21 Mei 2026
Risiko jika Anak Tidak Vaksin Ini, Rentan Kena Penyakit Menular
Ditulis oleh

Dhia Priyanka
Topik: Vaksinasi, penyakit menular
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Dini Mirasanti, Sp.A.
“Anak saya sehat-sehat aja kok, memang masih perlu vaksin?”
Pertanyaan seperti ini masih cukup sering muncul di kalangan orang tua. Padahal, banyak penyakit menular pada anak yang terlihat “sudah jarang” justru bisa kembali meningkat ketika cakupan vaksinasi menurun.
Tanpa perlindungan vaksin, anak menjadi lebih rentan terkena berbagai penyakit menular seperti campak, pneumonia, difteri, polio, hingga meningitis. Beberapa penyakit bahkan dapat menyebabkan komplikasi serius, rawat inap, kecacatan permanen, hingga kematian pada anak.
Oleh karena itu, memahami risiko jika anak tidak vaksin menjadi hal penting bagi orang tua. Vaksin bukan hanya membantu melindungi anak sendiri, tetapi juga membantu menekan penyebaran penyakit menular di lingkungan sekitar.
13 Vaksin Penyakit Menular Anak
1. Vaksin Hepatitis B
Status: ■ Gratis Program Pemerintah
Diberikan segera setelah lahir (dalam 24 jam pertama) untuk mencegah penularan dari ibu ke bayi. Dilanjutkan di usia 2, 3, dan 4 bulan (dalam kombinasi DPT-HB-Hib). Hepatitis B kronis dapat berujung pada
sirosis dan kanker hati, keduanya mematikan namun sepenuhnya bisa dicegah.
■ Dosis pertama: dalam 24 jam setelah lahir, semakin cepat, semakin efektif
■ 3 dosis berikutnya dalam kombinasi vaksin pentavalen (DPT-HB-Hib)
2. Vaksin BCG
Status: ■ Gratis Program Pemerintah
BCG melindungi bayi dari bentuk TB yang paling berbahaya: meningitis TB dan TB milier. Indonesia adalah negara dengan beban TB tertinggi ke-3 di dunia (WHO, 2023). Diberikan sekali di usia 0–1 bulan.
■ Diberikan 1 kali saat lahir hingga usia 1 bulan
■ Di atas 3 bulan perlu tes Mantoux terlebih dahulu
■ Bekas suntikan bernanah kecil adalah reaksi NORMAL
3. Vaksin Polio (OPV + IPV)
Status: ■ Gratis Program Pemerintah
Polio dapat menyebabkan kelumpuhan permanen dalam hitungan jam. WHO telah berhasil mengeradikasi polio liar dari sebagian besar dunia, dan Indonesia dinyatakan bebas polio sejak 2014, namun vaksinasi tetap krusial untuk mempertahankan status ini.
■ OPV (tetes): diberikan saat lahir, 2, 3, 4 bulan
■ IPV (suntik): diberikan di usia 4 bulan bersamaan OPV, booster 18 bulan
4. Vaksin DPT-HB-Hib (Pentavalen)
Status: ■ Gratis Program Pemerintah
Satu vaksin kombinasi yang melindungi dari 5 penyakit sekaligus: difteri, tetanus, pertusis (batuk rejan), hepatitis B, dan meningitis Hib. Difteri dan pertusis dapat menyebabkan sumbatan saluran napas yang mengancam jiwa.
■ Diberikan di usia 2, 3, 4 bulan. Booster di 18 bulan dan 5–7 tahun
■ Efek samping: nyeri di bekas suntikan dan demam ringan, normal
5. Vaksin PCV (Pneumokokus)
Status: ■ Gratis (mulai 2023)
Infeksi pneumokokus adalah penyebab utama pneumonia dan meningitis bakterial pada anak. Pneumonia sendiri masih menjadi penyebab kematian anak terbesar ke-2 di dunia (WHO). PCV masuk program pemerintah gratis di Puskesmas mulai 2023.
■ Diberikan di usia 2, 3, 4 bulan + booster 12 bulan
■ Mencegah sekitar 70–80% kasus pneumonia pneumokokus
6. Vaksin Rotavirus
Status: ■ Gratis (mulai 2023)
Rotavirus adalah penyebab utama diare berat pada bayi yang menyebabkan dehidrasi serius dan rawat inap. Vaksin ini diberikan oral (tetes), bukan suntikan.
■ Diberikan 2–3 dosis tergantung merek: usia 2 dan 3 bulan (atau 2 dan 4 bulan)
■ Harus diselesaikan sebelum usia 8 bulan, tidak efektif jika terlambat
7. Vaksin MR / MMR
Status: ■ Gratis Program Pemerintah
Campak adalah penyakit sangat menular dengan komplikasi serius: pneumonia, diare berat, dan radang otak. Herd immunity campak membutuhkan cakupan vaksinasi >95% populasi. Rubela berbahaya untuk janin jika ibu terinfeksi saat hamil (sindrom rubela kongenital).
■ Dosis pertama: usia 9 bulan
■ Dosis kedua (booster): usia 15–18 bulan
■ Revaksinasi: usia 5–7 tahun dalam program BIAS sekolah
8. Vaksin HPV
Status: ■/■ Program BIAS & Mandiri
HPV adalah virus menular seksual yang dapat menyebabkan kanker serviks, penyebab kematian akibat kanker terbesar ke-2 pada wanita Indonesia (Kemenkes RI). Vaksin paling efektif jika diberikan sebelum paparan pertama.
■ Program gratis: kelas 5–6 SD melalui BIAS (perempuan)
■ Mandiri: tersedia untuk laki-laki dan perempuan usia 9–45 tahun
■ 2 dosis jika diberikan sebelum usia 15 tahun; 3 dosis jika setelahnya
9. Vaksin Influenza
Status: ■ Mandiri
Influenza bukan sekadar flu biasa. Pada anak kecil, lansia, dan individu imunokompromi, influenza dapat menyebabkan pneumonia, kejang demam, dan rawat inap. Virus influenza bermutasi setiap tahun sehingga vaksin perlu diperbarui secara rutin.
■ Mulai usia 6 bulan; 2 dosis (interval 4 minggu) di tahun pertama
■ Selanjutnya: 1 dosis per tahun, idealnya sebelum musim hujan
10. Vaksin Varisela (Cacar Air)
Status: ■ Mandiri
Meski sering dianggap 'penyakit ringan', cacar air dapat menyebabkan komplikasi: infeksi kulit bakteri, pneumonia, radang otak, dan herpes zoster di kemudian hari. Komplikasi lebih berat pada bayi, remaja, dan orang dewasa.
■ Dosis pertama: usia 12 bulan
■ Dosis kedua: usia 15–18 bulan (interval minimal 3 bulan dari dosis pertama)
11. Vaksin Hepatitis A
Status: ■ Mandiri
Hepatitis A menyebar melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi. Di Indonesia dengan sanitasi yang masih bervariasi, risiko paparan cukup tinggi terutama di lingkungan dengan higiene rendah.
■ 2 dosis: mulai usia 12–18 bulan, dosis ke-2 interval 6 bulan kemudian
12. Vaksin Dengue (DBD)
Status: ■ Mandiri
Dengue masih menjadi masalah kesehatan endemik di Indonesia dengan puluhan ribu kasus per tahun. Vaksin dengue (Dengvaxia/Qdenga) efektif menurunkan risiko dengue berat, terutama pada yang pernah terinfeksi dengue sebelumnya.
■ Usia 6–16 tahun; 3 dosis interval 6 bulan
■ Qdenga dapat diberikan tanpa tes antibodi sebelumnya
13. Vaksin EV71 (HFMD Berat)
Status: ■ Mandiri
Enterovirus 71 (EV71) adalah salah satu penyebab Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD/Flu Singapura) dengan komplikasi neurologis serius. Vaksin ini tersedia untuk anak usia 6 bulan–5 tahun.
■ 2 dosis, interval 1 bulan; idealnya sebelum usia 5 tahun
■ Tidak melindungi dari semua penyebab HFMD, hanya EV71 spesifik
Herd Immunity: Mengapa Cakupan Vaksin Seluruh Komunitas Penting
Herd immunity (kekebalan kelompok) terjadi ketika cukup banyak anggota komunitas yang sudah divaksin sehingga penyakit tidak bisa menyebar luas, bahkan melindungi yang belum bisa divaksin (bayi sangat muda, imunokompromi).
Yuk, rutin cek jadwal vaksin anak agar perlindungannya tetap optimal sesuai usia. Nah, apalagi sekarang makin praktis, karena MomDad bisa langsung booking vaksin lewat PrimaKu, sekaligus dapat konsultasi gratis dengan Dokmin sebelum vaksin.
Risiko jika anak tidak vaksin bukan hanya meningkatkan kemungkinan anak tertular penyakit menular, tetapi juga dapat meningkatkan risiko komplikasi serius yang sebenarnya bisa dicegah. Penyakit seperti campak, polio, difteri, hingga meningitis masih dapat ditemukan dan berpotensi menyebar lebih cepat ketika cakupan imunisasi menurun.
Oleh karena itu, vaksinasi tetap menjadi salah satu langkah perlindungan paling penting untuk membantu menjaga kesehatan anak sejak dini. Dengan mengikuti jadwal imunisasi yang direkomendasikan, orang tua tidak hanya membantu melindungi si Kecil, tetapi juga ikut menjaga perlindungan kesehatan masyarakat secara lebih luas.
Referensi:
1. World Health Organization (WHO). Immunization Coverage: Key Facts. WHO; 2023.
2. UNICEF. COVID-19 Pandemic Leads to Major Backslide on Childhood Vaccinations. UNICEF; 2021.
3. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jadwal Imunisasi Anak Usia 0–18 Tahun. IDAI; 2023.
4. Kementerian Kesehatan RI. Program Imunisasi Nasional: Penambahan Antigen PCV dan Rotavirus. Kemenkes RI; 2023.
5. American Academy of Pediatrics (AAP). Recommended Immunization Schedule for Children and Adolescents. Pediatrics. 2024.
6. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Vaccines & Immunizations: Schedule. CDC; 2024.
7. Plotkin SA, Orenstein WA, Offit PA. Vaccines. 7th ed. Elsevier; 2018.
8. World Health Organization (WHO). Global Tuberculosis Report 2023. WHO; 2023.
9. Kementerian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia 2022. Kemenkes RI; 2023.




