Meta Pixel

25 September 2026

Takut Efek Samping, Apa Risiko jika Vaksin Anak Terus Ditunda?

Ditulis oleh

avatar

Dhia Priyanka

Topik: Terlambat Imunisasi, Imunisasi Kejar, Jadwal Imunisasi, Imunisasi Dasar, tunda vaksinasi

Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Dini Mirasanti, Sp.A.

Terlambat vaksin karena khawatir efek samping adalah situasi yang dialami banyak keluarga. Survei Cepat Komunitas Kementerian Kesehatan RI pada 2026 mencatat kekhawatiran terhadap Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) sebagai alasan penundaan pada 11,1% responden. Kekhawatiran MomDad wajar, tetapi menunda terlalu lama memperpanjang masa ketika anak belum terlindungi dari penyakit serius. 


Mengapa Orang Tua Takut Efek Samping Vaksin?

Demam, rewel, atau bengkak setelah vaksin mudah terlihat dan terjadi segera, sedangkan manfaat vaksin, tidak tertular atau tidak mengalami penyakit berat, sering tidak tampak. Cerita di media sosial juga dapat membuat kejadian yang sangat jarang terasa seolah sering terjadi. Selain itu, tidak semua keluhan setelah imunisasi disebabkan oleh vaksin; sebagian dapat terjadi secara kebetulan pada waktu yang berdekatan.

KIPI adalah setiap kejadian medis setelah imunisasi yang diduga berkaitan dengan imunisasi. Istilah ini tidak otomatis berarti vaksin menjadi penyebabnya. Tenaga kesehatan perlu menilai waktu munculnya gejala, jenis vaksin, kondisi anak, penyakit lain, dan kemungkinan penyebab lain.


Apa Risiko Jika Vaksin Terus Ditunda?

- Anak lebih lama tidak terlindungi

Jadwal imunisasi disusun agar perlindungan diberikan sebelum usia ketika risiko penyakit atau komplikasinya tinggi. CDC menjelaskan bahwa menunda atau menyebarkan jadwal vaksin tidak memberi manfaat kesehatan yang diketahui. Selama penundaan, bayi dan anak tetap rentan, terutama terhadap penyakit seperti pertusis, Hib, pneumokokus, polio, dan campak.

- Risiko sakit berat, rawat inap, dan komplikasi meningkat

Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi bukan sekadar demam atau ruam ringan. Campak dapat menyebabkan pneumonia dan radang otak; pertusis dapat menimbulkan henti napas pada bayi; Hib dan pneumokokus dapat menyebabkan meningitis atau sepsis; polio dapat menyebabkan kelumpuhan permanen. Risiko penyakit umumnya jauh lebih besar daripada risiko reaksi berat akibat vaksin.

- Anak dapat menularkan penyakit kepada orang rentan

Anak yang belum terlindungi dapat membawa penyakit kepada bayi yang terlalu muda untuk menerima vaksin tertentu, ibu hamil, lansia, atau anggota keluarga dengan gangguan kekebalan. Imunisasi membantu melindungi anak sekaligus mengurangi peluang penyebaran di rumah, sekolah, dan lingkungan.

- Peluang terlewat kembali semakin besar

Semakin lama ditunda, semakin banyak dosis yang harus dikejar dan semakin mudah jadwal berikutnya terlewat. Beberapa vaksin juga memiliki batas usia untuk memulai atau menyelesaikan seri, misalnya vaksin rotavirus. Karena itu, konsultasi sebaiknya dilakukan segera meski MomDad belum siap menerima semua vaksin pada hari yang sama.

- Wabah dapat terjadi ketika cakupan menurun

WHO melaporkan masih ada 13,5 juta anak zero-dose secara global pada 2025. Kesenjangan imunisasi memberi ruang bagi penyakit menular untuk kembali menyebar. Ketika terjadi wabah, anak yang belum lengkap imunisasinya menghadapi risiko paparan lebih tinggi dan mungkin memerlukan jadwal kejar yang lebih mendesak.


KIPI Ringan dan Tanda Bahaya setelah Vaksin

Sebagian besar reaksi setelah vaksin bersifat ringan dan sementara. Kemenkes RI menyebut keluhan seperti nyeri atau bengkak di lokasi suntikan, demam, mengantuk, muntah, atau nafsu makan menurun biasanya membaik dalam beberapa hari.

Keluhan

Biasanya

Tindakan

Nyeri/merah lokal

Ringan; 1–3 hari

Kompres sejuk; pantau

Demam ringan

Sementara

Cairan, istirahat, pantau

Rewel/mengantuk

Dapat terjadi

Tenangkan dan observasi

Bengkak wajah/sesak

Tanda darurat

Cari pertolongan segera

Kejang/tidak responsif

Tanda darurat

Ke IGD segera


Kapan harus segera mencari pertolongan?

- Sesak napas, mengi, bibir atau wajah membengkak, atau biduran menyeluruh.

- Anak sangat lemas, tidak merespons, sulit dibangunkan, atau mengalami kejang.

- Demam tinggi menetap, kondisi memburuk cepat, atau keluhan tidak membaik sesuai arahan tenaga kesehatan.

- Tidak mau minum, muntah berulang, atau menunjukkan tanda dehidrasi.

Reaksi alergi berat atau anafilaksis setelah vaksin sangat jarang. CDC memperkirakan anafilaksis terjadi sekitar satu per satu juta dosis untuk banyak vaksin. Karena dapat muncul cepat, ikuti masa observasi yang dianjurkan fasilitas kesehatan setelah imunisasi.


Apakah Demam setelah Vaksin Berbahaya?

Demam ringan merupakan tanda respons imun dan tidak selalu berbahaya. Pantau suhu, berikan ASI atau cairan sesuai usia, pakaikan baju yang nyaman, dan biarkan anak beristirahat. Obat penurun demam tidak perlu diberikan sebelum vaksin secara rutin karena dapat mengganggu penilaian gejala; gunakan setelah vaksin hanya sesuai dosis dan anjuran tenaga kesehatan.

Waktu muncul dan lamanya demam dapat berbeda menurut jenis vaksin. Tanyakan kepada petugas mengenai reaksi yang diperkirakan muncul dan nomor yang dapat dihubungi. Jangan menilai keamanan dosis berikutnya hanya dari pengalaman orang lain karena setiap produk dan kondisi anak dapat berbeda.


Kapan Vaksin Sebaiknya Ditunda?

Pilek ringan, batuk ringan, diare ringan, atau demam rendah umumnya bukan alasan otomatis untuk menunda. Penundaan biasanya dipertimbangkan bila anak sedang sakit sedang hingga berat, memiliki kontraindikasi terhadap vaksin tertentu, atau memerlukan evaluasi khusus, misalnya pernah mengalami reaksi alergi berat terhadap dosis atau komponen sebelumnya, sedang mendapat terapi penekan imun, atau memiliki gangguan kekebalan tertentu.

Kontraindikasi berbeda untuk setiap vaksin. Jangan memutuskan penundaan permanen sendiri. Dokter dapat membedakan kondisi yang benar-benar melarang vaksin, kondisi yang hanya memerlukan kewaspadaan, dan kondisi yang tetap aman untuk divaksinasi.


Cara Aman Mengejar Jadwal Vaksin yang Tertinggal

1. Kumpulkan buku KIA atau aplikasi PrimaKu, kartu vaksin, atau foto catatan imunisasi sebelumnya.

2. Catat jenis reaksi setelah vaksin terdahulu: waktu muncul, suhu, durasi, obat yang diberikan, dan apakah anak diperiksa dokter.

3. Bawa daftar alergi, penyakit kronis, obat rutin, riwayat transfusi, serta hasil pemeriksaan terkait.

4. Minta dokter memeriksa dosis yang masih valid dan menyusun jadwal kejar berdasarkan usia serta interval minimal.

5. Tanyakan vaksin mana yang dapat diberikan bersamaan untuk mengurangi jumlah kunjungan.

6. Simpan jadwal berikutnya dan pasang pengingat di PrimaKu agar dosis lanjutan tidak terlewat.

Seri vaksin umumnya tidak perlu dimulai ulang meski jedanya panjang. Namun, jangan memberi dosis terlalu rapat tanpa arahan karena dosis harus memenuhi usia dan interval minimal agar dianggap valid. Pada anak dengan riwayat reaksi serius, dokter dapat merujuk ke dokter spesialis anak atau alergi-imunologi untuk penilaian lebih lanjut.


Cara Mengurangi Nyeri dan Cemas saat Imunisasi

- Susui bayi sebelum, selama, atau segera setelah penyuntikan bila memungkinkan.

- Peluk anak dengan posisi aman dan tenang; jangan menakut-nakuti atau mengancam dengan suntikan.

- Gunakan distraksi sesuai usia, seperti bernyanyi, bercerita, atau latihan napas.

- Minta penjelasan lokasi suntikan dan reaksi yang wajar setelah setiap vaksin.

- Rencanakan waktu istirahat setelah kunjungan dan siapkan termometer di rumah.

Memberi ruang bagi orang tua untuk bertanya dapat meningkatkan rasa aman. Sampaikan kekhawatiran secara terbuka kepada dokter; keputusan vaksin sebaiknya dibuat dari risiko penyakit, manfaat vaksin, riwayat anak, dan bukti medis, bukan dari tekanan atau rasa bersalah.


Kejar Vaksinasi bersama PrimaKu

Melengkapi vaksinasi anak akan terasa lebih praktis kalau MomDad bisa memilih layanan dan jadwal yang sesuai kebutuhan. PrimaKu membantu memudahkan proses booking vaksin di klinik partner, sehingga MomDad bisa merencanakan kunjungan dengan lebih nyaman.

Banner-02 (3).png

Untuk mengejar jadwal vaksin Si Kecil, MomDad bisa melakukan booking vaksin melalui PrimaKu. Pilih vaksin yang dibutuhkan, cek ketersediaan di klinik partner, lalu atur jadwal kunjungan yang sesuai. Jika masih bingung memilih layanan, MomDad juga bisa berkonsultasi terlebih dahulu dengan DokMin sebelum booking.


FAQ tentang Keterlambatan Vaksin

Q: Apakah vaksin yang terlambat harus diulang dari awal?

A: Umumnya tidak. Dosis sebelumnya yang valid tetap dihitung, lalu seri dilanjutkan sesuai usia dan interval minimal. Dokter akan menentukan kebutuhan setiap vaksin.


Q: Apakah boleh memberikan beberapa vaksin sekaligus saat mengejar jadwal?

A: Pada umumnya boleh. Vaksin diberikan dengan spuit dan lokasi terpisah. Jenis vaksin hidup, interval, usia, dan kondisi anak tetap perlu diperiksa tenaga kesehatan.


Q: Anak demam setelah vaksin sebelumnya. Apakah dosis berikutnya harus dibatalkan?

A: Tidak selalu. Demam ringan merupakan reaksi yang umum. Beri tahu dokter mengenai suhu, durasi, gejala lain, dan penanganannya agar dosis berikutnya dapat direncanakan dengan aman.


Q: Apakah pilek ringan menjadi alasan menunda vaksin?

A: Biasanya tidak, selama kondisi umum anak baik. Tenaga kesehatan tetap perlu menilai gejala dan jenis vaksin sebelum pemberian.


Q: Berapa lama anak boleh terlambat vaksin?

A: Tidak ada masa terlambat yang dianggap aman untuk semua vaksin. Segera konsultasikan karena setiap hari penundaan memperpanjang masa tanpa perlindungan dan beberapa vaksin memiliki batas usia.


Q: Apa yang harus dilakukan jika catatan vaksin hilang?

A: Hubungi fasilitas sebelumnya dan kumpulkan bukti yang tersedia. Jangan menebak dosis. Dokter akan menentukan rencana berdasarkan usia, riwayat yang dapat diverifikasi, risiko penyakit, dan pedoman.


Terlambat vaksin karena takut efek samping dapat dipahami, tetapi penundaan yang terus berlanjut membuat anak lebih lama rentan terhadap penyakit serius dan komplikasinya. Sebagian besar KIPI bersifat ringan dan sementara, sedangkan reaksi berat sangat jarang serta dapat diantisipasi melalui skrining, teknik pemberian yang benar, observasi, dan akses pertolongan medis.

Jangan menunggu sampai ada wabah atau anak harus masuk sekolah untuk melengkapi imunisasi. Bawa catatan vaksin, ceritakan reaksi sebelumnya secara rinci, dan mintalah dokter menyusun jadwal kejar yang paling aman bagi anak.


Referensi

- World Health Organization. Immunization Coverage. WHO; 2026.

- Centers for Disease Control and Prevention. About Vaccines for Your Children. CDC; 2025.

- Centers for Disease Control and Prevention. Catch-Up Immunization Schedule for Children and Adolescents. CDC; 2025.

- Centers for Disease Control and Prevention. Preventing and Managing Adverse Reactions. CDC; 2024.

- Centers for Disease Control and Prevention. Contraindications and Precautions. CDC; 2024.

- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Apa Itu KIPI: Penyebab, Gejala, Pencegahan dan Pengobatannya. Kemenkes RI; 2024.

- Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. Menjangkau Anak Zero-Dose di Indonesia. BKPK Kemenkes RI; 2026.

- Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jadwal Imunisasi Anak Usia 0–18 Tahun, Rekomendasi IDAI Tahun 2024. IDAI; 2025.