
Sekolah tatap muka mulai, sudah siapkah kita?
28 Jul 2021

Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
29 Okt 2025
Topik: Magnet, Benda Asing, Panduan
Latar Belakang
Ingesti benda asing merupakan kasus yang sering ditemukan pada populasi pediatrik, terutama pada kelompok usia di bawah lima tahun. Dalam dekade terakhir, terjadi peningkatan signifikan kasus ingesti magnet pada anak, terutama akibat tersedianya magnet neodymium berukuran kecil yang banyak digunakan dalam mainan dan aksesori rumah tangga. Magnet jenis ini memiliki kekuatan tarik 10–20 kali lebih besar dibandingkan magnet konvensional dan mampu menimbulkan tekanan hingga setengah kilogram antarpartikel. (1)
Ketika anak menelan satu magnet, benda tersebut umumnya dapat melewati saluran cerna tanpa menimbulkan gejala berarti. Namun, jika lebih dari satu magnet tertelan, atau magnet tertelan bersama benda logam lain, gaya tarik kuat antarpermukaan dapat menjebak dinding usus yang berbeda, menyebabkan iskemia, nekrosis, hingga perforasi. (1,2) Komplikasi berat seperti peritonitis dan sepsis juga dapat muncul bila diagnosis terlambat ditegakkan.
Fenomena ini penting untuk dipelajari karena angka kejadian dan morbiditasnya meningkat tajam di berbagai negara. Studi multi-senter di Qatar, UEA, Arab Saudi, Tunisia, dan Turki menemukan bahwa hampir separuh kasus ingesti magnet pada anak melibatkan lebih dari satu magnet, dan sebagian besar kasus multipel berujung pada komplikasi berat serta memerlukan tindakan bedah. (1)
Etiologi dan Epidemiologi
Penyebab utama insiden ini adalah meningkatnya paparan anak terhadap magnet neodymium berukuran kecil, yang sering kali berbentuk bola (magnetic beads) atau rozet dan dipasarkan sebagai mainan edukatif maupun aksesori meja untuk orang dewasa. (1,2) Magnet ini mudah terlepas dari mainan dan dapat ditemukan oleh anak usia dini yang cenderung menjelajahi lingkungan dengan memasukkan benda ke dalam mulut.
Dalam studi observasional oleh Alansari et al., 189 anak dengan riwayat menelan magnet dievaluasi. Median usia pasien adalah 3,9 tahun (IQR 2–7), dengan 55,6% berjenis kelamin laki-laki. Sebanyak 88 anak (46,6%) menelan magnet multipel. Magnet yang paling sering tertelan adalah jenis neodymium ball (75,7%), dan lokasi tersering adalah usus halus (51,9%), diikuti lambung (32,8%) dan kolon (24,3%). (1)
Insidensi tertinggi ditemukan pada anak usia 6 bulan hingga 4 tahun, yang sesuai dengan fase perkembangan oral aktif. (1) Selain itu, kasus juga dilaporkan meningkat pada anak usia lebih besar dan remaja yang menggunakan magnet untuk meniru tindikan tubuh seperti di hidung atau lidah, yang berisiko tertelan secara tidak sengaja. (2)
Faktor Risiko dan Patogenesis
Faktor risiko utama meliputi usia prasekolah, pengawasan yang kurang, dan keberadaan benda magnet kecil di lingkungan rumah. (1) Pada anak dengan gangguan perkembangan atau perilaku hiperaktif, risiko menelan benda asing juga meningkat.
Patogenesis komplikasi ingesti magnet multipel berkaitan dengan gaya tarik antarpermukaan yang tinggi. Setelah tertelan, magnet dapat berpindah ke segmen saluran cerna yang berbeda. Ketika dua atau lebih magnet saling menarik melalui lapisan usus, jaringan di antara keduanya mengalami penekanan terus-menerus, menyebabkan iskemia lokal, diikuti oleh ulserasi mukosa, nekrosis transmural, dan akhirnya perforasi. (1,2)
Lesi ulseratif dapat muncul dalam 8 jam sejak ingesti. Penemuan ini dapat dilihat melalui endoskopi. (2) Bila kondisi ini tidak segera dikenali, ulserasi dapat berkembang menjadi fistula entero-enterik atau gastroenterik, bahkan obstruksi usus total.
Diagnosis dan Manifestasi Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, kecurigaan klinis, dan pemeriksaan radiologis. Riwayat bermain dengan mainan magnetik menjadi petunjuk penting. Pemeriksaan penunjang utama adalah foto polos abdomen dua proyeksi (anteroposterior dan lateral) untuk menentukan jumlah, lokasi, dan arah pergerakan magnet. (2)
Pasien dengan satu magnet umumnya asimtomatik dan ditemukan secara insidental. Namun, pasien dengan magnet multipel sering kali menunjukkan gejala seperti nyeri perut, muntah, dan demam. (1) Masa laten antara waktu tertelan dan munculnya gejala bisa berkisar 12–48 jam, sehingga keterlambatan diagnosis sering terjadi.
Temuan laboratorium umumnya nonspesifik, tetapi dapat menunjukkan leukositosis dan peningkatan C-reactive protein bila terjadi infeksi atau peritonitis. (1) Pemeriksaan CT abdomen jarang dibutuhkan, kecuali bila ada kecurigaan komplikasi yang tidak dapat dijelaskan melalui radiografi polos.
Komplikasi
Studi Alansari et al. menunjukkan bahwa komplikasi serius jauh lebih sering terjadi pada kasus multipel magnet dibandingkan tunggal. (1) Komplikasi tersebut meliputi perforasi usus (44,3%), nekrosis intestinal berat (19,3%), peritonitis (13,6%), infeksi intraabdominal (10,2%), dan syok septik (4,5%). Tidak ada kematian yang dilaporkan dalam studi ini, namun 59,1% kasus multipel membutuhkan pembedahan dibandingkan hanya 1% pada kasus tunggal. (1)
Gambaran klinis komplikasi dapat berupa nyeri perut hebat, distensi abdomen, tanda-tanda peritonitis, dan syok. Pada kasus berat, hasil pembedahan menunjukkan adanya multiple perforasi, fistula antarsegmen usus, atau sindrom usus pendek akibat reseksi luas. (1,2)
Tatalaksana
Pendekatan penatalaksanaan didasarkan pada jumlah magnet yang tertelan, lokasi, waktu kejadian, dan kondisi klinis pasien. Algoritma NASPGHAN 2012 membedakan ingesti magnet menjadi dua kategori besar: (a) ingesti tunggal dan (b) ingesti multipel atau dengan benda logam lain. (2)
Pada kasus ingesti tunggal dan pasien asimtomatik, dilakukan observasi ketat dengan foto polos serial hingga magnet dipastikan keluar melalui feses. Pasien dan orang tua harus diedukasi untuk menghindari paparan magnet tambahan di lingkungan rumah. Bila tidak ada pergerakan pada radiografi lanjutan dalam 24 jam, pertimbangkan tindakan endoskopi. (1,2)
Pada kasus ingesti multipel, tindakan endoskopi perlu segera dilakukan jika magnet masih berada di esofagus atau lambung dan dapat dijangkau. (1) Kasus yang memerlukan operasi umumnya memiliki melibatkan jumlah magnet lebih banyak dan lokasi di usus halus. Pasien dengan komplikasi berat juga membutuhkan perawatan intensif pascaoperasi.
Kesimpulan
Ingesti magnet pada anak, khususnya magnet neodymium multipel, merupakan keadaan darurat medis yang dapat menyebabkan morbiditas serius bila tidak segera ditangani. Diagnosis dini melalui pemeriksaan radiologis, pemilahan jumlah magnet, serta keputusan cepat antara observasi, endoskopi, dan pembedahan merupakan kunci utama untuk mencegah komplikasi fatal.
Peningkatan kewaspadaan dokter anak terhadap kasus ini, disertai edukasi publik dan regulasi ketat terhadap produk magnetik, sangat diperlukan untuk menekan angka kejadian dan dampak jangka panjangnya pada kesehatan anak.
Daftar Pustaka

28 Jul 2021


dr. Dini Astuti Mirasanti Sp.A
29 Nov 2021


Tim PrimaKu
28 Feb 2023


dr. Afiah Salsabila
Invalid Date