18 September 2026
Perbedaan Influenza A dan COVID-19 pada Anak
Ditulis oleh

Dhia Priyanka
Topik: Influenza A, gejala influenza A pada anak, Covid-19, Penyakit, Vaksinasi
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Dini Mirasanti, Sp.A.
Perbedaan influenza A dan COVID-19 pada anak sering sulit dikenali karena keduanya dapat menyebabkan demam, batuk, pilek, nyeri tubuh, dan kelelahan. CDC menegaskan bahwa kedua penyakit tidak dapat dibedakan secara pasti hanya dari gejala; tes mungkin diperlukan. WHO memperkirakan influenza musiman menyebabkan sekitar 1 miliar kasus dan 3–5 juta kasus berat setiap tahun.
Apa Itu Influenza A dan COVID-19?
Influenza A adalah infeksi saluran napas akibat virus influenza tipe A. Virus ini dapat menginfeksi manusia dan sejumlah hewan serta menjadi salah satu penyebab epidemi influenza musiman. COVID-19 disebabkan oleh virus SARS-CoV-2. Keduanya menular melalui partikel pernapasan saat orang yang terinfeksi bernapas, berbicara, batuk, atau bersin.
Meski penyebabnya berbeda, respons tubuh terhadap kedua virus dapat menghasilkan keluhan yang sangat mirip. Anak juga mungkin tidak menunjukkan semua gejala klasik. Karena itu, warna ingus, tinggi demam, atau ada-tidaknya nyeri tenggorokan tidak cukup untuk memastikan virus penyebabnya.
Perbedaan Gejala Influenza A dan COVID-19
Gejala yang Sama-sama Dapat Muncul
Pada influenza A maupun COVID-19, anak dapat mengalami:
• demam atau menggigil;
• batuk;
• sakit tenggorokan;
• hidung berair atau tersumbat;
• sakit kepala;
• nyeri otot atau badan;
• lelah dan kurang aktif;
• sesak atau kesulitan bernapas; serta
• muntah atau diare, yang dapat terjadi pada anak.
Sebagian anak hanya mengalami gejala ringan, sementara yang lain dapat sakit berat. Tidak adanya demam juga tidak menyingkirkan influenza maupun COVID-19.
Pola Gejala yang Mungkin Memberi Petunjuk
Influenza biasanya berawal mendadak. Anak dapat terlihat sehat pada pagi hari, kemudian demam, menggigil, nyeri badan, sakit kepala, dan sangat lelah dalam beberapa jam. Menurut WHO, gejala influenza umumnya muncul 1–4 hari setelah infeksi dan kebanyakan keluhan membaik dalam sekitar satu minggu, walau batuk dapat bertahan lebih lama.
Pada COVID-19, gejala dapat muncul lebih lambat setelah paparan dan berkembang bertahap, tetapi pola ini bergantung pada varian dan kondisi anak. Perubahan atau hilangnya penciuman dan perasa lebih sering dilaporkan pada COVID-19, namun kini tidak selalu muncul. Hidung tersumbat akibat penyakit apa pun juga dapat mengurangi kemampuan mencium.
Dengan kata lain, pola onset hanya petunjuk, bukan alat diagnosis.
Cara Memastikan Kapan Anak Perlu Tes?
CDC menyatakan bahwa gejala saja tidak cukup untuk membedakan influenza dan COVID-19. Tes menjadi lebih penting jika hasilnya akan memengaruhi pengobatan, isolasi, keputusan kembali ke sekolah, atau perlindungan anggota keluarga yang berisiko tinggi.
Pertimbangkan pemeriksaan dokter dan tes ketika:
• gejala sedang hingga berat atau terus memburuk;
• anak berusia kecil, memiliki penyakit kronis, gangguan imun, atau faktor risiko komplikasi;
• ada anggota rumah yang lansia, hamil, imunokompromais, atau berpenyakit kronis;
• dokter mempertimbangkan obat antivirus;
• terjadi wabah di sekolah atau rumah; atau
• MomDad perlu memastikan penyebab sebelum anak kembali beraktivitas.
Tes molekuler atau tes multiplex dapat mendeteksi influenza A/B dan SARS-CoV-2 dari satu sampel. Tes antigen cepat lebih mudah diakses, tetapi hasil negatif, terutama bila dilakukan terlalu awal, tidak selalu menyingkirkan infeksi. Dokter dapat menyarankan tes ulang atau tes molekuler sesuai waktu paparan dan kondisi klinis.
Tanda Bahaya pada Anak yang Tidak Boleh Ditunda
Segera bawa anak ke IGD atau cari pertolongan medis bila terdapat:
• napas cepat, sesak, cuping hidung kembang-kempis, atau tarikan dinding dada;
• bibir, wajah, atau kuku tampak kebiruan, keabu-abuan, atau sangat pucat;
• nyeri dada;
• anak sulit dibangunkan, bingung, tidak berinteraksi, atau kejang;
• tidak mampu minum, terus muntah, atau tanda dehidrasi;
• tidak buang air kecil sekitar 8 jam;
• demam atau batuk sempat membaik lalu kembali memburuk;
• penyakit kronis anak memburuk; atau
• demam pada bayi berusia kurang dari 3 bulan.
Pada anak dengan COVID-19, waspadai pula demam menetap yang disertai nyeri perut hebat, muntah, ruam, mata merah, atau sangat lemas beberapa minggu setelah infeksi. Kondisi ini perlu dinilai dokter untuk menyingkirkan multisystem inflammatory syndrome in children (MIS-C).
Cara Mencegah Influenza A dan COVID-19
Upaya pencegahan kedua penyakit saling melengkapi:
• lengkapi vaksin influenza tahunan sesuai usia dan anjuran dokter;
• ikuti rekomendasi vaksin COVID-19 terbaru dari Kementerian Kesehatan untuk kelompok yang memenuhi syarat;
• jaga ventilasi ruangan;
• biasakan cuci tangan dan etika batuk;
• hindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit; serta
• pertimbangkan masker di tempat padat atau ketika ada risiko penularan sesuai usia dan situasi anak.
Vaksin tidak selalu mencegah seluruh infeksi, tetapi membantu menurunkan risiko penyakit berat, rawat inap, dan komplikasi. Jadwal serta ketersediaan vaksin COVID-19 dapat berubah, sehingga MomDad sebaiknya mengikuti informasi resmi Kemenkes atau berkonsultasi dengan dokter.
Lengkapi vaksin influenza si Kecil dan keluarga dengan booking vaksin di PrimaKu. Klik banner di bawah untuk cek promo dan jadwal vaksin.
FAQ tentang Influenza A dan COVID-19
Q: Apakah gejala saja bisa membedakan influenza A dan COVID-19?
A: Tidak. Banyak gejalanya bertumpang tindih. Pola onset dan hilangnya penciuman dapat menjadi petunjuk, tetapi tes diperlukan untuk memastikan diagnosis.
Q: Apakah anak bisa positif influenza dan COVID-19 sekaligus?
A: Bisa. Koinfeksi tidak umum tetapi mungkin terjadi, dan berpotensi menyebabkan penyakit lebih berat. Dokter dapat menyarankan tes multiplex.
Q: Kapan tes sebaiknya dilakukan?
A: Tes sebaiknya dipertimbangkan saat anak bergejala, terutama jika sakit sedang-berat, berisiko tinggi, tinggal dengan orang rentan, atau hasil tes akan memengaruhi terapi dan keputusan beraktivitas. Waktu terbaik bergantung pada jenis tes dan kapan gejala dimulai.
Q: Jika tes antigen COVID-19 negatif, apakah pasti influenza?
A: Tidak. Hasil negatif tidak memastikan influenza dan dapat terjadi bila tes COVID-19 dilakukan terlalu dini. Dokter mungkin menyarankan tes ulang atau tes molekuler.
Q: Apakah hilang penciuman pasti COVID-19?
A: Tidak. Gejala ini lebih sering dikaitkan dengan COVID-19, tetapi dapat terjadi akibat hidung tersumbat atau infeksi lain. Sebaliknya, banyak anak dengan COVID-19 tidak mengalaminya.
Q: Apakah antibiotik dapat mengobati influenza A atau COVID-19?
A: Tidak. Keduanya adalah infeksi virus. Antibiotik hanya digunakan jika dokter mendiagnosis infeksi bakteri sekunder.
Q: Apakah vaksin influenza melindungi dari COVID-19?
A: Tidak. Vaksin influenza dan vaksin COVID-19 menargetkan virus berbeda. Masing-masing diberikan sesuai rekomendasi untuk membantu mengurangi risiko penyakit berat akibat virus yang dituju.
Perbedaan gejala influenza A dan COVID-19 pada anak tidak selalu terlihat jelas. Influenza lebih sering dimulai mendadak, sedangkan COVID-19 dapat berkembang lebih bertahap dan lebih mungkin memengaruhi penciuman atau perasa. Namun, tidak satu pun ciri tersebut dapat memastikan diagnosis.
Bila hasil diagnosis akan menentukan terapi atau perlindungan anggota keluarga, konsultasikan kebutuhan tes influenza dan COVID-19 kepada dokter. Pantau pernapasan, kecukupan cairan, kesadaran, dan perubahan gejala anak. Penanganan dini sangat penting pada anak berisiko tinggi atau yang menunjukkan tanda bahaya.
Referensi:
1. World Health Organization. Influenza (Seasonal). WHO; 2025.
2. Centers for Disease Control and Prevention. Similarities and Differences between Flu and COVID-19. CDC; 2024.
3. Centers for Disease Control and Prevention. Diagnosis for Flu. CDC; 2026.
4. Centers for Disease Control and Prevention. Multiplex Tests to Detect Influenza, SARS-CoV-2, and RSV. CDC; 2026.
5. Centers for Disease Control and Prevention. Influenza Antiviral Medications: Summary for Clinicians. CDC; 2026.
6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Influenza pada Anak. Ayo Sehat Kemenkes RI; diakses 18 September 2026.
7. Centers for Disease Control and Prevention. Clinical Presentation of COVID-19. CDC; 2026.






