
Sekolah tatap muka mulai, sudah siapkah kita?
28 Jul 2021

Author: dr. Afiah Salsabila
23 Okt 2025
Topik: Common Cold, Madu, Non-Farmakologi
Latar Belakang
Salesma, yang biasanya disebabkan oleh infeksi virus saluran pernapasan atas (ISPA), adalah kondisi yang sangat umum dijumpai. Gejalanya meliputi hidung tersumbat, batuk, demam ringan, serta nyeri tenggorokan, dan sebagian besar kasusnya bersifat self-limiting. (1) Meskipun gejala ini sering mengganggu, pengobatan untuk mengatasi salesma pada anak sebaiknya bersifat simtomatik, mengingat bahwa infeksi ini biasanya akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 7-10 hari. (2) Namun, banyak orang tua yang cenderung memberikan obat-obatan yang tidak sesuai, seperti antibiotik, walaupun sudah terbukti tidak efektif untuk mengatasi infeksi virus dan justru berisiko menimbulkan efek samping dan resistensi antibiotik. Beberapa obat yang lazim digunakan untuk mengobati batuk dan pilek pada dewasa seperti dekongestan, antihistamin, dan obat-obatan over-the-counter (OTC) yang mengandung obat-obatan tersebut juga dikontraindikasikan pada anak di bawah 6 tahun. (3) Oleh karena itu, penting bagi dokter anak untuk mengetahui dan mengedukasi keluarga mengenai tata laksana yang aman dan efektif untuk anak. Selain obat-obatan simtomatis, berikut adalah intervensi non-farmakologis yang dapat diberikan pada anak dengan salesma atau infeksi virus lainnya yang menimbulkan gejala-gejala mirip flu.
Terapi yang Efektif
Terdapat beberapa terapi non-medikamentosa yang efektif untuk meredakan gejala salesma pada anak, di antaranya adalah sebagai berikut:
Irigasi nasal dengan saline terbukti efektif dalam meredakan kongesti hidung, meningkatkan kenyamanan, dan mempercepat pemulihan. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan larutan saline untuk membilas hidung dapat mengencerkan lendir dan mengurangi peradangan pada saluran hidung, sehingga mengurangi gejala hidung tersumbat. Metode ini juga dapat mengurangi penggunaan obat-obatan lain, seperti dekongestan, dan meningkatkan kualitas tidur anak. (2,4)
2. Madu
Madu, khususnya untuk anak usia di atas satu tahun, telah terbukti efektif untuk meredakan batuk pada anak. Beberapa studi menunjukkan bahwa madu mengandung senyawa antimikroba dan antiinflamasi yang dapat mengurangi frekuensi dan intensitas batuk, serta membantu meningkatkan kualitas tidur pada anak dengan batuk malam hari. Namun, penting untuk diingat bahwa madu tidak boleh diberikan pada bayi di bawah usia satu tahun karena risiko botulisme. (2)
3. Salep Aromatik (Menthol, Eucalyptus, Camphor)
Penggunaan salep aromatik yang mengandung menthol, eucalyptus, dan camphor pada dada atau leher anak dapat membantu mengurangi batuk dan kongesti hidung, terutama saat tidur malam. Penelitian menunjukkan bahwa salep ini dapat mengurangi frekuensi batuk malam hari dan membantu anak tidur lebih nyenyak, meningkatkan kenyamanan baik untuk anak maupun orang tua. (2)
Terapi yang Tidak Terbukti Efektif
Beberapa terapi yang umum digunakan masyarakat tidak terbukti efektif atau bahkan berpotensi berbahaya untuk anak-anak, antara lain:
Echinacea, yang sering digunakan untuk mengurangi durasi flu, tidak terbukti memberikan manfaat lebih dibandingkan dengan plasebo dalam pengobatan ISPA pada anak. Selain itu, penggunaan echinacea dapat menimbulkan reaksi alergi pada beberapa anak, yang justru dapat memperburuk kondisi. (2)
2. Uap (Steam)
Menghirup uap atau steam adalah praktik yang sering dilakukan untuk meredakan batuk atau hidung tersumbat. Namun, penelitian menunjukkan bahwa penggunaan steam tidak efektif dalam meredakan gejala flu atau batuk pada anak, dan dapat berisiko menyebabkan luka bakar jika tidak dilakukan dengan hati-hati. (2,4)
Rekomendasi
Dokter anak harus mengedukasi orang tua bahwa pengobatan utama untuk salesma adalah terapi simtomatik. Penggunaan obat-obatan seperti antibiotik dan dekongestan yang tidak terbukti efektif harus dihindari, terutama pada anak-anak di bawah usia 6 tahun. Sebagai gantinya, metode seperti irigasi nasal saline, madu (untuk anak di atas satu tahun), dan penggunaan salep aromatik dapat digunakan untuk meredakan gejala.
Penting juga bagi dokter untuk memberikan edukasi mengenai pencegahan, seperti mencuci tangan dengan sabun, menggunakan masker, serta menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah penularan virus. Selain itu, dokter anak harus terus memantau kondisi anak dan memberikan referal medis lebih lanjut jika gejala tidak membaik setelah lebih dari 10 hari atau jika ada gejala yang memburuk (2,4).
Kesimpulan dan Penutup
Salesma atau flu-like symptoms pada anak adalah kondisi yang umumnya bersifat ringan dan sembuh dengan sendirinya. Pengobatan utama adalah terapi simtomatik, dengan beberapa terapi non-medikamentosa yang telah terbukti efektif, seperti irigasi nasal saline, madu, dan salep aromatik. Penggunaan antibiotik dan obat-obatan lain yang tidak terbukti efektif sebaiknya dihindari untuk mengurangi risiko efek samping dan resistensi antibiotik.
Bagi dokter anak di Indonesia, edukasi mengenai tata laksana yang tepat sangat penting, baik dalam konteks pemberian obat yang aman, maupun dalam pencegahan penyebaran infeksi. Dengan penanganan yang tepat, diharapkan anak-anak dapat pulih dengan cepat tanpa komplikasi, dan orang tua dapat merasa tenang mengetahui bahwa pengobatan yang diberikan adalah yang terbaik bagi kesehatan anak mereka.
Referensi