Meta Pixel

3 November 2026

3 Jenis ADHD pada Anak yang Perlu Diketahui Orang Tua

Ditulis oleh

avatar

Dhia Priyanka

Topik: jenis ADHD anak, ciri ADHD pada anak, ADHD inatentif, ADHD hiperaktif impulsif, ADHD kombinasi, diagnosis ADHD anak

Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Susanti Himawan, Sp. A.

Tiga jenis ADHD secara klinis lebih tepat disebut presentasi: dominan inatentif, dominan hiperaktif-impulsif, dan kombinasi. WHO memperkirakan ADHD dialami sekitar 2,7% anak usia 10–14 tahun dan 2,2% remaja usia 15–19 tahun secara global. Melalui artikel ini, MomDad akan mengenali perbedaan ketiganya, memahami kapan perilaku perlu dievaluasi, dan mengetahui langkah yang tepat untuk mendukung anak.


Apa Itu ADHD pada Anak?

Attention-deficit/hyperactivity disorder atau ADHD adalah gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi perhatian, pengendalian impuls, dan tingkat aktivitas. Gejalanya dimulai pada masa kanak-kanak dan pada sebagian orang dapat berlanjut hingga remaja serta dewasa.

Semua anak sesekali dapat sulit berkonsentrasi, berlari-lari, atau memotong pembicaraan. Pada ADHD, pola tersebut lebih sering dan lebih berat dibandingkan anak seusianya, berlangsung menetap, serta menyebabkan kesulitan nyata di rumah, sekolah, pertemanan, atau aktivitas lain.


Mengapa Disebut Presentasi, Bukan Tipe Permanen?

CDC dan Kementerian Kesehatan menggunakan istilah presentasi karena gejala yang paling menonjol dapat berubah seiring perkembangan anak. Anak yang dahulu tampak sangat hiperaktif dapat menjadi lebih tenang secara fisik ketika bertambah usia, tetapi tetap mengalami impulsivitas atau kesulitan mengatur perhatian.

Oleh karena itu, label presentasi menjelaskan pola gejala saat evaluasi, bukan identitas anak untuk selamanya. Penilaian berkala membantu tenaga profesional menyesuaikan dukungan dengan kebutuhan anak saat ini.


3 Jenis ADHD pada Anak

Presentasi

Gejala dominan

Contoh perilaku

Risiko terlewat

Inatentif

Sulit fokus dan mengatur tugas

Melamun, lupa, kehilangan barang

Sering tidak tampak hiperaktif

Hiperaktif-impulsif

Aktivitas tinggi dan impulsivitas

Sulit diam, menyela, sulit menunggu

Dapat dianggap sengaja nakal

Kombinasi

Inatensi serta hiperaktif-impulsif

Sulit menyelesaikan tugas sekaligus impulsif

Tantangan muncul di banyak area


1. ADHD Presentasi Dominan Inatentif

Pada presentasi ini, kesulitan mempertahankan perhatian dan mengatur tugas lebih menonjol daripada hiperaktivitas atau impulsivitas. Anak tidak selalu berisik atau terus bergerak, sehingga kondisinya dapat luput dari perhatian.

Ciri yang dapat terlihat:

• Sering tampak melamun atau tidak mendengarkan.

• Kesulitan mengikuti instruksi sampai selesai.

• Mudah terdistraksi oleh suara, benda, atau pikirannya sendiri.

• Sering kehilangan alat sekolah, mainan, atau barang pribadi.

• Lupa mengerjakan tugas dan rutinitas harian.

• Kesulitan mengatur waktu, urutan pekerjaan, dan perlengkapan.

• Membuat kesalahan karena melewatkan detail.

• Menghindari tugas yang membutuhkan konsentrasi lama.

Anak dengan presentasi dominan inatentif dapat dianggap malas, ceroboh, atau tidak termotivasi. Padahal, kesulitannya berkaitan dengan pengaturan perhatian dan fungsi eksekutif. Nilai sekolah bukan satu-satunya indikator; anak yang cerdas pun dapat bekerja sangat keras untuk menutupi kesulitannya.


2. ADHD Presentasi Dominan Hiperaktif-Impulsif

Pada presentasi ini, hiperaktivitas dan impulsivitas lebih menonjol. Anak dapat tampak selalu bergerak, kesulitan menunggu, atau bertindak sebelum memikirkan akibatnya. Pada anak yang lebih besar, hiperaktivitas dapat terlihat sebagai rasa gelisah daripada berlari atau memanjat.

Ciri yang dapat terlihat:

• Tangan atau kaki terus bergerak dan sulit duduk lama.

• Berlari atau memanjat pada situasi yang tidak sesuai.

• Sulit bermain atau melakukan aktivitas dengan tenang.

• Berbicara berlebihan.

• Menjawab sebelum pertanyaan selesai.

• Kesulitan menunggu giliran.

• Sering menyela atau mengganggu orang lain.

• Bertindak cepat tanpa mempertimbangkan risiko.

Impulsivitas dapat meningkatkan risiko konflik sosial, kecelakaan, atau cedera. Namun, perilaku ini tidak selalu disengaja. Hukuman keras tanpa strategi yang sesuai dapat memperburuk rasa malu dan hubungan anak dengan orang tua.


3. ADHD Presentasi Kombinasi

Presentasi kombinasi terjadi ketika gejala inatensi dan hiperaktif-impulsif sama-sama memenuhi kriteria. Anak dapat kesulitan menyelesaikan tugas sekaligus sulit menahan dorongan untuk bergerak, berbicara, atau bertindak.

Ciri yang dapat terlihat:

• Mudah terdistraksi dan sering kehilangan barang.

• Kesulitan menyelesaikan tugas berurutan.

• Sulit duduk tenang dan sering menyela.

• Bertindak sebelum berpikir.

• Mengalami tantangan akademik, sosial, dan pengaturan emosi.

• Membutuhkan bantuan untuk rutinitas serta transisi aktivitas.

Kombinasi gejala dapat membuat tantangan anak terlihat jelas, tetapi setiap anak tetap memiliki kekuatan dan kebutuhan yang berbeda. Dua anak dengan presentasi yang sama belum tentu memerlukan strategi dukungan yang identik.


Anak Aktif atau ADHD, Apa Bedanya?

Perilaku perlu dilihat dalam konteks usia dan perkembangan. Anak usia prasekolah secara alami memiliki energi tinggi dan rentang perhatian lebih pendek. Kekhawatiran meningkat bila pola perilaku:

• Jauh lebih sering atau lebih berat dibandingkan teman seusia.

• Berlangsung setidaknya beberapa bulan, bukan hanya pada masa transisi singkat.

• Muncul di lebih dari satu tempat, misalnya rumah dan sekolah.

• Mengganggu pembelajaran, pertemanan, keselamatan, atau kehidupan keluarga.

• Tidak hanya terjadi saat anak kurang tidur, sakit, stres, atau menghadapi situasi tertentu.

Menurut panduan diagnosis AAP, evaluasi ADHD pada anak memerlukan informasi dari beberapa sumber, termasuk orang tua, guru, dan pengasuh. Gejala juga perlu menimbulkan gangguan fungsi dan bermula pada masa kanak-kanak.


Bagaimana ADHD Didiagnosis?

Tidak ada tes darah, pemindaian otak, atau kuesioner tunggal yang dapat memastikan ADHD. Proses evaluasi biasanya mencakup:

1. Wawancara tentang perkembangan, kesehatan, tidur, keluarga, sekolah, dan perilaku anak.

2. Informasi dari orang tua, guru, serta pengasuh di situasi berbeda.

3. Penggunaan kuesioner atau skala penilaian gejala yang terstandar.

4. Pemeriksaan fisik serta evaluasi pendengaran dan penglihatan bila diperlukan.

5. Penilaian dampak gejala pada fungsi sehari-hari.

6. Pemeriksaan kemungkinan kondisi lain atau kondisi yang menyertai.

Profesional dapat mempertimbangkan gangguan tidur, kecemasan, depresi, kesulitan belajar, gangguan bahasa, autisme, masalah pendengaran atau penglihatan, trauma, serta kondisi medis lain yang dapat menyerupai atau menyertai ADHD.


Siapa yang Dapat Melakukan Evaluasi?

Evaluasi dapat melibatkan dokter anak, dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang-pediatri sosial, psikiater anak dan remaja, psikolog klinis anak, serta profesional lain sesuai kebutuhan. Sekolah dan guru bukan pemberi diagnosis, tetapi pengamatan mereka sangat penting untuk menggambarkan fungsi anak di kelas.


Kapan Orang Tua Perlu Mencari Bantuan?

Pertimbangkan konsultasi bila:

• Guru dan keluarga melihat pola kesulitan yang serupa.

• Anak tertinggal dalam belajar meski sudah mendapat bantuan.

• Anak sering mengalami konflik atau penolakan teman.

• Impulsivitas meningkatkan risiko cedera.

• Rutinitas sederhana terus menjadi sumber pertengkaran.

• Anak merasa dirinya bodoh, nakal, gagal, atau tidak disukai.

• Kesulitan tidur, kecemasan, perubahan suasana hati, atau perilaku berisiko ikut muncul.

Segera cari bantuan bila anak berbicara tentang menyakiti diri, menunjukkan agresi berat, kehilangan kemampuan yang sebelumnya dikuasai, atau mengalami perubahan perilaku mendadak yang sangat mencolok.

Untuk anak usia prasekolah, Kemenkes dan CDC menyebut intervensi perilaku, terutama pelatihan orang tua, sebagai pendekatan awal yang penting. Obat tidak boleh diberikan tanpa evaluasi, resep, dan pemantauan dokter.


Konsultasi Tumbuh Kembang Anak melalui PrimaKu

Jika MomDad melihat tanda ADHD atau masih bingung membedakannya dari perilaku sesuai usia, jangan melakukan diagnosis sendiri. Catat contoh perilaku, kapan terjadi, durasinya, dampaknya, serta masukan dari guru. Informasi tersebut akan membantu proses konsultasi.

Melalui PrimaKu, MomDad dapat mengakses informasi kesehatan anak yang telah divalidasi ahli dan berkonsultasi mengenai tumbuh kembang si Kecil. Download aplikasi PrimaKu di sini untuk mulai konsultasi.


FAQ tentang Jenis ADHD pada Anak

Q: Apakah ADHD selalu membuat anak hiperaktif?

A: Tidak. Anak dengan presentasi dominan inatentif mungkin tidak tampak hiperaktif. Ia dapat lebih sering melamun, lupa, kehilangan barang, atau kesulitan menyelesaikan tugas.

Q: Apakah jenis ADHD anak dapat berubah?

A: Ya. CDC menjelaskan presentasi dapat berubah karena gejala yang dominan juga dapat berubah seiring usia, tuntutan lingkungan, dan perkembangan anak.

Q: Apakah anak yang bisa fokus bermain gim berarti tidak ADHD?

A: Belum tentu. Perhatian pada ADHD tidak selalu berarti anak tidak dapat fokus sama sekali. Anak bisa sangat fokus pada aktivitas yang menarik, tetapi kesulitan mengarahkan dan mempertahankan perhatian pada tugas lain.

Q: Apakah pola asuh menyebabkan ADHD?

A: Pola asuh tidak dianggap sebagai penyebab tunggal ADHD. Faktor genetik dan perkembangan saraf berperan penting. Namun, strategi pengasuhan yang tepat dapat membantu anak mengelola gejala dan menjalani rutinitas.

Q: Apakah ADHD bisa sembuh?

A: Gejala dapat berubah dan dikelola dengan dukungan yang tepat. Pada sebagian orang, gejala berlanjut hingga dewasa. Tujuan penanganan adalah meningkatkan fungsi, keselamatan, kepercayaan diri, pembelajaran, dan kualitas hidup.

Q: Apakah tes online dapat mendiagnosis ADHD?

A: Tidak. Tes atau checklist online hanya dapat menjadi alat skrining awal. Diagnosis memerlukan evaluasi profesional, informasi dari beberapa situasi, serta penilaian kondisi lain.

Tiga jenis ADHD pada anak, dominan inatentif, dominan hiperaktif-impulsif, dan kombinasi—menggambarkan pola gejala yang terlihat saat evaluasi. Presentasi tersebut dapat berubah dan tidak menentukan nilai, kecerdasan, atau masa depan anak.

Jika perilaku menetap, muncul di beberapa situasi, dan mengganggu kehidupan sehari-hari, langkah terbaik bukan memberi label, melainkan mencari evaluasi yang menyeluruh. Dengan dukungan keluarga, sekolah, dan tenaga profesional, anak dengan ADHD dapat berkembang sesuai kekuatan serta kebutuhannya.


Referensi:

1. Centers for Disease Control and Prevention. Symptoms of ADHD. CDC; 2026. 

2. Centers for Disease Control and Prevention. Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder Fact Sheet. CDC; 2025. 

3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. ADHD. Ayo Sehat Kemenkes RI; 2026. 

4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kenali Penyakit ADHD pada Anak dan Terapinya. Ayo Sehat Kemenkes RI; 2023. 

5. American Academy of Pediatrics. Diagnosing ADHD in Children: Guidelines and Information for Parents. HealthyChildren.org; diperbarui 2026. 

6. World Health Organization. Mental Health of Adolescents. WHO; 2025. 

7. Wolraich ML, Hagan JF Jr, Allan C, et al. Clinical Practice Guideline for the Diagnosis, Evaluation, and Treatment of ADHD in Children and Adolescents. Pediatrics; 2019.

8. National Institute for Health and Care Excellence. Attention Deficit Hyperactivity Disorder: Diagnosis and Management. NICE; diperbarui 2019.