12 Agustus 2026
Perbedaan Vaksin DPT Demam & Tanpa Demam
Ditulis oleh

Dhia Priyanka
Topik: Vaksin DPT, efek samping vaksin DPT pada bayi, Jadwal Vaksinasi IDAI, Jadwal Vaksin
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Dini Mirasanti, Sp.A.
Menurut panduan imunisasi IDAI dan Kemenkes RI, vaksin DPT demam dan tanpa demam sebenarnya merujuk pada jenis kandungan pertusis dalam vaksin, bukan dua vaksin yang berbeda tujuan perlindungannya. Vaksin DPT sendiri merupakan salah satu imunisasi penting yang diberikan pada anak untuk melindungi dari tiga penyakit berbahaya, yaitu difteri, pertusis (batuk rejan), dan tetanus.
Saat berkonsultasi dengan dokter, MomDad mungkin mendengar istilah vaksin DPT demam dan vaksin DPT tanpa demam. Hal ini sering menimbulkan pertanyaan: apakah keduanya berbeda? Mana yang lebih baik untuk si Kecil? Artikel ini membahas kandungan, perbedaan efek samping, efektivitas, hingga cara memilih jenis vaksin DPT yang tepat.
Sebenarnya, istilah "vaksin DPT demam" dan "vaksin DPT tanpa demam" bukanlah nama resmi vaksin. Penyebutan tersebut mengacu pada jenis komponen vaksin pertusis yang digunakan, yang memengaruhi kemungkinan timbulnya efek samping seperti demam setelah imunisasi.
Apa Itu Vaksin DPT?
Vaksin DPT adalah vaksin kombinasi yang melindungi tubuh dari tiga penyakit serius:
- Difteri, infeksi bakteri yang dapat menyebabkan sumbatan saluran napas dan komplikasi pada jantung maupun saraf.
- Pertusis (batuk rejan), infeksi saluran napas yang sangat menular dan berbahaya terutama pada bayi.
- Tetanus, penyakit akibat racun bakteri yang menyerang sistem saraf dan menyebabkan kekakuan otot yang dapat mengancam jiwa.
Di Indonesia, vaksin DPT juga tersedia dalam bentuk vaksin kombinasi, seperti DPT-HB-Hib maupun vaksin heksavalen yang melindungi dari lebih banyak penyakit sekaligus.
Vaksin Pentabio: DPT Demam yang Dipakai di Program Imunisasi Nasional
Di Indonesia, vaksin yang digunakan dalam program imunisasi nasional pemerintah adalah Pentabio, yaitu vaksin DPT-HB-Hib dengan komponen pertusis whole-cell (DTwP). Inilah alasan mengapa vaksin yang diberikan gratis di Posyandu atau Puskesmas kerap disebut orang tua sebagai "vaksin DPT yang bikin demam".
Vaksin dengan komponen acellular (DTaP), yang risiko demamnya lebih rendah, umumnya tersedia di layanan kesehatan swasta dan biasanya berbentuk vaksin kombinasi seperti DPT-HB-Hib acellular atau vaksin heksavalen, dengan biaya yang lebih tinggi dibandingkan Pentabio.
Mengapa Ada Istilah Vaksin DPT Demam dan Tanpa Demam?
Perbedaan tersebut berasal dari jenis komponen pertusis yang digunakan.
Vaksin DPT Demam (DTwP)
DTwP menggunakan bakteri pertusis utuh yang telah dimatikan (whole-cell pertussis). Karena mengandung lebih banyak komponen bakteri, respons imun yang terbentuk cukup kuat, tetapi reaksi setelah imunisasi juga lebih sering muncul.
Efek samping yang lebih sering ditemukan antara lain:
- Demam ringan hingga sedang.
- Nyeri di tempat suntikan.
- Bengkak dan kemerahan.
- Anak menjadi lebih rewel atau mudah mengantuk.
Sebagian besar efek samping ini bersifat ringan dan akan membaik dalam 1–3 hari.
Vaksin DPT Tanpa Demam (DTaP)
DTaP menggunakan bagian tertentu dari bakteri pertusis (acellular pertussis), bukan seluruh bakterinya. Karena hanya mengandung komponen yang diperlukan untuk merangsang pembentukan antibodi, vaksin ini memiliki risiko efek samping yang lebih rendah, terutama demam setelah imunisasi.
Meski demikian, sebagian anak tetap dapat mengalami:
- Nyeri ringan pada lokasi suntikan.
- Kemerahan.
- Bengkak ringan.
- Demam ringan, meskipun lebih jarang dibandingkan DTwP.
Perlu diketahui bahwa istilah "tanpa demam" sebenarnya kurang tepat karena tetap ada kemungkinan anak mengalami demam, hanya saja risikonya lebih kecil.
Perbedaan Vaksin DPT Demam dan Tanpa Demam
Apakah Vaksin DPT Tanpa Demam Lebih Baik?
Belum tentu. Baik DTwP maupun DTaP telah terbukti efektif melindungi anak dari difteri, pertusis, dan tetanus jika diberikan sesuai jadwal imunisasi yang direkomendasikan. Perbedaan utama terletak pada profil efek sampingnya, bukan pada tujuan perlindungannya.
Dokter dapat mempertimbangkan penggunaan DTaP pada kondisi tertentu, misalnya bila anak pernah mengalami reaksi berat setelah pemberian DTwP sebelumnya atau berdasarkan pertimbangan klinis lainnya. Yang terpenting adalah anak mendapatkan vaksinasi lengkap sesuai jadwal.
Apakah Anak yang Demam Setelah Vaksin DPT Berbahaya?
Tidak selalu. Demam setelah vaksin DPT merupakan tanda bahwa sistem kekebalan tubuh sedang memberikan respons terhadap vaksin. Sebagian besar demam muncul dalam 24–48 jam pertama dan akan hilang dengan sendirinya.
Untuk membantu membuat anak lebih nyaman, MomDad dapat:
- Memberikan ASI atau cairan lebih sering.
- Mengenakan pakaian yang tipis dan nyaman.
- Memantau suhu tubuh anak.
- Memberikan obat penurun demam apabila direkomendasikan dokter.
Hindari memberikan obat penurun demam secara rutin sebelum imunisasi kecuali atas anjuran tenaga kesehatan.
Jadwal Pemberian Vaksin DPT
Jadwal vaksin DPT dapat berbeda tergantung jenis vaksin yang digunakan dan rekomendasi program imunisasi. Secara umum, mengikuti jadwal IDAI, imunisasi DPT diberikan mulai usia 2 bulan, kemudian dilanjutkan sesuai jadwal imunisasi dasar dan booster yang direkomendasikan oleh dokter atau program imunisasi nasional.
Pastikan MomDad tidak melewatkan jadwal vaksinasi agar perlindungan terhadap difteri, pertusis, dan tetanus tetap optimal.
Kapan Harus Menghubungi Dokter Setelah Vaksin DPT?
Segera konsultasikan ke dokter apabila setelah vaksin DPT anak mengalami:
- Demam tinggi yang menetap.
- Kejang.
- Menangis terus-menerus selama lebih dari 3 jam.
- Sesak napas.
- Bengkak yang semakin membesar.
- Reaksi alergi seperti biduran, pembengkakan pada wajah, atau kesulitan bernapas.
Kondisi tersebut memang jarang terjadi, tetapi memerlukan penanganan medis segera.
FAQ seputar Vaksin DPT Demam dan Tanpa Demam
Q: Apakah vaksin DPT tanpa demam benar-benar tidak menyebabkan demam?
A: Tidak. Vaksin DTaP tetap dapat menyebabkan demam, tetapi risikonya lebih rendah dibandingkan DTwP.
Q: Mana yang lebih efektif, DTwP atau DTaP?
A: Keduanya efektif dalam mencegah difteri, pertusis, dan tetanus apabila diberikan sesuai jadwal imunisasi yang dianjurkan.
Q: Apakah anak boleh diberi obat penurun demam sebelum vaksin DPT?
A: Tidak dianjurkan memberikan obat penurun demam secara rutin sebelum imunisasi kecuali atas saran dokter.
Q: Jika anak demam setelah vaksin DPT, apakah vaksin berhasil bekerja?
A: Demam bukan penentu keberhasilan vaksin. Anak yang tidak mengalami demam tetap dapat membentuk perlindungan yang baik setelah menerima vaksin DPT.
Istilah vaksin DPT demam dan vaksin DPT tanpa demam sebenarnya mengacu pada jenis komponen pertusis yang digunakan dalam vaksin. DTwP (seperti Pentabio pada program imunisasi nasional) lebih sering menimbulkan demam setelah imunisasi, sedangkan DTaP memiliki risiko efek samping yang lebih rendah. Meski demikian, keduanya sama-sama efektif dalam melindungi anak dari difteri, pertusis, dan tetanus.
Yang paling penting bukanlah memilih vaksin yang "demam" atau "tanpa demam", melainkan memastikan si Kecil mendapatkan vaksin DPT sesuai jadwal yang direkomendasikan. Jika MomDad masih bingung menentukan jenis vaksin yang sesuai, konsultasikan dengan dokter agar keputusan dapat disesuaikan dengan kondisi kesehatan anak.
Referensi:
1. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jadwal Imunisasi Anak Usia 0–18 Tahun Rekomendasi IDAI. Jakarta: IDAI; 2024.
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk Teknis Pelaksanaan Imunisasi Program (Pentabio). Jakarta: Kemenkes RI; 2023.
3. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diphtheria, Tetanus, and Pertussis Vaccination. Atlanta: CDC; 2024.
4. World Health Organization (WHO). Pertussis Vaccines: WHO Position Paper. Weekly Epidemiological Record; 2015.
5. American Academy of Pediatrics. Red Book: Report of the Committee on Infectious Diseases, 2024–2027 Edition. Itasca: AAP; 2024.
6. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Possible Side Effects from Vaccines. Atlanta: CDC; 2024.
7. World Health Organization (WHO). Immunization Agenda & Vaccine Safety Resources. Geneva: WHO; 2024.






