
Diagnosis dan Tatalaksana TB Ekstra-paru
24 Okt 2023

Author: dr. Afiah Salsabila
21 Jul 2025
Topik: Tuberkulosis, Multi-Drug-Resistant Tuberculosis, Drug-Resistant Tuberculosis, Guideline
Latar Belakang
Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak di Indonesia. TB resisten obat (drug-resistant TB, atau DR-TB), khususnya yang resisten terhadap rifampisin (RR-TB) atau kombinasi isoniazid dan rifampisin (multidrug-resistant TB, atau MDR-TB), memerlukan perhatian khusus karena tantangan diagnosis dan pengobatannya yang kompleks. Anak dan remaja dapat terinfeksi langsung oleh strain Mycobacterium tuberculosis yang resisten (primary resistance) atau mengembangkan resistensi sekunder akibat pengobatan yang tidak tepat atau tidak adekuat. Di Indonesia, tatalaksana TB resisten obat pada anak dan remaja telah dirumuskan dalam Petunjuk Teknis Tatalaksana TBC Anak dan Remaja tahun 2023, yang merupakan hasil harmonisasi antara Kementerian Kesehatan RI, WHO, dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). [1]
Etiologi, Faktor Risiko, dan Komplikasi Klinis
TB resisten obat pada anak umumnya disebabkan oleh transmisi primer dari individu dewasa dengan DR-TB. Faktor risiko utama meliputi riwayat kontak erat dengan pasien TB yang gagal terapi, pengobatan TB sebelumnya yang tidak tuntas, tinggal di lingkungan padat dengan insiden TB tinggi, serta kondisi imunokompromais seperti infeksi HIV. Gizi buruk, usia <5 tahun, dan keterlambatan diagnosis juga meningkatkan risiko progresivitas penyakit.
Secara patogenesis, TB resisten obat tidak berbeda secara klinis dengan TB sensitif, namun strain resisten mengalami mutasi genetik yang menyebabkan insensitivitas terhadap pengobatan. Mutasi gen rpoB (resistensi rifampisin), katG dan inhA (isoniazid), serta berbagai enzim penginaktivasi dan pompa efluks berperan dalam proses resistensi. Komplikasi yang dapat terjadi pada anak meliputi TB ekstraparu berat (misalnya TB meningitis atau osteoartikular), gagal terapi, gangguan pertumbuhan, dan efek toksik obat lini kedua, yang kerap lebih berat dibanding terapi lini pertama.
Tatalaksana TB Resisten Obat pada Anak dan Remaja
Tatalaksana DR-TB pada anak dan remaja menekankan pentingnya pendekatan yang individual namun berbasis bukti, sesuai dengan panduan Kementerian Kesehatan RI yang telah diselaraskan dengan rekomendasi WHO dan IDAI. Pemilihan rejimen terapi bergantung pada konfirmasi hasil resistensi, tingkat keparahan penyakit, riwayat pengobatan sebelumnya, dan toleransi anak terhadap obat.
Terdapat dua pendekatan utama: rejimen jangka pendek (shorter all-oral regimen) dan rejimen jangka panjang (longer individualized regimen). Rejimen jangka pendek diberikan selama 9–11 bulan, dan dapat digunakan pada anak dengan TB resisten rifampisin (RR-TB) atau MDR-TB tanpa resistensi tambahan terhadap fluoroquinolon atau obat lini kedua lainnya. Rejimen ini melibatkan obat-obatan berikut: bedaquiline (BDQ), levofloxacin (LFX) atau moxifloxacin (MFX), clofazimine (CFZ), pyrazinamide (PZA), ethambutol (EMB), isoniazid dosis tinggi (INH-H), dan ethionamide (ETO). Rejimen jangka panjang digunakan pada kasus yang lebih kompleks, seperti adanya resistensi tambahan, TB ekstraparu berat, intoleransi obat, atau kegagalan rejimen jangka pendek. Resistensi tambahan merujuk pada kondisi ketika terdapat resistensi terhadap obat lini kedua, di luar isoniazid dan rifampisin. Bentuk resistensi tambahan yang diklasifikasikan oleh WHO antara lain pre-XDR TB, yaitu MDR-TB dengan tambahan resistensi terhadap satu fluoroquinolon, dan XDR TB, yaitu MDR-TB yang juga resisten terhadap fluoroquinolon dan setidaknya satu dari bedaquiline atau linezolid. Identifikasi resistensi tambahan ini diperoleh melalui uji cepat molekuler seperti LPA atau DST, dan berperan penting dalam penyesuaian rejimen jangka panjang yang efektif. Rejimen jangka panjang mencakup kombinasi minimal empat obat dari kelompok berikut:
Rangkuman rejimen jangka pendek dan jangka panjang dapat dilihat pada Tabel 1.
Obat injeksi seperti amikacin (AK) atau imipenem digunakan hanya bila regimen oral tidak memadai, dan penggunaannya dibatasi karena risiko ototoksisitas. Linezolid (LZD) meskipun sangat efektif, memerlukan pemantauan ketat terhadap risiko anemia, neuropati optik, dan toksisitas mitokondria.
Tabel 1. Rejimen DR-TB Anak dan Remaja
Selama terapi, pemantauan berkala harus dilakukan, meliputi: pemeriksaan darah lengkap, fungsi hati dan ginjal, EKG untuk interval QTc (terutama bila menggunakan bedaquiline atau delamanid), serta pemeriksaan audiometri bila digunakan aminoglikosida. Pendampingan psikososial dan edukasi keluarga merupakan bagian penting dari manajemen jangka panjang agar kepatuhan anak dan keluarga tetap terjaga.
Kesimpulan
Tatalaksana TB resisten obat pada anak memerlukan pendekatan yang komprehensif dan terstruktur, dengan mengacu pada pedoman nasional yang telah disesuaikan dengan standar global dari WHO dan IDAI. Pemilihan rejimen terapi yang tepat, pemantauan efek samping yang ketat, serta dukungan keluarga dan sistem kesehatan sangat menentukan keberhasilan pengobatan. Dengan implementasi pedoman ini secara konsisten, kita dapat meningkatkan angka kesembuhan, menurunkan penularan, dan memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi anak-anak Indonesia yang terdampak TB resisten obat.
Daftar Pustaka
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk Teknis Tatalaksana TBC Anak dan Remaja. Jakarta: Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular; 2023.

24 Okt 2023

26 Okt 2023

10 Nov 2023

4 Des 2023