Meta Pixel

24 Agustus 2026

Perubahan BAB Bayi setelah MPASI

Ditulis oleh

avatar

Dhia Priyanka

Topik: BAB Bayi, Tantangan MPASI, MPASI Anak, Frekuensi BAB

Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Lucyana Alim Santoso, Sp.A. 

Frekuensi BAB bayi setelah MPASI memang dapat berubah ketika makanan padat mulai diberikan sekitar usia 6 bulan. Dalam artikel ini, MomDad akan belajar membedakan adaptasi pencernaan yang normal dari konstipasi, mengenali tekstur dan warna feses, serta mengetahui kapan si Kecil perlu diperiksa. WHO dan Kemenkes RI merekomendasikan MPASI dimulai pada usia 6 bulan sambil melanjutkan ASI.1,2 

Sebelum MPASI, sebagian besar asupan bayi berupa cairan. Setelah menu, tekstur, dan jumlah makanan bertambah, komposisi sisa pencernaan ikut berubah. Karena itu, feses dapat menjadi lebih berbentuk, bau lebih kuat, warna lebih bervariasi, dan kadang terlihat serpihan makanan yang belum tercerna sempurna.3 


Apa yang Berubah pada BAB Bayi setelah MPASI? 

Aspek 

Sebelum MPASI 

Setelah MPASI

Frekuensi 

Sangat bervariasi menurut ASI atau formula

Dapat lebih jarang atau lebih sering; tidak ada satu angka yang normal untuk semua bayi

Tekstur 

Cenderung lunak atau lebih cair 

Lebih padat dan berbentuk, tetapi seharusnya tidak selalu keras atau menyakitkan

Warna 

Kuning, cokelat muda, atau kehijauan 

Dapat berubah mengikuti bahan makanan, misalnya hijau setelah sayur atau merah setelah bit

Bau 

Umumnya lebih ringan 

Biasanya lebih kuat setelah makanan padat

Isi feses 

Relatif homogen 

Serpihan kulit sayur atau biji-bijian dapat terlihat dan sering kali normal3


Berapa Kali BAB yang Normal? 

Tidak ada target wajib bahwa bayi harus BAB setiap hari. Pola normal berbeda antarbayi dan dapat berubah dari hari ke hari sesuai jenis makanan, jumlah cairan, ASI atau formula, aktivitas, obat, dan kondisi kesehatan. Karena itu, bandingkan dengan pola biasa si Kecil, bukan hanya dengan bayi lain. 

Fokus pada kualitas, bukan sekadar hitungan. BAB yang lebih jarang masih mungkin normal bila feses lunak, keluar tanpa nyeri bermakna, bayi tetap aktif, mau minum, tidak muntah, dan perut tidak membuncit atau tegang.


Cara Menilai Tekstur Feses Bayi 

Skala Bristol sering dipakai untuk menggambarkan bentuk feses, tetapi versi modifikasi untuk anak divalidasi terutama pada anak usia 6 tahun ke atas. Untuk bayi, orang tua dapat memakai deskripsi sederhana: keras seperti pelet, padat-retak, lunak berbentuk, lembek, atau cair. Foto feses yang dicatat bersama gejala dapat membantu konsultasi.4

Gambaran 

Makna praktis

Pelet kecil/keras 

Dapat mengarah ke konstipasi, terutama bila nyeri atau sulit keluar

Padat tetapi lunak 

Sering kali masih normal setelah MPASI

Lembek 

Dapat normal bila bayi sehat dan tidak terlalu sering

Sangat cair berulang 

Pertimbangkan diare; pantau hidrasi dan gejala lain


BAB Jarang atau Konstipasi? 

Konstipasi bukan sekadar tidak BAB selama satu atau dua hari. Menurut kriteria Rome IV, konstipasi fungsional pada bayi dan anak hingga usia 4 tahun memerlukan sedikitnya dua gejala selama minimal satu bulan, misalnya BAB dua kali per minggu atau kurang, riwayat menahan feses, BAB keras atau nyeri, feses berdiameter besar, atau massa feses besar di rektum.5 Diagnosis tetap harus dilakukan tenaga kesehatan. 

Lebih mungkin adaptasi normal 

Lebih mengarah ke konstipasi

Feses tetap lunak; bayi nyaman; menyusu/minum baik; perut tidak tegang

Feses keras atau seperti pelet; BAB menyakitkan; bayi menahan atau sangat kesulitan; ada retakan/bercak darah segar

Frekuensi berubah sementara setelah menu baru 

Keluhan menetap, nafsu makan turun, atau pola semakin memburuk


Mengejan Belum Tentu Konstipasi 

Bayi kecil kadang menangis, wajah memerah, dan mengejan sebelum mengeluarkan feses yang lunak karena koordinasi otot perut dan dasar panggul belum matang. Rome IV menyebut pola ini sebagai infant dyschezia bila terjadi pada bayi di bawah 9 bulan tanpa masalah kesehatan lain. Jika feses keras atau terdapat tanda bahaya, evaluasi dokter tetap diperlukan.5 


Mengapa MPASI Bisa Membuat BAB Berubah? 

Faktor 

Dampak yang mungkin terlihat 

Yang dapat diperhatikan

Jenis dan tekstur makanan 

Feses lebih padat atau berubah warna 

Kenalkan variasi dan naikkan tekstur bertahap sesuai kemampuan

Asupan cairan 

Feses dapat lebih keras bila asupan tidak mencukupi

Lanjutkan ASI; tawarkan air minum sesuai usia dan arahan tenaga kesehatan

Serat berubah cepat 

Gas, kembung, atau pola BAB berubah 

Berikan buah, sayur, kacang-kacangan, dan biji-bijian dalam menu seimbang, bertahap

Menu rendah variasi 

Pola BAB dapat kurang nyaman pada sebagian bayi

Utamakan MPASI adekuat: energi, protein hewani, lemak, dan mikronutrien; jangan hanya mengejar serat


Cara Membantu BAB Bayi Tetap Nyaman

1. Lanjutkan ASI. ASI tetap diberikan selama masa MPASI. WHO menganjurkan makanan pendamping pada usia 6-8 bulan sebanyak 2-3 kali sehari, lalu ditingkatkan sesuai usia dan kebutuhan.1 

2. Sajikan menu beragam dan adekuat. Kemenkes menekankan MPASI harus tepat waktu, adekuat, aman, dan diberikan dengan cara yang benar. Sertakan pangan sumber protein hewani, karbohidrat, lemak, buah, dan sayur sesuai toleransi.2 

3. Naikkan tekstur secara bertahap. Sesuaikan dengan kemampuan oromotor bayi. Hindari mengencerkan makanan berlebihan karena dapat menurunkan kepadatan energi. 

4. Ajak bayi aktif bergerak. Permainan lantai dan gerakan kaki seperti mengayuh dapat membantu kenyamanan, selama aman dan sesuai tahap perkembangan. 

5. Jangan memberi obat pencahar, enema, atau suplemen serat tanpa arahan dokter. Penanganan perlu disesuaikan dengan usia dan penyebab. 


Kapan Perlu Khawatir? 

Segera ke fasilitas kesehatan 

Jadwalkan konsultasi

Muntah hijau; perut sangat buncit/tegang; bayi sangat lemas; demam disertai tampak sakit; darah banyak atau feses hitam seperti aspal; tidak mau minum; tanda dehidrasi

Feses keras atau BAB nyeri berulang; bercak darah berulang; berat badan sulit naik; nafsu makan menurun; keluhan tidak membaik setelah penyesuaian makan


Catatan BAB yang Membantu Dokter:

Selama 3-7 hari, catat waktu BAB, foto/tekstur feses, ada tidaknya nyeri atau darah, menu dan cairan, muntah/demam, obat atau suplemen, serta jumlah popok basah. Catatan ini lebih berguna daripada hanya menyebut 'jarang BAB'. 


FAQ seputar Frekuensi BAB Bayi setelah MPASI 

Q: Apakah normal bayi tidak BAB setiap hari setelah MPASI? 

A: Bisa normal bila feses tetap lunak, bayi nyaman, aktif, mau minum, dan tidak ada tanda bahaya. Frekuensi saja tidak cukup untuk mendiagnosis konstipasi. 


Q: Berapa hari bayi MPASI tidak BAB yang masih normal? 

A: Tidak ada batas hari tunggal untuk semua bayi. Perhatikan tekstur dan gejala. Konsultasikan bila feses keras atau nyeri, perut tegang, muntah, darah, bayi lemas, atau pola menetap dan mengganggu. 


Q: Mengapa feses bayi berubah warna setelah MPASI? 

A; Pigmen makanan dapat mengubah warna feses. Sayuran hijau dapat membuatnya hijau dan bit dapat membuatnya merah. Warna putih pucat, hitam seperti aspal, atau darah tanpa penjelasan perlu diperiksa.PrimaKu 


Q: Apakah pisang membuat bayi sembelit? 

A: Respons tiap bayi berbeda. Pisang yang belum matang dapat memperkeras feses pada sebagian 

anak. Amati respons dan tetap berikan menu beragam, bukan menghilangkan banyak kelompok makanan sekaligus.3 


Q: Bolehkah memberi obat pencahar pada bayi? 

A: Jangan tanpa petunjuk dokter. Jenis dan dosis harus disesuaikan dengan usia, berat badan, gejala, dan penyebab. 


Referensi: 

1. World Health Organization. WHO Guideline for Complementary Feeding of Infants and Young Children 6-23 Months of Age. WHO; 2023.

2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pemberian MPASI Harus Penuhi 4 Syarat Ini. Kemenkes RI; 2024.

3. American Academy of Pediatrics. When Can Babies Start Solid Foods? Readiness and Feeding Tips. HealthyChildren.org; 2026.

4. Lane MM, Czyzewski DI, Chumpitazi BP, Shulman RJ. Reliability and Validity of a Modified Bristol Stool Form Scale for Children. Journal of Pediatrics; 2011;159(3):437-441.e1. doi:10.1016/j.jpeds.2011.03.002 

5. Rome Foundation. Rome IV Criteria: Childhood Functional Gastrointestinal Disorders - Neonate/Toddler. Rome Foundation; 2016.

6. Gulati R, Komuravelly A, Leb S, et al. Usefulness of Assessment of Stool Form by the Modified Bristol Stool Form Scale in Primary Care Pediatrics. Pediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition; 2018;21(2):93-100. doi:10.5223/pghn.2018.21.2.93 

7. American Academy of Pediatrics. Constipation in Children. HealthyChildren.org; 2024. 

8. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk Teknis Pemantauan Praktik MP-ASI Anak Usia 6-23 Bulan. Kemenkes RI; 2024.