
Pentingnya Imunisasi untuk Mencegah Wabah, Sakit Berat, Cacat, dan Kematian Bayi – Balita
6 Feb 2018

Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
14 Jul 2025
Topik: Zoonosis, Ilmiah, Cat Scratch Disease, Demam, Fever of Unknown Origin
Latar Belakang
Cat Scratch Disease (CSD) adalah penyakit zoonotik yang disebabkan oleh Bartonella henselae, bakteri gram-negatif intraseluler yang ditularkan melalui cakaran, gigitan, atau kontak dengan air liur kucing yang terinfeksi. Penyakit ini terutama menyerang anak-anak dan sering kali muncul sebagai limfadenopati regional yang sembuh sendiri. Meskipun pada sebagian besar anak bersifat ringan, CSD dapat berkembang menjadi bentuk sistemik yang berat, terutama pada pasien imunokompromais. Dengan meningkatnya kepemilikan hewan peliharaan, khususnya kucing, serta paparan anak terhadap lingkungan berisiko, penting bagi dokter anak untuk mengenali CSD sebagai diagnosis banding yang relevan dalam praktik klinis. (1)
Etiologi, Faktor Risiko, dan Patogenesis
Agen penyebab CSD adalah B. henselae, yang ditularkan antar kucing melalui vektor kutu (Ctenocephalides felis), dan kemudian ke manusia melalui cakaran atau gigitan. Faktor risiko utama meliputi riwayat kontak dengan kucing, terutama anak kucing yang terinfeksi. Bakteri ini memiliki kemampuan untuk bertahan di dalam sel endotel dan eritrosit, membentuk biofilm, serta menghindari deteksi sistem imun inang. Pada pasien imunokompeten, respons imun seluler yang adekuat menyebabkan kontrol infeksi lokal dan terbatas. Namun, pada pasien imunokompromais, keterbatasan imunitas seluler memungkinkan infeksi menyebar ke berbagai organ, termasuk hati, paru, sistem saraf pusat, dan mata. (2)
Manifestasi Klinis dan Komplikasi
Manifestasi klasik CSD berupa demam dan limfadenopati regional satu sisi, biasanya di lokasi yang berdekatan dengan tempat inokulasi. Lesi kulit berupa papul eritematosa dapat mendahului pembengkakan kelenjar getah bening. Gejala sistemik ringan seperti demam, malaise, dan nyeri lokal juga sering ditemukan. Sekitar 10–20% pasien mengalami supurasi kelenjar. (2) Demam bisa berlangsung secara lama, dan sering didiagnosis sebagai Fever of Unknown Origin (FUO) pada awal presentasi. (1)
CSD atipikal lebih sering terjadi pada anak imunokompromais dan mencakup komplikasi seperti hepatosplenik granulomatosis, osteomielitis, neuroretinitis, ensefalitis, dan bahkan endokarditis. Pada anak dengan demam yang berkepanjangan tanpa penyebab jelas, terutama dengan riwayat kontak dengan kucing, CSD harus menjadi pertimbangan diagnosis banding. (2,3)
Diagnosis dan Tatalaksana
Diagnosis CSD didasarkan pada kombinasi riwayat paparan kucing, manifestasi klinis khas, serta konfirmasi serologis. Metode serologi yang umum digunakan adalah ELISA dan IFA untuk mendeteksi antibodi terhadap B. henselae. IFA memiliki sensitivitas dan spesifisitas lebih tinggi, sedangkan ELISA lebih mudah dilakukan secara rutin. Titer IgG ≥1:256 atau peningkatan empat kali lipat pada pemeriksaan berpasangan mengindikasikan infeksi akut. (3) Pemeriksaan radiologis dapat membantu mengidentifikasi keterlibatan organ dalam, sedangkan biopsi limfonodi dapat diperlukan pada kasus yang tidak membaik atau mencurigakan untuk kondisi lain.
Pada anak imunokompeten dengan bentuk ringan, CSD umumnya sembuh sendiri dalam waktu 2 hingga 4 bulan tanpa terapi antibiotik. Namun, pada anak dengan CSD sedang-berat, limfadenopati ekstensif, atau imunokompromais, antibiotik dapat mempercepat resolusi limfadenopati. Dosis azitromisin yang direkomendasikan pada pasien dengan CSD adalah 10 mg/kg pada hari pertama dan 5 mg/kg selama 4 hari berikutnya. (1) Anak dengan gangguan imunitas berisiko tinggi mengalami infeksi diseminata yang berat, seperti bacillary angiomatosis dan peliosis hepatis. Kasus-kasus ini memerlukan penanganan agresif dengan terapi kombinasi antibiotik seperti rifampisin, doksisiklin, atau trimetoprim-sulfametoksazol, serta monitoring yang ketat. (2)
Kesimpulan
CSD merupakan penyakit zoonotik yang umum pada anak dan harus dipertimbangkan sebagai diagnosis banding pada anak dengan limfadenopati atau demam yang muncul tanpa penyebab jelas, terutama bila terdapat riwayat kontak dengan kucing. Meskipun umumnya ringan dan dapat sembuh spontan pada anak yang imunokompeten, infeksi ini dapat menimbulkan komplikasi berat pada anak yang imunokompromais. Diagnosis bergantung pada riwayat klinis dan pemeriksaan serologi, sedangkan terapi disesuaikan dengan derajat keparahan dan status imun pasien. Peningkatan kewaspadaan klinis dan edukasi keluarga tentang pencegahan paparan terhadap kucing yang terinfeksi dapat membantu mengurangi kejadian dan komplikasi CSD pada populasi anak.
Daftar Pustaka

6 Feb 2018


Marisha A / dr. Dini Astuti Mirasanti, Sp.A (Editor)
4 Mar 2022


Radhita Rara
20 Mar 2022


Tim PrimaKu
3 Jun 2022