16 Agustus 2026
Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang Tua saat Menaikkan BB Anak
Ditulis oleh

Dhia Priyanka
Topik: BB Anak, BB Stuck, Teknik Makan Anak, Tumbuh Kembang
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Lucyana Alim Santoso, Sp.A.
Menurut IDAI dan Kemenkes RI, kenaikan berat badan anak yang sehat perlu dicapai dengan pendekatan yang tepat, bukan cara instan yang justru dapat merusak kebiasaan makan anak. Ketika melihat berat badan anak sulit bertambah, banyak orang tua langsung merasa khawatir. Tidak sedikit yang kemudian mencoba berbagai cara agar angka di timbangan cepat naik, seperti memberi porsi makan berlebihan, menawarkan camilan terus-menerus, atau membeli susu penambah berat badan.
Sayangnya, tidak semua cara tersebut efektif, bahkan beberapa justru dapat berdampak buruk pada kebiasaan makan dan kesehatan anak. Perlu dipahami bahwa kenaikan berat badan yang ideal bukan hanya tentang bertambahnya angka di timbangan, tetapi juga mencerminkan pertumbuhan yang sehat sesuai usia. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengetahui kesalahan yang sebaiknya dihindari agar upaya meningkatkan berat badan anak berjalan dengan tepat.
Apakah Berat Badan Anak Harus Selalu Naik Cepat?
Jawabannya, tidak. Setiap anak memiliki pola pertumbuhan yang berbeda. Pada tahun pertama kehidupan, berat badan memang meningkat lebih cepat. Namun, setelah usia 1 tahun, laju pertumbuhan akan melambat secara alami.
Selain itu, faktor genetik, tingkat aktivitas fisik, metabolisme, dan kondisi kesehatan juga memengaruhi bentuk tubuh anak. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya berpatokan pada angka timbangan, tetapi juga melihat apakah berat badan anak masih mengikuti kurva pertumbuhan WHO.
Kesalahan Orang Tua saat Ingin Menaikkan Berat Badan Anak
Berikut sepuluh kesalahan yang paling sering dilakukan orang tua saat berusaha menaikkan berat badan anak.
1. Memaksa Anak Menghabiskan Makanan
Salah satu kesalahan yang paling sering terjadi adalah memaksa anak makan hingga piringnya kosong. Padahal, anak sebenarnya memiliki kemampuan alami untuk mengenali rasa lapar dan kenyang. Jika terus dipaksa makan, anak justru dapat kehilangan minat makan, merasa stres saat waktu makan, menjadi lebih pilih-pilih makanan (picky eater), atau mengalami masalah makan dalam jangka panjang.
Sebaiknya, MomDad menawarkan makanan bergizi dalam porsi yang sesuai dan membiarkan anak menentukan seberapa banyak ia ingin makan.
2. Terlalu Fokus pada Jumlah, Bukan Kualitas Makanan
Porsi makan yang besar belum tentu membuat berat badan naik jika makanan yang diberikan miskin nutrisi. Misalnya, anak lebih sering mengonsumsi mi instan, makanan cepat saji, camilan tinggi gula, atau minuman manis. Makanan tersebut memang tinggi kalori, tetapi rendah protein, vitamin, mineral, dan lemak sehat yang dibutuhkan untuk pertumbuhan. Yang lebih penting adalah meningkatkan kepadatan nutrisi, bukan sekadar jumlah makanan.
3. Memberikan Terlalu Banyak Camilan Sebelum Waktu Makan
Camilan memang dapat membantu memenuhi kebutuhan energi harian anak. Namun, jika diberikan terlalu sering atau terlalu dekat dengan waktu makan utama, anak akan merasa kenyang lebih dulu. Akibatnya, anak justru makan lebih sedikit saat waktu makan utama sehingga asupan gizinya menjadi tidak seimbang. Idealnya, camilan diberikan sekitar 2–3 jam setelah makan utama.
4. Mengandalkan Susu sebagai Pengganti Makanan
Sebagian orang tua menganggap bahwa memperbanyak susu adalah cara tercepat menaikkan berat badan anak. Padahal, susu bukan pengganti makanan utama. Jika anak terlalu banyak minum susu, ia bisa cepat kenyang dan kehilangan nafsu makan untuk mengonsumsi makanan yang lebih beragam. Susu sebaiknya menjadi pelengkap pola makan bergizi seimbang, bukan sumber nutrisi utama.
5. Memberikan Makanan Tinggi Gula agar Berat Badan Cepat Naik
Permen, kue, cokelat, es krim, atau minuman manis memang mengandung banyak kalori. Namun, kalori tersebut sering disebut sebagai empty calories, yaitu tinggi energi tetapi rendah zat gizi penting. Konsumsi gula berlebihan juga dapat meningkatkan risiko obesitas, kerusakan gigi, gangguan metabolisme, dan kebiasaan makan yang kurang sehat di kemudian hari.
6. Tidak Memperhatikan Asupan Protein
Protein merupakan zat gizi utama yang dibutuhkan untuk membentuk jaringan tubuh, otot, dan mendukung pertumbuhan. Jika anak hanya banyak mengonsumsi karbohidrat tetapi kekurangan protein, kenaikan berat badan mungkin tidak optimal. Pastikan setiap kali makan terdapat sumber protein seperti telur, ikan, ayam, daging, tempe, tahu, atau susu.
7. Membandingkan Berat Badan Anak dengan Anak Lain
Setiap anak memiliki pola pertumbuhan yang unik. Membandingkan berat badan anak dengan saudara, teman, atau anak tetangga sering kali justru menimbulkan kecemasan yang tidak perlu. Yang lebih penting adalah melihat apakah pertumbuhan anak sesuai dengan potensi genetiknya dan masih mengikuti kurva pertumbuhan.
8. Terlalu Sering Menimbang Berat Badan
Sebagian orang tua menimbang anak hampir setiap hari untuk melihat apakah usahanya berhasil. Padahal, perubahan berat badan tidak terjadi secara instan. Menimbang terlalu sering justru dapat membuat MomDad semakin cemas. Pemantauan berat badan sebaiknya dilakukan secara berkala sesuai usia anak, misalnya setiap bulan pada balita, sambil mengevaluasi kurva pertumbuhan.
9. Mengabaikan Kemungkinan Penyakit yang Mendasari
Jika berat badan anak tidak kunjung naik meskipun pola makan sudah baik, penyebabnya mungkin bukan karena kurang makan. Beberapa kondisi medis yang dapat memengaruhi kenaikan berat badan antara lain gangguan penyerapan nutrisi, penyakit celiac, alergi makanan, infeksi kronis, cacingan, gangguan hormon, atau penyakit metabolik. Karena itu, jangan hanya fokus menambah porsi makan tanpa mencari penyebab yang mendasarinya.
10. Memberikan Suplemen atau Obat Penambah Berat Badan Tanpa Konsultasi
Banyak produk yang mengklaim mampu meningkatkan berat badan anak dengan cepat. Namun, tidak semua produk telah terbukti aman dan efektif. Pemberian suplemen, vitamin, atau obat penambah nafsu makan sebaiknya hanya dilakukan atas anjuran dokter berdasarkan kebutuhan anak.
Cara yang Tepat untuk Membantu Berat Badan Anak Naik
Daripada melakukan berbagai cara instan, MomDad sebaiknya menerapkan langkah berikut:
- Sajikan makanan bergizi seimbang setiap hari.
- Berikan protein pada setiap waktu makan.
- Tambahkan sumber lemak sehat seperti alpukat, keju, atau ikan.
- Sediakan dua hingga tiga kali camilan bergizi.
- Terapkan jadwal makan yang teratur.
- Ciptakan suasana makan yang menyenangkan tanpa paksaan.
- Pastikan anak tidur cukup dan tetap aktif bergerak.
- Pantau berat badan menggunakan kurva pertumbuhan WHO.
Pendekatan ini membantu memastikan kenaikan berat badan berlangsung secara bertahap dan sehat.
FAQ seputar Kesalahan Menaikkan Berat Badan Anak
Q: Apakah anak kurus pasti kekurangan gizi?
A: Tidak. Sebagian anak memiliki tubuh yang ramping karena faktor genetik atau metabolisme yang lebih cepat. Selama pertumbuhan sesuai kurva dan perkembangan berjalan baik, kondisi ini belum tentu menunjukkan kekurangan gizi.
Q: Apakah makanan cepat saji efektif menaikkan berat badan anak?
A: Makanan cepat saji memang tinggi kalori, tetapi umumnya rendah zat gizi penting. Kalori sebaiknya berasal dari makanan yang padat nutrisi agar pertumbuhan tetap optimal.
Q: Apakah susu penambah berat badan selalu diperlukan?
A: Tidak. Sebagian besar anak dapat memenuhi kebutuhan gizinya melalui pola makan yang seimbang. Susu hanya berfungsi sebagai pelengkap, bukan pengganti makanan utama.
Q: Berapa lama berat badan anak mulai bertambah?
A; Kenaikan berat badan terjadi secara bertahap. Yang lebih penting daripada kecepatan kenaikan adalah konsistensi pertumbuhan sesuai kurva WHO.
Keinginan orang tua untuk meningkatkan berat badan anak tentu dapat dipahami. Namun, berbagai cara instan seperti memaksa makan, memberikan makanan tinggi gula, atau mengandalkan susu secara berlebihan justru dapat menghambat terbentuknya kebiasaan makan yang sehat.
Fokuslah pada pemberian makanan bergizi seimbang, jadwal makan yang teratur, suasana makan yang menyenangkan, serta pemantauan pertumbuhan secara berkala. Dengan pendekatan yang tepat, kenaikan berat badan anak akan terjadi secara bertahap sekaligus mendukung tumbuh kembang yang optimal.
Referensi:
1. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Rekomendasi Gizi dan Pemantauan Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: IDAI; 2024.
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta: Kemenkes RI; 2023.
3. World Health Organization. WHO Child Growth Standards. Geneva: WHO; 2024.
4. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Using WHO Growth Charts to Assess Growth in the United States Among Children Ages Birth to 2 Years. Atlanta: CDC; 2024.
5. American Academy of Pediatrics. HealthyChildren.org – Feeding & Nutrition. Itasca: AAP; 2024.
6. Academy of Nutrition and Dietetics. Helping Kids Gain Weight the Healthy Way. 2024. https://www.eatright.org
7. MSD Manual Professional Edition. Growth and Weight Faltering in Children. 2024.
8. UNICEF. Young Child Feeding Guidelines. 2024.





