Meta Pixel

14 September 2026

Influenza A dan B, Mana yang Lebih Berbahaya?

Ditulis oleh

avatar

Dhia Priyanka

Topik: Vaksinasi, Vaksin Influenza, Jadwal Vaksin Influenza, Influenza A, Influenza B, influenza

Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Susanti Himawan, Sp. A.


Influenza A lebih berbahaya dari sisi potensi pandemi dan sering mendominasi musim flu tertentu. Namun, pada seorang anak yang sedang sakit, influenza B tidak boleh dianggap ringan: penelitian pada anak yang dirawat menemukan tingkat keparahan A dan B dapat serupa. Usia, penyakit penyerta, strain yang beredar, imunitas, status vaksin, dan kecepatan pengobatan lebih menentukan risiko individual.

Influenza A memiliki jangkauan inang dan potensi pandemi yang lebih besar, tetapi influenza B juga dapat menyebabkan pneumonia, rawat inap, bahkan kematian pada anak. WHO memperkirakan influenza musiman menyebabkan sekitar 1 miliar kasus, 3–5 juta kasus berat, dan 290.000–650.000 kematian akibat gangguan pernapasan setiap tahun. 


Apa Itu Influenza A dan B?

Influenza adalah infeksi saluran pernapasan akut yang berbeda dari selesma atau common cold. Influenza biasanya menimbulkan demam mendadak, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, dan kelelahan yang lebih nyata.

Virus influenza dibagi menjadi tipe A, B, C, dan D. Influenza A serta B menjadi penyebab utama epidemi musiman pada manusia. Influenza C umumnya menyebabkan penyakit ringan, sedangkan influenza D terutama menyerang ternak dan tidak dikenal sebagai penyebab penyakit pada manusia.


Mengenal Influenza A

Influenza A dibagi menjadi subtipe berdasarkan protein hemagglutinin atau H dan neuraminidase atau N. Subtipe yang rutin beredar pada manusia antara lain A(H1N1) dan A(H3N2).

Virus influenza A dapat menginfeksi manusia serta berbagai hewan. Kemampuannya berubah dan bertukar materi genetik memungkinkan munculnya virus baru yang belum dikenal sistem imun manusia. CDC menyebut influenza A sebagai satu-satunya tipe influenza yang diketahui dapat menyebabkan pandemi.


Mengenal Influenza B

Influenza B terutama menginfeksi manusia dan tidak dibagi menjadi subtipe H dan N. Virus ini dikelompokkan dalam garis keturunan dan klade. B/Victoria merupakan garis keturunan yang masih terdeteksi dalam sirkulasi manusia, sementara B/Yamagata tidak terkonfirmasi dalam surveilans global selama beberapa tahun terakhir.

Influenza B menyebabkan epidemi musiman dan dapat meningkat pada bagian akhir musim influenza. Walaupun tidak memiliki potensi pandemi seperti influenza A, penyakitnya tetap dapat berat pada anak.

Lengkapi vaksin influenza si Kecil dan keluarga dengan booking vaksin di PrimaKu. Klik banner di bawah untuk cek promo dan jadwal vaksin.

Influenza (1) (1).png


Jadi, Influenza A atau B yang Lebih Berbahaya?

Dari Sudut Pandang Kesehatan Masyarakat

Influenza A mempunyai ancaman lebih besar karena:

• Dapat menyebabkan pandemi global.

• Memiliki banyak subtipe dan reservoir pada hewan.

• Dapat mengalami perubahan genetik besar.

• Sering mendominasi musim influenza dan menimbulkan jumlah kasus tinggi.

• Beberapa musim yang didominasi A(H3N2) dikaitkan dengan beban rawat inap serta kematian yang lebih tinggi pada kelompok tertentu.

Namun, jumlah kasus atau kematian yang lebih banyak pada satu musim dapat mencerminkan tipe virus yang lebih dominan, bukan berarti setiap infeksi A selalu lebih berat daripada setiap infeksi B.

Dari Sudut Pandang Anak yang Sedang Sakit

Keduanya dapat sama seriusnya. Studi selama 14 tahun pada anak yang dirawat di rumah sakit tidak menemukan perbedaan bermakna antara influenza A dan B dalam gejala, perawatan intensif, tata laksana, maupun lama rawat.

Tinjauan sistematis terhadap 47 studi juga tidak menemukan bukti meyakinkan bahwa tipe, subtipe, atau garis keturunan virus sendirian menjadi penentu utama gejala, keparahan, dan kematian. Influenza B dapat berkaitan dengan miositis akut jinak pada anak, yang menimbulkan nyeri betis dan kesulitan berjalan sementara.

Karena itu, hasil tes “influenza B” tidak boleh membuat keluarga lengah. Kondisi klinis anak dan faktor risikonya lebih penting daripada huruf A atau B.


Apakah Gejala Influenza A dan B Berbeda?

Gejalanya sangat tumpang tindih sehingga tidak dapat dibedakan secara andal tanpa tes. Keduanya dapat menyebabkan:

• Demam atau menggigil.

• Batuk, biasanya kering.

• Sakit tenggorokan.

• Hidung tersumbat atau berair.

• Sakit kepala.

• Nyeri otot dan sendi.

• Lemas atau kelelahan.

• Nafsu makan menurun.

• Muntah atau diare, yang lebih sering dijumpai pada anak dibandingkan orang dewasa.

Tidak semua anak mengalami demam. Bayi mungkin hanya tampak rewel, mengantuk, sulit menyusu, mengalami apnea, atau menunjukkan penurunan aktivitas.

Muntah dan diare tidak membuktikan influenza B. Sebaliknya, nyeri otot berat juga tidak cukup untuk menyimpulkan influenza A. Tes laboratorium diperlukan bila identifikasi tipe akan memengaruhi tata laksana, pengendalian infeksi, atau keputusan klinis.


Komplikasi Influenza A dan B pada Anak

Keduanya dapat menimbulkan:

• Pneumonia akibat virus influenza atau infeksi bakteri sekunder.

• Dehidrasi.

• Perburukan asma atau penyakit paru kronis.

• Infeksi telinga tengah dan sinus.

• Kejang demam.

• Radang otot atau miositis dan, jarang, kerusakan otot berat.

• Radang otak atau ensefalitis.

• Radang jantung atau miokarditis.

• Sepsis, gagal napas, dan kematian.

Pada musim influenza Amerika Serikat 2024–2025, CDC mencatat komplikasi yang sering mendahului kematian anak meliputi syok atau sepsis, pneumonia, acute respiratory distress syndrome, kejang, serta ensefalopati atau ensefalitis. Data tersebut menunjukkan influenza pada anak bukan sekadar pilek biasa.


Anak yang Lebih Berisiko Mengalami Influenza Berat

Risiko komplikasi lebih tinggi pada:

• Anak berusia kurang dari 5 tahun, terutama kurang dari 2 tahun.

• Bayi berusia kurang dari 6 bulan yang belum dapat menerima vaksin influenza.

• Anak dengan asma atau penyakit paru kronis.

• Anak dengan penyakit jantung, ginjal, hati, saraf, darah, atau metabolik.

• Anak dengan diabetes.

• Anak dengan gangguan imunitas atau sedang mendapat terapi penekan imun.

• Anak dengan obesitas berat.

• Anak yang menggunakan aspirin atau salisilat jangka panjang.

• Anak yang belum mendapat vaksin influenza sesuai usia dan riwayat.

Anak sehat tanpa penyakit penyerta juga dapat mengalami influenza berat. Karena itu, tanda bahaya tetap perlu dipantau pada setiap anak.


Bagaimana Pengobatan Influenza pada Anak?

Perawatan di Rumah

Anak dengan gejala ringan dapat beristirahat, mendapat cairan cukup, dan dipantau. Lanjutkan ASI lebih sering pada bayi. Obat penurun demam diberikan sesuai usia, berat badan, serta anjuran tenaga kesehatan.

Jangan memberikan aspirin kepada anak atau remaja dengan influenza karena risiko sindrom Reye. Antibiotik tidak mengobati virus influenza dan hanya diberikan bila dokter menduga atau memastikan infeksi bakteri.

Obat Antiviral

Obat antiviral, seperti oseltamivir, bekerja terhadap influenza A dan B. Manfaat paling besar bila dimulai dalam 48 jam sejak gejala muncul. Namun, terapi tetap dapat bermanfaat jika diberikan lebih lambat pada anak yang dirawat, sakit berat, memburuk, atau berisiko tinggi.

Jangan menunggu hasil tes jika dokter menilai anak berisiko tinggi dan terapi perlu segera dimulai. Jenis, dosis, dan lama pengobatan ditentukan berdasarkan usia, berat badan, fungsi ginjal, keparahan, serta panduan yang berlaku.


Kapan Anak Harus Segera Dibawa ke Dokter?

Segera ke IGD atau layanan darurat bila anak mengalami:

• Napas cepat, sesak, tarikan dinding dada, atau bibir kebiruan.

• Nyeri dada.

• Sulit dibangunkan, kebingungan, kejang, atau tidak berinteraksi.

• Tidak mau minum, tidak bisa mempertahankan cairan, atau urine sangat berkurang.

• Demam atau batuk yang sempat membaik lalu kembali memburuk.

• Nyeri otot sangat berat hingga anak menolak berjalan.

• Bayi mengalami demam, sulit menyusu, apnea, atau tampak sangat lemas.

• Kondisi kronis memburuk.

Hubungi dokter lebih awal untuk anak di bawah 5 tahun atau anak dengan penyakit penyerta, terutama bila muncul gejala influenza. Antiviral tidak selalu harus menunggu kondisi menjadi berat.


FAQ tentang Influenza A dan B

Q: Apakah influenza A selalu lebih parah daripada B?

A: Tidak. Influenza A memiliki potensi pandemi dan sering menyebabkan beban kasus lebih besar, tetapi keparahan klinis A dan B pada anak dapat serupa. Kondisi pasien lebih penting daripada tipenya.


Q: Apakah influenza B berbahaya untuk anak?

Ya. Influenza B dapat menyebabkan pneumonia, dehidrasi, miositis, gangguan saraf, rawat inap, dan kematian. Jangan menganggapnya sebagai influenza ringan.


Q: Mana yang lebih menular, influenza A atau B?

A: Keduanya menular melalui partikel pernapasan dan kontak dengan sekret. Tingkat penularan dipengaruhi strain, imunitas masyarakat, perilaku, dan musim. Influenza A memiliki potensi penyebaran global ketika muncul virus baru.


Q: Bisakah gejala menentukan influenza A atau B?

A: Tidak dapat diandalkan. Demam, batuk, nyeri otot, lemas, muntah, atau diare dapat terjadi pada keduanya. Tes molekuler diperlukan untuk membedakannya dengan lebih akurat.


Q: Apakah obat influenza A dan B sama?

A: Antiviral seperti oseltamivir dapat bekerja terhadap keduanya. Pemilihan obat mempertimbangkan usia, keparahan, faktor risiko, resistansi, dan pedoman dokter.


Q: Apakah vaksin influenza melindungi dari A dan B?

A: Ya. Vaksin musiman dirancang mencakup strain influenza A dan B yang diprediksi beredar. Komposisi spesifik dapat berubah setiap musim dan menurut produk yang tersedia.


Q: Apakah anak yang sudah vaksin masih bisa terkena influenza?

A: Bisa, karena kecocokan vaksin dengan virus yang beredar dan respons imun setiap orang tidak sempurna. Namun, vaksinasi dapat menurunkan risiko penyakit berat dan komplikasi.


Q: Apa bedanya influenza dengan flu biasa?

A: Influenza disebabkan virus influenza dan sering muncul mendadak dengan demam, nyeri otot, sakit kepala, serta lemas berat. Flu biasa atau selesma disebabkan banyak virus lain dan biasanya lebih ringan. Vaksin influenza tidak mencegah semua pilek.


Influenza A lebih mengkhawatirkan dari sudut pandang pandemi, tetapi influenza B tidak otomatis lebih ringan. Keduanya dapat menyebabkan penyakit berat pada anak, dan gejalanya sulit dibedakan tanpa tes. Pantau tanda bahaya, hubungi dokter lebih awal untuk kelompok berisiko, dan lengkapi vaksin influenza tahunan sesuai usia.


Referensi:

1. World Health Organization. Influenza (Seasonal). WHO; 2025.

2. Centers for Disease Control and Prevention. Types of Influenza Viruses. CDC; 2025.

3. Centers for Disease Control and Prevention. Influenza-Associated Pediatric Deaths—United States, 2024–25 Influenza Season. MMWR; 2025.

4. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jadwal Imunisasi Anak Usia 0–18 Tahun, Rekomendasi IDAI Tahun 2024. IDAI; 2025.

5. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Imunisasi di Indonesia Edisi 7 Tahun 2024. Badan Penerbit IDAI; 2024.

6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Influenza pada Anak. Kemenkes RI; 2026.

7. Mattila JM, Vuorinen T, Heikkinen T. Comparative Severity of Influenza A and B Infections in Hospitalized Children. Pediatric Infectious Disease Journal; 2020.

8. Caini S, et al. Clinical Characteristics and Severity of Influenza Infections by Virus Type, Subtype, and Lineage: A Systematic Literature Review. Influenza and Other Respiratory Viruses; 2018.