bawah 12 bulan. 

Kriteria Diagnostik Penyakit Kawasaki (AHA 2017) 

No. 

Gejala 

Deskripsi Klinis 

Catatan Penting

1 

Demam tinggi ≥5 hari

Suhu ≥38,5°C, tidak turun dengan antipiretik biasa

Gejala WAJIB ada untuk diagnosis klasik

2 

Konjungtivitis bilateral

Mata merah kedua sisi, tanpa 

kotoran/belekan 

Berbeda dari konjungtivitis bakteri

3

Perubahan bibir & 

rongga mulut

Bibir merah-pecah, lidah 'strawberry', faring merah 

Strawberry tongue khas Kawasaki

4 

Ruam polimorfik 

Ruam di batang tubuh, selangkangan, tangan, kaki uuu

Bentuk bervariasi, bukan vesikel

5 

Perubahan ekstremitas

Bengkak & kemerahan tangan-kaki; kulit mengelupas fase subakut

Pengelupasan muncul 2–3 minggu kemudian

6 

Limfadenopati servikal 

Benjolan ≥1,5 cm di leher, biasanya satu sisi

Terjadi pada ~50% kasus


Penyakit Kawasaki vs Infeksi Biasa dan Cara Membedakan

Aspek 

Penyakit Kawasaki 

Infeksi Virus Biasa 

Radang Tenggorokan

Durasi demam 

≥5 hari, sulit turun 

1–4 hari 

3–5 hari

Mata merah 

Ya, tanpa kotoran 

Kadang, dengan kotoran 

Jarang

Bibir

Sangat merah, 

pecah-pecah

Normal atau sedikit kering 

Normal

Lidah 

Strawberry tongue 

Normal 

Normal

Ruam 

Ya, polimorfik 

Kadang ringan

Ruam scarlatina mungkin ada

Bengkak tangan/kaki 

Ya, fase akut 

Tidak 

Tidak

Respon antibiotik 

Tidak membaik 

Tergantung penyebab 

Membaik dengan antibiotik

Risiko jantung 

Ya — aneurisma koroner 

Tidak 

Sangat jarang


Mengapa Penyakit Kawasaki Berbahaya? 

Bahaya terbesar penyakit Kawasaki bukan pada fase akutnya, melainkan pada komplikasi jantung jangka panjang yang bisa terjadi bila tidak ditangani tepat waktu. 

Aneurisma Arteri Koroner 

Komplikasi tersering dan terberat. Dinding arteri koroner melemah dan melebar membentuk kantong (aneurisma). Tanpa pengobatan, terjadi pada 25% kasus. Dengan IVIG dalam 10 hari pertama, risiko turun menjadi < 5% (AHA, 2017). 

Gangguan Aliran Darah ke Jantung 

Aneurisma dapat memicu penggumpalan darah di dalam pembuluh, yang berpotensi menyumbat aliran darah ke jantung dan menyebabkan serangan jantung — bahkan pada anak-anak. 

Miokarditis & Perikarditis 

Peradangan pada otot jantung (miokarditis) atau selaput jantung (perikarditis) dapat terjadi selama fase akut, menyebabkan gangguan pompa jantung sementara. 

Risiko Kardiovaskular Jangka Panjang 

Anak yang pernah mengalami aneurisma koroner akibat Kawasaki memiliki risiko penyakit jantung koroner lebih tinggi di usia dewasa dan membutuhkan pemantauan kardiologi jangka panjang. 

Bagaimana Penyakit Kawasaki Didiagnosis? 

Tidak ada tes tunggal yang dapat memastikan diagnosis Kawasaki. Dokter akan menggunakan kombinasi evaluasi klinis dan pemeriksaan penunjang:

Pemeriksaan 

Tujuan

Evaluasi Klinis 

Pemeriksaan 5 kriteria gejala klasik AHA 2017

Pemeriksaan Darah 

LED, CRP, leukositosis, anemia, trombositosis (fase subakut)

Ekokardiografi 

USG jantung untuk mendeteksi aneurisma koroner

EKG 

Memantau irama jantung jika ada gejala kardiak

Urinalisis 

Piuria steril (sel darah putih tanpa infeksi bakteri) bisa ditemukan


Pengobatan Penyakit Kawasaki 

Pengobatan harus dimulai secepat mungkin, idealnya dalam 10 hari pertama sejak munculnya demam. Standar terapi Kawasaki meliputi: 

Intravenous Immunoglobulin (IVIG) 

IVIG diberikan satu dosis tunggal intravena dalam 10–12 jam. Terbukti secara klinis menurunkan risiko aneurisma koroner dari 25% menjadi < 5% bila diberikan sebelum hari ke-10 demam. IVIG bekerja dengan memodulasi respons imun yang abnormal. 

Aspirin 

Aspirin dosis tinggi diberikan selama fase akut untuk efek antiinflamasi, kemudian diturunkan ke dosis rendah (antiplatelet) selama 6–8 minggu atau lebih lama pada kasus dengan aneurisma. Pemberian aspirin pada anak harus selalu sesuai resep dokter. 

Pemantauan Ekokardiografi Berkala 

Ekokardiografi dilakukan pada diagnosis awal, 2 minggu kemudian, dan 6–8 minggu setelah onset. Pada kasus dengan aneurisma, pemantauan jantung dilakukan jangka panjang sesuai panduan IDAI dan AHA.

Kapan Harus Segera ke IGD / Dokter Spesialis Anak? 

Bawa anak ke dokter atau IGD rumah sakit SEGERA jika: 

• Demam ≥5 hari yang tidak turun dengan paracetamol/ibuprofen 

• Mata merah pada KEDUA sisi tanpa kotoran mata 

• Bibir sangat merah, kering, pecah-pecah disertai lidah seperti stroberi 

• Tangan dan kaki tampak bengkak dan kemerahan 

• Ruam di tubuh yang tidak khas alergi 

• Anak tampak sangat lemah, rewel, atau sulit minum 

Catatan: Tidak harus ada semua gejala. Kawasaki inkomplit (< 4 kriteria) juga membutuhkan evaluasi dokter segera, terutama pada bayi < 12 bulan. 

FAQ: Pertanyaan Orang Tua tentang Penyakit Kawasaki 

Q: Apakah penyakit Kawasaki menular? 

A: Tidak. Penyakit Kawasaki bukan penyakit menular. Meskipun diduga dipicu oleh infeksi tertentu sebagai pemicu respons imun, penyakit Kawasaki sendiri tidak menyebar dari satu anak ke anak lain. 

Q: Berapa lama anak bisa sembuh dari penyakit Kawasaki? 

A: Dengan pengobatan IVIG yang tepat, demam biasanya turun dalam 24–48 jam. Fase akut berlangsung 1–2 minggu. Namun pemantauan jantung berlanjut selama 6–8 minggu atau lebih lama pada kasus dengan aneurisma koroner.

Q: Apakah penyakit Kawasaki bisa kambuh? 

A: Jarang, namun bisa terjadi. Sekitar 1–3% anak yang pernah menderita Kawasaki mengalami kekambuhan. Risiko lebih tinggi pada anak yang pertama kali sakit di usia sangat muda. Pemantauan rutin sangat dianjurkan. 

Q: Apakah Kawasaki berhubungan dengan COVID-19? 

A: Ada kondisi yang disebut MIS-C (Multisystem Inflammatory Syndrome in Children) yang dikaitkan dengan infeksi SARS-CoV-2 dan memiliki gejala mirip Kawasaki. Keduanya berbeda secara klinis namun memerlukan penanganan serupa. Konsultasikan ke dokter anak bila ada riwayat COVID-19. 

Q: Apakah anak dengan Kawasaki perlu pemantauan jantung seumur hidup?

A: Bergantung pada ada tidaknya aneurisma koroner. Anak tanpa komplikasi jantung umumnya cukup dipantau selama 5 tahun. Anak dengan aneurisma memerlukan pemantauan kardiologi jangka panjang dan mungkin memerlukan terapi antikoagulan (IDAI / AHA, 2017).


Referensi:

1. McCrindle BW, Rowley AH, Newburger JW, et al. Diagnosis, Treatment, and Long-Term Management of Kawasaki Disease: A Scientific Statement for Health Professionals from the American Heart Association. Circulation. 2017;135(17):e927–e999. 

2. Burns JC, Glodé MP. Kawasaki syndrome. Lancet. 2004;364(9433):533–544. 

3. American Heart Association (AHA). Kawasaki Disease: Overview and Management Guidelines. Dallas: AHA; 2022. 

4. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Kawasaki Disease — Information for Healthcare Providers. Atlanta: CDC; 2023. 

5. World Health Organization (WHO). Kawasaki Disease: Epidemiology and Clinical Features. Geneva: WHO; 2020. 

6. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran: Kawasaki Disease. Jakarta: IDAI; 2016. 

7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia: Data Penyakit Langka Anak. Jakarta: Kemenkes RI; 2022. 

8. Newburger JW, Takahashi M, Gerber MA, et al. Diagnosis, Treatment, and Long-Term Management of Kawasaki Disease. Pediatrics. 2004;114(6):1708–1733.