Meta Pixel

17 Juni 2026

5 Jenis Sarapan Anak yang Sebaiknya Tidak Terlalu Sering Diberikan

Ditulis oleh

avatar

Dhia Priyanka

Topik: Sarapan, sarapan bernutrisi, sarapan bergizi, jenis sarapan

Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Dini Mirasanti, Sp.A.

Sarapan anak yang berkualitas bukan sekadar soal mengisi perut, ini adalah fondasi konsentrasi belajar, energi, dan pertumbuhan sepanjang hari. Penelitian Hoyland et al. (2009) dalam Nutrition Research Reviews membuktikan bahwa anak yang sarapan bergizi memiliki performa kognitif, memori, dan kemampuan konsentrasi yang secara signifikan lebih baik dibanding yang tidak sarapan atau sarapan dengan kualitas rendah. 

Namun, tidak semua sarapan diciptakan sama. WHO (2024) dan CDC (2024) menekankan bahwa sarapan tinggi gula tambahan atau rendah protein justru memperburuk fokus anak dalam 2–3 jam setelah makan karena lonjakan dan penurunan gula darah yang cepat. 

Komponen Sarapan Ideal untuk Anak 

Sebelum membahas apa yang perlu dibatasi, penting untuk memahami seperti apa sarapan yang ideal. AAP (2023) merekomendasikan sarapan yang mencakup:

Komponen Gizi 

Fungsi Utama 

Contoh Sumber

Karbohidrat kompleks 

Energi stabil, tidak cepat habis 

Nasi, roti gandum, oatmeal, ubi

Protein 

Rasa kenyang lebih lama, tumbuh 

kembang otot

Telur, ikan, ayam, tahu, tempe, susu

Lemak sehat 

Perkembangan otak, penyerapan vitamin 

Alpukat, kacang-kacangan, minyak zaitun

Serat 

Kesehatan pencernaan, rasa kenyang 

Sayur, buah, biji-bijian utuh

Vitamin & mineral 

Imunitas, fungsi enzim, pertumbuhan tulang

Buah warna-warni, sayuran hijau


5 Sarapan Anak yang Sebaiknya Tidak Terlalu Sering Diberikan 

Berikut lima jenis sarapan yang perlu dibatasi frekuensinya, beserta alasan ilmiah dan alternatif yang lebih bergizi: 

Menu 1: Menu nasi

• Nasi putih 

1/2 centong (sumber karbohidrat)

• Telur dadar 

1 butir (protein)

• Sayur bening bayam 

1 mangkuk kecil (serat & mineral)

• Buah pepaya 

2–3 potong (vitamin C)

Menu 2: Menu roti

• Roti gandum 

2 lembar (karbohidrat kompleks + serat)

• Telur rebus / dadar 

1 butir (protein)

• Keju slice 

1 lembar (protein + kalsium)

• Buah pisang / stroberi 

1 buah (vitamin & serat)

Menu 3: Menu oatmeal

• Oatmeal instan plain 

4–5 sdm kering (karbohidrat kompleks + serat)

• Susu full cream 

150–200 ml (protein + kalsium)

• Pisang irisan 

1/2 buah (kalium + gula alami)

• Kacang almond / mede 

5–6 butir sesuai usia (lemak sehat)


Tips agar Anak Mau Sarapan Setiap Pagi

Tips Efektif 

Penjelasan Praktis

Bangunkan 15 menit lebih awal 

Anak yang terburu-buru cenderung melewatkan atau makan terlalu sedikit

Mulai dengan porsi sangat kecil 

Perut kecil pagi hari, setengah porsi lebih baik dari tidak sama sekali

Libatkan anak memilih menu 

Anak lebih bersemangat makan makanan yang ia bantu pilih

Sajikan makanan berwarna-warni 

Penampilan menarik meningkatkan minat makan anak secara signifikan

Hindari memaksa atau mengancam

Tekanan saat makan menciptakan asosiasi negatif dengan sarapan

Buat sarapan sebagai ritual keluarga

Konsistensi rutinitas membentuk kebiasaan sarapan jangka panjang


FAQ: Pertanyaan Umum Orang Tua tentang Sarapan Anak 

Q: Apakah anak yang tidak mau sarapan perlu dipaksa? 

A: Tidak. Memaksa makan justru menciptakan asosiasi negatif dengan makanan dan dapat memperburuk perilaku makan jangka panjang. AAP (2023) menyarankan orang tua menyediakan pilihan sehat, makan bersama, dan memberi contoh, bukan memaksa. Jika anak konsisten menolak sarapan, konsultasikan ke dokter anak. 

Q: Seberapa banyak porsi sarapan ideal untuk anak? 

A: Secara umum, sarapan sebaiknya menyumbang sekitar 20–25% dari total kebutuhan kalori harian anak. Untuk anak usia 1–3 tahun sekitar 250–350 kkal; usia 4–6 tahun sekitar 350–450 kkal; usia 7–12 tahun sekitar 400–500 kkal. Namun, kebutuhan tiap anak berbeda, konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi anak. 

Q: Apakah susu bisa menggantikan sarapan anak?

A: Tidak sepenuhnya. Susu adalah sumber protein dan kalsium yang baik, tetapi tidak mengandung karbohidrat kompleks dan serat yang cukup untuk sarapan lengkap. Jadikan susu sebagai pelengkap sarapan, bukan pengganti sarapan padat. 

Q: Apakah mi instan boleh diberikan untuk sarapan anak? 

A: Boleh sesekali, tetapi perlu dilengkapi. Tambahkan telur, sayuran (bayam, wortel), dan gunakan setengah bumbu untuk mengurangi kandungan natrium. Jangan menjadikan mi instan sebagai menu sarapan rutin karena tinggi natrium dan rendah protein berkualitas serta serat. 

Q: Apa tanda sarapan anak sudah cukup bergizi? 

A: Anak yang sarapan cukup bergizi biasanya: tidak lapar lagi dalam 2–3 jam, tampak berenergi dan fokus di sekolah, tidak mengeluh pusing atau lemas di pagi hari, dan memiliki berat badan yang tumbuh sesuai kurva pertumbuhan. Pantau pertumbuhan anak secara rutin melalui aplikasi PrimaKu. 

Q: Apakah buah saja cukup untuk sarapan anak? 

A: Tidak. Buah adalah sumber vitamin, mineral, dan serat yang baik, tetapi hampir tidak mengandung protein dan lemak. Sarapan hanya buah akan membuat anak lapar kembali dalam 1 jam karena tidak ada makronutrien yang menahan rasa kenyang. Kombinasikan buah dengan sumber protein seperti telur atau susu. 

Referensi:

1. World Health Organization. Healthy Diet Fact Sheet. WHO; 2024.

2. American Academy of Pediatrics. Healthy Breakfasts for Children and Teens. AAP; 2023. 

3. Centers for Disease Control and Prevention. Benefits of Healthy Eating for Children. CDC; 2024.

4. Nicklas TA, O'Neil CE, Myers L. The Importance of Breakfast Consumption to Nutrition of Children and Adolescents. Journal of the American Dietetic Association. 2004;104(10):S27–S34.

5. Hoyland A, Dye L, Lawton CL. A Systematic Review of the Effect of Breakfast on Cognitive Performance of Children and Adolescents. Nutrition Research Reviews. 2009;22(2):220–243. 

6. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Rekomendasi Pemberian Makanan untuk Bayi dan Anak. IDAI; 2022.

7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Gizi Seimbang. Kemenkes RI; 2023.

8. Adolphus K, Lawton CL, Dye L. The Effects of Breakfast on Behavior and Academic Performance in Children and Adolescents. Frontiers in Human Neuroscience. 2013;7:425.