
Bahaya Membeli Antibiotik Sendiri
28 Jan 2018

Author: dr. Afiah Salsabila
9 Jul 2025
Topik: Diare, Antibiotik, Guideline
Latar Belakang
Diare akut masih menjadi salah satu penyebab utama morbiditas pada anak-anak, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia. Meskipun sebagian besar kasus diare pada anak bersifat ringan dan dapat sembuh tanpa pengobatan khusus, penggunaan antibiotik secara tidak tepat masih banyak ditemukan. Studi komunitas di Indonesia menunjukkan bahwa hampir 50% anak dengan gejala klinis seperti diare, batuk, atau demam menerima antibiotik. (1) Data yang lebih baru dari studi multisenter di Surabaya dan Banjarmasin juga menemukan bahwa anak-anak dengan diare tetap diberi antibiotik, meskipun tidak semuanya sesuai indikasi. (2)
Fenomena ini tidak unik di Indonesia. Di Nigeria, lebih dari 85% anak dengan diare cair akut juga menerima antibiotik, padahal sebagian besar infeksi tersebut disebabkan oleh rotavirus . (3) Praktik ini mencerminkan rendahnya kepatuhan terhadap pedoman klinis yang berpotensi menyebabkan peningkatan resistensi antimikroba serta risiko efek samping yang tidak perlu.
Etiologi
Sebagian besar diare akut pada anak disebabkan oleh virus, terutama rotavirus dan norovirus. Bakteri seperti Shigella, Salmonella, dan Escherichia coli hanya mencakup sebagian kecil dari semua kasus diare, Oleh karena itu, identifikasi etiologi bakteri tidak selalu diperlukan secara rutin dalam praktik klinik. (4)
Tatalaksana utama diare pada anak mencakup terapi rehidrasi menggunakan larutan oralit osmolaritas rendah dan suplementasi seng. WHO merekomendasikan pemberian zinc 5 mg/hari selama 10–14 hari tergantung usia anak. Nutrisi tetap harus dilanjutkan, termasuk pemberian ASI. (5)
Rekomendasi WHO Terkait Antibiotik
WHO dengan tegas menyatakan bahwa antibiotik tidak direkomendasikan untuk diare akut pada anak, kecuali bila ada indikasi spesifik. Jika diare tidak berdarah, maka tatalaksana cukup meliputi rehidrasi oral dan pemberian zat seng. Selain pengobatan, edukasi kepada orang tua sangat penting untuk menjelaskan bahwa sebagian besar diare disebabkan oleh virus dan tidak memerlukan antibiotik. Kepercayaan masyarakat terhadap antibiotik sebagai “obat kuat” harus diluruskan melalui komunikasi yang berbasis bukti.(5)
Antibiotik hanya dianjurkan bila terdapat diare berdarah (disentri) yang kemungkinan disebabkan oleh Shigella, dugaan kolera pada kasus diare berat, atau infeksi bakteri sistemik lainnya yang membutuhkan pengobatan antimikroba. Untuk kasus disentri, WHO merekomendasikan ciprofloxacin 15 mg/kg per dosis dua kali sehari selama 3 hari sebagai terapi lini pertama dan ceftriaxone 50-80 mg/hari selama 3 hari sebagai terapi lini kedua, khususnya jika sensitivitas antibiotik lokal tidak diketahui. Penggunaannya tetap harus hati-hati, dengan senantiasa melakukan evaluasi risiko-manfaat. Hal ini untuk mencegah meningkatnya resistensi antibiotik di populasi setempat. (5)
Praktik di Layanan Primer di Indonesia
Sebuah studi observasional yang dilakukan di beberapa Puskesmas di Surabaya dan Banjarmasin menunjukkan bahwa dari 2.516 anak yang menerima antibiotik, 119 di antaranya memiliki diagnosis diare. Meskipun jumlah ini relatif kecil (6,4% di Surabaya dan 3,6% di Banjarmasin), tetap ditemukan bahwa sebagian anak dengan diare tanpa indikasi etiologi bakteri diberikan antibiotik. Cotrimoxazole merupakan antibiotik yang paling banyak digunakan untuk diare, dan sekitar 73,1% dari total resep antibiotik untuk diare dikategorikan sesuai pedoman. Namun, sisanya menunjukkan bahwa praktik penggunaan antibiotik yang tidak tepat masih terjadi di layanan primer. (2)
Data ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar resep sudah sesuai, masih terdapat celah dalam implementasi praktik rasional penggunaan antibiotik. Tantangan lain yang diidentifikasi adalah kurangnya pencatatan diagnosis yang spesifik dalam rekam medis, sehingga menyulitkan evaluasi kualitas terapi.
Kesimpulan
Sebagian besar kasus diare akut pada anak bersifat self-limiting dan tidak memerlukan antibiotik. WHO secara tegas membatasi indikasi antibiotik hanya pada kasus dengan bukti infeksi bakteri seperti disentri. Studi di Indonesia menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar resep antibiotik untuk diare sudah sesuai pedoman, praktik yang tidak tepat masih terjadi. Oleh karena itu, edukasi kepada tenaga kesehatan, pencatatan diagnosis yang akurat, dan penerapan kebijakan pengendalian resistensi antimikroba harus ditingkatkan untuk mendorong penggunaan antibiotik yang rasional dan aman pada anak.
Daftar Pustaka

28 Jan 2018

17 Okt 2022

17 Okt 2022

7 Des 2022