13 Agustus 2026
Apa sih Bedanya Vaksin DPT, DTaP, DTwP, dan Tdap?
Ditulis oleh

Dhia Priyanka
Topik: Vaksin DPT, DTaP, DTwP, Tdap, Program Vaksinasi, Vaksinasi Dasar, Vaksinasi
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Dini Mirasanti, Sp.A.
Menurut panduan imunisasi IDAI dan Kemenkes RI, saat mencari informasi tentang vaksin DPT, MomDad sering menemukan berbagai istilah seperti DTaP, DTwP, hingga Tdap. Nama-nama tersebut terdengar mirip sehingga tidak sedikit yang mengira semuanya adalah vaksin yang berbeda.
Padahal, semuanya sama-sama bertujuan melindungi dari tiga penyakit berbahaya, yaitu difteri, pertusis (batuk rejan), dan tetanus. Perbedaannya terletak pada jenis komponen vaksin, kandungan antigen, sasaran usia, hingga jadwal pemberiannya.
Memahami perbedaan vaksin DPT sangat penting agar MomDad tidak bingung saat membaca jadwal imunisasi maupun ketika dokter merekomendasikan jenis vaksin tertentu. Berikut penjelasan lengkapnya, mulai dari komponen, efek samping, hingga jadwal booster untuk setiap kelompok usia.
Perbandingan Vaksin DPT, DTwP, DTaP, dan Tdap
Berikut perbandingan masing-masing jenis vaksin DPT.
Vaksin DPT di Indonesia: Pentabio dan Booster Nasional
Di Indonesia, vaksin DPT yang digunakan dalam program imunisasi nasional pemerintah adalah Pentabio, yaitu vaksin kombinasi DPT-HB-Hib dengan komponen pertusis whole-cell (DTwP). Vaksin ini diberikan gratis di Posyandu dan Puskesmas sesuai jadwal Kemenkes RI.
Sementara itu, vaksin dengan komponen acellular (DTaP) dan booster Tdap umumnya tersedia di layanan kesehatan swasta,
dengan jadwal booster yang mengikuti rekomendasi IDAI untuk anak usia sekolah dan remaja.
Apa Itu DTwP?
DTwP adalah vaksin DPT yang menggunakan bakteri pertusis utuh (whole-cell pertussis). Jenis ini telah digunakan selama puluhan tahun dan terbukti sangat efektif menurunkan angka kesakitan maupun kematian akibat pertusis di seluruh dunia.
Kelebihan DTwP
- Memberikan perlindungan yang baik terhadap pertusis.
- Digunakan secara luas dalam berbagai program imunisasi nasional.
- Memiliki efektivitas tinggi dalam mencegah penyakit berat.
Kekurangan DTwP
Karena mengandung bakteri pertusis utuh yang telah diinaktivasi, DTwP lebih sering menimbulkan reaksi setelah imunisasi, seperti:
- demam
- nyeri di tempat suntikan
- kemerahan
- pembengkakan
- anak menjadi lebih rewel
Meski demikian, reaksi tersebut umumnya bersifat ringan dan akan membaik dalam 1–3 hari.
Apa Itu DTaP?
DTaP merupakan vaksin DPT yang menggunakan komponen pertusis aseluler (acellular), yaitu hanya bagian-bagian tertentu dari bakteri yang dapat memicu kekebalan. Karena tidak menggunakan seluruh bakteri, DTaP memiliki profil keamanan yang lebih baik dibandingkan DTwP.
Kelebihan DTaP
- Risiko demam lebih rendah.
- Nyeri dan bengkak setelah imunisasi biasanya lebih ringan.
- Anak cenderung lebih nyaman setelah vaksinasi.
Apakah DTaP Sama Efektifnya?
Ya. DTaP tetap memberikan perlindungan yang sangat baik terhadap difteri, tetanus, dan pertusis. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kekebalan terhadap pertusis dari vaksin acellular dapat menurun lebih cepat dibandingkan vaksin whole cell. Oleh karena itu, pemberian booster tetap diperlukan sesuai jadwal imunisasi.
Apa Itu Tdap?
Tdap adalah vaksin DPT yang diformulasikan khusus untuk remaja dan orang dewasa. Huruf kecil "d" dan "p" menunjukkan bahwa kandungan antigen difteri dan pertusis pada vaksin ini lebih rendah dibandingkan DTaP.
Tujuannya adalah:
- mempertahankan kekebalan yang mulai menurun
- mengurangi risiko penularan pertusis kepada bayi
- memberikan perlindungan jangka panjang terhadap tetanus dan difteri.
Mengapa Orang Dewasa Masih Membutuhkan Tdap?
Banyak orang mengira vaksin DPT hanya diperlukan saat masih kecil. Padahal, perlindungan terhadap pertusis dapat menurun seiring bertambahnya usia.
Oleh karena itu, berbagai organisasi kesehatan internasional merekomendasikan pemberian booster Tdap pada:
- Remaja usia 11–12 tahun
- Orang dewasa yang belum pernah menerima Tdap
- Ibu hamil pada setiap kehamilan (umumnya usia kehamilan 27–36 minggu)
- Tenaga kesehatan
- Anggota keluarga yang akan sering kontak dengan bayi baru lahir
Booster ini membantu melindungi bayi yang masih terlalu kecil untuk mendapatkan perlindungan optimal dari vaksinasi.
Mana yang Lebih Baik: DTwP atau DTaP?
Tidak ada jawaban yang benar-benar mutlak karena keduanya memiliki kelebihan masing-masing.
DTwP memiliki pengalaman penggunaan yang sangat panjang serta memberikan perlindungan yang baik terhadap pertusis, tetapi lebih sering menyebabkan demam dan reaksi lokal.
Sementara DTaP menawarkan kenyamanan lebih baik setelah imunisasi karena efek sampingnya cenderung lebih ringan, sehingga sering menjadi pilihan pada layanan kesehatan tertentu.
Dokter akan menentukan jenis vaksin DPT yang paling sesuai berdasarkan usia anak, ketersediaan vaksin, riwayat kesehatan, dan rekomendasi imunisasi yang berlaku.
FAQ seputar Vaksin DPT, DTaP, DTwP, dan Tdap
Q: Apakah vaksin DPT sama dengan DTaP?
A: Tidak. Vaksin DPT adalah istilah umum, sedangkan DTaP merupakan salah satu jenis vaksin DPT yang menggunakan komponen pertusis aseluler.
Q: Mengapa ada yang menggunakan DTwP dan ada yang DTaP?
A: Perbedaannya terutama pada komponen pertusis yang digunakan. DTaP cenderung menimbulkan efek samping lebih ringan, sedangkan DTwP telah lama digunakan dengan efektivitas yang baik.
Q: Apakah orang dewasa perlu vaksin DPT?
A: Ya. Orang dewasa umumnya dianjurkan menerima booster Tdap bila belum pernah mendapatkannya sebelumnya, kemudian booster tetanus sesuai rekomendasi.
Q: Apakah ibu hamil boleh menerima Tdap?
A: Ya. CDC dan berbagai organisasi internasional merekomendasikan pemberian Tdap pada setiap kehamilan untuk membantu melindungi bayi baru lahir dari pertusis.
Meski sering dianggap sama, vaksin DPT, DTaP, DTwP, dan Tdap memiliki fungsi yang sedikit berbeda. DPT merupakan istilah umum, sedangkan DTwP dan DTaP diberikan pada bayi maupun anak dengan perbedaan jenis komponen pertusis yang digunakan. Sementara itu, Tdap diformulasikan sebagai booster bagi remaja dan orang dewasa dengan dosis antigen yang lebih rendah.
Apa pun jenis vaksin DPT yang digunakan, semuanya bertujuan memberikan perlindungan terhadap difteri, tetanus, dan pertusis, tiga penyakit yang masih dapat menyebabkan komplikasi serius. Pastikan anak maupun seluruh anggota keluarga mendapatkan vaksinasi sesuai jadwal yang dianjurkan dokter.
Referensi:
1. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jadwal Imunisasi Anak Usia 0–18 Tahun Rekomendasi IDAI. Jakarta: IDAI; 2024.
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk Teknis Pelaksanaan Imunisasi Program (Pentabio). Jakarta: Kemenkes RI; 2023.
3. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diphtheria, Tetanus, and Pertussis Vaccine Recommendations. Atlanta: CDC; 2024.
4. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). About Diphtheria, Tetanus, and Pertussis Vaccination. Atlanta: CDC; 2024.
5. World Health Organization (WHO). Pertussis Vaccines: WHO Position Paper. Weekly Epidemiological Record; 2015;90(35):433–460.
6. American Academy of Pediatrics. Red Book: Report of the Committee on Infectious Diseases, 2024–2027 Edition. Itasca: AAP; 2024.
7. Liang JL, et al. Prevention of Pertussis, Tetanus, and Diphtheria with Vaccines in the United States. MMWR Recommendations and Reports; 2018;67(2):1–44.
8. Cherry JD. Pertussis in Young Infants Throughout the World. Clinical Infectious Diseases; 2016;63(Suppl 4):S119–S122.





