7 September 2026
Penyakit yang Bisa Ditimbulkan akibat Paparan Abu Vulkanik
Ditulis oleh

Dhia Priyanka
Topik: Abu Vulkanik, ISPA, Asma, Bronkitis, Kulit Iritasi, Pneumonia, Vaksin Pneumonia, PCV, Vaksin PCV
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Dini Mirasanti, Sp.A.
Bahaya abu vulkanik perlu dikenali saat partikel masuk ke rumah. WHO menyebut erupsi dapat memicu penyakit pernapasan akut maupun kronis, iritasi mata dan kulit, serta risiko kontaminasi air dan makanan. Dalam artikel ini, MomDad akan mengetahui gangguan kesehatan yang mungkin muncul, siapa yang paling rentan, tanda bahaya pada anak, dan langkah perlindungan yang tepat.
Abu vulkanik bukan abu pembakaran biasa. Partikelnya berupa fragmen batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang dapat sangat halus serta berpermukaan tajam. Di dekat atau searah angin dari gunung, abu juga dapat hadir bersama gas vulkanik. Sebab, komposisi dan kadar paparan berbeda pada tiap erupsi, gejala setiap orang tidak selalu sama.
Penyakit dan Gangguan Kesehatan akibat Abu Vulkanik
1. Iritasi Saluran Pernapasan
Partikel halus dapat mengiritasi hidung, tenggorokan, dan saluran napas. Keluhan yang mungkin muncul meliputi batuk kering, tenggorokan gatal, pilek, dada terasa tidak nyaman, napas berbunyi, atau sesak. Kemenkes menyebut iritasi saluran pernapasan sebagai salah satu dampak utama paparan abu. Pastikan MomDad dan keluarga terlindungi dengan melengkapi vaksin PCV via PrimaKu untuk mendapatkan potongan harga Rp100 ribu. Klik di sini untuk klaim voucher nya.
2. Serangan Asma dan Memburuknya Penyakit Paru
Pada anak atau orang dewasa dengan asma, abu dapat menjadi pencetus batuk, mengi, dan sesak. Penyakit paru kronis serta penyakit jantung juga dapat memburuk saat kualitas udara menurun. Pastikan obat rutin dan rencana tindakan asma tetap tersedia.
3. Bronkitis dan Gangguan Paru akibat Paparan Berkepanjangan
CDC menyebut paparan lebih lama terhadap abu dan gas vulkanik dikaitkan dengan bronkitis serta gangguan pernapasan lain. Namun, risiko jangka panjang bergantung pada konsentrasi, lama paparan, ukuran partikel, kandungan silika kristalin, dan penggunaan perlindungan. Paparan singkat tidak berarti seseorang pasti mengalami penyakit paru kronis.
4. Iritasi Mata dan Abrasi Kornea
Abu yang masuk ke mata dapat menyebabkan perih, mata merah, berair, gatal, dan sensasi mengganjal. Partikel tajam dapat menggores permukaan kornea. Jangan mengucek mata; bilas perlahan menggunakan air bersih dan cari pertolongan jika nyeri, penglihatan kabur, atau keluhan menetap.
5. Iritasi Kulit
Kontak langsung dapat menyebabkan kulit gatal, kemerahan, atau iritasi, terutama pada kulit sensitif. Gunakan pakaian tertutup saat harus keluar dan segera mandi serta mengganti pakaian setelah terpapar.
6. Sakit Kepala, Pusing, atau Mual akibat Gas Vulkanik
Gas seperti sulfur dioksida, hidrogen sulfida, dan karbon dioksida dapat menyertai erupsi. Pada kadar tertentu, gas dapat menimbulkan sakit kepala, pusing, mual, iritasi, atau sulit bernapas. Gas dan abu bukan hal yang sama; ikuti arahan evakuasi karena beberapa gas tidak terlihat atau tidak berbau.
7. Diare dan Gangguan Saluran Cerna sebagai Risiko Tidak Langsung
Abu dan material erupsi dapat mencemari air atau makanan. Gangguan kebersihan dan kepadatan pengungsian juga dapat meningkatkan risiko diare serta infeksi menular. Gunakan sumber air yang dinyatakan aman, tutup makanan, dan jangan mengandalkan perebusan bila otoritas menyatakan air terkontaminasi bahan kimia.
8. Infeksi Saluran Pernapasan dan Pneumonia
Abu terutama menyebabkan iritasi, bukan infeksi. Namun, Kemenkes mencatat ISPA, bronkitis akut, dan pneumonia perlu diwaspadai pada situasi erupsi, terutama bila kondisi pengungsian padat, kebersihan terganggu, atau keluhan pernapasan memburuk. Diagnosis pneumonia memerlukan pemeriksaan tenaga kesehatan.
Gejala yang Muncul
Siapa yang Lebih Rentan?
- Bayi dan anak kecil karena saluran napas masih berkembang dan frekuensi napas lebih tinggi.
- Anak dengan asma, penyakit paru kronis, atau penyakit jantung bawaan.
- Lansia, ibu hamil, dan orang dengan gangguan daya tahan tubuh.
- Orang yang bekerja di luar atau membersihkan abu tanpa perlindungan memadai.
Cara Melindungi Keluarga saat Abu Masuk Rumah
- Tutup pintu, jendela, dan jalur masuk udara dari luar.
- Matikan kipas, exhaust fan, dan sistem AC yang menarik atau menyebarkan abu selama abu masih turun atau ruangan belum bersih.
- Tempatkan bayi dan anak di ruangan paling bersih; jauhkan dari area pembersihan.
- Hindari menyapu kering. Gunakan vacuum HEPA bila tersedia atau kain lembap pada permukaan keras.
- Gunakan respirator N95 yang terpasang rapat bagi orang dewasa saat membersihkan abu. Anak di bawah 2 tahun tidak boleh memakai masker.
- Ikuti informasi resmi PVMBG, BNPB, BMKG, Kemenkes, serta pemerintah daerah.
- Segera cari pertolongan bila anak mengalami tanda bahaya.
FAQ tentang Bahaya Abu Vulkanik
Q: Apakah abu vulkanik bisa menyebabkan pneumonia
A: Abu tidak otomatis menyebabkan pneumonia infeksius. Partikel dapat mengiritasi dan memperburuk pernapasan, sedangkan pneumonia dapat muncul karena infeksi atau komplikasi lain dan harus dinilai oleh tenaga kesehatan.
Q: Apakah abu vulkanik berbahaya meski sudah masuk rumah
A: Ya. Abu yang mengendap dapat terangkat kembali oleh sapu, kipas, atau aktivitas di ruangan. Tutup sumber masuk dan bersihkan dengan metode yang meminimalkan debu.
Q: Apa gejala awal anak terpapar abu vulkanik
A: Batuk, hidung atau tenggorokan gatal, mata perih, pilek, dan kulit gatal dapat muncul. Waspadai napas cepat, tarikan dinding dada, mengi berat, atau bibir kebiruan.
Q: Apakah masker medis cukup untuk abu vulkanik
A: Respirator N95 yang terpasang rapat memberi perlindungan partikel lebih baik bagi orang dewasa. Masker apa pun tidak menggantikan anjuran tetap di dalam ruangan atau evakuasi. Anak di bawah 2 tahun tidak boleh memakai masker.
Q: Apakah abu di mata boleh langsung dikucek
A: Tidak. Mengucek dapat menggores kornea. Bilas perlahan dengan air bersih dan periksa bila nyeri, penglihatan terganggu, atau keluhan tidak membaik.
Q: Apakah vaksin PCV melindungi dari abu vulkanik
A: Tidak. PCV mencegah penyakit pneumokokus tertentu, bukan efek langsung abu atau gas vulkanik.
Bahaya abu vulkanik tidak hanya berupa batuk. Partikel dan gas dapat mengiritasi saluran napas, mata, serta kulit; memperburuk asma; dan menimbulkan risiko tidak langsung melalui air, makanan, dan kondisi pengungsian. Lindungi anak dengan mengurangi paparan, membersihkan abu secara aman, mengikuti arahan otoritas, dan segera mencari pertolongan saat muncul tanda bahaya.
Referensi:
- Kementerian Kesehatan RI. Hindari Abu Vulkanik, Masyarakat Disarankan Tidak Banyak Keluar Rumah. Kemenkes RI; 2014.
- World Health Organization. Volcanic Eruptions. WHO; 2026.
- Centers for Disease Control and Prevention. Health Effects of Volcanic Air Pollution. CDC; 2024.
- International Volcanic Health Hazard Network. Health Impacts of Volcanic Ash: A Guide for the Public. IVHHN; 2026.
- Kementerian Kesehatan RI. Peristiwa Kesehatan: Masalah Kesehatan Pasca Erupsi. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan; 2024.
- Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jadwal Imunisasi Anak Usia 0–18 Tahun Rekomendasi IDAI Tahun 2024. IDAI; 2025.
- World Health Organization. Pneumococcal Conjugate Vaccines in Infants and Children Aged Under 5 Years. WHO; 2025





