11 Agustus 2026
Daftar Program Imunisasi yang Diwajibkan Pemerintah untuk Setiap Anak
Ditulis oleh

Dhia Priyanka
Topik: Program Imunisasi, Imunisasi Nasional, Program Vaksinasi, Program Vaksin Pemerintah
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Lucyana Alim Santoso, Sp.A.
Vaksin wajib anak merupakan istilah yang umum digunakan untuk menyebut imunisasi program yang diwajibkan pemerintah guna melindungi anak dan masyarakat dari penyakit menular berbahaya. Artikel ini merangkum jenis vaksin wajib, jadwal lengkapnya dari lahir hingga usia sekolah, status biaya, serta langkah yang perlu diambil jika imunisasi anak terlambat.
Imunisasi ini tidak berhenti setelah bayi berusia satu tahun, tetapi berlanjut pada masa baduta hingga usia sekolah agar perlindungan anak tetap optimal.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2026, istilah resminya adalah "imunisasi program". Imunisasi program terdiri dari imunisasi rutin, imunisasi tambahan untuk kelompok berisiko, serta imunisasi pelaku perjalanan. Pelayanan imunisasi rutin dan imunisasi tambahan dalam program pemerintah diberikan tanpa dipungut biaya.
Jenis vaksin dalam program juga dapat berkembang mengikuti kondisi penyakit, bukti ilmiah, dan kebijakan pemerintah. PCV, rotavirus, IPV dosis kedua, serta HPV merupakan contoh vaksin yang telah ditambahkan ke dalam program nasional.
Apa yang Dimaksud dengan Vaksin Wajib?
Dalam percakapan sehari-hari, vaksin wajib sering disamakan dengan imunisasi dasar. Padahal, perlindungan lengkap meliputi tiga tahap:
- Imunisasi dasar, diberikan kepada bayi usia 0-11 bulan
- Imunisasi lanjutan baduta, diberikan pada usia 12-24 bulan
- Imunisasi lanjutan anak sekolah, diberikan melalui Bulan Imunisasi Anak Sekolah atau BIAS
Menurut Permenkes Nomor 3 Tahun 2026, imunisasi program merupakan imunisasi yang diwajibkan pemerintah kepada individu atau masyarakat. Jenis antigen dan jadwalnya ditetapkan oleh Menteri Kesehatan dengan mempertimbangkan rekomendasi ahli.
Tujuan imunisasi bukan hanya melindungi anak yang menerima vaksin, tetapi juga membantu memutus rantai penularan. Perlindungan komunitas sangat penting bagi bayi yang belum cukup umur untuk menerima vaksin serta anak dengan kondisi medis yang membuatnya tidak dapat divaksinasi.
Apa Bedanya Vaksin Wajib dan Vaksin Tambahan?
Istilah "vaksin wajib" biasanya merujuk pada vaksin dalam program pemerintah. Sementara itu, "vaksin tambahan" kerap digunakan untuk vaksin yang diperoleh secara mandiri sesuai kebutuhan kesehatan.
Namun, istilah tambahan bukan berarti vaksin tersebut tidak penting. IDAI merekomendasikan sejumlah vaksin di luar cakupan program pemerintah untuk memperluas perlindungan anak, seperti influenza, MMR, varisela, hepatitis A, tifoid, dengue, dan meningokokus sesuai usia serta risiko.
Perbedaannya terutama terletak pada:
Vaksin mandiri tidak menggantikan imunisasi program. Anak tetap perlu menyelesaikan vaksin dasar dan lanjutan sesuai jadwal nasional.
Jadwal Vaksin Wajib Anak di Indonesia
Berikut jadwal imunisasi rutin lengkap berdasarkan informasi Kementerian Kesehatan. Jadwal ini dapat diperbarui mengikuti kebijakan nasional dan kondisi daerah.
Jadwal Imunisasi Bayi dan Baduta
Jadwal rotavirus di atas mengikuti vaksin yang digunakan dalam program pemerintah. Produk rotavirus yang tersedia secara mandiri dapat memiliki jumlah dosis berbeda. Karena vaksin ini mempunyai batas usia pemberian, jangan menunda dosis tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Vaksin Campak-Rubela dan HPV umumnya diberikan pada periode Agustus, sedangkan DT dan Td diberikan pada November. Tanggal pelaksanaan dapat berbeda di setiap sekolah dan daerah.
Anak yang tidak bersekolah tetap berhak memperoleh imunisasi sesuai usianya melalui puskesmas atau fasilitas kesehatan yang ditentukan.
Jenis Vaksin Wajib Anak dan Manfaatnya
1. Vaksin Hepatitis B
Vaksin hepatitis B melindungi anak dari infeksi virus hepatitis B yang dapat menyebabkan penyakit hati kronis, sirosis, dan kanker hati.
Dosis pertama atau HB0 diberikan sesegera mungkin setelah lahir, idealnya dalam waktu kurang dari 24 jam. Pemberian dini sangat penting untuk mencegah penularan dari ibu kepada bayi saat persalinan.
Bayi dari ibu dengan hepatitis B memerlukan penanganan khusus, yang dapat mencakup vaksin hepatitis B dan imunoglobulin hepatitis B sesuai evaluasi tenaga kesehatan.
Setelah dosis lahir, perlindungan hepatitis B dilanjutkan melalui vaksin kombinasi DPT-HB-Hib.
2. Vaksin BCG
BCG membantu melindungi anak dari bentuk tuberkulosis berat, terutama meningitis TB dan TB milier.
Vaksin ini umumnya diberikan pada usia satu bulan. Bekas luka kecil dapat muncul beberapa minggu setelah penyuntikan. Reaksi tersebut sering merupakan proses lokal yang diharapkan, tetapi luka yang sangat besar, bernanah berlebihan, atau disertai pembengkakan kelenjar perlu diperiksa.
BCG tidak sepenuhnya mencegah seseorang terinfeksi bakteri tuberkulosis. Perlindungan utamanya adalah mengurangi risiko penyakit TB berat pada anak.
3. Vaksin Polio
Polio dapat menyebabkan kelumpuhan permanen dan kematian. Tidak ada obat yang dapat menyembuhkan kelumpuhan akibat polio sehingga pencegahan melalui imunisasi sangat penting.
Program nasional menggunakan dua bentuk vaksin:
- Polio tetes atau bOPV, diberikan beberapa kali untuk membentuk kekebalan pada saluran pencernaan
- Polio suntik atau IPV, membantu membentuk kekebalan sistemik terhadap virus polio
Anak tetap memerlukan seluruh dosis sesuai jadwal meskipun pernah memperoleh vaksin polio saat kegiatan imunisasi tambahan.
4. Vaksin DPT-HB-Hib
Vaksin kombinasi DPT-HB-Hib melindungi anak dari lima penyakit: difteri, pertusis atau batuk rejan, tetanus, hepatitis B, dan infeksi Haemophilus influenzae tipe b.
Difteri dapat menyumbat saluran napas dan merusak jantung. Pertusis dapat menyebabkan batuk berat serta henti napas pada bayi. Tetanus menimbulkan kekakuan dan kejang otot, sedangkan Hib dapat menyebabkan meningitis serta pneumonia.
Vaksin diberikan tiga kali pada masa bayi dan dilanjutkan dengan dosis penguat pada usia 18 bulan.
5. Vaksin PCV
Pneumococcal conjugate vaccine atau PCV melindungi dari infeksi bakteri pneumokokus yang dapat menyebabkan pneumonia, meningitis, infeksi darah, dan infeksi telinga.
Dalam jadwal nasional, PCV diberikan pada usia 2, 3, dan 12 bulan.
Penelitian dalam The New England Journal of Medicine menunjukkan penggunaan vaksin pneumokokus konjugasi menurunkan kejadian penyakit pneumokokus invasif pada anak. Perlindungan komunitas juga dapat membantu menurunkan penularan kepada kelompok usia lain.
6. Vaksin Rotavirus
Rotavirus merupakan salah satu penyebab diare berat pada bayi dan anak kecil. Infeksinya dapat menyebabkan muntah, dehidrasi, rawat inap, bahkan kematian.
Vaksin rotavirus diberikan melalui mulut, bukan suntikan. Dalam program nasional, vaksin diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan.
Meta-analisis terhadap berbagai penelitian menemukan vaksin rotavirus secara bermakna mengurangi kejadian gastroenteritis rotavirus dan risiko rawat inap pada anak di bawah usia lima tahun.
Vaksin rotavirus mempunyai batas usia yang ketat. Jika anak terlambat, dokter perlu menentukan apakah dosis masih dapat diberikan.
7. Vaksin Campak-Rubela
Vaksin Campak-Rubela atau MR membantu melindungi anak dari campak dan rubela.
Campak sangat mudah menular dan dapat menyebabkan pneumonia, diare berat, radang otak, malnutrisi, serta kematian. Rubela biasanya ringan pada anak, tetapi sangat berbahaya bagi ibu hamil karena dapat menyebabkan keguguran atau sindrom rubela kongenital pada janin.
Vaksin MR diberikan pada usia 9 bulan, diulang pada usia 18 bulan, kemudian dilanjutkan melalui BIAS kelas 1.
8. Vaksin Japanese Encephalitis
Japanese encephalitis atau JE merupakan infeksi virus yang ditularkan melalui nyamuk. Sebagian kecil kasus dapat berkembang menjadi radang otak, kejang, gangguan kesadaran, kecacatan permanen, atau kematian.
Dalam program nasional, vaksin JE diberikan pada usia sekitar 10 bulan di wilayah endemis. Karena sasaran program ditentukan berdasarkan risiko epidemiologis, ketersediaannya tidak selalu sama di seluruh daerah.
Anak yang tinggal atau akan bepergian ke wilayah berisiko dapat berkonsultasi dengan dokter mengenai kebutuhan vaksin JE.
9. Vaksin DT dan Td
Vaksin DT dan Td sama-sama melindungi dari difteri serta tetanus, tetapi memiliki komposisi antigen yang disesuaikan dengan usia.
- DT diberikan kepada anak kelas 1
- Td diberikan kepada anak yang lebih besar sesuai sasaran BIAS
Dosis lanjutan diperlukan karena perlindungan terhadap difteri dan tetanus dapat menurun seiring waktu.
10. Vaksin HPV
Vaksin HPV membantu mencegah infeksi human papillomavirus yang dapat menyebabkan kanker leher rahim dan penyakit terkait HPV lainnya.
Dalam program BIAS, vaksin HPV diberikan kepada anak perempuan sesuai sasaran kelas. Sejak 2025, program nasional menggunakan jadwal satu dosis berdasarkan kebijakan Kementerian Kesehatan dan rekomendasi ahli.
Vaksin diberikan sebelum seseorang berisiko terpapar HPV agar respons perlindungannya optimal. Pemberian vaksin bukan berarti anak telah aktif secara seksual.
Apakah Vaksin Wajib Gratis?
Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 menyatakan pelayanan imunisasi rutin dan imunisasi tambahan dalam program pemerintah tidak dipungut biaya. Layanan dapat diperoleh melalui:
- Posyandu
- Puskesmas
- Sekolah melalui BIAS
- Klinik desa atau kelurahan
- Fasilitas kesehatan lain yang ditunjuk
Jika pelayanan dilakukan di fasilitas kesehatan swasta, biaya layanan dapat dikenakan sesuai tarif. Tanyakan apakah vaksin dan logistiknya disediakan pemerintah atau merupakan layanan imunisasi mandiri.
Bagaimana Jika Imunisasi Anak Terlambat?
Anak yang terlambat imunisasi umumnya tidak perlu mengulang seluruh seri dari awal. Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 mengatur bahwa anak yang belum menerima imunisasi rutin lengkap perlu memperoleh imunisasi kejar. Langkah yang dapat dilakukan orang tua:
- Kumpulkan seluruh catatan imunisasi
- Bawa Buku KIA, kartu vaksin, atau catatan digital
- Datang ke puskesmas atau dokter anak
- Minta penilaian dosis yang sudah diterima
- Susun jadwal imunisasi kejar
- Catat setiap dosis baru beserta tanggal dan mereknya
Jangan menebak vaksin yang belum diterima berdasarkan bekas suntikan atau ingatan semata. Nama merek berbeda dapat mengandung antigen yang sama, sedangkan nama yang terdengar mirip belum tentu memberikan perlindungan serupa.
FAQ Vaksin Wajib Anak
Q: Apa saja vaksin wajib untuk bayi?
A: Vaksin dalam imunisasi rutin bayi meliputi hepatitis B, BCG, polio tetes, polio suntik, DPT-HB-Hib, PCV, rotavirus, Campak-Rubela, serta JE di wilayah endemis.
Q: Apakah vaksin wajib berhenti setelah bayi berusia satu tahun?
A: Tidak. Anak masih memerlukan PCV pada usia 12 bulan, DPT-HB-Hib dan MR pada 18 bulan, kemudian MR, DT, Td, dan HPV sesuai sasaran usia sekolah.
Q: Apakah PCV dan rotavirus termasuk vaksin wajib?
A: Keduanya telah dimasukkan ke program imunisasi nasional. Ketersediaan dan teknis pelaksanaan perlu dikonfirmasi kepada puskesmas setempat.
Q: Apakah HPV termasuk vaksin wajib anak?
A: HPV termasuk imunisasi program bagi anak perempuan yang menjadi sasaran BIAS. Anak yang tidak tercakup program dapat berkonsultasi mengenai vaksinasi mandiri.
Q: Apakah vaksin program harus menggunakan merek tertentu?
A: Program pemerintah menentukan vaksin berdasarkan standar mutu, keamanan, ketersediaan, dan pengadaan nasional. Merek dapat berbeda, tetapi vaksinnya telah dievaluasi dan digunakan sesuai ketentuan.
Q: Apakah beberapa vaksin boleh diberikan pada hari yang sama?
A: Boleh untuk banyak jenis vaksin. Suntikan diberikan di lokasi berbeda. Pemberian beberapa vaksin sekaligus telah dipertimbangkan dalam jadwal dan dapat mengurangi jumlah kunjungan.
Q: Jika anak terlambat, apakah vaksin harus diulang dari awal?
A: Umumnya tidak. Anak dapat melanjutkan dengan jadwal imunisasi kejar. Pengecualian tertentu, termasuk batas usia rotavirus, perlu dinilai tenaga kesehatan.
Q: Apakah demam setelah vaksin berarti vaksin bekerja?
A: Demam dapat terjadi sebagai respons tubuh, tetapi bukan ukuran keberhasilan vaksin. Anak yang tidak demam tetap dapat membentuk kekebalan.
Q: Apakah imunisasi di puskesmas aman?
A: Vaksin program harus memenuhi standar mutu dan disimpan menggunakan rantai dingin. Petugas juga mengikuti prosedur skrining, pemberian, pencatatan, serta pemantauan KIPI.
Q: Apakah vaksin di luar program tidak penting?
A: Tidak demikian. Vaksin di luar program pemerintah dapat direkomendasikan IDAI berdasarkan usia dan risiko kesehatan. Diskusikan kebutuhan vaksin influenza, MMR, varisela, hepatitis A, tifoid, dengue, atau vaksin lainnya dengan dokter.
Vaksin wajib anak mencakup imunisasi dasar sejak lahir, imunisasi lanjutan baduta, dan imunisasi usia sekolah. Jenisnya meliputi hepatitis B, BCG, polio, DPT-HB-Hib, PCV, rotavirus, Campak-Rubela, JE di wilayah endemis, DT, Td, serta HPV bagi sasaran program.
Lengkap bukan hanya berarti anak sudah pernah divaksinasi, tetapi seluruh dosis telah diberikan pada usia dan interval yang sesuai. Karena itu, simpan catatan imunisasi dalam bentuk fisik dan digital, lalu periksa secara berkala bersama tenaga kesehatan.
Jika ada dosis yang terlewat, segera susun imunisasi kejar. Sebagian besar seri tidak perlu diulang dari awal, tetapi menunda lebih lama akan memperpanjang periode ketika anak belum terlindungi secara optimal.
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan atau rekomendasi langsung dari dokter. Jenis antigen, jadwal, sasaran, dan pelaksanaan program dapat diperbarui mengikuti kebijakan Kementerian Kesehatan.
Referensi:
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2026 tentang Penanggulangan Penyakit. Kemenkes RI.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Jadwal Pemberian Imunisasi Rutin Lengkap. Kemenkes RI.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Kemenkes RI.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/35/2025 tentang Imunisasi Kejar. Kemenkes RI.
- Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jadwal Imunisasi Anak Usia 0-18 Tahun Rekomendasi IDAI 2024. IDAI.
- Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Imunisasi di Indonesia Edisi Ketujuh. IDAI; 2024.
- Whitney CG, et al. Decline in Invasive Pneumococcal Disease After the Introduction of Protein-Polysaccharide Conjugate Vaccine. New England Journal of Medicine. 2003;348:1737-1746.
- Sun Z, et al. Association of Rotavirus Vaccines with Reduction in Rotavirus Gastroenteritis in Children Younger Than 5 Years. JAMA Pediatrics. 2021;175(7):e210347.
- Burnett E, et al. Global Impact of Rotavirus Vaccination on Diarrhea Hospitalizations and Deaths Among Children Younger Than 5 Years: 2006-2019. The Journal of Infectious Diseases. 2020;222(10):1731-1739.
- Zhou F, et al. Health and Economic Benefits of Routine Childhood Immunizations in the Era of the Vaccines for Children Program - United States, 1994-2023. Morbidity and Mortality Weekly Report. 2024;73:682-685.







