14 September 2026
Influenza A Mewabah, Kenali Gejalanya pada Anak
Ditulis oleh

Dhia Priyanka
Topik: Influenza A, Vaksin Influenza, influenza
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Susanti Himawan, Sp. A.
Influenza biasanya muncul lebih mendadak daripada pilek biasa, dengan demam, batuk, nyeri badan, sakit kepala, dan lemas. Anak di bawah 5 tahun, terutama di bawah 2 tahun, lebih berisiko mengalami komplikasi. Sesak napas, bibir kebiruan, dehidrasi, kejang, atau anak sulit dibangunkan memerlukan pertolongan medis segera.
Influenza A pada anak perlu diwaspadai ketika kasus flu meningkat. Laporan surveilans Kementerian Kesehatan RI hingga 12 September 2026 mencatat proporsi spesimen influenza pada rumah sakit sentinel meningkat menjadi 38% pada minggu ke-35, dari 22% pada minggu sebelumnya. Angka ini menggambarkan hasil pemantauan di fasilitas sentinel, bukan berarti 38% seluruh anak Indonesia terinfeksi.
Apa Itu Influenza A?
Influenza A adalah infeksi saluran napas akibat virus influenza tipe A. Virus ini memiliki berbagai subtipe, termasuk A(H1N1)pdm09 dan A(H3N2), yang dapat beredar pada manusia. Influenza A dapat menyebabkan gelombang flu musiman dan, bila muncul virus baru yang mampu menular luas antarmanusia, berpotensi memicu pandemi.
Di wilayah tropis seperti Indonesia, influenza dapat terjadi sepanjang tahun dengan pola peningkatan yang tidak selalu sama seperti musim dingin di negara beriklim sedang. Karena itu, istilah “mewabah” sebaiknya merujuk pada pengumuman atau data surveilans resmi, bukan hanya banyaknya unggahan tentang orang sakit.
Bagaimana Influenza A Menular?
Virus terutama menyebar melalui partikel pernapasan saat orang yang terinfeksi batuk, bersin, berbicara, atau bernapas. Penularan juga mungkin terjadi ketika tangan menyentuh permukaan yang terkontaminasi lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut. Risiko meningkat di ruang tertutup, padat, dan berventilasi buruk.
Anak dapat menularkan virus sebelum gejalanya disadari dan selama beberapa hari setelah sakit. Anak kecil atau anak dengan gangguan kekebalan dapat menularkan lebih lama. Karena durasi menular berbeda-beda, fokuskan pencegahan pada etika batuk, kebersihan tangan, ventilasi, dan menghindari kontak dekat saat sakit.
Gejala Influenza A pada Anak
Gejala influenza sering muncul secara tiba-tiba. Tidak semua anak mengalami seluruh gejala dan influenza dapat terjadi tanpa demam. Gejala umumnya meliputi:
- Demam atau menggigil
- Batuk, sering kali kering
- Sakit tenggorokan
- Hidung tersumbat atau berair
- Sakit kepala
- Nyeri otot atau seluruh tubuh
- Lemas dan cepat lelah
- Nafsu makan menurun
Gejala pada Bayi dan Balita
Bayi dan balita belum tentu dapat menjelaskan sakit kepala atau nyeri badan. MomDad mungkin melihat anak lebih rewel, sulit menyusu atau makan, tidur lebih banyak, kurang aktif, atau menangis saat digendong karena tubuh terasa nyeri. Muntah dan diare juga lebih sering terjadi pada anak dibanding orang dewasa.
Gejala pada Anak Usia Sekolah
Anak yang lebih besar dapat mengeluhkan badan pegal, sakit kepala, menggigil, sakit tenggorokan, dan kelelahan yang membuatnya sulit beraktivitas. Batuk dapat menetap lebih lama meski demam telah membaik.
Influenza A, Pilek Biasa, atau COVID-19?
Gejala ketiganya dapat tumpang tindih. Pola gejala membantu memperkirakan penyebab, tetapi tidak dapat memastikan diagnosis. Pemeriksaan dokter dan tes influenza atau COVID-19 mungkin dibutuhkan, terutama bila anak berisiko tinggi atau sakit berat.
Siapa yang Berisiko Mengalami Komplikasi?
Semua anak dapat mengalami influenza berat, tetapi risikonya lebih tinggi pada:
- anak berusia di bawah 5 tahun, terutama di bawah 2 tahun;
- anak dengan asma atau penyakit paru kronis;
- penyakit jantung, diabetes, gangguan ginjal, hati, saraf, atau metabolik;
- gangguan imunitas atau sedang menjalani terapi penekan imun;
- anak dengan obesitas berat atau kondisi medis kompleks;
- anak yang menggunakan aspirin atau obat salisilat jangka panjang;
- anak yang tinggal di fasilitas perawatan atau memiliki keterbatasan akses layanan kesehatan.
Komplikasi influenza dapat berupa pneumonia, dehidrasi, infeksi telinga, sinusitis, perburukan asma, radang otot, gangguan otak, sepsis, hingga kegagalan napas. Demam atau batuk yang sempat membaik lalu kembali memburuk juga dapat menandakan komplikasi atau infeksi sekunder.
Tanda Bahaya Influenza pada Anak
Bawa anak ke IGD atau cari pertolongan medis segera bila terdapat:
- napas cepat, sesak, atau tulang iga tertarik saat bernapas;
- bibir atau wajah tampak kebiruan atau pucat keabu-abuan;
- nyeri dada;
- kejang, sulit dibangunkan, tidak waspada, atau tidak berinteraksi saat bangun;
- dehidrasi: tidak buang air kecil sekitar 8 jam, mulut kering, atau tidak ada air mata saat menangis;
- nyeri otot sangat berat hingga anak menolak berjalan;
- demam atau batuk membaik lalu kembali atau makin parah;
- penyakit kronis memburuk;
- pada bayi berusia kurang dari 12 minggu, demam apa pun perlu segera dinilai tenaga kesehatan.
Daftar ini tidak mencakup semua keadaan darurat. Bila MomDad merasa kondisi anak memburuk cepat atau tampak sangat sakit, segera cari pertolongan meski gejalanya tidak tercantum.
Lengkapi vaksin influenza si Kecil dan keluarga dengan booking vaksin di PrimaKu. Klik banner di bawah untuk cek promo dan jadwal vaksin.
Bagaimana Dokter Mendiagnosis Influenza A?
Dokter menilai waktu munculnya gejala, paparan, kondisi kesehatan, pemeriksaan fisik, dan situasi penularan di lingkungan. Tes dari usap hidung atau tenggorokan dapat mendeteksi influenza. Hasil tes cepat yang negatif tidak selalu menyingkirkan influenza; dokter dapat menggunakan tes molekuler yang lebih sensitif atau membuat diagnosis klinis sesuai kondisi.
Gejala influenza, COVID-19, RSV, dan infeksi lain sulit dibedakan hanya dari tampilan anak. Oleh karena itu, hindari memastikan sendiri jenis virus atau menggunakan antibiotik tanpa pemeriksaan.
FAQ tentang Influenza A pada Anak
Q: Apakah influenza A lebih berbahaya daripada influenza B?
Keduanya dapat menyebabkan penyakit berat dan komplikasi. Influenza A lebih sering terkait epidemi besar dan pandemi, tetapi tingkat keparahan pada seorang anak dipengaruhi usia, kondisi kesehatan, imunitas, serta galur yang beredar, bukan huruf tipe virus saja.
Q: Apakah setiap demam dan batuk perlu tes influenza?
A: Tidak selalu. Tes lebih bermanfaat bila hasilnya dapat mengubah penanganan, ketika anak berisiko tinggi, mengalami penyakit berat, dirawat, atau perlu dibedakan dari infeksi lain. Dokter akan menentukan jenis tes yang sesuai.
Q: Apakah influenza A sama dengan flu burung?
A: Tidak. Influenza A mencakup banyak subtipe. Influenza musiman manusia umumnya disebabkan subtipe seperti H1N1 dan H3N2, sedangkan “flu burung” merujuk pada virus influenza A tertentu yang terutama beredar pada unggas. Riwayat kontak dengan unggas sakit atau mati harus disampaikan kepada tenaga kesehatan.
Q: Berapa lama influenza A sembuh?
A: Sebagian besar anak membaik dalam beberapa hari hingga kurang dari dua minggu. Batuk dan lelah dapat bertahan lebih lama. Bila gejala memburuk, kembali setelah sempat membaik, atau muncul tanda bahaya, segera periksakan anak.
Q: Apakah antibiotik dapat mengobati influenza A?
A: Tidak. Antibiotik bekerja melawan bakteri, bukan virus influenza. Antibiotik hanya diberikan bila dokter mendiagnosis komplikasi bakteri, misalnya pneumonia bakteri atau infeksi telinga tertentu.
Q: Apakah anak tetap bisa terkena flu setelah vaksin?
A: Bisa, karena perlindungan tidak 100% dan jenis virus yang beredar dapat berubah. Namun, vaksinasi tetap membantu menurunkan risiko sakit dan komplikasi berat. Vaksin diperbarui secara berkala agar sesuai dengan virus yang diperkirakan beredar.
Q: Apakah anak boleh mendapat vaksin saat pilek ringan?
A: Pilek ringan tanpa demam tinggi biasanya bukan alasan untuk menunda vaksinasi, tetapi keputusan akhir bergantung pada kondisi anak dan penilaian tenaga kesehatan. Bila anak sedang sakit sedang hingga berat, dokter dapat menyarankan penundaan sampai membaik.
Influenza A pada anak dapat menyerupai infeksi napas lain, tetapi sering muncul mendadak dengan demam, batuk, nyeri tubuh, dan lemas. Ketika aktivitas influenza meningkat, MomDad perlu memantau kondisi anak lebih saksama, terutama bila usianya di bawah 5 tahun atau memiliki penyakit penyerta.
Perawatan cukup cairan dan istirahat dapat membantu kasus ringan, sedangkan anak berisiko tinggi atau mengalami tanda bahaya memerlukan evaluasi cepat. Vaksinasi tahunan, kebersihan tangan, etika batuk, dan ventilasi yang baik menjadi bagian penting perlindungan keluarga.
Referensi:
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Laporan Pengawasan Kasus Influenza dan COVID-19, 12 September 2026. Kemenkes RI; 2026.
- World Health Organization. Global Respiratory Virus Activity: Weekly Update No. 594. WHO; 2026.
- World Health Organization. Influenza (Seasonal). WHO; 2026.
- Centers for Disease Control and Prevention. Signs and Symptoms of Flu. CDC; 2024.
- Centers for Disease Control and Prevention. Treatment of Flu in Children. CDC; 2024.
- Centers for Disease Control and Prevention. Influenza Antiviral Medications: Summary for Clinicians. CDC; 2026.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Influenza pada Anak. Ayo Sehat Kemenkes; 2026.






