7 Agustus 2026
Apakah Vaksin Dengue Aman? Ini Efek Samping & Tanda Bahayanya
Ditulis oleh

Dhia Priyanka
Topik: Vaksin Dengue, Efek Samping
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Susanti Himawan, Sp. A.
Vaksin dengue aman digunakan berdasarkan hasil uji klinis dan pemantauan setelah izin edar, khususnya untuk vaksin TAK-003 yang saat ini banyak digunakan. Namun, seperti vaksin dan obat lainnya, efek samping tetap dapat terjadi. Oleh karena itu, yuk ketahui efek samping yang umum terjadi, tanda bahaya yang wajib diwaspadai, serta kapan orang tua perlu segera membawa anak ke fasilitas kesehatan.
Apakah Vaksin Dengue Aman?
Uji klinis dan pemantauan setelah izin edar menunjukkan bahwa TAK-003 secara umum dapat ditoleransi dengan baik. Namun, seperti vaksin dan obat lainnya, efek samping tetap dapat terjadi.
Efek samping yang paling sering dilaporkan meliputi:
- Nyeri di tempat suntikan.
- Kemerahan atau bengkak.
- Sakit kepala.
- Nyeri otot.
- Rasa lelah atau tidak enak badan.
- Demam.
Keluhan tersebut umumnya muncul dalam dua hari setelah vaksinasi, bersifat ringan hingga sedang, dan berlangsung sekitar satu sampai tiga hari.
Reaksi alergi berat atau anafilaksis dapat terjadi meskipun jarang. Penerima perlu mengikuti masa observasi setelah vaksin dan segera mencari pertolongan medis jika mengalami:
- Kesulitan bernapas.
- Pembengkakan wajah, bibir, atau tenggorokan.
- Biduran yang menyebar cepat.
- Pusing berat atau kehilangan kesadaran.
- Kondisi yang memburuk dengan cepat.
WHO terus memantau keamanan vaksin melalui data uji klinis dan penggunaan di berbagai negara.
Kapan Perlu Mencurigai Dengue Meski Sudah Divaksinasi?
Segera periksakan diri apabila mengalami demam tinggi mendadak, nyeri kepala, nyeri otot, mual, muntah, atau ruam, terutama jika terdapat kasus dengue di sekitar tempat tinggal.
Tanda Bahaya Saat Demam Mulai Turun
Waspadai tanda bahaya yang dapat muncul ketika demam mulai turun, seperti:
- Nyeri perut hebat.
- Muntah terus-menerus.
- Perdarahan dari hidung atau gusi.
- Muntah darah atau buang air besar berwarna hitam.
- Tubuh sangat lemah atau gelisah.
- Sulit bernapas.
- Tangan dan kaki terasa dingin.
- Frekuensi buang air kecil berkurang.
Turunnya demam tidak selalu berarti pasien telah sembuh. Dengue dapat memasuki fase kritis ketika suhu tubuh mulai menurun.
FAQ yang Sering Diajukan
Q: Apakah vaksin dengue TAK-003 aman untuk anak?
A: Ya, berdasarkan uji klinis dan pemantauan setelah izin edar, TAK-003 secara umum dapat ditoleransi dengan baik. Efek samping yang muncul umumnya ringan hingga sedang dan berlangsung singkat.
Q: Berapa lama efek samping vaksin dengue biasanya berlangsung?
A: Keluhan seperti nyeri suntikan, sakit kepala, atau demam umumnya muncul dalam dua hari setelah vaksinasi dan berlangsung sekitar satu sampai tiga hari.
Q: Apakah setelah vaksin dengue masih bisa terkena DBD?
A: Vaksinasi menurunkan risiko dan keparahan dengue, tetapi tidak menghilangkan risiko sepenuhnya. Tetap waspadai gejala seperti demam tinggi mendadak, nyeri kepala, nyeri otot, mual, atau ruam.
Q: Kapan harus mencari pertolongan medis segera setelah vaksin dengue?
A: Segera cari pertolongan medis jika mengalami kesulitan bernapas, pembengkakan wajah/bibir/tenggorokan, biduran yang menyebar cepat, pusing berat, atau kondisi yang memburuk dengan cepat.
Q: Apakah turunnya demam berarti pasien dengue sudah sembuh?
A: Tidak selalu. Dengue dapat memasuki fase kritis justru saat suhu tubuh mulai menurun, sehingga tanda bahaya seperti nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, atau perdarahan tetap harus diwaspadai pada fase ini.
Referensi:
1. World Health Organization. Dengue Vaccine: WHO Position Paper. WHO; 2024.
2. Centers for Disease Control and Prevention. Dengue Vaccination: What Everyone Should Know. CDC; 2024.
3. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Rekomendasi Vaksinasi Dengue pada Anak. IDAI; 2024.
4. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Demam Berdarah Dengue. Kemenkes RI; 2023.
5. Biswal S, et al. Efficacy of a Tetravalent Dengue Vaccine in Healthy Children and Adolescents. New England Journal of Medicine. 2019.





