
Apakah Gula Menyebabkan Sugar Rush pada Anak?

dr. Afiah Salsabila
6 Jan 2026

Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
15 Apr 2026
Topik: Vaksin Campak, MMR, Ilmiah
Latar Belakang
Vaksin Measles, Mumps, and Rubella (MMR) merupakan salah satu imunisasi dasar yang sangat penting dalam pencegahan penyakit infeksi serius pada anak. Namun, kekhawatiran sering muncul pada praktik klinis terkait pemberian vaksin ini pada anak dengan riwayat alergi telur. (1,2) Hal ini disebabkan oleh proses produksi vaksin campak dan gondongan yang melibatkan kultur sel embrio ayam, sehingga menimbulkan asumsi bahwa vaksin mengandung protein telur dalam jumlah yang dapat memicu reaksi alergi. Kekhawatiran serupa juga sering muncul pada vaksin Measles-Rubella (MR), yang memiliki komponen virus campak yang diproduksi dengan metode serupa. Oleh karena itu, penting untuk memahami apakah kandungan tersebut benar-benar berisiko secara klinis pada individu dengan alergi telur.
Apa Penyebab Tersering Anafilaksis Pasca Vaksin MMR?
Berbagai penelitian telah mengevaluasi keamanan vaksin MMR pada individu dengan alergi telur. Data menunjukkan bahwa sebagian besar reaksi anafilaksis yang dilaporkan setelah pemberian vaksin MMR bukan disebabkan oleh protein telur, melainkan oleh komponen lain seperti gelatin yang digunakan sebagai stabilizer. Dalam laporan oleh Nakayama et al. (3), dari 366 kasus reaksi klinis pasca vaksinasi MMR, ditemukan bahwa antibodi IgE terhadap gelatin terdeteksi pada 93% kasus anafilaksis, sementara tidak ditemukan hubungan bermakna dengan protein telur. (1)
Seiring dengan reformulasi vaksin yang mengurangi atau menghilangkan kandungan gelatin sejak akhir 1990-an, angka kejadian reaksi anafilaksis mengalami penurunan yang sangat signifikan. (1) Data dari program imunisasi di Australia menunjukkan angka anafilaksis hanya sebesar 0,06 per 100.000 dosis, dengan angka total reaksi alergi sebesar 1,06 per 100.000 dosis, yang menegaskan bahwa risiko kejadian serius sangat rendah dibandingkan manfaat vaksinasi. (1)
Tak hanya itu, data dari Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) di Amerika Serikat menunjukkan bahwa angka anafilaksis pasca vaksin campak hanya sekitar 1,8 per satu juta dosis. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan kadar IgE terhadap protein telur antara individu yang mengalami reaksi alergi dan kelompok kontrol, yang semakin menguatkan bahwa protein telur bukanlah faktor utama dalam reaksi tersebut. (1)
Secara biologis, proses produksi vaksin MMR menghasilkan kandungan protein telur dalam jumlah yang sangat kecil, bahkan hanya dalam tingkat picogram. Jumlah ini dinilai tidak cukup untuk memicu reaksi alergi, bahkan pada individu dengan sensitivitas tinggi terhadap telur. (1) Temuan ini telah dikonfirmasi melalui berbagai studi di berbagai negara, termasuk Iran, Denmark, Spanyol, Finlandia, dan Amerika Serikat, yang secara konsisten menunjukkan bahwa individu dengan alergi telur dapat menerima vaksin MMR dengan aman. (1)
Prinsip ini juga berlaku pada vaksin MR, karena komponen virus campak yang digunakan diproduksi melalui proses yang sama dan memiliki kandungan protein telur yang sangat minimal, sehingga tidak meningkatkan risiko reaksi alergi pada individu dengan alergi telur.
Selain itu, studi prospektif di Dublin yang melibatkan 310 pasien dengan dugaan alergi telur menunjukkan bahwa hanya 1,3% yang mengalami reaksi segera setelah vaksinasi, dan seluruh reaksi tersebut bersifat ringan. (1) Hal ini menunjukkan bahwa bahkan pada populasi berisiko, kejadian reaksi serius sangat jarang terjadi.
Organisasi internasional seperti UNICEF juga menegaskan bahwa vaksin MMR aman untuk diberikan pada anak dengan alergi telur, dan tidak memerlukan penundaan maupun prosedur khusus di luar standar pemberian vaksin rutin. (2)
Kesimpulan dan Penutup
Berdasarkan bukti ilmiah yang tersedia, vaksin MMR terbukti aman dan tidak meningkatkan risiko reaksi alergi pada anak dengan alergi telur. Hal yang sama berlaku untuk vaksin MR. Kekhawatiran terkait kandungan protein telur dalam vaksin telah terbantahkan oleh berbagai studi yang menunjukkan bahwa jumlahnya sangat minimal dan tidak cukup untuk memicu reaksi imunologis yang bermakna.
Vaksinasi tetap merupakan intervensi preventif yang sangat penting dan manfaatnya jauh lebih besar dibandingkan risiko efek samping yang sangat jarang terjadi. Meski demikian, pemberian vaksin harus tetap dilakukan oleh tenaga medis yang terlatih, dengan kesiapan untuk mengenali dan menangani kejadian ikutan pasca imunisasi sesuai standar.
Bagi tenaga kesehatan, penting untuk tidak hanya memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga, tetapi juga memastikan praktik imunisasi dilakukan secara aman dan berbasis bukti. Selain itu, tenaga kesehatan juga perlu memastikan status imunisasi diri tetap terbarui agar tetap fit dan optimal dalam memberikan pelayanan kepada pasien, melindungi keluarga, serta berkontribusi dalam menjaga kesehatan masyarakat secara luas.
Daftar Pustaka


dr. Afiah Salsabila
6 Jan 2026


dr. Afiah Salsabila
4 Feb 2026


dr. Afiah Salsabila
25 Feb 2026


dr. Afiah Salsabila
7 Apr 2026