31 Oktober 2026
Perbedaan Imunisasi Dasar, Lanjutan, dan Vaksin Tambahan
Ditulis oleh

Dhia Priyanka
Topik: imunisasi dasar, lanjutan, dan vaksin tambahan, perbedaan imunisasi dasar dan lanjutan, vaksin tambahan anak, imunisasi pilihan, Imunisasi Kejar, jadwal imunisasi anak
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Susanti Himawan, Sp. A,
Imunisasi dasar merupakan fondasi perlindungan anak pada tahun pertama kehidupan. Namun, perlindungan tidak berhenti setelah bayi menerima rangkaian awal. Anak juga memerlukan imunisasi lanjutan, sementara vaksin lain dapat direkomendasikan sesuai usia dan risiko. WHO memperkirakan imunisasi mencegah 3,5–5 juta kematian setiap tahun. Imunisasi dasar membentuk perlindungan awal, imunisasi lanjutan mempertahankan kekebalan, dan imunisasi tambahan diberikan sesuai risiko serta kebijakan kesehatan.
Apa Perbedaan Imunisasi Dasar, Lanjutan, dan Vaksin Tambahan?
Apa Itu Imunisasi Dasar?
Imunisasi dasar adalah imunisasi yang diberikan kepada bayi sebelum usia 1 tahun. Tujuannya membangun fondasi kekebalan terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi sejak awal kehidupan.
Contoh Jadwal Imunisasi Dasar Nasional
Dalam jadwal Kemenkes, contoh pemberian pada bayi mencakup:
• Hepatitis B dosis lahir atau HB-0.
• BCG untuk membantu mencegah tuberkulosis berat.
• Polio tetes dan polio suntik sesuai seri.
• DPT-HB-Hib untuk perlindungan terhadap difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, dan penyakit akibat Haemophilus influenzae tipe b.
• PCV untuk membantu mencegah penyakit pneumokokus.
• Rotavirus untuk membantu mencegah diare berat akibat rotavirus.
• Campak-Rubela pada usia yang ditetapkan.
• Japanese encephalitis di wilayah endemis sesuai program.
Jenis dan jadwal program dapat diperbarui. Karena itu, buku KIA, informasi Kemenkes terbaru, dan penilaian tenaga kesehatan perlu menjadi acuan. Jadwal rekomendasi IDAI juga dapat mencakup vaksin serta waktu pemberian yang lebih luas daripada program pemerintah.
Apa Itu Imunisasi Lanjutan?
Imunisasi lanjutan adalah ulangan imunisasi dasar untuk mempertahankan tingkat kekebalan dan memperpanjang masa perlindungan. Antibodi setelah seri awal dapat menurun seiring waktu. Dosis lanjutan atau booster membantu sistem imun kembali mengenali kuman dengan lebih cepat.
Contoh Imunisasi Lanjutan pada Anak
Dalam program nasional, imunisasi lanjutan mencakup dosis bagi baduta dan anak usia sekolah. Contohnya:
• PCV dosis lanjutan pada usia sekitar 12 bulan.
• DPT-HB-Hib dan Campak-Rubela pada usia sekitar 18 bulan.
• Campak-Rubela dan DT pada kelas 1 sekolah dasar.
• Td pada usia sekolah sesuai jadwal BIAS.
• HPV untuk sasaran anak perempuan sesuai ketentuan program terbaru.
Imunisasi lanjutan bukan tanda vaksin sebelumnya gagal. Dosis ini memang dirancang sebagai bagian dari rangkaian agar perlindungan bertahan lebih lama.
Apa yang Dimaksud Vaksin Tambahan?
Dalam percakapan sehari-hari, “vaksin tambahan” sering digunakan untuk menyebut vaksin di luar layanan rutin yang diterima anak, misalnya influenza, varisela, hepatitis A, tifoid, dengue, atau vaksin untuk perjalanan. Istilah resmi yang lebih tepat untuk sebagian vaksin tersebut adalah imunisasi pilihan, yaitu imunisasi yang dapat diberikan sesuai kebutuhan individu.
Namun, “imunisasi tambahan” memiliki arti khusus dalam terminologi Kemenkes: imunisasi tertentu yang diberikan kepada kelompok umur paling berisiko berdasarkan kajian epidemiologis pada periode tertentu. Kegiatan ini bertujuan melengkapi imunisasi dasar atau lanjutan pada sasaran yang belum tercapai dan tidak menggantikan imunisasi rutin.
Oleh karena itu, jangan hanya bertanya, “Apakah vaksin ini wajib atau tambahan?” Pertanyaan yang lebih bermanfaat adalah, “Penyakit apa yang dicegah, apakah anak saya berisiko, kapan waktu terbaik, berapa dosis, dan adakah kondisi yang perlu diperhatikan?”
Contoh Imunisasi Pilihan yang Dapat Dipertimbangkan
Rekomendasi IDAI 2024 memuat jadwal imunisasi anak usia 0–18 tahun yang komprehensif. Vaksin yang dapat dipertimbangkan sesuai usia dan kondisi antara lain:
• Influenza.
• Varisela untuk membantu mencegah cacar air dan komplikasinya.
• Hepatitis A.
• Tifoid sesuai usia dan risiko paparan.
• Dengue sesuai rentang usia, riwayat infeksi, produk vaksin, dan penilaian dokter.
• Meningokokus untuk risiko tertentu, perjalanan, atau kebutuhan khusus.
• Vaksin lain yang tercantum dalam rekomendasi profesi atau diperlukan karena kondisi medis dan perjalanan.
Daftar tersebut bukan resep yang sama untuk semua anak. Pemilihan vaksin perlu mempertimbangkan riwayat dosis, usia minimum, interval antardosis, kontraindikasi, kondisi imun, penyakit kronis, dan ketersediaan produk.
Lantas, jika imunisasi dasar selesai, apakah anak sudah terlindungi? Belum sepenuhnya. Perlindungan perlu dipertahankan melalui dosis lanjutan. Anak juga bisa memerlukan imunisasi pilihan untuk penyakit yang tidak seluruhnya tercakup dalam layanan rutin atau karena mempunyai risiko khusus.
Vaksin Mana yang Perlu Didahulukan?
Prioritas tidak dapat ditentukan hanya dari label “dasar”, “lanjutan”, atau “tambahan”. Tenaga kesehatan akan mempertimbangkan:
• Usia anak dan batas usia pemberian vaksin.
• Dosis yang belum lengkap dan interval minimal.
• Risiko wabah atau penularan di lingkungan.
• Rencana masuk daycare, sekolah, perjalanan, atau ibadah.
• Penyakit kronis, gangguan imun, atau terapi tertentu.
• Kehadiran bayi baru lahir atau orang rentan di rumah.
• Ketersediaan vaksin serta rekomendasi Kemenkes dan IDAI.
Secara umum, seri rutin yang tertinggal perlu segera dievaluasi. Vaksin dengan batas usia tertentu juga tidak boleh ditunda tanpa alasan karena jendela pemberiannya dapat terlewat.
Booking Vaksin Anak Lebih Praktis dan Hemat lewat PrimaKu
MomDad dapat memeriksa kebutuhan vaksin anak, membandingkan pilihan klinik, melihat jadwal, dan melakukan booking lebih awal melalui PrimaKu. Promo yang tersedia juga dapat membantu biaya vaksinasi menjadi lebih hemat.
Sebelum membayar, periksa nama serta merek vaksin, jumlah dosis, usia sasaran, apakah harga sudah mencakup jasa dokter dan administrasi, kebijakan perubahan jadwal, serta periode promo. Harga dan stok dapat berubah, sehingga selalu cek informasi terbaru di aplikasi atau situs PrimaKu. Klik banner di atas untuk cek promo.
FAQ tentang Imunisasi Anak
Q: Apakah imunisasi dasar dan lanjutan sama-sama wajib?
A: Keduanya merupakan bagian dari imunisasi rutin program. Imunisasi dasar diberikan pada bayi, sedangkan imunisasi lanjutan menjaga serta memperpanjang perlindungan pada baduta dan anak usia sekolah.
Q: Apakah vaksin tambahan berarti tidak penting?
A: Tidak. Dalam penggunaan sehari-hari, vaksin “tambahan” sering berarti imunisasi pilihan. Manfaatnya tetap penting bagi anak tertentu, bergantung pada usia, risiko paparan, kondisi kesehatan, dan rekomendasi dokter.
Q: Bolehkah vaksin pilihan diberikan bersamaan dengan vaksin rutin?
A: Banyak vaksin dapat diberikan pada kunjungan yang sama di lokasi suntikan berbeda. Namun, kombinasi, jarak, usia, kondisi anak, dan jenis vaksin harus dinilai tenaga kesehatan.
Q: Jika sudah pernah terkena penyakit, apakah masih perlu vaksin?
A: Tergantung penyakit, usia, bukti diagnosis, jenis vaksin, dan kondisi anak. Riwayat sakit tidak selalu menggantikan vaksinasi.
Q: Apakah anak pilek ringan boleh diimunisasi?
A: Keluhan ringan tanpa kondisi serius sering kali bukan alasan menunda vaksin, tetapi anak tetap perlu diskrining. Demam tinggi, sakit sedang-berat, riwayat alergi berat, atau kondisi imun tertentu memerlukan penilaian lebih cermat.
Q: Apakah jadwal Kemenkes dan IDAI berbeda?
A: Keduanya saling melengkapi. Jadwal Kemenkes mengatur imunisasi program nasional, sedangkan rekomendasi IDAI memberikan panduan imunisasi anak yang lebih luas berdasarkan bukti ilmiah dan kebutuhan klinis.
Imunisasi dasar membangun fondasi perlindungan pada bayi, imunisasi lanjutan mempertahankan perlindungan tersebut, sedangkan imunisasi pilihan menambah perlindungan sesuai kebutuhan anak. Sementara itu, “imunisasi tambahan” dalam istilah resmi Kemenkes merupakan kegiatan khusus berdasarkan risiko epidemiologis.
Alih-alih berhenti pada label wajib atau tambahan, periksa penyakit yang dicegah, usia, jumlah dosis, interval, kondisi anak, dan risiko paparan. Bawa catatan imunisasi saat berkonsultasi agar dokter dapat menyusun jadwal yang aman dan sesuai.
Referensi:
1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Seputar Imunisasi: Jadwal Pemberian Imunisasi Rutin Lengkap. Ayo Sehat Kemenkes RI; 2026.
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Lampiran Terminologi Imunisasi. SATUSEHAT Platform; 2026.
3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/35/2025 tentang Perubahan Jenis dan Jadwal Imunisasi Program. Kemenkes RI; 2025.
4. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jadwal Imunisasi Anak Usia 0–18 Tahun, Rekomendasi IDAI Tahun 2024. IDAI; 2025.
5. World Health Organization. Vaccines and Immunization. WHO; 2026.
6. World Health Organization. Global Immunization Efforts Have Saved at Least 154 Million Lives Over the Past 50 Years. WHO; 2024.






