
Tatalaksana Possible Serious Bacterial Infection pada Anak Menurut WHO

dr. Afiah Salsabila
13 Sep 2025

Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
29 Jan 2026
Topik: Kusta, Tatalaksana, Guideline
Latar Belakang
Kusta masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk pada populasi anak, dan hingga kini belum sepenuhnya tereliminasi. Keberadaan anak dengan kusta mencerminkan adanya transmisi aktif di komunitas, terutama dalam lingkungan rumah tangga dan wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi. Berbagai hambatan masih ditemui dalam upaya eliminasi, mulai dari keterlambatan diagnosis, keterbatasan akses layanan kesehatan, hingga stigma sosial yang kuat terhadap penderita dan keluarganya. Indonesia telah memiliki Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Kusta yang menekankan deteksi dini, pengobatan komprehensif, serta pencegahan disabilitas sebagai strategi utama pengendalian kusta. Dalam konteks pediatri, pemahaman klasifikasi kusta menjadi krusial karena menentukan tata laksana, durasi terapi, serta upaya pencegahan komplikasi jangka panjang. Edukasi yang tepat dan pengurangan stigma juga berperan penting untuk memperlancar penemuan kasus dan kepatuhan pengobatan. Dalam rangka memperingati Hari Kusta Sedunia, mari pelajari tata laksana kusta supaya kita bisa berperan sebagai ujung tombak eliminasi kusta di tempat-tempat di mana penyakit ini belum tereradikasi.. (1)
Epidemiologi dan Etiologi
Kusta disebabkan oleh Mycobacterium leprae, bakteri intraseluler obligat dengan masa inkubasi panjang, berkisar antara beberapa bulan hingga lebih dari lima tahun. Anak-anak, khususnya yang tinggal serumah dengan penderita kusta yang belum diobati, memiliki risiko lebih tinggi terinfeksi. Proporsi kasus kusta anak di Indonesia masih signifikan, menandakan transmisi yang berkelanjutan di masyarakat. Faktor lingkungan, status sosial ekonomi rendah, kepadatan hunian, dan keterlambatan diagnosis pada kasus indeks turut berkontribusi terhadap kejadian kusta pada anak. . (1,2)
Faktor Risiko dan Patogenesis
Risiko utama kusta pada anak adalah kontak erat dan berkepanjangan dengan penderita kusta multibasiler yang tidak atau belum mendapat pengobatan adekuat. Faktor genetik dan imunitas seluler berperan dalam menentukan respons tubuh terhadap infeksi. Patogenesis kusta berkaitan dengan invasi M. leprae ke sel Schwann dan makrofag, yang memicu kerusakan saraf perifer dan reaksi imun yang bervariasi, mulai dari dominasi imunitas seluler hingga respons humoral yang lemah. Variasi respons imun inilah yang mendasari spektrum klinis dan klasifikasi kusta. (2)
Manifestasi Klinis dan Komplikasi
Pada anak, kusta sering kali datang dengan keluhan bercak kulit hipopigmentasi atau eritematosa yang disertai penurunan sensibilitas. Penebalan saraf perifer, kelemahan otot, dan gangguan otonom dapat muncul seiring progresivitas penyakit. Bila tidak ditangani, kusta dapat menyebabkan komplikasi serius berupa disabilitas permanen, deformitas ekstremitas, gangguan fungsi penglihatan, serta dampak psikososial yang mendalam. Reaksi kusta, baik tipe 1 maupun tipe 2, dapat terjadi selama perjalanan penyakit dan terapi, serta memerlukan penanganan khusus untuk mencegah kerusakan saraf lebih lanjut. (1,2)
Klasifikasi Kusta
Berdasarkan PNPK dan rekomendasi WHO, klasifikasi kusta yang digunakan secara operasional dalam pelayanan adalah sebagai berikut:
Tata Laksana Berdasarkan Klasifikasi
Penatalaksanaan kusta pada anak dilakukan dengan multidrug therapy (MDT) yang aman dan efektif. Pada kusta pausibasiler, MDT diberikan selama enam bulan, terdiri dari rifampisin dan dapson dengan dosis yang disesuaikan usia dan berat badan anak. Pilihan obat dan dosis dapat dilihat pada Tabel 1. Pada kusta multibasiler, MDT diberikan selama dua belas bulan dengan kombinasi rifampisin, dapson, dan klofazimin. Terapi harus diawasi untuk memastikan kepatuhan dan mendeteksi efek samping obat sejak dini. Penanganan reaksi kusta meliputi pemberian kortikosteroid sistemik pada reaksi tipe 1 dan terapi tambahan sesuai indikasi klinis. Pencegahan disabilitas dilakukan melalui pemantauan fungsi saraf berkala, edukasi perawatan diri, dan rujukan rehabilitasi bila diperlukan. (1,2)
Tabel 1. Obat dan dosis untuk penyakit kusta tipe PB (1)
Tabel 2. Obat dan dosis untuk penyakit kusta tipe MB (1)
Peran Pengurangan Stigma
Stigma terhadap kusta masih menjadi penghalang utama dalam deteksi dini dan keberhasilan pengobatan, terutama pada anak. Ketakutan akan diskriminasi sering menyebabkan keluarga menyembunyikan gejala awal dan menunda pencarian layanan kesehatan. Dokter anak memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi bahwa kusta dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tersedia dan gratis, serta bahwa penderita yang menjalani terapi tidak lagi menularkan penyakit. Pendekatan yang empatik dan berbasis keluarga dapat meningkatkan penerimaan diagnosis, kepatuhan terapi, serta memperkuat upaya penemuan kasus secara aktif. .(1)
Kesimpulan dan Penutup
Kusta pada anak masih menjadi tantangan kesehatan di Indonesia dan mencerminkan transmisi aktif di masyarakat. Pemahaman yang baik mengenai klasifikasi kusta sangat penting karena menjadi dasar penatalaksanaan yang tepat dan pencegahan komplikasi jangka panjang. MDT yang diberikan sesuai klasifikasi terbukti efektif dan aman pada anak. Selain aspek klinis, pengurangan stigma dan edukasi berkelanjutan merupakan komponen esensial untuk mempercepat eliminasi kusta. Dengan pendekatan komprehensif yang melibatkan tenaga kesehatan, keluarga, dan komunitas, diharapkan deteksi dini dan keberhasilan pengobatan kusta pada anak dapat terus ditingkatkan. .(1,2)
Daftar Pustaka


dr. Afiah Salsabila
13 Sep 2025


Tim Editorial PrimaPro
21 Jan 2026


dr. Afiah Salsabila
19 Feb 2026