
Berapa Lama Waktu Tidur yang Dibutuhkan oleh Anak? Ini Panduannya
10 Mar 2022

Author: dr. Afiah Salsabila
29 Okt 2025
Topik: Anemia, Anemia Defisiensi Besi , Zat Besi, Suplemen, WHO, Panduan
Latar Belakang
World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa sekitar 40% anak balita di dunia mengalami anemia, dan sekitar separuh kasusnya disebabkan oleh kekurangan zat besi. (1) Kondisi ini tidak hanya menimbulkan penurunan kadar hemoglobin, tetapi juga mengganggu perkembangan otak, fungsi imun, dan performa kognitif jangka panjang. (2,3)
Pada masa bayi dan anak, kebutuhan zat besi meningkat seiring pertumbuhan cepat, peningkatan volume darah, dan pembentukan jaringan baru. Bayi lahir dengan cadangan besi yang cukup untuk 4–6 bulan pertama kehidupan, namun setelah itu, kebutuhan meningkat dan tidak dapat dipenuhi hanya melalui ASI. (3) Oleh karena itu, suplementasi zat besi menjadi intervensi penting untuk mencegah anemia defisiensi besi, terutama pada kelompok berisiko tinggi.
Pedoman WHO menekankan bahwa pemberian suplementasi besi harus disesuaikan dengan usia, status gizi, serta tingkat prevalensi anemia di populasi setempat, dengan mempertimbangkan efektivitas dan keamanan. (1)
Rekomendasi Berdasarkan Usia
1. Bayi Usia 0–5 Bulan
Pada kelompok usia ini, WHO tidak merekomendasikan suplementasi zat besi rutin untuk bayi cukup bulan dengan berat lahir normal yang mendapat ASI eksklusif. (1) Hal ini karena bayi tersebut masih memiliki cadangan zat besi yang diperoleh dari ibu selama kehamilan. Namun, pada bayi berat badan lahir rendah (BBLR <2500 g) atau bayi prematur, cadangan besi terbatas, sehingga WHO merekomendasikan suplementasi harian sebesar 2-4 mg/kg berat badan/hari mulai usia 2 minggu hingga 6 bulan. (2)
2. Bayi Usia 6–23 Bulan
Menurut WHO, bayi dan anak usia 6–23 bulan yang tinggal di daerah dengan prevalensi anemia ≥40% harus mendapatkan suplementasi zat besi harian selama 3 bulan berturut-turut setiap tahun. (3) Dosis yang direkomendasikan adalah 10–12,5 mg besi elemental per hari, diberikan dalam bentuk tetes atau sirup. Pada anak yang mendapat ASI, kebutuhan zat besi tidak dapat dipenuhi sepenuhnya dari makanan pendamping, karena kandungan zat besi dalam ASI relatif rendah dan bioavailabilitas zat besi dari sumber nabati terbatas. Oleh karena itu, suplementasi menjadi strategi penting dalam pencegahan anemia defisiensi besi. (3)
Penelitian menunjukkan bahwa pemberian besi harian selama minimal 3 bulan per tahun dapat menurunkan risiko anemia hingga 39% pada kelompok usia ini. (3)
3. Anak Usia 24-59 Bulan
Pada kelompok usia pra-sekolah, kebutuhan zat besi meningkat seiring dengan pertumbuhan aktif, namun konsumsi makanan kaya zat besi sering kali belum optimal. WHO merekomendasikan 30 mg besi elemental per hari selama 3 bulan berturut-turut setiap tahun untuk anak usia 2–5 tahun di daerah dengan prevalensi anemia ≥40%. (3)
Pemberian dapat dilakukan dalam bentuk sirup atau tablet. Strategi ini terbukti aman dan diterima baik oleh anak-anak. (3)
4. Anak Usia 5–12 Tahun
WHO menyarankan agar anak usia sekolah (5–12 tahun) yang tinggal di daerah dengan prevalensi anemia ≥40% juga mendapat suplementasi zat besi secara berkala. Dosis yang direkomendasikan adalah 30–60 mg besi elemental per hari, diberikan selama 3 bulan setiap tahun. (3)
5. Remaja Usia 12–18 Tahun
Remaja, terutama perempuan, merupakan kelompok dengan risiko tinggi anemia akibat percepatan pertumbuhan dan kehilangan darah saat menstruasi. WHO merekomendasikan 30–60 mg besi elemental per hari selama 3 bulan berturut-turut setiap tahun pada remaja perempuan di wilayah dengan prevalensi anemia ≥40%. (4)
Program suplementasi intermiten juga dapat digunakan sebagai alternatif untuk meningkatkan kepatuhan, misalnya 60 mg besi elemental satu kali per minggu, khususnya pada daerah dengan prevalensi anemia 20-40%. (4)
Pertimbangan Keamanan dan Efektivitas
Pemberian suplementasi zat besi secara rutin umumnya aman. Efek samping yang paling sering dilaporkan adalah gejala gastrointestinal seperti mual dan konstipasi. (2,4) Suplementasi sebaiknya dilakukan pada perut kosong untuk meningkatkan absorpsi, namun dapat diberikan setelah makan bila timbul keluhan gastrointestinal.
Kesimpulan dan Penutup
Defisiensi zat besi dan anemia masih menjadi masalah kesehatan global utama pada anak-anak. WHO menegaskan bahwa suplementasi zat besi merupakan strategi efektif untuk mencegah anemia dan meningkatkan perkembangan anak, terutama di wilayah dengan prevalensi tinggi.
Dosis dan jadwal pemberian harus disesuaikan dengan usia dan risiko populasi, dengan mempertimbangkan keberadaan penyakit endemik seperti malaria. Dokter anak berperan penting dalam menilai status gizi, menentukan kebutuhan suplementasi, memantau efek samping, serta mengedukasi keluarga mengenai pentingnya asupan zat besi dari makanan sehari-hari.
Upaya terintegrasi antara tenaga medis, keluarga, dan sistem kesehatan masyarakat diperlukan untuk memastikan anak-anak mendapatkan asupan besi yang cukup, guna mendukung pertumbuhan optimal, fungsi kognitif, dan masa depan yang lebih sehat
Daftar Pustaka

10 Mar 2022

8 Apr 2022

26 Sep 2022

7 Nov 2022