HIV pada Anak di Indonesia
Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada anak masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), hingga tahun 2023 terdapat lebih dari 13.000 kasus HIV pada anak usia 0–14 tahun, dengan angka penambahan kasus baru setiap tahun yang cukup signifikan. Transmisi vertikal dari ibu ke anak masih menjadi penyebab utama infeksi pada kelompok usia ini. Keterlambatan diagnosis dan penatalaksanaan menyebabkan tingginya morbiditas dan mortalitas pada anak yang terinfeksi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan diagnosis dan terapi yang tepat, mengingat terdapat perbedaan penting antara tatalaksana HIV pada anak dibandingkan orang dewasa, mulai dari farmakokinetik obat, status imunologis yang dinamis, hingga ketergantungan anak pada pengasuh dalam menjalani terapi jangka panjang. Artikel ini membahas alur lengkap tatalaksana HIV pada anak di Indonesia, termasuk rekomendasi terapi antiretroviral (ARV) lini pertama, berdasarkan pedoman nasional.
Alur Diagnosis HIV pada Anak
Diagnosis infeksi HIV pada anak didasarkan pada usia. Pada bayi dan anak berusia <18 bulan, diagnosis ditegakkan dengan uji virologis seperti HIV DNA atau RNA kuantitatif (viral load) karena uji antibodi tidak dapat membedakan antibodi maternal dari infeksi aktual. Bila fasilitas pemeriksaan virologis tidak tersedia, diagnosis dapat ditegakkan secara presumtif berdasarkan kriteria klinis dan epidemiologis, seperti adanya kandidiasis esofagus, pneumonia berat, atau malnutrisi yang tidak membaik dengan terapi standar. Untuk anak usia ≥18 bulan, diagnosis dilakukan dengan uji serologis sebagaimana pada dewasa. Setelah diagnosis ditegakkan, dilakukan penilaian stadium klinis berdasarkan klasifikasi World Health Organization (WHO), dari stadium 1 (asimtomatik) hingga stadium 4 (penyakit berat), serta penilaian status imunologis berdasarkan kadar Cluster of Differentiation 4 (CD4) sesuai usia anak.
Indikasi Pemberian ARV Berdasarkan Kriteria Klinis dan Imunologis
Indikasi pemberian ARV pada anak <5 tahun adalah universal, yaitu semua anak dengan diagnosis HIV harus segera diberikan terapi tanpa mempertimbangkan stadium klinis atau kadar CD4. Pada anak ≥5 tahun, pemberian ARV didasarkan pada kombinasi kriteria klinis dan imunologis. ARV diindikasikan bila anak berada pada stadium klinis WHO 3 atau 4, atau memiliki kadar CD4 <350 sel/mm³. Bila pemeriksaan CD4 tidak tersedia, keputusan dapat tetap didasarkan pada evaluasi klinis. Anak <18 bulan yang memenuhi kriteria diagnosis presumtif HIV juga harus segera mendapat ARV sambil menunggu konfirmasi diagnosis definitif. Bila hasil konfirmasi virologis menunjukkan negatif, terapi dihentikan.
Rekomendasi Rejimen ARV Lini Pertama pada Anak
Rekomendasi lini pertama terapi ARV untuk anak di Indonesia adalah kombinasi dua golongan nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NRTI) dan satu golongan non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI). Lamivudine (3TC) direkomendasikan sebagai NRTI pertama, kemudian dikombinasikan dengan NRTI kedua seperti zidovudine (AZT) dan sebuah NNRTI seperti nevirapine (NVP) atau efavirenz (EFV). Pemilihan NRTI kedua dan NNRTI yang menyertai 3TC didasarkan pada usia, berat badan anak, serta adanya penyakit penyerta seperti tuberkulosis (TB). Efavirenz direkomendasikan untuk anak usia ≥3 tahun atau dengan berat badan >10 kg, terutama bila anak juga sedang menjalani terapi dengan rifampisin. Penggunaan nevirapine perlu lebih hati-hati bila anak sebelumnya telah mendapat profilaksis nevirapine dalam program Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA), karena risiko resistensi. Rekomendasi pemilihan obat ARV bisa dilihat secara lebih lengkap pada Tabel 1.
Tabel 1. Rekomendasi Jenis dan Dosis ARV Lini Pertama pada Anak dengan HIV
Kelas | Obat | Usia / Berat Badan | Dosis | Pilihan Kombinasi & Catatan |
NRTI Pertama | Lamivudine (3TC) | Semua umur | 4 mg/kg/dosis, 2×/hari (maks 150 mg/dosis, 2×/hari) | – Primer untuk semua regimen |
NRTI Kedua | Zidovudine (AZT) | Semua umur | 180–240 mg/m² /dosis, 2×/hari (maks 300 mg/dosis, 2×/hari) | – Kombinasi dengan 3TC; diminum bersama makanan |
Stavudine (d4T) | Semua umur | 1 mg/kg/dosis, 2×/hari (maks 30 mg/dosis, 2×/hari) | – Alternatif AZT jika anemia – FDC d4T–3TC tersedia |
Abacavir (ABC) | > 3 bulan | 8 mg/kg/dosis, 2×/hari (maks 300 mg/dosis, 2×/hari) | – Alternatif AZT dan d4T – Waspada alergi |
Tenofovir (TDF) | > 2 tahun | 8 mg/kg, 1×/hari (maks 300 mg) | – Hanya untuk anak usia > 2 tahun – Waspada risiko penurunan fungsi ginjal dan osteoporosis |
NNRTI | Nevirapine (NVP) | Semua umur | < 8 th: 200 mg/m²/dosis, 1x/ hari pada 14 hari pertama, kemudian dinaikkan 2x/hari > 8 th: 120–150 mg/m²/dosis, 1x/ hari pada 14 hari pertama, kemudian dinaikkan 2x/hari (maks 200 mg/dosis)
|
– Risiko ruam dan hepatotoksisitas tinggi, terutama pada remaja putri yang sedang hamil |
Efavirenz (EFV) | > 3 tahun atau > 10 kg | 10-15 kg: 200 mg sekali sehari 15 - < 20 kg: 250 mg sekali sehari 20 - < 25 kg: 300 mg sekali sehari 25 - < 32,5 kg: 350 mg sekali sehari 32,5 - < 40 kg: 400 mg sekali sehari ≥40 kg: 600 mg sekali sehari | – Hanya untuk usia > 3 tahun / > 10 kg – Minum saat perut kosong menjelang tidur untuk kurangi efek samping CNS – Teratogenik: hindari remaja putri tanpa kontrasepsi |
Persiapan Sebelum Memulai ARV
Sebelum memulai terapi ARV, dokter perlu memastikan kesiapan anak dan pengasuh. Pengasuh harus memahami pentingnya terapi jangka panjang, potensi efek samping, serta jadwal minum obat yang ketat. Anak usia ≥6 tahun sebaiknya mulai diberikan edukasi bertahap sesuai tingkat kedewasaannya mengenai alasan minum obat dan pentingnya kepatuhan. Ketidaksiapan keluarga merupakan salah satu kontraindikasi relatif untuk memulai ARV, karena ketidakpatuhan dapat menyebabkan resistensi obat dan kegagalan terapi.
Kontraindikasi Terapi ARV
Beberapa kontraindikasi lain terhadap terapi ARV meliputi kondisi klinis akut berat yang belum stabil, interaksi obat yang belum dikendalikan, serta reaksi hipersensitivitas berat terhadap salah satu komponen ARV. Dalam beberapa kasus, terapi terhadap infeksi oportunistik atau kondisi penyerta seperti TB aktif harus didahulukan sebelum memulai ARV, untuk menurunkan risiko immune reconstitution inflammatory syndrome (IRIS).
Strategi Menjaga Kepatuhan Jangka Panjang
Kepatuhan jangka panjang adalah tantangan utama dalam terapi HIV pada anak. Dokter perlu melakukan pendekatan empatik dan kolaboratif untuk mengidentifikasi kendala yang dihadapi anak dan pengasuh, seperti kesulitan menelan obat, rasa obat yang tidak disukai, atau masalah logistik dan sosial. Penggunaan alat bantu seperti kotak pengingat obat dan jadwal harian dapat meningkatkan kepatuhan. Selain itu, keterlibatan komunitas pendukung juga berperan penting dalam menjaga kontinuitas pengobatan.
Pemantauan dan Evaluasi Terapi
Pemantauan anak yang sedang menjalani terapi ARV meliputi evaluasi klinis, antropometri, pemeriksaan CD4 setiap 6 bulan, serta pemantauan efek samping. Pemeriksaan viral load (VL) belum rutin tersedia di seluruh layanan, tetapi bila tersedia, sangat berguna dalam menilai respons terapi dan mendeteksi kegagalan dini. Evaluasi awal pada bulan pertama dan ketiga bertujuan memantau tanda-tanda toksisitas obat dan memastikan tidak ada gejala IRIS. Efek samping yang berat seperti anemia, hipersensitivitas, atau toksisitas hati harus ditangani segera dan dapat menjadi indikasi untuk mengganti rejimen terapi.
Penutup
Sebagai kesimpulan, semua anak <5 tahun dengan diagnosis HIV merupakan kandidat terapi ARV tanpa syarat. Anak usia ≥5 tahun diberikan terapi berdasarkan stadium klinis dan kadar CD4. Diagnosis yang tepat, pemilihan regimen yang sesuai, kesiapan keluarga, serta pemantauan yang ketat merupakan pilar utama dalam keberhasilan terapi jangka panjang pada anak yang terinfeksi HIV.
Untuk update artikel seputar HIV dan penyakit infeksi lainnya pada anak, pantau terus linimasa artikel PrimaPro. Bila Dokter tertarik dengan pembahasan lanjutan seperti penatalaksanaan kegagalan lini pertama atau manajemen HIV dengan komorbiditas TB silakan tuliskan di kolom komentar!
Daftar Pustaka
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Penerapan Terapi HIV pada Anak. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan; 2014.