
Apakah Gula Menyebabkan Sugar Rush pada Anak?

dr. Afiah Salsabila
6 Jan 2026

Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
7 Apr 2026
Topik: Sinar Matahari, Menjemur Bayi, Vitamin D, Defisiensi Vitamin D, Suplementasi Vitamin D
Praktik menjemur bayi merupakan kebiasaan yang telah lama dilakukan di Indonesia dan berbagai negara Asia lainnya, seperti India. Tidak jarang, tenaga kesehatan juga masih merekomendasikan praktik ini kepada orang tua dengan alasan untuk meningkatkan kadar vitamin D. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, semakin banyak bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa paparan sinar matahari yang tidak tepat pada anak dapat meningkatkan risiko kanker kulit, termasuk melanoma. Hal ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah praktik menjemur bayi masih relevan dan aman untuk direkomendasikan dalam praktik klinis saat ini?
Fakta Mengenai Sinar UV
Sinar matahari mengandung radiasi ultraviolet (UV), yang terbagi menjadi tiga jenis utama, yaitu UVA, UVB, dan UVC. Sebagian besar Sinar UVC diserap oleh lapisan ozon, sehingga tidak mencapai permukaan bumi, sementara itu sinar UVA dan UVB dapat menembus ozon. Sinar UVA dan UVB memiliki dampak besar pada kesehatan manusia. Sinar UVA dapat berkontribusi terhadap penuaan kulit dan kerusakan DNA tidak langsung, sedangkan UVB dapat menyebabkan sunburn dan kerusakan DNA yang dapat memicu kanker kulit. Walaupun demikian, UVB berperan langsung dalam sintesis vitamin D di kulit, namun juga merupakan penyebab utama sunburn. (1-3)
Sintesis Vitamin D di Kulit
Sintesis vitamin D terjadi ketika 7-dehidrokolesterol di kulit diubah menjadi previtamin D3 oleh paparan UVB. Vitamin D memiliki peran penting dalam kesehatan anak, termasuk dalam metabolisme kalsium dan fosfor untuk pembentukan tulang, pencegahan rakhitis, serta modulasi sistem imun. (2) Namun, jumlah vitamin D yang dihasilkan dari paparan sinar matahari sangat bervariasi, tergantung pada berbagai faktor seperti jenis kulit, waktu paparan, musim, serta lokasi geografis. Individu dengan kulit lebih gelap memerlukan durasi paparan hingga sepuluh kali lebih lama dibandingkan individu berkulit terang untuk menghasilkan jumlah vitamin D yang sama. (2)
Beberapa studi mencoba mengukur efektivitas paparan sinar matahari dalam meningkatkan kadar vitamin D pada anak. Sebuah studi di India menunjukkan adanya korelasi positif antara durasi paparan sinar matahari sore dengan kadar vitamin D pada bayi. Paparan lebih dari 30 menit per minggu pada minimal 40% permukaan tubuh dinilai dapat meningkatkan kadar vitamin D ke tingkat cukup. Namun, penting untuk dicatat bahwa sekitar 90% bayi dalam studi tersebut tetap mengalami insufisiensi vitamin D dan memerlukan suplementasi. (1) Studi lain pada anak usia sekolah bahkan tidak menemukan peningkatan kadar vitamin D setelah paparan sinar matahari selama empat minggu. (1) Selain itu, berbagai penelitian mengenai kadar serum vitamin D dan paparan sinar matahari memiliki keterbatasan metodologis yang signifikan, sehingga kesimpulannya perlu diinterpretasikan dengan hati-hati.
Di sisi lain, risiko paparan sinar UV terhadap kulit anak tidak dapat diabaikan. Kulit bayi dan anak memiliki struktur yang lebih tipis dan sistem perlindungan yang belum matang, sehingga lebih rentan terhadap kerusakan akibat radiasi UV. Paparan kumulatif sinar UV sejak usia dini telah terbukti meningkatkan risiko melanoma di kemudian hari. (4-6) Oleh karena itu, berbagai organisasi kesehatan, termasuk American Academy of Pediatrics (AAP), merekomendasikan agar bayi di bawah usia 6 bulan dihindarkan dari paparan sinar matahari langsung. (1)
Selain itu, asumsi bahwa paparan sinar matahari cukup untuk memenuhi kebutuhan vitamin D juga tidak sepenuhnya tepat, terutama di negara tropis seperti Indonesia. Penelitian yang dilakukan di Jakarta pada anak usia sekolah dasar menunjukkan bahwa sekitar 40% anak mengalami kekurangan vitamin D. (7). Penemuan ini selaras dengan sebuah meta-analisis yang menunjukkan bahwa sekitar 33% anak dan remaja di Indonesia dengan rentang usia 6 bulan hingga 19 tahun mengalami defisiensi vitamin D, meskipun tinggal di negara dengan paparan sinar matahari yang melimpah. (8) Faktor risiko yang berkontribusi antara lain warna kulit yang lebih gelap, penggunaan pakaian tertutup, aktivitas dalam ruangan, serta kurangnya asupan makanan yang kaya vitamin D. (7)
Rekomendasi IDAI
Pada bayi, khususnya yang mendapatkan ASI eksklusif, risiko defisiensi vitamin D menjadi lebih tinggi karena kandungan vitamin D dalam ASI relatif rendah. Oleh karena itu, suplementasi vitamin D menjadi strategi utama untuk memenuhi kebutuhan harian. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), mengadopsi rekomendasi AAP, menyarankan pemberian suplementasi vitamin D sebesar 400 IU per hari pada anak di bawah usia 1 tahun, serta 600 IU per hari pada anak dan remaja. (9,10)
Sebagai kesimpulan, meskipun paparan sinar matahari memiliki peran dalam sintesis vitamin D, risiko yang ditimbulkan terhadap kulit anak, khususnya bayi, jauh lebih besar dibandingkan manfaatnya. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih aman dan berbasis bukti adalah dengan menghindari paparan sinar matahari langsung pada bayi, dengan memastikan kecukupan vitamin D melalui suplementasi dan asupan nutrisi yang adekuat sesuai rekomendasi IDAI. Pendekatan ini tidak hanya efektif dalam mencegah defisiensi vitamin D, tetapi juga melindungi anak dari risiko jangka panjang seperti kanker kulit.
Daftar Pustaka


dr. Afiah Salsabila
6 Jan 2026


dr. Afiah Salsabila
4 Feb 2026


dr. Afiah Salsabila
25 Feb 2026


dr. Afiah Salsabila
15 Apr 2026