5 Agustus 2026
Persiapan Anak sebelum Imunisasi BIAS di Sekolah
Ditulis oleh

Dhia Priyanka
Topik: imunisasi BIAS, BIAS, Bulan Imunisasi Anak Sekolah
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Lucyana Alim Santoso, Sp.A.
Imunisasi BIAS di sekolah perlu dipersiapkan dengan mengecek jadwal, melengkapi catatan vaksinasi, menginformasikan kondisi kesehatan anak, serta membantunya menghadapi rasa takut terhadap suntikan. Persiapan sederhana ini membantu petugas melakukan skrining dengan tepat sekaligus membuat pengalaman vaksinasi terasa lebih nyaman bagi anak.
BIAS atau Bulan Imunisasi Anak Sekolah merupakan program imunisasi rutin lanjutan yang umumnya diselenggarakan pada Agustus dan November. Jenis vaksin yang diberikan berbeda menurut kelas atau usia anak. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya memberikan persetujuan, tetapi juga memastikan vaksin yang akan diterima sesuai dengan riwayat imunisasi anak.
Mengapa Anak Perlu Dipersiapkan Sebelum BIAS?
Persiapan sebelum vaksinasi bukan bertujuan membuat anak “lebih kebal” dalam waktu singkat. Tujuan utamanya adalah memastikan anak menerima vaksin yang tepat, dalam kondisi yang memungkinkan, dan dengan tingkat kecemasan yang dapat dikelola.
Persiapan yang baik membantu orang tua dan petugas untuk:
- Memastikan jenis vaksin sesuai sasaran usia atau kelas.
- Memeriksa apakah anak pernah menerima vaksin serupa.
- Mengidentifikasi riwayat alergi atau reaksi serius.
- Menentukan apakah kondisi kesehatan anak perlu dievaluasi lebih lanjut.
- Mengurangi rasa takut terhadap jarum suntik.
- Memantau dan menangani keluhan ringan setelah imunisasi.
Checklist Persiapan Imunisasi BIAS
Gunakan daftar berikut sebelum anak mengikuti BIAS di sekolah:
- [ ] Periksa tanggal dan jenis vaksin dari sekolah.
- [ ] Isi formulir persetujuan serta skrining dengan lengkap.
- [ ] Siapkan Buku KIA, kartu imunisasi, atau catatan digital.
- [ ] Informasikan alergi, penyakit, obat, dan reaksi vaksin sebelumnya.
- [ ] Pastikan anak cukup tidur.
- [ ] Berikan sarapan dan minum yang cukup.
- [ ] Kenakan pakaian berlengan longgar.
- [ ] Beri penjelasan yang jujur mengenai suntikan.
- [ ] Ajarkan teknik bernapas atau pengalihan perhatian.
- [ ] Pastikan nomor orang tua dapat dihubungi.
- [ ] Cari tahu prosedur sekolah jika anak mengalami keluhan.
- [ ] Simpan bukti pemberian vaksin setelah BIAS.
1. Periksa Jadwal dan Jenis Vaksin
Kementerian Kesehatan menyelenggarakan BIAS setiap Agustus dan November. Jenis vaksin ditentukan berdasarkan kelas atau usia anak.
Dalam jadwal nasional, misalnya, anak kelas 1 memperoleh vaksin Campak Rubela atau MR pada Agustus dan vaksin Difteri Tetanus atau DT pada November. Sementara itu, kelas lain dapat memperoleh vaksin Td atau HPV sesuai sasaran program.
Tanggal pelaksanaan setiap sekolah dapat berbeda karena disesuaikan dengan koordinasi puskesmas dan pemerintah daerah. Periksa informasi berikut pada surat pemberitahuan sekolah:
- Tanggal dan waktu pelaksanaan.
- Jenis vaksin yang akan diberikan.
- Kelas yang menjadi sasaran.
- Dokumen yang harus dibawa.
- Batas pengembalian formulir persetujuan.
- Mekanisme vaksinasi susulan jika anak tidak hadir.
Jangan berasumsi bahwa vaksin yang diberikan sama untuk seluruh kelas. Konfirmasikan kepada sekolah apabila nama vaksin tidak tercantum dengan jelas.
2. Periksa Riwayat Imunisasi Anak
Riwayat imunisasi membantu petugas menentukan apakah anak telah menerima dosis sebelumnya serta apakah jadwalnya sudah sesuai. Orang tua dapat membawa atau mengirimkan salinan:
- Buku KIA.
- Kartu imunisasi dari puskesmas.
- Catatan vaksinasi rumah sakit atau klinik.
- Sertifikat atau bukti vaksin digital.
- Foto kartu imunisasi yang tersimpan di ponsel.
Jika anak pernah memperoleh vaksin secara mandiri, catat nama vaksin, tanggal pemberian, jumlah dosis, dan fasilitas kesehatan yang memberikannya.
Nama merek yang berbeda dapat mengandung antigen yang sama. Sebaliknya, nama vaksin yang terdengar mirip belum tentu melindungi dari penyakit yang sama. Sebagai contoh, MR berbeda dari MMR, sedangkan DT berbeda dari DPT dan Td.
Karena itu, jangan memutuskan sendiri untuk melewatkan atau mengulang vaksin. Minta petugas kesehatan mencocokkan riwayat anak dengan jadwal BIAS.
3. Isi Formulir Skrining dengan Jujur
Sebelum imunisasi, sekolah biasanya membagikan formulir persetujuan dan skrining kesehatan. Formulir ini harus diisi berdasarkan kondisi anak yang sebenarnya.
Informasikan apabila anak:
- Sedang demam atau mengalami penyakit akut.
- Memiliki alergi berat terhadap obat, makanan, atau bahan tertentu.
- Pernah mengalami reaksi alergi berat setelah vaksin.
- Mengalami keluhan serius setelah imunisasi sebelumnya.
- Memiliki gangguan imunitas atau penyakit kronis.
- Sedang menjalani kemoterapi atau terapi yang menekan sistem imun.
- Sedang mengonsumsi obat tertentu, termasuk kortikosteroid dosis tinggi.
- Baru menerima transfusi darah atau produk darah.
- Memiliki riwayat kejang atau gangguan neurologis tertentu.
Tidak seluruh kondisi tersebut otomatis membuat anak tidak boleh divaksinasi. Informasi itu diperlukan agar tenaga kesehatan dapat melakukan penilaian dan menentukan langkah yang aman.
Jika riwayat kesehatan anak cukup kompleks, konsultasikan dengan dokter yang merawat sebelum hari BIAS. Minta catatan atau rekomendasi tertulis apabila diperlukan.
4. Pastikan Anak Cukup Tidur
Usahakan anak tidur sesuai kebutuhannya pada malam sebelum vaksinasi. Anak yang kelelahan dapat menjadi lebih mudah cemas, sulit bekerja sama, atau merasa kurang nyaman saat mengikuti kegiatan di sekolah.
Hindari aktivitas yang membuat anak tidur terlalu larut. Siapkan seragam, dokumen, dan kebutuhan sekolah sejak malam agar pagi hari tidak terburu-buru.
Tidak diperlukan suplemen, jamu, atau makanan khusus untuk mempersiapkan tubuh sebelum imunisasi.
5. Anak Tidak Perlu Berpuasa
Imunisasi tidak memerlukan puasa. Anak sebaiknya tetap sarapan dan minum cukup sebelum pergi ke sekolah, kecuali terdapat instruksi medis khusus untuk prosedur lain pada hari yang sama.
Pilih sarapan yang biasa dikonsumsi anak dan tidak terlalu berat. Membawa botol minum juga dapat membantu anak tetap terhidrasi.
Makan dan minum yang cukup terutama penting bagi anak yang mudah merasa lemas atau pusing ketika melihat jarum dan darah. Namun, keduanya tidak sepenuhnya menghilangkan kemungkinan pingsan akibat kecemasan.
6. Pilih Pakaian yang Memudahkan Penyuntikan
Sebagian besar vaksin suntik pada anak usia sekolah diberikan di area lengan atas. Kenakan pakaian berlengan longgar dan mudah disingsingkan.
Hindari pakaian dengan lengan ketat yang harus ditarik paksa. Selain kurang nyaman, tekanan pakaian pada area suntikan dapat membuat lengan terasa lebih nyeri setelah vaksinasi.
Jika anak menggunakan beberapa lapis pakaian, pastikan lapisan dalamnya tetap mudah membuka area lengan.
7. Jelaskan Proses Vaksinasi secara Jujur
Hindari mengatakan bahwa suntikan “tidak terasa sama sekali”. Jika anak kemudian merasakan nyeri, ia dapat merasa dibohongi dan menjadi lebih takut pada prosedur medis berikutnya.
Gunakan penjelasan yang sesuai usia, misalnya:
> “Besok ada imunisasi di sekolah supaya tubuhmu punya perlindungan terhadap penyakit. Saat disuntik mungkin terasa seperti dicubit sebentar. Setelah itu selesai, dan kamu bisa istirahat.”
WHO menganjurkan orang tua memberikan informasi yang tenang dan jujur. Hindari menggunakan kata-kata yang membesar-besarkan rasa sakit atau menceritakan pengalaman buruk di depan anak.
Jangan pula menjadikan suntikan sebagai ancaman, seperti mengatakan anak akan disuntik jika tidak menurut. Kebiasaan tersebut dapat membentuk ketakutan terhadap dokter dan tenaga kesehatan.
8. Libatkan Anak dalam Menyusun Strategi
Anak usia sekolah sudah dapat dilibatkan untuk memilih cara menghadapi suntikan. Berikan pilihan sederhana, seperti:
- Melihat ke arah lain atau melihat proses penyuntikan.
- Mengatur napas secara perlahan.
- Menghitung mundur.
- Memikirkan cerita atau tempat favorit.
- Berbicara dengan guru atau teman.
- Memegang benda kecil yang menenangkan jika sekolah mengizinkan.
Pedoman berbasis bukti mengenai penanganan nyeri vaksinasi menunjukkan bahwa distraksi dan posisi duduk tegak dapat membantu mengurangi rasa takut atau nyeri pada anak.
Ajarkan teknik pernapasan sederhana sebelum hari vaksinasi:
1. Tarik napas perlahan melalui hidung.
2. Tahan sebentar tanpa mengejan.
3. Keluarkan napas perlahan melalui mulut.
4. Ulangi selama proses persiapan dan penyuntikan.
Hindari memaksa anak untuk “berani” atau mempermalukannya jika ia menangis. Menangis merupakan respons yang wajar dan tidak menentukan keberhasilan vaksinasi.
9. Beri Tahu Sekolah jika Anak Sangat Takut Jarum
Sebagian anak bukan hanya merasa gugup, tetapi dapat mengalami ketakutan jarum yang intens. Tandanya antara lain menangis sejak beberapa hari sebelumnya, sulit tidur, mencoba melarikan diri, menolak pergi ke sekolah, atau pernah pingsan saat melihat jarum.
Sampaikan kondisi tersebut kepada wali kelas atau petugas UKS sebelum pelaksanaan. Dengan pemberitahuan lebih awal, sekolah dapat mempertimbangkan:
- Memberikan waktu yang lebih tenang.
- Menghindarkan anak dari antrean panjang.
- Menempatkan anak dalam posisi duduk atau berbaring.
- Meminta pendampingan orang tua jika memungkinkan.
- Mengarahkan vaksinasi ke puskesmas apabila diperlukan.
Anak dengan ketakutan berat tidak sebaiknya ditahan secara paksa tanpa pendekatan yang aman. Konsultasi dengan dokter atau psikolog dapat dipertimbangkan jika ketakutan sampai menghambat perawatan kesehatan.
10. Apakah Anak yang Batuk atau Pilek Boleh Mengikuti BIAS?
Batuk, pilek, demam ringan, infeksi telinga ringan, atau diare ringan tidak selalu menjadi alasan untuk menunda vaksinasi. Menurut CDC, penyakit ringan umumnya tidak mengganggu respons tubuh terhadap vaksin.
Namun, imunisasi dapat ditunda jika anak sedang mengalami penyakit akut sedang atau berat, dengan atau tanpa demam. Keputusan tersebut harus dibuat oleh tenaga kesehatan setelah melakukan skrining.
Hubungi sekolah atau puskesmas apabila pada hari BIAS anak mengalami:
- Demam tinggi.
- Sesak napas.
- Muntah atau diare berulang.
- Tampak sangat lemas.
- Penyakit akut yang sedang memburuk.
- Kondisi lain yang membuat orang tua khawatir.
Jangan mengirim anak dalam kondisi sakit berat hanya agar tidak kehilangan jadwal. Tanyakan kemungkinan mengikuti imunisasi susulan setelah kondisi anak membaik.
11. Perlukah Memberikan Parasetamol sebelum Vaksinasi?
Obat penurun panas atau pereda nyeri tidak perlu diberikan secara rutin sebelum imunisasi jika anak tidak memiliki keluhan. Berikan obat hanya apabila memang diperlukan dan sesuai anjuran dokter atau tenaga kesehatan.
Setelah vaksinasi, parasetamol dapat dipertimbangkan apabila anak mengalami demam atau nyeri yang mengganggu. Dosis obat pada anak harus disesuaikan dengan berat badan, bukan hanya usia.
Hindari memberikan aspirin kepada anak tanpa instruksi dokter. Jangan pula mengoleskan ramuan, minyak, atau bahan yang tidak direkomendasikan pada lokasi suntikan.
12. Pastikan Orang Tua Mudah Dihubungi
Tuliskan nomor telepon yang aktif pada formulir sekolah. Informasikan nomor alternatif apabila orang tua sulit dihubungi selama jam kerja.
Pastikan sekolah mengetahui siapa yang dapat mengambil anak apabila ia merasa tidak nyaman setelah imunisasi. Langkah ini penting, terutama bagi anak dengan riwayat pingsan, kecemasan berat, atau kondisi medis tertentu.
Apa yang Dilakukan pada Hari Imunisasi?
Pada pagi hari, lakukan pemeriksaan singkat terhadap kondisi anak:
- Apakah anak demam?
- Apakah anak makan dan minum?
- Apakah ada keluhan baru?
- Apakah formulir dan catatan imunisasi sudah dibawa?
- Apakah pakaian memudahkan akses ke lengan?
- Apakah anak memahami apa yang akan terjadi?
Minta anak memberitahu guru atau petugas jika merasa pusing, mual, sesak, atau sangat takut. Setelah disuntik, anak sebaiknya mengikuti masa observasi sesuai arahan petugas dan tidak langsung berlari atau melakukan aktivitas berat.
Pingsan setelah vaksinasi dapat terjadi akibat respons terhadap proses penyuntikan, bukan hanya karena kandungan vaksin. Posisi duduk dan observasi setelah vaksinasi membantu mencegah cedera apabila anak merasa pusing atau kehilangan kesadaran.
Persiapan Orang Tua setelah Anak Pulang
Ketika anak pulang, tanyakan jenis vaksin yang diterima dan simpan bukti imunisasinya. Catat tanggal serta lokasi pemberian dalam arsip kesehatan keluarga.
Efek samping ringan yang mungkin muncul antara lain:
- Nyeri, kemerahan, atau bengkak di tempat suntikan.
- Demam ringan.
- Sakit kepala.
- Tubuh terasa lelah.
- Anak menjadi lebih rewel.
- Ruam ringan setelah vaksin MR pada sebagian anak.
Biarkan anak beristirahat dan berikan minum yang cukup. Area suntikan dapat dikompres sejuk menggunakan kain bersih. Hindari memijat atau menekan area tersebut.
Kapan Anak Harus Dibawa ke Fasilitas Kesehatan?
Reaksi berat setelah vaksinasi tergolong jarang. Namun, segera cari pertolongan medis jika anak mengalami:
- Kesulitan bernapas.
- Pembengkakan pada wajah, bibir, atau tenggorokan.
- Biduran yang menyebar dengan cepat.
- Kejang.
- Penurunan kesadaran.
- Demam tinggi atau kondisi yang terus memburuk.
- Keluhan lain yang tampak berat dan mengkhawatirkan.
Laporkan juga kejadian tersebut kepada sekolah atau puskesmas penyelenggara untuk evaluasi dan pencatatan kejadian ikutan pasca imunisasi atau KIPI.
FAQ Persiapan Imunisasi BIAS
Q: Apakah anak harus sarapan sebelum BIAS?
Ya, anak sebaiknya makan dan minum seperti biasa. Imunisasi tidak memerlukan puasa, kecuali ada instruksi khusus dari tenaga kesehatan untuk prosedur lain.
Q: Apakah anak boleh mandi sebelum imunisasi?
A: Boleh. Mandi tidak memengaruhi efektivitas vaksin. Anak juga tetap boleh mandi setelah imunisasi selama kondisinya nyaman.
Q: Apakah batuk dan pilek ringan membuat vaksinasi harus ditunda?
A: Tidak selalu. Penyakit ringan biasanya bukan kontraindikasi vaksinasi. Meski demikian, kondisi anak tetap harus diinformasikan dan diperiksa oleh tenaga kesehatan.
Q: Apakah perlu membawa Buku KIA ke sekolah?
A: Jika diminta, bawa Buku KIA atau salinan catatan imunisasi. Catatan tersebut membantu petugas menilai riwayat vaksin anak dengan lebih akurat.
Q: Bolehkah orang tua mendampingi anak saat BIAS?
A: Kebijakan pendampingan berbeda di setiap sekolah. Orang tua dapat menghubungi wali kelas atau petugas UKS, terutama jika anak mempunyai kebutuhan khusus atau ketakutan jarum yang berat.
Q: Bagaimana jika formulir persetujuan belum dikembalikan?
A: Segera hubungi sekolah. Pelaksanaan imunisasi biasanya memerlukan informasi dan persetujuan orang tua sesuai prosedur penyelenggara.
Q: Apakah anak boleh berolahraga setelah BIAS?
A: Aktivitas ringan umumnya boleh jika anak merasa sehat. Jika anak mengalami demam, pusing, atau nyeri lengan, sebaiknya hindari aktivitas berat dan berikan waktu untuk beristirahat.
Q: Apakah bekas suntikan boleh dikompres?
A: Boleh menggunakan kompres sejuk dengan kain bersih apabila terasa nyeri atau bengkak. Jangan memijat atau mengoleskan bahan yang tidak direkomendasikan.
Persiapan sebelum imunisasi BIAS mencakup lebih dari sekadar menandatangani formulir sekolah. Orang tua perlu memeriksa jenis vaksin, menyiapkan catatan imunisasi, menyampaikan riwayat kesehatan secara jujur, serta membantu anak mengelola kecemasan terhadap suntikan.
Pastikan anak cukup tidur, sarapan, minum, dan mengenakan pakaian yang nyaman. Jika anak sedang sakit, memiliki riwayat alergi berat, atau sangat takut terhadap jarum, informasikan kepada sekolah dan tenaga kesehatan sebelum pelaksanaan.
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan atau rekomendasi langsung dari dokter. Jenis vaksin, jadwal, dan prosedur pelaksanaan dapat mengikuti kebijakan program serta kondisi masing-masing daerah.
Referensi:
1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. [Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. [Petunjuk Teknis Pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah].
3. World Health Organization. [Five Tips for Preparing Children for Vaccination].
4. World Health Organization. [Reducing Pain at the Time of Vaccination: WHO Position Paper]..
5. Centers for Disease Control and Prevention. [Vaccines When Your Child Is Sick].
6. Centers for Disease Control and Prevention. [Contraindications and Precautions].
7. Centers for Disease Control and Prevention. [Fainting and Vaccines].
8. Taddio A, et al. “Reducing pain during vaccine injections: clinical practice guideline.” *Canadian Medical Association Journal*. 2015;187(13):975–982. [PubMed Central].
9. Taddio A, et al. “Reducing the pain of childhood vaccination: an evidence-based clinical practice guideline.” *Canadian Medical Association Journal*. 2010;182(18):E843–E855. [PubMed Central].





