
Rekomendasi Konseling Menyusui WHO: Prinsip, Bukti, dan Implikasi Klinis bagi Dokter Anak
30 Nov 2025

Author: dr. Afiah Salsabila
22 Jan 2026
Topik: Zat Besi, Remaja, Remaja Putri, Panduan
Latar Belakang
Anemia defisiensi besi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di berbagai negara, termasuk Indonesia, dengan prevalensi tinggi pada kelompok remaja putri. WHO melaporkan bahwa remaja putri dan perempuan usia reproduksi merupakan kelompok yang paling rentan mengalami anemia akibat kebutuhan zat besi yang meningkat, terutama berkaitan dengan pertumbuhan, menstruasi, serta persiapan menuju kehamilan di masa depan . (1,2) Di Indonesia, Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa anemia pada remaja putri tidak hanya berdampak pada kesehatan saat ini, tetapi juga berkontribusi terhadap risiko komplikasi kehamilan, persalinan, dan kelahiran bayi dengan berat lahir rendah di kemudian hari . (3)
Pada masa remaja, kebutuhan zat besi meningkat seiring dengan percepatan pertumbuhan dan maturasi seksual. Kehilangan darah akibat menstruasi menjadi faktor tambahan yang secara signifikan meningkatkan risiko defisiensi besi, terutama bila asupan nutrisi tidak memadai. Oleh karena itu, suplementasi zat besi pada remaja putri dipandang sebagai intervensi preventif penting untuk memutus siklus anemia lintas generasi dan meningkatkan kualitas kesehatan perempuan sejak usia dini . (1,3)
Faktor Risiko Anemia pada Remaja Putri
Anemia pada remaja putri bersifat multifaktorial. WHO menjelaskan bahwa faktor utama meliputi asupan zat besi yang tidak mencukupi, bioavailabilitas besi yang rendah dalam pola makan, peningkatan kebutuhan akibat pertumbuhan, serta kehilangan darah kronik selama menstruasi . (1) Faktor sosial dan perilaku juga berperan, seperti pola diet restriktif, kebiasaan melewatkan waktu makan, serta rendahnya konsumsi sumber besi heme.
Kementerian Kesehatan menambahkan bahwa anemia pada remaja putri memiliki implikasi jangka panjang, karena banyak remaja putri akan memasuki usia reproduksi dalam kondisi cadangan besi yang sudah rendah. Kondisi ini meningkatkan risiko anemia pada kehamilan, yang berhubungan dengan peningkatan morbiditas maternal dan neonatal . (3)
Rekomendasi WHO dan Kementerian Kesehatan
WHO merekomendasikan suplementasi zat besi pada remaja putri dan perempuan dewasa sebagai strategi pencegahan anemia. (1,2) Suplementasi harian umumnya diberikan dalam bentuk zat besi elemental dengan dosis rendah hingga sedang, terutama pada populasi dengan prevalensi anemia tinggi. Pendekatan ini efektif dalam meningkatkan kadar hemoglobin dan cadangan besi, namun dapat disertai efek samping gastrointestinal seperti mual, konstipasi, atau nyeri epigastrium, yang berpotensi menurunkan kepatuhan . (1)
Dosis yang direkomendasikan berdasarkan prevalensi anemia di suatu daerah. Daerah yang memiliki prevalensi anemia sebanyak > 20% pada perempuan di usia reproduktif yang sedang tidak hamil disarankan untuk mengimplementasikan strategi weekly iron and folate supplementation (WIFS) dengan dosis zat besi sebanyak 60 mg zat besi elemental, yang setara dengan 150–300 mg ferrous sulfate heptahydrate, 90–180 mg ferrous fumarate, atau 250–500 mg ferrous gluconate selama 3 bulan berturut-turut, kemudia diiukti 3 bulan tanpa suplementasi, dan lalu memulai ulang siklus tersebut sepanjang masih mengalami menstruasi. Namun, bagi area yang memiliki prevalensi anemia sebanyak >40% pada populasi tersebut, WHO merekomendasikan pemberian zat besi elemental sebanyak 30-60 mg per hari selama tiga bulan berturut-turut dan diikuti 3 bulan tanpa suplementasi, dan memulai ulang siklus tersebut. Pendekatan mingguan dinilai dapat diterima dengan baik, dengan efek samping yang lebih minimal dan kepatuhan yang lebih baik dalam program berbasis sekolah atau komunitas . (2) Prevalensi anemia di Indonesia mencapai 26,8% pada anak usia 5-14 tahun dan 32% pada usia 15-24 tahun (32%). Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan Indonesia mengadopsi pendekatan ini melalui program pemberian tablet tambah darah mingguan pada remaja putri, yang bertujuan menurunkan prevalensi anemia secara berkelanjutan. (3)
Kesimpulan
Anemia defisiensi besi pada remaja putri merupakan masalah kesehatan yang berdampak luas dan berjangka panjang. Pemberian suplementasi zat besi sejak usia remaja merupakan intervensi preventif yang penting untuk meningkatkan status gizi, mendukung kesehatan reproduksi, dan mempersiapkan kehamilan yang lebih aman di masa depan. Rekomendasi WHO dan Kementerian Kesehatan menekankan bahwa suplementasi mingguan merupakan strategi yang efektif, aman, dan dapat diterima untuk pencegahan anemia pada remaja putri, sementara suplementasi harian tetap memiliki peran pada kondisi tertentu. Dokter anak berperan penting dalam mengidentifikasi risiko, memberikan edukasi berbasis bukti, serta mendukung implementasi program suplementasi zat besi secara optimal dan berkelanjutan.
Daftar Pustaka

30 Nov 2025

8 Jan 2026

16 Feb 2026

26 Feb 2026