
Greenstick Fractures: Pendekatan dan Prognosis
14 Feb 2024

Author: dr. Afiah Salsabila
18 Nov 2025
Topik: Bronkiolitis, Asma, Ilmiah
Latar Belakang
Bronkiolitis merupakan infeksi saluran napas bawah akut yang terutama menyerang bronkiolus, ditandai oleh inflamasi, edema mukosa, dan produksi sekret yang berlebihan. Kondisi ini paling sering ditemukan pada bayi dan anak usia <2 tahun, dengan puncak kejadian pada usia 2–6 bulan. Secara klinis, bronkiolitis menjadi penyebab utama rawat inap pada bayi di seluruh dunia, terutama pada musim hujan di daerah tropis atau musim dingin di iklim sedang. (1)
Penyakit ini penting dipahami oleh dokter anak karena meskipun sebagian besar kasus bersifat ringan dan dapat ditatalaksana di rumah, bronkiolitis dapat berkembang menjadi gagal napas, hipoksemia, dan dehidrasi yang memerlukan rawat inap. Penatalaksanaan yang tepat dan rasional dapat menurunkan morbiditas serta mencegah komplikasi berat seperti atelektasis dan infeksi sekunder. (1)
Etiologi dan Epidemiologi
Penyebab tersering bronkiolitis adalah Respiratory Syncytial Virus (RSV), yang bertanggung jawab atas hampir dua pertiga kasus. Virus lain yang dapat menyebabkan bronkiolitis antara lain Human Metapneumovirus, Parainfluenza Virus tipe 3, Adenovirus, Bocavirus, Coronavirus, dan Rhinovirus. (1)
Secara global, bronkiolitis menyebabkan sekitar 33 juta episode setiap tahun dan 3,6 juta rawat inap, dengan angka kematian hingga 118.000 kasus, sebagian besar terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah termasuk Indonesia. Faktor risiko meliputi usia <6 bulan, bayi prematur, penyakit jantung bawaan, displasia bronkopulmoner, defisiensi imun, dan pajanan asap rokok. (1)
Diagnosis dan Manifestasi Klinis
Bronkiolitis adalah diagnosis klinis. Gejala awal biasanya berupa kongesti hidung dan batuk ringan yang dalam beberapa hari berkembang menjadi takipnea, retraksi dinding dada, mengi, dan kesulitan menyusu.Pada kasus berat dapat ditemukan sianosis, letargi, serta tanda-tanda gagal napas. Pemeriksaan fisik memperlihatkan ronki halus dan mengi difus. (1)
Pemeriksaan radiologi tidak rutin diperlukan, namun bila dilakukan dapat menunjukkan hiperinflasi paru, penebalan peribronkial, dan atelektasis. Pemeriksaan antigen atau PCR virus dapat dilakukan pada kasus berat atau untuk kepentingan kontrol infeksi rumah sakit. (1)
Diagnosis banding bronkiolitis mencakup asma, pneumonia bakterial, aspirasi benda asing, dan penyakit jantung bawaan sianotik. Perbedaan utama bronkiolitis dengan asma terletak pada usia dan riwayat. Bronkiolitis umumnya menyerang bayi <12 bulan tanpa riwayat atopik, sedangkan asma lebih sering terjadi pada anak lebih besar dengan riwayat alergi keluarga. Respons terhadap bronkodilator pada bronkiolitis juga minimal dibandingkan pada asma.(1)
Aspirasi benda asing, pneumonia, dan penyakit jantung bawaan (PJB) sering menyerupai bronkiolitis namun memiliki perbedaan khas. Aspirasi benda asing muncul mendadak setelah tersedak dengan gejala batuk tiba-tiba, mengi unilateral, atau penurunan suara napas di satu sisi, dan tidak membaik dengan bronkodilator karena obstruksinya mekanik. Pneumonia ditandai demam tinggi, batuk produktif, ronki lokal, serta infiltrat atau konsolidasi pada foto toraks yang membaik dengan antibiotik. Sementara PJB, seperti VSD atau PDA, bersifat kronik dengan takipnea menetap, gagal tumbuh, dan kardiomegali pada foto toraks, tanpa riwayat infeksi dan tidak responsif terhadap terapi bronkiolitis. (1)
Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi meliputi gagal napas akut, infeksi sekunder seperti pneumonia bakterial, dehidrasi akibat kesulitan menyusu, serta apnea terutama pada bayi <2 bulan. Dalam jangka panjang, beberapa anak dapat mengalami hipereaktivitas bronkus atau episode mengi berulang yang menyerupai asma.(1)
Rekomendasi Tatalaksana
Tatalaksana bronkiolitis bersifat suportif dan bertujuan menjaga oksigenasi, hidrasi, dan mencegah komplikasi. Pemberian oksigen dilakukan bila saturasi oksigen <90%. Pemasangan nasal cannula atau high-flow nasal oxygen dapat digunakan pada kasus sedang hingga berat. Hidrasi harus dijaga melalui pemberian cairan oral atau intravena bila terdapat tanda dehidrasi atau intake oral berkurang. (1)
Bronkodilator, kortikosteroid, dan antibiotik tidak direkomendasikan secara rutin karena tidak terbukti mempercepat penyembuhan. Nebulisasi salin hipertonik dapat dipertimbangkan pada pasien rawat inap untuk membantu mobilisasi sekret. Sedasi dan fisioterapi dada tidak dianjurkan. (1)
Tatalaksana pasca perawatan (post hospital care) mencakup pemantauan terhadap gejala residu seperti mengi berulang dan gangguan tidur, serta edukasi pencegahan infeksi ulang melalui kebersihan tangan, ventilasi ruangan yang baik, dan menghindari pajanan asap rokok.
Kesimpulan dan Penutup
Bronkiolitis merupakan penyebab utama infeksi saluran napas bawah pada bayi, dengan RSV sebagai etiologi tersering. Diagnosis ditegakkan secara klinis berdasarkan gejala khas tanpa memerlukan pemeriksaan penunjang rutin. Tatalaksana bersifat suportif, menekankan pada hidrasi, oksigenasi, dan pemantauan ketat terhadap tanda bahaya.
Peran dokter anak sangat penting dalam menentukan kebutuhan rawat inap, menghindari penggunaan terapi yang tidak efektif, serta memberikan edukasi kepada keluarga mengenai perawatan di rumah dan pencegahan infeksi. Implementasi vaksin RSV dan profilaksis pada bayi risiko tinggi menjadi langkah strategis untuk menurunkan beban penyakit di masa mendatang.
Referensi
Erickson EN, Bhakta RT, Tristram D, et al. Pediatric Bronchiolitis. [Updated 2025 Jan 12]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK519506/

14 Feb 2024

13 Jun 2024

14 Jun 2024

6 Agu 2024