Meta Pixel

17 Juni 2026

Tak Hanya DBD, Ini 6 Penyakit yang Ditularkan Nyamuk pada Anak

Ditulis oleh

avatar

Dhia Priyanka

Topik: Chikungunya, Pencegahan, DBD, Malaria, Japanese Encephalitis

Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Lucyana Alim Santoso, Sp.A.

Penyakit yang ditularkan nyamuk pada anak sering disamakan dengan demam berdarah dengue (DBD) saja, padahal ada setidaknya enam penyakit serius lain yang juga ditularkan melalui gigitan nyamuk di Indonesia, mulai dari chikungunya hingga malaria yang masih endemis di Papua, NTT, dan beberapa wilayah timur Indonesia (Kemenkes RI, 2023). Beberapa di antaranya bahkan dapat menyerang otak dan menyebabkan kecacatan permanen. 

Panduan ini membahas 6 penyakit tular nyamuk yang perlu diwaspadai orang tua, perbedaan jenis nyamuk pembawa penyakit, vaksin yang tersedia, dan strategi 3M Plus untuk pencegahan menyeluruh. 

Mengapa Nyamuk Bisa Menularkan Banyak Penyakit Berbeda? 

Nyamuk bertindak sebagai vektor, perantara yang membawa virus, bakteri, atau parasit dari satu makhluk hidup ke makhluk hidup lain. Saat nyamuk yang terinfeksi menggigit, patogen masuk ke aliran darah dan menyebabkan infeksi. Berbeda jenis nyamuk membawa berbeda penyakit, tergantung pada patogen apa yang bisa bertahan hidup dan berkembang di dalam tubuhnya. 

Jenis Nyamuk dan Penyakit yang Dibawa 

Jenis Nyamuk 

Waktu Paling Aktif 

Habitat 

Penyakit yang Dibawa

Aedes aegypti 

Pagi (08.00–10.00) & 

sore (15.00–17.00)

Air bersih tergenang di 

dalam/sekitar rumah

DBD, Chikungunya, Zika

Aedes 

albopictus

Siang hari, mirip Aedes aegypti

Air tergenang di luar rumah (ban, tempurung)

DBD, Chikungunya, Zika

Culex spp. 

Senja hingga malam 

(18.00–06.00)

Air kotor, selokan, sawah 

Japanese Encephalitis, filariasis (sebagian spesies)

Anopheles spp. 

Malam hari 

(22.00–04.00)

Air tergenang alami: rawa, sawah, kolam

Malaria


6 Penyakit yang Ditularkan Nyamuk pada Anak 

Tabel berikut merangkum 6 penyakit tular nyamuk yang paling relevan bagi anak di Indonesia, lengkap dengan penyebab, gejala khas, dan komplikasi yang perlu diwaspadai: 

Penyakit 

Penyebab & Vektor 

Gejala Khas 

Komplikasi Serius

1. Demam 

Berdarah 

(DBD)

Virus dengue Nyamuk Aedes aegypti

Demam tinggi mendadak, nyeri kepala/otot, ruam, perdarahan ringan

Syok dengue, perdarahan 

berat, kematian

2. 

Chikungunya

Virus chikungunya 

Nyamuk Aedes

Demam mendadak, nyeri sendi HEBAT (khas), ruam

Nyeri sendi kronis 

berminggu-bulan

3. Zika 

Virus Zika Nyamuk 

Aedes

Demam ringan, ruam, mata 

merah, nyeri sendi ringan

Mikrosefali pada janin bila ibu hamil terinfeksi

4. Japanese 

Encephalitis 

(JE)

Virus JE Nyamuk Culex 

Demam, kejang, penurunan 

kesadaran

Ensefalitis, gangguan 

neurologis permanen, kematian

5. Malaria 

Parasit Plasmodium 

Nyamuk Anopheles

Demam hilang-timbul (siklik), menggigil, berkeringat

Anemia berat, malaria serebral, gagal organ

6. Filariasis 

(Kaki Gajah)

Cacing filaria Berbagai nyamuk

Awalnya tanpa gejala; bengkak kronis bertahap

Kecacatan permanen, 

gangguan sistem limfatik


Seberapa Besar Risiko di Indonesia?

Demam Berdarah & Chikungunya: Risiko di Hampir Seluruh Indonesia

DBD dan chikungunya dibawa nyamuk Aedes yang berkembang biak di lingkungan perkotaan dan pedesaan di seluruh Indonesia. Keduanya sering muncul sebagai KLB (Kejadian Luar Biasa) lokal terutama saat musim hujan. 

Malaria: Masih Endemis di Wilayah Timur Indonesia 

Meski sudah banyak menurun, malaria masih endemis terutama di Papua, Papua Barat, NTT, dan beberapa wilayah Kalimantan dan Sulawesi. Anak yang tinggal atau bepergian ke wilayah ini perlu kewaspadaan ekstra (Kemenkes RI, 2023). 

Filariasis: Terdokumentasi di Ratusan Kabupaten 

Filariasis (kaki gajah) tercatat di lebih dari 300 kabupaten/kota di Indonesia. Program eliminasi filariasis nasional terus berjalan, namun daerah endemis tetap memerlukan kewaspadaan jangka panjang karena gejala muncul bertahun-tahun setelah infeksi. 

Japanese Encephalitis & Zika: Risiko Lebih Terbatas namun Serius

JE terkonsentrasi di Bali, NTT, Kalimantan, dan Papua. Kasus Zika di Indonesia jarang terdokumentasi namun tetap perlu diwaspadai terutama untuk ibu hamil karena risiko mikrosefali pada janin. 

Vaksin yang Tersedia untuk Penyakit Tular Nyamuk 

Dari 6 penyakit di atas, baru 2 yang memiliki vaksin yang tersedia di Indonesia: 

Vaksin 

Untuk Penyakit 

Kriteria Usia/Penggunaan 

Ketersediaan

Vaksin Dengue 

(Dengvaxia/Qdenga)

Demam Berdarah Dengue 

9–16 tahun; idealnya untuk yang sudah pernah terinfeksi dengue

RS swasta tertentu

Vaksin JE 

(IMOJEV/IXIARO)

Japanese Encephalitis 

Mulai usia 9 bulan (IMOJEV) atau 2 bulan (IXIARO)

RS swasta pilihan

Belum ada vaksin 

Chikungunya, Zika, 

Malaria, Filariasis

— 

Pencegahan vektor adalah satu-satunya cara saat ini

Baca panduan lengkap di artikel terpisah PrimaKu: Jadwal Vaksin Japanese Encephalitis Anak dari Rekomendasi Terbaru.

Strategi 3M Plus: Pencegahan Utama untuk Semua Penyakit Tular Nyamuk 

Karena vaksin hanya tersedia untuk 2 dari 6 penyakit, pemberantasan sarang nyamuk tetap menjadi strategi pencegahan paling penting dan efektif untuk SEMUA penyakit tular nyamuk:

Langkah 

Penjelasan 

Contoh Praktis

M1: Menguras 

Mengosongkan & menyikat tempat 

penampungan air secara rutin

Bak mandi, tempat minum burung, vas bunga, tiap 3–4 hari

M2: Menutup 

Menutup rapat tempat penampungan air agar nyamuk tidak bertelur

Tutup ember, drum, tandon air dengan penutup rapat

M3: Mendaur 

ulang/Mengubur

Mengelola barang bekas yang dapat menampung air

Kubur/daur ulang ban bekas, botol plastik, kaleng

Plus: Abatisasi 

Menaburkan bubuk larvasida pada 

penampungan air yang sulit dikuras

Abate pada tandon besar yang jarang dikosongkan

Plus: Ikan pemakan jentik

Memelihara ikan yang memakan jentik nyamuk

Ikan cupang/guppy di kolam atau bak besar

Plus: Kelambu & 

repellent

Perlindungan langsung dari gigitan nyamuk 

Kelambu saat tidur; losion anti nyamuk sesuai usia

Plus: Pencahayaan & ventilasi

Rumah terang dan berventilasi mengurangi tempat nyamuk bersembunyi

Kasa nyamuk di jendela; buka jendela di siang hari


Kapan Harus Segera ke Dokter atau IGD? 

Tanda Darurat: Segera ke IGD 

• Demam tinggi mendadak yang tidak turun dengan obat 

• Kejang atau penurunan kesadaran (tanda kemungkinan JE/malaria serebral)

• Mimisan, gusi berdarah, atau bintik merah di kulit (tanda DBD) 

• Nyeri kepala berat disertai nyeri di belakang mata 

• Muntah terus-menerus atau tidak bisa minum 

• Bengkak yang tidak biasa pada tungkai (kemungkinan filariasis) 

Catatan: Karena gejala awal banyak penyakit ini mirip, diagnosis dan pemeriksaan lab oleh dokter sangat penting, jangan menunda jika demam tidak membaik dalam 2–3 hari. 

FAQ: Pertanyaan Orang Tua tentang Penyakit Tular Nyamuk 

Q: Apakah losion anti nyamuk benar-benar efektif untuk anak? 

A: Ya, losion/repellent dengan bahan aktif yang tepat (DEET ≥10%, picaridin, atau IR3535) terbukti efektif mengurangi risiko gigitan nyamuk hingga 85–95% selama beberapa jam. Pilih produk yang sesuai rekomendasi usia, DEET umumnya untuk anak >2 bulan dengan konsentrasi rendah, sementara minyak esensial alami efeknya lebih singkat dan kurang konsisten.

Q: Bisakah satu gigitan nyamuk menularkan lebih dari satu penyakit sekaligus?

A: Secara teori bisa terjadi co-infection (misalnya DBD + chikungunya) jika nyamuk yang sama membawa lebih dari satu patogen, atau jika anak digigit beberapa nyamuk berbeda dalam waktu singkat. Kondisi ini jarang namun dapat membuat gejala lebih kompleks dan sulit didiagnosis tanpa pemeriksaan lab lengkap. 

Q: Apakah anak yang sudah kena chikungunya bisa kena lagi? 

A: Infeksi chikungunya umumnya memberikan kekebalan jangka panjang terhadap virus yang sama, sehingga reinfeksi sangat jarang. Namun nyeri sendi kronis pasca-chikungunya (post-chikungunya arthritis) bisa menetap berminggu hingga berbulan-bulan meski infeksi akut sudah sembuh. 

Q: Apakah fogging (pengasapan) efektif mencegah penyakit tular nyamuk?

A: Fogging efektif membunuh nyamuk dewasa secara cepat namun TIDAK membunuh jentik/telur nyamuk. Karena itu fogging sebaiknya dikombinasikan dengan 3M Plus, bukan sebagai satu-satunya strategi. Fogging paling efektif digunakan saat terjadi KLB untuk memutus rantai penularan cepat, bukan sebagai pencegahan rutin jangka panjang. 

Q: Anak akan bepergian ke Papua/NTT, vaksin atau obat apa yang perlu disiapkan?

A: Untuk perjalanan ke daerah endemis malaria (Papua, NTT, sebagian Kalimantan), konsultasikan profilaksis malaria (obat pencegahan) dengan dokter sebelum berangkat. Untuk JE, vaksin idealnya diberikan minimal 4 minggu sebelum keberangkatan. Selalu bawa kelambu dan repellent, serta pastikan informasi tujuan spesifik disampaikan ke dokter untuk rekomendasi yang tepat. 

Bukan cuma DBD, pastikan MonDad paham risiko penyakit tular nyamuk lainnya dan langkah pencegahan yang tepat. Di PrimaKu, MomDad bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis anak untuk evaluasi risiko, vaksinasi yang sesuai, dan penanganan dini bila anak menunjukkan gejala, hingga melakukan booking vaksin.

Referensi:

1. World Health Organization (WHO). Vector-borne Diseases: Fact Sheet. Geneva: WHO; 2024.

2. World Health Organization (WHO). Dengue and Severe Dengue: Fact Sheet. Geneva: WHO; 2024.

3. World Health Organization (WHO). Japanese Encephalitis: Fact Sheet. Geneva: WHO; 2024.

4. World Health Organization (WHO). Malaria: Fact Sheet. Geneva: WHO; 2024. 

5. World Health Organization (WHO). Zika Virus: Fact Sheet. Geneva: WHO; 2024.

6. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Mosquito-Borne Diseases. Atlanta: CDC; 2024.

7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor. Jakarta: Kemenkes RI; 2023. 

8. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Panduan Tata Laksana Penyakit Infeksi Tropis pada Anak. Jakarta: IDAI; 2022.