
Pemberian Makan pada Bayi: Kapan, Apa, dan Bagaimana?
6 Feb 2018

Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
31 Agu 2025
Topik: Demam Dengue, Cairan, Panduan, Terapi Cairan
Terapi cairan merupakan pilar tatalaksana klinis dengue pada anak. WHO 2025 menegaskan bahwa pengelolaan cairan yang tepat waktu dan terukur menurunkan mortalitas, dengan prioritas rehidrasi oral pada kasus non‑severe/suspect dan terapi intravena kristaloid pada kasus dengan tanda bahaya atau severe dengue. [1] Di Indonesia, PNPK Dengue Anak & Remaja 2021 masih menjadi acuan operasional parameter laju dan penurunan tetesan cairan kristaloid sesuai respons klinis dan hematokrit. [2]
Rehidrasi Oral pada Dengue Non‑Severe/Suspect
Pada kasus non‑severe/suspect yang masih mampu minum, rehidrasi oral lebih diutamakan dibandingkan infus intravena, asalkan jumlah cairan yang dikonsumsi memadai untuk menutup defisit dan kebutuhan berkelanjutan. WHO 2025 menekankan aspek‑aspek praktis berikut: (1) anjurkan minum sering dalam jumlah kecil, terutama bila ada mual/anoreksia; (2) catat asupan cairan harian (idealnya sediakan alat ukur, misalnya gelas 200 mL) dan tinjau catatan tiap hari pada perawatan jalan; (3) targetkan frekuensi berkemih 4–6 kali/hari sebagai indikator kecukupan asupan; (4) air minum aman tetap menjadi sumber utama; gunakan cairan lain sesuai ketersediaan setempat; (5) larutan rehidrasi oral (ORS) direkomendasikan untuk memastikan penggantian elektrolit yang tepat; bila ORS tidak tersedia, dapat dipakai sup, jus tanpa pemanis, air kelapa, minuman yogurt, atau air bekas memasak beras/biji‑bijian sebagai pelengkap air; (6) hindari minuman berpemanis tinggi dan berkarbonasi (>5% gula)—misalnya minuman bersoda komersial, jus kemasan komersial, dan teh manis—karena berisiko memperberat hiperglikemia pada stress fisiologis dengue, termasuk pada pasien dengan diabetes. Pada rawat jalan, tenaga kesehatan perlu mengajari keluarga cara mencatat total volume dan menekankan kapan harus kembali bila asupan menurun atau gejala memburuk. [1]
Indikasi Terapi Intravena
Terapi intravena dipertimbangkan bila asupan oral tidak memadai, muncul warning signs, atau terdapat bukti perembesan plasma/syok (fase kritis). [1] WHO 2025 memberikan rekomendasi mengutamakan cairan kristaloid dibanding koloid pada pasien arboviral yang membutuhkan cairan intravena, dengan justifikasi keamanan (lebih sedikit reaksi infus berat) dan ternyata tidak ditemukan adanya keunggulan klinis dari pemberian koloid untuk kondisi ini. [1] Selaras dengan itu, PNPK 2021 menempatkan kristaloid isotonik (Ringer laktat/Ringer asetat/Hartmann/NaCl 0,9%) sebagai pilihan utama; koloid hanya untuk kondisi syok refrakter setelah resusitasi kristaloid yang adekuat. [2]
Pada dengue dengan warning signs (tanpa syok), PNPK 2021 menganjurkan memulai kristaloid isotonik dengan pendekatan bertahap sesuai respons klinis dan hematokrit: tetesan awal 5–7 mL/kg/jam selama 1–2 jam. Jika nilai hematokrit tetap sama atau hanya meningkat sedikit, lanjutkan pemberian cairan tersebut dengan tetesan sama. Jika tanda vital memburuk dan hematokrit meningkat dengan pesat, naikkan tetesan cairan menjadi 5–10 ml/kg/jam untuk 1–2 jam berikutnya. Jika hematokrit memiliki respon yang baik oleh pemberian dosis awal, turunkan dosis secara perlahan sesuai dengan panduan berikut: 3–5 mL/kg/jam selama 2–4 jam, dan lalu 2–3 mL/kg/jam atau lebih rendah sesuai perbaikan klinis. Evaluasi berkala dengan pemeriksaan klinis dan hematokrit untuk mengarahkan penurunan/penyesuaian laju. Setelah stabil, cairan intravena dikurangi secara bertahap dan umumnya dilanjutkan selama cukup 24–48 jam. Algoritma ini dapat dilihat pada Gambar 1. [2]
Pada severe dengue dengan syok, resusitasi awal menggunakan bolus 10–20 mL/kg kristaloid dalam 15–30 menit. Respons dinilai cepat (nadi, perfusi, tekanan nadi, tekanan darah, kesadaran, diuresis) dan hematokrit ditinjau untuk membedakan kebutuhan cairan tambahan versus kecurigaan perdarahan (yang mengarah ke transfusi darah).[2]
Beberapa prinsip teknis penting PNPK 2021: perhitungan laju pada anak obes/overweight memakai berat badan ideal (IBW), bukan berat aktual; target diuresis ≥1 mL/kg/jam; hindari over‑resuscitation—terutama saat fase pemulihan—karena risiko edema paru dan gagal jantung meningkat ketika cairan ekstravaskular mulai direabsorpsi. [2]
Gambar 1. Algoritma pemberian cairan pada dengue dengan warning signs tanpa syok. [2]
Pemantauan
Pemantauan ketat menentukan keberhasilan terapi cairan. PNPK 2021 menganjurkan penilaian tanda vital (lebih sering pada fase kritis), perfusi perifer, asupan‑keluaran cairan (termasuk catatan urin), hematokrit, trombosit, dan, bila tersedia/terindikasi, fungsi hati dan ginjal. [2] Pada rawat jalan, keluarga diminta memantau frekuensi berkemih, asupan cairan total, dan tanda bahaya (muntah menetap, nyeri perut hebat, perdarahan mukosa, tidak berkemih ≥6 jam, letargi), serta segera kembali bila muncul perburukan. [1,2]
WHO 2025 memberikan kerangka kapan memilih oral versus intravena dan apa yang diprioritaskan (kristaloid, bukan koloid), sementara PNPK 2021 menyuplai angka laju praktis yang kontekstual untuk fasilitas layanan anak di Indonesia. [1,2] Pada non‑severe/suspect, keberhasilan sangat ditentukan oleh kedisiplinan rehidrasi oral terukur (pencatatan volume, indikator berkemih), sedangkan pada warning signs/severe diperlukan resusitasi kristaloid terstandar dengan evaluasi hematokrit‑klinis yang sering. [1,2]
Kesimpulan
Pemberian cairan pada anak dengan dengue harus mengikuti prinsip step‑up/step‑down yang responsif terhadap status klinis dan hematokrit. Pada non‑severe/suspect, rehidrasi oral yang terukur, aman, dan cukup volume adalah prioritas. [1] Begitu kebutuhan oral tidak terpenuhi atau muncul warning signs/severe dengue, beralihlah ke kristaloid isotonik dengan laju bertahap sesuai PNPK 2021, memantau tanda vital, diuresis, hematokrit, dan tanda kelebihan cairan. [2] Pendekatan terpadu WHO 2025 dan PNPK 2021 ini memungkinkan terapi cairan yang aman, efektif, dan efisien, dengan tujuan akhir mencegah syok, menghindari over‑resuscitation, dan menurunkan mortalitas dengue pada anak. [1,2]
Referensi

6 Feb 2018


dr. Lucyana Alim Santoso, Sp.A
3 Agu 2021


Marisha A / dr. Dini Astuti Mirasanti Sp.A (Editor)
26 Apr 2022


Marisha A / dr. Dini Astuti Mirasanti Sp.A (Editor)
21 Jun 2022