
Catat, Ini 5 Tips Mengatur Keuangan Saat Baru Punya Anak
20 Mar 2022

Author: Tim PrimaKu
12 Jan 2026
Topik: Kartun, Kartun Anak, Kartu Keluarga, Overstimulasi, Featured Articles
Di tengah banyaknya tontonan anak dengan warna mencolok, suara ramai, dan adegan yang serba cepat, tidak sedikit orang tua mulai bertanya: “Kartun yang baik untuk anak itu seperti apa, sih?”
Salah satu pendekatan yang kini banyak diperbincangkan adalah memilih kartun dengan tempo cerita yang lebih tenang atau slow-paced. Bukan berarti anak harus selalu menonton tayangan yang “pelan”, tapi kartun dengan alur yang tidak terburu-buru cenderung memberi ruang bagi anak untuk memahami cerita, emosi, dan pesan di baliknya dengan lebih nyaman.
Di Indonesia sendiri, sebenarnya ada cukup banyak kartun populer yang karakternya cenderung slow-paced dan sudah akrab di keseharian anak-anak.
Mengapa Kartun Slow-Paced Lebih Ramah untuk Anak?
Kartun dengan tempo cerita yang tenang biasanya memiliki alur yang sederhana, dialog yang jelas, serta pergantian adegan yang tidak terlalu cepat. Hal ini membantu anak mengikuti cerita tanpa merasa kewalahan. Anak tidak harus terus-menerus “mengejar” informasi baru, sehingga mereka bisa lebih fokus pada apa yang sedang terjadi di layar.
Selain itu, kartun jenis ini sering menampilkan situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak, tentang keluarga, sekolah, pertemanan, dan emosi sederhana. Ini membuat anak lebih mudah mengaitkan tontonan dengan pengalaman nyata, bukan sekadar terhibur secara visual.
Pilihan Kartun Populer di Indonesia dengan Karakter Slow-Paced
Salah satu contoh paling dikenal adalah Doraemon. Kartun ini memiliki alur cerita yang sederhana dan berulang, dengan konflik ringan yang mudah dipahami anak. Ceritanya sering berangkat dari masalah sehari-hari, malas belajar, bertengkar dengan teman, atau ingin sesuatu secara instan. Dari situ, anak bisa belajar bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi, meski dibalut dengan cerita fantasi yang ringan dan tidak berlebihan.
Kartun lain yang juga terkenal dengan ritme tenangnya adalah Chibi Maruko Chan. Cerita Maruko berjalan santai, penuh dialog ringan, dan minim konflik besar. Anak diajak mengenal emosi yang sangat manusiawi, kesal, cemburu, malas, senang, tanpa visual yang ramai atau suara yang berisik. Kartun ini membantu anak memahami bahwa perasaan seperti itu wajar dan bisa diceritakan dengan cara yang sehat.
Untuk anak usia lebih kecil, Hamtaro sering dianggap sebagai contoh kartun yang sangat lembut. Ceritanya sederhana, fokus pada persahabatan dan kerja sama, dengan tempo yang pelan dan visual yang tidak overstimulasi. Kartun seperti ini memberi rasa aman dan nyaman bagi anak, terutama balita dan prasekolah.
Jika berbicara tentang tontonan yang benar-benar menenangkan, My Neighbor Totoro sering menjadi favorit keluarga. Film ini hampir tidak memiliki konflik besar, dialognya minim, dan ceritanya mengalir perlahan. Anak diajak menikmati suasana, imajinasi, dan hubungan keluarga tanpa tekanan. Ini contoh bahwa tontonan anak tidak harus selalu penuh aksi untuk tetap menarik.
Last but not least, Winnie the Pooh sering disebut sebagai salah satu contoh tontonan anak yang slow-paced dan ramah perkembangan. Bukan tanpa alasan, bukan cuma karena ceritanya lucu dan ikonik, tapi karena cara bercerita dan nilai yang dibawa memang sangat “kids-friendly”. Cerita di Winnie the Pooh berjalan pelan, tidak penuh kejar-kejaran, tidak banyak potongan adegan cepat, dan minim efek suara yang berlebihan. Anak diajak mengikuti satu peristiwa sederhana dari awal sampai akhir. Ini membantu anak fokus dan memahami alur cerita tanpa merasa kewalahan.
Peran Orang Tua Tetap yang Paling Penting
Memilih kartun slow-paced bukan berarti orang tua bisa sepenuhnya melepas anak menonton tanpa pendampingan. Justru, tontonan dengan tempo tenang memberi peluang lebih besar bagi orang tua untuk mengajak anak berbincang: menanyakan pendapatnya, menjelaskan cerita, atau mengaitkan adegan dengan kehidupan sehari-hari.
Dengan cara ini, screen time tidak hanya menjadi waktu menonton, tetapi juga momen belajar dan membangun kedekatan.
Kartun slow-paced pada dasarnya memberi anak ruang untuk bernapas, secara emosi dan kognitif. Cerita yang sederhana, visual yang tidak berlebihan, serta alur yang tenang membantu anak menikmati tontonan tanpa merasa kewalahan.
Bagi MomDad, memilih tontonan anak bukan soal mencari yang “paling edukatif” atau “paling populer”, melainkan yang paling sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangan anak. Kartun yang tenang, hangat, dan relevan seringkali justru menjadi pilihan terbaik.
Referensi: Lillard AS, Peterson J. (2011). The Immediate Impact of Different Types of Television on Young Children’s Executive Function Pediatrics, 128(4): 644–649.

20 Mar 2022

5 Apr 2022

12 Apr 2022

16 Apr 2022
