27 Juli 2026
Vaksin BCG Terlambat, Masih Bisa Sampai Usia Berapa?
Ditulis oleh

Dhia Priyanka
Topik: Vaksin BCG, Catch-up, Imunisasi BCG
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Lucyana Alim Santoso, Sp.A.
Vaksin BCG idealnya diberikan saat bayi lahir atau sesegera mungkin setelahnya untuk memberikan perlindungan dini terhadap tuberkulosis (TB). Indonesia merupakan salah satu negara dengan beban TB tertinggi di dunia, Kementerian Kesehatan RI mencatat Indonesia menempati urutan kedua tertinggi kasus TB secara global, menjadikan imunisasi BCG tepat waktu sangat krusial. Namun, bila jadwal tersebut terlewat, kabar baiknya adalah: vaksin BCG terlambat pada banyak kasus masih bisa diberikan melalui vaksinasi kejar (catch-up vaccination) sesuai rekomendasi WHO.
Apa Itu Vaksin BCG dan Mengapa Penting?
BCG (Bacille Calmette-Guérin) adalah vaksin hidup yang dilemahkan (live attenuated vaccine) untuk melindungi terhadap tuberkulosis. TB paling sering menyerang paru-paru, tetapi pada anak dapat menyebar ke organ lain, termasuk otak (meningitis TB) dan seluruh tubuh (TB milier), yang dapat menyebabkan kecacatan permanen atau kematian.
BCG sangat efektif melindungi dari bentuk TB berat pada anak. Meta-analisis Roy et al. (BMJ2014) menemukan BCG mengurangi risiko infeksi TB pada anak sebesar ~73%. Mangtani et al. (Clinical Infectious Diseases, 2014) mengkonfirmasi perlindungan signifikan terutama terhadap meningitis TB dan TB milier. WHO menyatakan BCG secara konsisten memberikan perlindungan terhadap kedua bentuk TB berat ini.
Kapan Vaksin BCG Seharusnya Diberikan?
WHO merekomendasikan satu dosis vaksin BCG diberikan kepada bayi saat lahir atau sesegera mungkin setelah lahir di negara dengan insiden TB tinggi. Di Indonesia, rekomendasi IDAI 2024 menempatkan BCG sebagai imunisasi yang diberikan pada awal kehidupan. Pemberian sedini mungkin penting karena bayi dapat terpapar bakteri TB sejak usia sangat muda, terutama bila ada penderita TB aktif di rumah. Klik di sini untuk dapatkan harga vaksin BCG terbaik di PrimaKu.
Vaksin BCG Terlambat, Masih Bisa Diberikan?
Ya, pada banyak kasus masih bisa. WHO merekomendasikan vaksinasi kejar (catch-up vaccination) bagi bayi dan anak yang belum mendapatkan BCG. Prosedurnya berbeda berdasarkan usia dan kondisi anak.
Panduan BCG Terlambat Berdasarkan Kondisi Anak
Apa Itu Uji Tuberkulin dan Kapan Diperlukan?
Uji tuberkulin atau Tuberculin Skin Test (TST) menyuntikkan sejumlah kecil purified protein derivative (PPD) ke lapisan kulit lengan bawah. Reaksi kulit dinilai oleh tenaga kesehatan setelah 48–72 jam, bukan berdasarkan kemerahan, melainkan ukuran indurasi (bagian kulit yang mengeras). Batas positif berbeda berdasarkan faktor risiko dan kondisi anak.
✅ Hasil TST Negatif
Kemungkinan besar belum terinfeksi TB. BCG dapat diberikan setelah dokter memastikan tidak ada kontraindikasi lain.
⚠ Hasil TST Positif
Tidak otomatis berarti TB aktif, perlu evaluasi lebih lanjut (riwayat kontak, gejala, Rontgen dada, dll). BCG tidak diberikan; prioritaskan evaluasi dan terapi TB bila ada indikasi.
Jika Bayi Kontak Erat dengan Penderita TB
Kondisi ini memerlukan perhatian khusus. WHO menyatakan bahwa pada bayi baru lahir yang terpapar TB dari ibunya, penyakit TB perlu disingkirkan terlebih dahulu. BCG ditunda selama proses skrining karena vaksinasi dapat memengaruhi interpretasi uji tuberkulin berikutnya.
⚠ Penting: Bila bayi belum mendapatkan BCG dan ada anggota keluarga yang sedang atau pernah didiagnosis TB, informasikan riwayat ini kepada dokter sebelum vaksinasi. Dokter akan menentukan urutan pemeriksaan yang tepat.
Mengapa Vaksin BCG Penting bagi Bayi dan Balita?
Bayi dan anak kecil memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyebaran TB setelah terinfeksi dibandingkan orang dewasa. Infeksi dapat berkembang menjadi bentuk TB berat:
- Meningitis TB: infeksi pada selaput otak yang dapat menyebabkan kerusakan otak permanen
- TB milier: penyebaran bakteri TB melalui aliran darah ke berbagai organ yang mengancam jiwa
WHO menyatakan bahwa BCG secara konsisten memberikan perlindungan terhadap meningitis TB dan TB milier pada anak, inilah alasan utama BCG diberikan sedini mungkin di negara dengan beban TB tinggi seperti Indonesia.
Seberapa Efektif Vaksin BCG?
BCG tidak memberikan perlindungan 100% terhadap seluruh bentuk TB, efektivitasnya terhadap TB paru dapat bervariasi. Namun, manfaat utama BCG pada anak sangat signifikan terhadap TB berat:
- Meta-analisis Roy et al. (BMJ, 2014): BCG mengurangi risiko infeksi TB pada anak sebesar ~73%
- Meta-analisis Mangtani et al. (CID, 2014): BCG memberikan perlindungan bermakna terhadap TB paru (efektivitas ~74%) pada uji klinis terkontrol
- BCG paling efektif untuk mencegah meningitis TB dan TB milier pada anak
Penting: Anak yang sudah mendapatkan BCG tetap perlu diperiksa bila mengalami gejala yang mengarah pada TB atau memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TB. BCG bukan perlindungan absolut.
Apakah Vaksin BCG Perlu Diulang?
Pada umumnya, BCG hanya diberikan satu kali. WHO tidak merekomendasikan revaksinasi BCG secara rutin, bahkan apabila bekas luka (scar) BCG tidak terbentuk setelah vaksinasi. Tidak munculnya scar BCG tidak selalu berarti vaksin gagal memberikan respons imun.
Reaksi Normal Setelah Vaksin BCG
Reaksi lokal di area suntikan adalah bagian normal dari respons imun terhadap vaksin BCG. Berikut urutan reaksi yang biasanya muncul:
Segera setelah suntikan (hari pertama): Area suntikan tampak normal, tidak ada reaksi langsung yang signifikan.
Minggu 1–2: Muncul benjolan kecil di lokasi suntikan disertai sedikit kemerahan.
Minggu 2–4: Benjolan berkembang menjadi luka kecil atau pustula (berisi cairan), ini adalah reaksi normal.
Minggu 4–8: Pustula mengering dan membentuk keropeng.
Bulan 2–3: Terbentuk bekas luka kecil (scar) yang permanen, ini adalah tanda vaksinasi telah memberikan respons.
Konsultasikan ke Dokter Jika Muncul: Pembengkakan yang sangat besar; nanah berlebihan; demam berkepanjangan; pembesaran kelenjar getah bening yang signifikan (terutama di ketiak). Jangan memencet, mengoleskan obat sembarangan, atau menutup luka terlalu rapat.
Siapa yang Tidak Boleh Mendapatkan Vaksin BCG?
Karena BCG adalah vaksin hidup yang dilemahkan, pemberiannya dikontraindikasikan pada kondisi tertentu:
Apa yang Harus Dilakukan Jika Jadwal BCG Terlewat?
Prinsip kunci: segera konsultasikan ke dokter, jangan menunggu atau menganggap sudah tidak bisa.
- Bawa buku KIA/catatan imunisasi anak ke fasilitas kesehatan.
- Informasikan usia anak, riwayat kontak dengan penderita TB, dan kondisi kesehatan anak kepada dokter.
- Dokter akan mengevaluasi apakah BCG bisa langsung diberikan atau perlu uji tuberkulin terlebih dahulu.
- Ikuti jadwal dan rekomendasi dokter, termasuk pemantauan reaksi lokal setelah vaksinasi.
Prinsip Imunisasi Kejar: Imunisasi yang terlambat diberikan tidak perlu diulang dari awal. Yang terpenting adalah mengejar dosis yang belum diberikan sesegera mungkin, bukan menganggap vaksinasi sudah tidak diperlukan (WHO, 2025; IDAI 2024).
FAQ seputar Vaksin BCG Terlambat
Q: BCG terlambat berapa bulan masih bisa diberikan?
A: Secara umum, vaksin BCG masih dapat diberikan melebihi jadwal idealnya (saat lahir). Untuk bayi di bawah 3 bulan, BCG biasanya masih bisa diberikan langsung setelah dokter memastikan tidak ada kontraindikasi. Untuk usia 3 bulan atau lebih, diperlukan uji tuberkulin terlebih dahulu. Konsultasikan dengan dokter untuk evaluasi yang sesuai usia dan kondisi anak spesifik.
Q: Bayi 2 bulan belum BCG, boleh divaksinasi sekarang?
A: Ya, bayi usia 2 bulan yang belum mendapatkan BCG umumnya masih bisa divaksinasi tanpa perlu uji tuberkulin terlebih dahulu, asalkan tidak ada kontraindikasi (seperti gangguan imun atau kontak erat dengan penderita TB aktif). Segera bawa ke fasilitas kesehatan dan informasikan riwayat kesehatan anak secara lengkap kepada dokter.
Q: Scar BCG tidak muncul, apakah harus diulang?
A: Tidak. WHO tidak merekomendasikan revaksinasi BCG hanya karena scar tidak terbentuk. Tidak munculnya scar tidak selalu berarti vaksin gagal memberikan respons imun. Dokter tidak perlu mengulang BCG berdasarkan absennya scar semata.
Q: Bayi yang sudah kontak dengan penderita TB, boleh langsung BCG?
A: Tidak langsung. WHO merekomendasikan agar TB pada bayi terlebih dahulu disingkirkan melalui evaluasi klinis dan pemeriksaan penunjang sebelum BCG diberikan. BCG ditunda selama proses skrining karena dapat memengaruhi interpretasi uji tuberkulin. Konsultasikan segera ke dokter.
Q: Apakah anak yang sudah BCG tidak bisa kena TB?
A: BCG memberikan perlindungan signifikan, terutama terhadap bentuk TB berat seperti meningitis TB dan TB milier, tetapi tidak memberikan perlindungan 100%. Anak yang sudah BCG tetap perlu diperiksa bila mengalami gejala yang mengarah ke TB atau memiliki riwayat kontak erat dengan penderita TB aktif.
Referensi:
1. World Health Organization. BCG vaccines: WHO position paper – February 2018. Weekly Epidemiological Record. 2018;93(8):73–96.
2. World Health Organization. WHO consolidated guidelines on tuberculosis: Module 5: Management of tuberculosis in children and adolescents. WHO; 2022.
3. World Health Organization. Recommendations for interrupted or delayed routine immunization: Summary of WHO Position Papers. WHO; 2025.
4. World Health Organization. Leave no one behind: Guidance for planning and implementing catch-up vaccination. WHO; 2021.
5. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jadwal Imunisasi Anak Usia 0–18 Tahun, Rekomendasi IDAI 2024. IDAI; 2024.
6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Tuberkulosis. Kemenkes RI; 2024.
7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Mitos dan Fakta Imunisasi. Ditjen Pelayanan Kesehatan; Kemenkes RI.
8. Mangtani P, Abubakar I, Ariti C, et al. Protection by BCG vaccine against tuberculosis: a systematic review of randomized controlled trials. Clinical Infectious Diseases. 2014;58(4):470–480.
9. Roy A, Eisenhut M, Harris RJ, et al. Effect of BCG vaccination against Mycobacterium tuberculosis infection in children: systematic review and meta-analysis. BMJ. 2014;349:g4643.




