
Mengenal Maureen Hitipeuw, Sosok yang Merangkul Sesama Ibu Tunggal Lewat Komunitas Single Mom Indonesia
18 Jul 2022

Author: Tim PrimaKu
6 Feb 2026
Topik: Sunat Perempuan, Sunat, Female genital mutilatio, Infeksi, Tumbuh Kembang
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Lucyana Alim Santoso, Sp.A.
Female genital mutilation (FGM) atau sunat perempuan adalah prosedur medis yang
melibatkan penghilangan sebagian atau seluruh organ genital perempuan dengan alasan non-medis. Praktik ini tidak hanya melanggar hak asasi manusia, tetapi juga membawa dampak jangka panjang bagi kesehatan perempuan dan anak perempuan yang menjadi korban. Menurut World Health Organization (WHO), lebih dari 230 juta perempuan dan anak perempuan di dunia hidup dengan dampak FGM, yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi medis, psikologis, dan sosial yang serius.
Kenapa Sunat Perempuan Perlu Dihentikan?
Sunat perempuan dipraktikkan dengan berbagai alasan sosiokultural, seperti keyakinan untuk menjaga kesucian atau untuk meningkatkan daya nikah seorang perempuan. Namun, yang perlu digarisbawahi adalah bahwa FGM tidak memiliki manfaat kesehatan, bahkan sebaliknya, justru memperburuk kondisi kesehatan dan kualitas hidup korban. Berdasarkan resolusi WHO dan berbagai laporan internasional, FGM dipandang sebagai pelanggaran hak asasi manusia yang harus dihapuskan secara global.
Risiko Kesehatan akibat FGM
Sunat perempuan berisiko menimbulkan berbagai komplikasi kesehatan serius. Beberapa penelitian yang dilakukan secara sistematik mengungkapkan adanya hubungan signifikan antara jenis-jenis FGM dengan berbagai komplikasi kesehatan. Semakin berat jenis FGM, semakin besar risikonya. Berikut beberapa dampak kesehatan yang umum terjadi akibat FGM:
Komplikasi Obstetrik:
Komplikasi Ginekologi:
Komplikasi Seksual:
Selain itu, beberapa prosedur medis lainnya juga dapat terhambat akibat perubahan anatomi yang disebabkan oleh FGM, seperti pemeriksaan ginekologi rutin, screening kanker serviks, atau penempatan alat kontrasepsi intrauterin (IUD), khususnya pada tipe III FGM.
Langkah untuk Mengakhiri FGM
WHO dan organisasi internasional lainnya telah mengeluarkan serangkaian panduan untuk mencegah praktik FGM, termasuk melalui pendidikan dan penyuluhan tentang dampak buruk FGM. Salah satu langkah penting adalah melibatkan profesional kesehatan, pemimpin komunitas, dan tokoh agama untuk memberikan informasi yang benar tentang FGM serta memastikan bahwa perempuan dan anak perempuan yang sudah terkena atau berisiko terkena FGM mendapatkan perawatan medis yang memadai. Upaya preventif ini juga meliputi pelatihan bagi tenaga medis agar dapat memberikan perawatan yang kompeten dan mendukung pemulihan fisik serta emosional bagi korban FGM.
Meskipun sunat perempuan (FGM) memiliki dampak yang jelas pada kesehatan dan kesejahteraan perempuan, keputusan tentang apakah anak akan disunat atau tidak tetap berada di tangan orang tua. Sebagai orang tua, MomDad adalah pihak yang paling memahami apa yang terbaik bagi si Kecil, dan keputusan tersebut harus diambil dengan pertimbangan matang, berdasarkan informasi yang tepat dan pemahaman yang mendalam. Yang terpenting adalah memastikan bahwa anak tumbuh dengan kasih sayang, perlindungan, dan kesehatan yang optimal, tanpa harus terjebak dalam praktik yang bisa membahayakan masa depannya.
Referensi: WHO guideline on the prevention of female genital mutilation and clinical management of complications.

18 Jul 2022

18 Jul 2022

18 Jul 2022

24 Jul 2022
