Meta Pixel

7 Juli 2026

Manfaat & Efek Samping Vaksin DPT, Simak Panduan Lengkapnya!

Ditulis oleh

avatar

Dhia Priyanka

Topik: Vaksin DPT, efek samping vaksin DPT pada bayi, jadwal imunisasi DPT anak, manfaat vaksin DPT

Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Dini Mirasanti, Sp.A.

Vaksin DPT adalah salah satu imunisasi dasar paling penting yang melindungi anak dari tiga penyakit berbahaya: difteri, pertusis (batuk rejan), dan tetanus. WHO melaporkan bahwa imunisasi global, termasuk vaksin DPT, telah menyelamatkan estimasi 4–5 juta nyawa setiap tahun dari penyakit yang dapat dicegah. Di Indonesia, vaksin DPT telah masuk dalam program imunisasi nasional Kemenkes RI dan menjadi salah satu vaksin wajib bagi seluruh anak. Meski manfaatnya sudah terbukti, masih banyak orang tua yang ragu akibat khawatir efek samping. 

Apa Itu Vaksin DPT? 

Vaksin DPT adalah vaksin kombinasi yang memberikan perlindungan terhadap tiga penyakit sekaligus dalam satu suntikan. Di Indonesia, vaksin ini umumnya diberikan dalam bentuk kombinasi yang lebih lengkap, seperti DPT-HB-Hib (melindungi dari 5 penyakit sekaligus: Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B, dan Haemophilus influenzae tipe b), sehingga mengurangi jumlah suntikan yang diterima anak. 

Jenis Vaksin DPT yang Tersedia

Nama Vaksin 

Penyakit yang Dicegah 

Keterangan

DPT 

Difteri, Pertusis, Tetanus 

Dasar, 3 penyakit

DPT-HB 

+ Hepatitis B 

Kombinasi 4 penyakit

DPT-HB-Hib (Pentavalen) 

+ Hib (meningitis, pneumonia) 

Program nasional Kemenkes RI, gratis di Puskesmas

Tdap / Td 

Booster Tetanus, Difteri (± 

Pertusis) 

Untuk anak lebih besar & remaja


Tiga Penyakit yang Dicegah Vaksin DPT 

Memahami bahaya ketiga penyakit ini penting agar MomDad menyadari betapa kritisnya vaksinasi tepat waktu: 

1. D - Difteri 

Penyebab: Bakteri Corynebacterium diphtheriae 

Bahaya utama: Membentuk selaput tebal di tenggorokan → sumbatan jalan napas → kematian Komplikasi berat: Miokarditis (radang otot jantung), kelumpuhan saraf, gagal napas 

2. P - Pertusis (Batuk Rejan) 

Penyebab: Bakteri Bordetella pertussis 

Bahaya utama: Batuk hebat beruntun selama berpekan-pekan; pada bayi dapat menyebabkan henti napas (apnea) 

Komplikasi berat: Pneumonia, kejang, kerusakan otak akibat kurang oksigen, kematian pada bayi 

3. T - Tetanus 

Penyebab: Bakteri Clostridium tetani (melalui luka) 

Bahaya utama: Racun menyerang sistem saraf → rahang kaku (lockjaw), kejang otot hebat di seluruh tubuh Komplikasi berat: Gagal napas, pneumonia aspirasi, kematian. Tidak menular antar orang, hanya bisa dicegah vaksin 

Manfaat Vaksin DPT yang Terbukti Secara Ilmiah

Manfaat 

Data & Bukti Ilmiah 

Sumber

Mencegah difteri 

Vaksinasi lengkap hampir 100% efektif mencegah difteri berat 

WHO, 2017

Mencegah pertusis berat 

Efektivitas >90% cegah pertusis berat; penurunan >99% kasus vs era pra-vaksin 

CDC, 2024

Mencegah tetanus 

Vaksinasi lengkap memberikan perlindungan mendekati 100% terhadap tetanus 

WHO, 2024

Menurunkan rawat inap 

Komplikasi berat, hospitalisasi, dan kematian turun drastis di negara dengan cakupan tinggi 

WHO IA2030

Kekebalan kelompok 

Cakupan vaksin >95% menciptakan herd immunity, melindungi bayi terlalu muda untuk divaksin 

CDC/IDAI


Jadwal Vaksin DPT Anak Berdasarkan Rekomendasi IDAI 2024 

Jadwal imunisasi DPT mengikuti rekomendasi terbaru Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) 2024 dan program imunisasi nasional Kemenkes RI: 

Dosis 

Usia 

Jenis Vaksin 

Keterangan

Dosis 1 

2 bulan 

DPT-HB-Hib 

Dosis primer pertama

Dosis 2 

3 bulan 

DPT-HB-Hib 

Dosis primer kedua

Dosis 3 

4 bulan 

DPT-HB-Hib 

Dosis primer ketiga

Booster 1 

18 bulan 

DPT-HB-Hib 

Penguat, wajib; jangan terlewat

Booster 2 

5–7 tahun (kelas 1 SD) 

DT atau Tdap 

Program BIAS Kemenkes RI

Booster 3 

10–12 tahun 

(kelas 5–6 SD) 

Td / Tdap 

Program BIAS; ulang tiap 10 thn dewasa


■ Jadwal Terlewat? Jangan Khawatir, Lakukan Imunisasi Kejar! 

• Vaksin DPT yang terlewat TIDAK harus diulang dari awal. 

• Dokter akan menentukan jadwal catch-up (imunisasi kejar) sesuai usia anak. 

• Semakin cepat dilengkapi, semakin baik, segera jadwalkan di PrimaKu. 

Efek Samping Vaksin DPT yang Normal: Apa yang Bisa Diharapkan? 

Sebagian besar efek samping vaksin DPT bersifat ringan, berlangsung 1–3 hari, dan merupakan tanda bahwa sistem kekebalan tubuh sedang aktif membentuk perlindungan. Ini adalah respons yang diinginkan, bukan tanda bahaya.

Efek Samping 

Frekuensi 

Durasi 

Yang Harus Dilakukan

Nyeri/kemerahan di bekas suntikan

Sangat umum 

(~80%) 

1–3 hari 

Kompres dingin 10–15 mnt; jangan dipijat

Bengkak ringan di 

area suntikan 

Umum (~50%) 

2–3 hari 

Kompres dingin; umumnya membaik sendiri

Demam ringan 

(<38,5°C)

Umum 

(~40–50%) 

1–2 hari 

Parasetamol sesuai dosis jika anak tidak nyaman

Rewel/menangis 

Umum (~50%) 

1–2 hari 

Peluk, susui, dan tenangkan anak

Mengantuk berlebih 

Umum 

1 hari 

Biarkan anak beristirahat cukup

Nafsu makan menurun 

Umum 

1–2 hari 

Tawarkan ASI/susu/cairan lebih sering


Cara Mengatasi Efek Samping Vaksin DPT di Rumah 

Untuk Area Suntikan (Nyeri/Bengkak): 

• Kompres dingin dengan kain bersih yang dibasahi air dingin selama 10–15 menit

• Hindari memijat, menggosok, atau mengoleskan bahan apapun pada bekas suntikan

• Hindari menekan area suntikan saat menggendong bayi 

• Bengkak ringan dan kemerahan akan membaik sendiri dalam 2–3 hari 

Untuk Demam Pasca Vaksin: 

• Pastikan anak minum cairan lebih banyak, tawarkan ASI/susu lebih sering 

• Pakaikan pakaian tipis dan nyaman, jangan diselimuti tebal 

• Berikan parasetamol (dosis 10–15 mg/kgBB/kali, tiap 4–6 jam) hanya jika anak tampak tidak nyaman, bukan sebagai profilaksis rutin 

• Hindari ibuprofen pada bayi di bawah 6 bulan kecuali atas anjuran dokter 

• Jangan diberikan aspirin, risiko sindrom Reye pada anak 

Untuk Kegelisahan / Rewel: 

• Peluk dan gendong anak, sentuhan fisik sangat menenangkan 

• Susui sesering mungkin, ASI mengandung faktor penenang alami 

• Mainkan musik lembut atau alihkan perhatian dengan mainan favorit 

• Pastikan lingkungan nyaman dan tidak terlalu bising atau terang 

Efek Samping Serius Vaksin DPT: Sangat Jarang tapi Perlu Diketahui 

Efek samping serius vaksin DPT terjadi pada kurang dari 1 per 100.000 dosis yang diberikan. Meskipun sangat jarang, orang tua perlu mengenali tanda-tandanya agar dapat segera mencari pertolongan medis: 

■ SEGERA ke IGD jika anak menunjukkan: 

• Reaksi alergi berat (anafilaksis): sesak napas, bibir/wajah membengkak, biduran menyebar, biasanya dalam 15–30 menit setelah vaksin 

• Kejang yang tidak berkaitan dengan demam, atau kejang berlangsung lama 

• Anak tampak sangat lemas, pucat, dan sulit dibangunkan 

• Menangis terus-menerus selama lebih dari 3 jam tanpa henti dan tanpa sebab jelas (high-pitched cry/menangis melengking) 

• Demam sangat tinggi (>40°C) yang tidak turun dengan obat penurun demam 

• Pembengkakan besar di seluruh lengan (bukan hanya area suntikan)

✔ Perspektif Risiko vs Manfaat (WHO & CDC): 

• Risiko reaksi anafilaksis serius: ~1–2 per 1 juta dosis vaksin DPT. 

• Risiko kematian akibat pertusis pada bayi tanpa vaksin: jauh lebih tinggi. 

• WHO, CDC, dan IDAI sepakat: manfaat vaksin DPT jauh melampaui risikonya. 

• Setiap anak yang divaksin di fasilitas kesehatan dipantau 15–30 mnt setelah suntikan. 

Mitos vs Fakta Seputar Vaksin DPT 

Beberapa kesalahpahaman yang sering membuat MomDad ragu untuk vaksinasi si Kecil:

■ MITOS: 

Vaksin DPT menyebabkan epilepsi/kerusakan otak.

■ FAKTA: 

Penelitian skala besar tidak menemukan hubungan kausal antara vaksin DPT dan epilepsi. Kejang pasca-vaksin biasanya dipicu demam (kejang demam), bukan kerusakan otak. Kondisi ini sementara dan tidak meninggalkan efek permanen.

■ MITOS: 

Anak yang sudah divaksin tetap bisa kena penyakit, berarti vaksin tidak efektif.

■ FAKTA: 

Efektivitas vaksin tidak berarti 100% pada semua individu, tetapi penyakit yang dialami jauh lebih ringan. Cakupan komunitas yang tinggi (herd immunity) melindungi yang belum bisa divaksin.

■ MITOS: 

Vaksin DPT sebaiknya ditunda jika anak sedang pilek atau batuk ringan.

■ FAKTA: 

IDAI dan WHO menyatakan batuk pilek ringan atau demam ringan BUKAN alasan menunda imunisasi. Menunda justru memperpanjang periode rentan anak.

■ MITOS: 

Vaksin buatan luar negeri lebih aman dari vaksin lokal.

■ FAKTA: 

Semua vaksin yang beredar resmi di Indonesia, termasuk produksi Bio Farma, telah melalui uji keamanan dan efektivitas ketat oleh BPOM dan telah memenuhi standar WHO. Asal produksi bukan penentu kualitas.


Kapan Vaksin DPT Perlu Ditunda atau Dievaluasi?  

Sebagian besar anak dapat menerima vaksin DPT bahkan saat sedang pilek ringan. Namun ada beberapa kondisi yang memerlukan penundaan atau evaluasi lebih lanjut:

Kondisi 

Status 

Keterangan

Demam ringan (<38°C), pilek, batuk ringan 

✔ Boleh 

Bukan kontraindikasi, vaksinasi tetap aman

Sedang konsumsi antibiotik 

✔ Boleh 

Konsumsi antibiotik bukan alasan tunda vaksin

Penyakit akut sedang–berat 

■ Tunda 

Tunda hingga kondisi stabil

Riwayat anafilaksis terhadap dosis DPT sebelumnya 

■ Evaluasi 

Kontraindikasi absolut, konsultasi dokter spesialis

Epilepsi tidak terkontrol/ensefalopati progresif 

■ Evaluasi 

Komponen pertusis (whole-cell) perlu 

dipertimbangkan; gunakan aPertussis (aP)

High-pitched cry >3 jam setelah dosis sebelumnya 

■ Evaluasi 

Laporkan ke dokter sebelum dosis berikutnya


FAQ: Pertanyaan Orang Tua tentang Vaksin DPT 

Q: Berapa kali vaksin DPT diberikan pada anak? 

A: Total 5–6 kali sesuai jadwal IDAI 2024: 3 dosis primer (usia 2, 3, 4 bulan), booster pertama (18 bulan), booster kedua (5–7 tahun/kelas 1 SD), dan booster ketiga (10–12 tahun/kelas 5–6 SD). Setelah dewasa, booster Td dianjurkan tiap 10 tahun. 

Q: Vaksin DPT demam berapa hari? Apakah normal? 

A: Demam pasca vaksin DPT biasanya muncul 6–12 jam setelah suntikan dan berlangsung 1–2 hari. Ini adalah respons normal sistem imun. Berikan parasetamol sesuai dosis jika anak tampak tidak nyaman. Jika demam berlangsung lebih dari 3 hari atau melebihi 39,5°C, segera konsultasikan ke dokter. 

Q: Apakah vaksin DPT bisa diberikan bersamaan dengan vaksin lain? 

A: Ya. Vaksin DPT aman dan umum diberikan bersamaan dengan vaksin lain seperti PCV, rotavirus, polio (IPV/OPV), dan Hepatitis B dalam satu kunjungan. Pemberian bersamaan ini tidak mengurangi efektivitas atau meningkatkan risiko efek samping secara bermakna, dan lebih praktis untuk orang tua. 

Q: Apakah ibu hamil perlu vaksin DPT? 

A: Ya. Vaksin Tdap (mengandung komponen tetanus, difteri, dan pertusis) direkomendasikan untuk ibu hamil pada usia kehamilan 27–36 minggu. Ini memberikan perlindungan kepada bayi melalui antibodi plasenta sejak lahir, sebelum bayi dapat menerima vaksin sendiri di usia 2 bulan. 

Q: Apa bedanya DPT dan DT? 

A: DPT mengandung komponen difteri, pertusis, dan tetanus, diberikan untuk bayi dan anak kecil. DT hanya mengandung difteri dan tetanus, digunakan untuk booster pada anak usia sekolah (kelas 1 SD) melalui program BIAS. Tdap adalah versi dosis rendah untuk remaja dan dewasa, mengandung semua tiga komponen. 

Q: Berapa lama perlindungan vaksin DPT bertahan? 

A: Perlindungan dari vaksin DPT tidak seumur hidup. Kekebalan mulai menurun sekitar 5–10 tahun setelah vaksinasi terakhir, itulah mengapa booster di usia sekolah dan remaja sangat penting. Untuk dewasa, booster Td/Tdap dianjurkan setiap 10 tahun untuk mempertahankan perlindungan terhadap tetanus dan difteri.

Referensi:

[1] Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jadwal Imunisasi Anak Rekomendasi IDAI 2024. IDAI; 2024. 

[2] World Health Organization. Diphtheria, Tetanus and Pertussis Vaccines: WHO Position Paper. Weekly Epidemiological Record. 2017;92(31):417-436. 

[3] World Health Organization. Immunization Agenda 2030: A Global Strategy to Leave No One Behind. WHO; 2020 (updated 2024).

[4] Centers for Disease Control and Prevention. DTaP Vaccine Information Statement. CDC; Updated 2024.

[5] Centers for Disease Control and Prevention. Pertussis (Whooping Cough): Vaccination. CDC; 2024.

[6] American Academy of Pediatrics. Red Book: Report of the Committee on Infectious Diseases. 32nd ed. AAP; 2024–2027.

[7] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan tentang Imunisasi. Kemenkes RI; 2023.

[8] Kliegman RM, St Geme JW. Nelson Textbook of Pediatrics. 22nd ed. Elsevier; 2024. 

[9] Stratton K, Ford A, Rusch E, Clayton EW (eds). Adverse Effects of Vaccines: Evidence and Causality. Institute of Medicine; National Academies Press; 2012.

[10] Plotkin SA, Orenstein WA, Offit PA. Vaccines. 7th ed. Elsevier; 2018.