
Catat, Ini 5 Tips Mengatur Keuangan Saat Baru Punya Anak
20 Mar 2022

Author: dr. Afiah Salsabila
23 Okt 2025
Topik: Diare, Tatalaksana, Panduan
Latar Belakang
Diare merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak di seluruh dunia, terutama di negara berkembang. Menurut WHO, meskipun angka kematian akibat diare menurun signifikan sejak diterapkannya terapi rehidrasi oral (Oral Rehydration Therapy, atau ORT), masih terdapat lebih dari 1,5 juta kematian anak balita setiap tahunnya akibat diare akut.(1,2) Di Indonesia, diare tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat dengan kejadian luar biasa yang berulang dan kontribusi besar terhadap kematian anak.(3)
Secara definisi, diare adalah buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair tiga kali atau lebih per hari.(3) Etiologinya sangat beragam, mulai dari infeksi bakteri, virus, parasit, hingga keracunan makanan dan malabsorpsi. Infeksi masih menjadi penyebab utama, dengan agen seperti Rotavirus, Escherichia coli enterotoksigenik, Shigella spp., dan Salmonella spp.
Berdasarkan pedoman Infectious Diseases Society of America (IDSA) tahun 2017, tata laksana diare infeksius menekankan pentingnya rehidrasi, nutrisi yang adekuat, serta penggunaan antibiotik secara selektif.(2) Prinsip serupa telah diadaptasi oleh Departemen Kesehatan RI menjadi pendekatan yang dikenal sebagai “5 Lintas Diare”, suatu strategi komprehensif untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat diare anak di fasilitas kesehatan primer.(3) Berikut adalah komponen dari program tersebut:
1. Berikan Oralit (Rehidrasi)
Prinsip utama penanganan diare adalah pencegahan dan terapi dehidrasi. WHO dan UNICEF merekomendasikan oral rehydration salts (ORS) dengan formula baru berosmolaritas rendah, yang memiliki natrium 75 mEq/L dan glukosa 75 mmol/L, total osmolaritas 245 mOsm/L.(1) Dibandingkan formula lama, komposisi ini terbukti menurunkan volume tinja sekitar 20%, muntah 30%, dan kebutuhan terapi intravena hingga 33%.(1)
Penurunan osmolaritas ini meningkatkan penyerapan air melalui mekanisme kotranspor glukosa-natrium di usus halus. Keseimbangan osmolaritas yang lebih fisiologis mencegah efek hipertonik yang dapat memperparah kehilangan cairan. Prinsip rehidrasi oral ini tetap menjadi dasar terapi, bahkan pada kasus diare berat setelah pemberian cairan intravena awal.
2. Berikan Tablet Seng Selama 10 Hari Berturut-turut
Seng berperan penting dalam mempercepat regenerasi epitel usus, menurunkan durasi dan berat diare, serta mencegah kekambuhan dalam 2–3 bulan berikutnya.(1) WHO dan Depkes RI merekomendasikan dosis 10 mg per hari untuk bayi <6 bulan dan 20 mg per hari untuk anak ≥6 bulan selama 10–14 hari berturut-turut.(1,3) Suplementasi ini harus tetap diberikan meskipun diare telah berhenti untuk memastikan efek protektif jangka panjang.
3. Teruskan ASI dan Pemberian Makan
Selama episode diare, pemberian makanan tidak boleh dihentikan. Pemberian ASI harus dilanjutkan dengan frekuensi lebih sering, sementara anak yang lebih besar dianjurkan tetap mengonsumsi makanan sesuai usia dengan porsi kecil tetapi sering.(3) Kandungan kalium dari makanan seperti pisang dan air kelapa hijau membantu mengoreksi kehilangan elektrolit. Prinsip continued feeding ini terbukti mengurangi risiko malnutrisi pascadiare dan mempercepat pemulihan mukosa usus.(1)
4. Berikan Antibiotik Secara Selektif
Antibiotik tidak diberikan secara rutin karena sebagian besar diare pada anak disebabkan oleh agen virus. IDSA (2017) dan pedoman Depkes RI (2011) menegaskan bahwa antibiotik hanya diberikan pada kasus dengan indikasi jelas seperti disentri (Shigella), kolera, atau infeksi sistemik yang terbukti bakteriologis.(2,3) Penggunaan antibiotik tanpa indikasi meningkatkan risiko resistensi antimikroba dan gangguan mikrobiota usus.
5. Berikan Nasihat pada Ibu atau Pengasuh
Edukasi merupakan pilar penting dalam pencegahan kekambuhan. Ibu harus diberi pemahaman untuk segera memberikan cairan sejak awal diare, mengenali tanda bahaya seperti muntah berulang, rasa haus berlebihan, atau anak tampak lesu, serta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan bila gejala memburuk.(3) Edukasi juga mencakup praktik higienis seperti mencuci tangan, menggunakan air bersih, dan membuang tinja anak dengan benar sebagai upaya pencegahan transmisi penyakit.
Rekomendasi
Tatalaksana diare akut pada anak mencakup dua tahap utama: terapi awal (pre-hospital) dan terapi lanjutan (in-facility).
Pada fase pra-rumah sakit, orang tua dianjurkan segera memberikan cairan rumah tangga seperti air matang, air tajin, atau kuah sayur bila ORS tidak tersedia, sambil tetap memberikan ASI.(3) Begitu tiba di fasilitas kesehatan, klasifikasi derajat dehidrasi harus dilakukan (tanpa dehidrasi, ringan/sedang, berat) untuk menentukan rencana terapi A, B, atau C sesuai pedoman Depkes.
Setelah fase akut, penting dilakukan tindak lanjut untuk mencegah komplikasi seperti malnutrisi dan kekambuhan. Anak disarankan mendapat diet tinggi energi dan kaya mikronutrien selama dua minggu setelah diare berhenti, serta imunisasi campak bila belum lengkap karena infeksi campak dapat memperberat episode diare.(3)
Kesimpulan dan Penutup
Pendekatan “5 Lintas Diare” merupakan adaptasi komprehensif dari pedoman WHO dan IDSA yang sesuai dengan konteks Indonesia. Lima langkah ini—rehidrasi dengan ORS formula baru, suplementasi seng, pemberian makan berkelanjutan, penggunaan antibiotik selektif, dan edukasi keluarga—terbukti efektif menurunkan mortalitas dan morbiditas akibat diare pada anak.
Dengan implementasi konsisten di tingkat rumah tangga dan fasilitas pelayanan kesehatan, diharapkan angka kematian balita akibat diare di Indonesia dapat terus ditekan. Peran aktif tenaga medis, terutama dokter anak, dalam edukasi, monitoring kepatuhan, serta evaluasi tatalaksana menjadi kunci keberhasilan program nasional pengendalian diare.
Daftar Pustaka

20 Mar 2022

5 Apr 2022

12 Apr 2022

16 Apr 2022