9 Juli 2026
Awas, Tuberkulosis pada Anak Bisa Pengaruhi Tinggi Badannya!
Ditulis oleh

Dhia Priyanka
Topik: Tuberkulosis, Tinggi Badan, Catch-up, Pertumbuhan Anak, Imunisasi BCG
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Dini Mirasanti, Sp.A.
TB anak (tuberkulosis pada anak) bukan hanya menyerang paru-paru, tetapi juga dapat menghambat pertumbuhan tinggi badan jika tidak segera diobati. Menurut WHO Global Tuberculosis Report 2024, anak-anak menyumbang sekitar 12% dari seluruh kasus TB baru di dunia, menjadikan deteksi dan pengobatan dini sangat krusial. Banyak orang tua mengira tinggi badan anak hanya dipengaruhi oleh genetik dan nutrisi, padahal penyakit kronis seperti TB turut berperan penting.
Yuk, pelajari bagaimana TB anak dapat memengaruhi pertumbuhan tinggi badan, mekanisme medis di baliknya, serta apakah pertumbuhan anak bisa kembali mengejar (catch-up growth) setelah pengobatan tuntas.
Apa Itu TB Anak?
TB anak adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Meski paling sering menyerang paru-paru, TB juga dapat mengenai organ lain seperti kelenjar getah bening, tulang, otak, selaput otak (meningitis TB), dan ginjal. Anak biasanya tertular dari orang dewasa yang menderita TB aktif melalui percikan droplet saat batuk atau bersin.
Data WHO 2024: Anak-anak menyumbang sekitar 12% dari seluruh kasus TB baru di dunia. Menurut WHO, bayi dan balita merupakan kelompok paling rentan karena sistem kekebalan tubuhnya belum matang.
Apakah TB Anak Bisa Memengaruhi Tinggi Badan?
Ya. TB anak dapat memengaruhi pertumbuhan, termasuk tinggi badan, terutama bila infeksi berlangsung lama dan tidak segera diobati. Pertumbuhan tinggi badan membutuhkan asupan nutrisi yang cukup, hormon pertumbuhan yang bekerja optimal, dan kondisi tubuh yang sehat. Pada anak dengan TB, ketiga faktor tersebut dapat terganggu sehingga pertumbuhan menjadi lebih lambat.
Bagaimana TB Anak Menghambat Pertumbuhan?
Ada empat mekanisme utama yang menyebabkan TB anak dapat menghambat pertumbuhan tinggi badan.
1. Nafsu Makan Menurun Akibat Infeksi TB
Salah satu gejala TB adalah hilangnya nafsu makan, yang mengakibatkan berkurangnya asupan kalori, protein, vitamin, dan mineral. Padahal, semua zat gizi tersebut sangat dibutuhkan untuk menunjang pertumbuhan tulang dan tinggi badan anak.
2. Peradangan Kronis yang Mengganggu Hormon Pertumbuhan
Infeksi TB menyebabkan proses peradangan yang berlangsung lama. Energi dan nutrisi lebih banyak dialihkan untuk sistem kekebalan tubuh dibandingkan untuk proses pertumbuhan. Lebih jauh, peningkatan sitokin proinflamasi seperti TNF-α, IL-1, dan IL-6 dapat mengganggu kerja growth hormone (GH) dan insulin-like growth factor-1 (IGF-1), dua hormon yang berperan krusial dalam pertumbuhan tinggi badan.
3. Berat Badan Sulit Naik dan Gangguan Status Gizi
Anak dengan TB sering mengalami berat badan yang tidak naik bahkan turun, serta berkurangnya massa otot. Pertumbuhan berat badan dan tinggi badan saling berkaitan, bila status gizi terganggu dalam waktu lama, pertumbuhan tinggi badan juga akan melambat (stunting fungsional).
4. Kebutuhan Energi Meningkat Saat Infeksi Kronis
Saat mengalami infeksi kronis, tubuh membutuhkan lebih banyak energi untuk melawan bakteri. Jika kebutuhan energi tersebut tidak terpenuhi dari makanan, tubuh akan menggunakan cadangan energi sehingga pertumbuhan dapat terhambat. Menurut Cegielski & McMurray (2004), malnutrisi dan TB saling memperburuk satu sama lain dalam sebuah siklus yang sulit diputus tanpa intervensi medis.
Gejala TB Anak yang Perlu Diwaspadai
Berbeda dengan orang dewasa, gejala TB anak sering kali tidak khas. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan:
- Batuk lebih dari 2 minggu (tidak selalu ada pada semua anak)
- Demam ringan berulang, terutama pada sore atau malam hari
- Berat badan tidak naik atau justru turun
- Tinggi badan bertambah lebih lambat dari seharusnya
- Nafsu makan menurun
- Anak tampak lemas
- Berkeringat di malam hari
- Pembesaran kelenjar getah bening di leher
⚠ Segera ke Dokter: Jika anak memiliki riwayat kontak erat dengan penderita TB aktif dan mengalami satu atau lebih gejala di atas, segera konsultasikan ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Penyakit Lain yang Juga Dapat Menghambat Tinggi Badan Anak
TB anak bukan satu-satunya penyakit yang dapat menghambat pertumbuhan. Tabel berikut merangkum kondisi medis lain yang perlu dipertimbangkan dokter saat mengevaluasi gangguan tinggi badan anak.
Apakah Pertumbuhan Anak Bisa Kembali Normal Setelah TB Diobati?
Pada banyak kasus, ya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak yang mendapatkan diagnosis dan pengobatan TB secara dini dapat mengalami catch-up growth, yaitu percepatan pertumbuhan setelah infeksi berhasil dikendalikan. Namun, keberhasilan mengejar pertumbuhan dipengaruhi oleh beberapa faktor:
- Seberapa cepat TB terdiagnosis
- Tingkat keparahan penyakit
- Status gizi anak sebelum dan selama pengobatan
- Kepatuhan menjalani pengobatan hingga tuntas
- Ada atau tidaknya penyakit penyerta
Semakin cepat TB diobati, semakin besar peluang pertumbuhan anak kembali optimal, menurut Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak yang diterbitkan IDAI (2024).
Cara Mencegah Gangguan Pertumbuhan Akibat TB Anak
- Imunisasi BCG sesuai jadwal untuk membantu melindungi dari bentuk TB berat seperti meningitis TB dan TB milier. Menghindari kontak erat dengan penderita TB aktif yang belum diobati. MomDad bisa booking vaksin BCG di PrimaKu. Klik di sini untuk booking via WhatsApp.
- Segera memeriksakan anak jika mengalami gejala yang mengarah ke TB.
- Memastikan anak menjalani pengobatan TB hingga tuntas bila terdiagnosis.
- Memberikan makanan bergizi seimbang selama masa pengobatan.
- Memantau berat badan dan tinggi badan secara rutin menggunakan kurva pertumbuhan (WHO Child Growth Standards).
Kapan Orang Tua Harus Berkonsultasi ke Dokter?
Segera konsultasikan ke dokter jika anak mengalami:
- Berat badan tidak naik selama beberapa bulan
- Tinggi badan bertambah lebih lambat dari kurva pertumbuhan
- Batuk berkepanjangan lebih dari 2 minggu
- Demam berulang tanpa penyebab jelas
- Nafsu makan menurun
- Riwayat kontak dengan penderita TB aktif
Dokter akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk mencari penyebab gangguan pertumbuhan, termasuk kemungkinan TB anak bila terdapat faktor risiko, seperti uji tuberkulin, foto Rontgen dada, atau pemeriksaan lainnya.
FAQ seputar TB Anak dan Pertumbuhan
Q: Apakah TB anak bisa menular ke anggota keluarga?
A: TB anak umumnya tidak mudah menular, karena anak dengan TB jarang menghasilkan droplet dalam jumlah besar. Sumber penularan TB pada anak justru biasanya berasal dari orang dewasa di sekitarnya. Namun, pemeriksaan kontak (contact tracing) tetap dianjurkan untuk seluruh anggota rumah tangga.
Q: Apakah imunisasi BCG bisa mencegah TB sepenuhnya?
A: Vaksin BCG tidak mencegah infeksi TB sepenuhnya, tetapi terbukti efektif melindungi dari bentuk TB berat pada anak, seperti TB meningitis dan TB milier. Oleh karena itu, BCG tetap dianjurkan sebagai bagian dari jadwal imunisasi dasar.
Q: Berapa lama pengobatan TB anak berlangsung?
A: Menurut IDAI (2024), pengobatan TB anak umumnya berlangsung selama 6 bulan, dengan fase intensif 2 bulan pertama dan fase lanjutan 4 bulan berikutnya. Kepatuhan menjalani pengobatan hingga tuntas sangat penting agar bakteri tidak berkembang menjadi resisten obat (TB-MDR).
Q: Apa beda batuk TB anak dengan batuk biasa?
A; Batuk TB anak biasanya berlangsung lebih dari 2 minggu, sering disertai demam ringan berulang, keringat malam, berat badan tidak naik, dan anak tampak lemas. Batuk biasa umumnya membaik dalam 1–2 minggu tanpa gejala-gejala tersebut.
Q: Bisakah tinggi badan anak kembali normal setelah TB diobati?
A: Ya, dalam banyak kasus anak dapat mengalami catch-up growth setelah pengobatan TB tuntas, terutama jika diagnosis dilakukan sejak dini dan status gizi anak dijaga dengan baik selama masa pengobatan.
TB anak bukan hanya menyebabkan infeksi pada paru-paru, tetapi juga dapat memengaruhi pertumbuhan tinggi badan jika tidak segera ditangani. Peradangan kronis, nafsu makan yang menurun, serta gangguan hormon pertumbuhan (IGF-1) membuat anak berisiko mengalami perlambatan pertumbuhan. Kabar baiknya, sebagian besar anak dapat mengalami catch-up growth setelah mendapatkan pengobatan TB yang tepat dan dukungan nutrisi yang optimal. Jangan abaikan jika tinggi badan anak tampak tidak bertambah sesuai usianya, terutama bila disertai batuk berkepanjangan atau riwayat kontak dengan penderita TB, deteksi dini adalah kunci.
Referensi:
1. World Health Organization. WHO Operational Handbook on Tuberculosis: Module 5 – Management of Tuberculosis in Children and Adolescents. WHO; 2022.
2. World Health Organization. Global Tuberculosis Report 2024. WHO; 2024.
3. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak. IDAI; 2024.
4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Kemenkes RI; 2024.
5. Kliegman RM, St Geme JW. Nelson Textbook of Pediatrics. 22nd ed. Elsevier; 2024.
6. Marais BJ, Gie RP, Schaaf HS, et al. The natural history of childhood intrathoracic tuberculosis. The Lancet Child & Adolescent Health.
7. Cegielski JP, McMurray DN. The relationship between malnutrition and tuberculosis: evidence from studies in humans and experimental animals. International Journal of Tuberculosis and Lung Disease. 2004;8(3):286–298.





