
Rekomendasi Konseling Menyusui WHO: Prinsip, Bukti, dan Implikasi Klinis bagi Dokter Anak
30 Nov 2025

Author: dr. Afiah Salsabila
16 Feb 2026
Topik: Panduan, Panduan MPASI, WHO
Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) merupakan salah satu intervensi nutrisi paling krusial dalam 1.000 hari pertama kehidupan. Waktu pengenalan makanan pendamping yang tidak tepat, baik terlalu dini maupun terlambat, berpotensi berdampak pada status gizi, pertumbuhan, dan kesehatan jangka panjang anak. World Health Organization (WHO) dalam pedoman terbarunya menekankan bahwa MPASI sebaiknya dimulai pada usia 6 bulan (180 hari) sambil melanjutkan pemberian ASI. Rekomendasi ini merupakan anjuran untuk kesehatan masyarakat global. (1) Namun, mengapa demikian?
Rekomendasi WHO tentang Usia Pengenalan MPASI
WHO merekomendasikan bahwa bayi diperkenalkan dengan makanan pendamping pada usia 6 bulan karena pada usia tersebut ASI atau susu formula saja tidak lagi mencukupi kebutuhan energi dan mikronutrien bayi yang sedang tumbuh pesat, khususnya zat besi. Pada usia ini, kapasitas gastrointestinal bayi telah memadai untuk menerima makanan padat, dan risiko infeksi akibat paparan makanan dapat diminimalkan apabila praktik kebersihan pangan dijalankan dengan baik.
Sebaliknya, berbagai tinjauan sistematis menunjukkan bahwa introduksi MPASI sebelum usia 4 bulan berkaitan dengan sejumlah risiko yang meliputi peningkatan morbiditas akibat penyakit gastrointestinal di lingkungan dengan sanitasi yang kurang baik, kualitas nutrisi makanan pendamping yang lebih rendah dibandingkan ASI, ketidaksiapan perkembangan untuk menerima makanan, serta potensi peningkatan risiko obesitas. Walaupun demikian, WHO juga mengakui bahwa sebagian kecil bayi mungkin memperoleh manfaat dari pengenalan MPASI yang sedikit lebih awal, namun menekankan bahwa kondisi tersebut perlu dinilai secara individual dan tidak mengubah rekomendasi populasi secara umum. Kekhawatiran ibu terhadap kecukupan ASI seharusnya ditangani terlebih dahulu dengan dukungan laktasi yang adekuat, bukan dengan mempercepat pemberian makanan pendamping. (1)
Zat besi menjadi perhatian utama dalam diskusi mengenai timing complementary feeding. Meskipun zat besi dalam ASI memiliki bioavailabilitas tinggi, beberapa kelompok bayi memiliki risiko lebih besar mengalami defisiensi besi, terutama bayi prematur, bayi berat lahir rendah, bayi dari ibu dengan anemia selama kehamilan, atau bayi yang mengalami penjepitan tali pusat dini. Bukti menunjukkan bahwa introduksi dini makanan pendamping, bahkan yang difortifikasi zat besi, tidak secara efektif mencegah anemia defisiensi besi pada populasi berisiko tinggi tersebut. Oleh karena itu, WHO merekomendasikan suplementasi besi enteral secara terarah pada bayi prematur atau berat lahir rendah yang mendapat ASI, serta mendorong praktik delayed cord clamping pada semua bayi baru lahir sebagai strategi pencegahan primer defisiensi besi. (1)
Baca: Panduan Pemberian Suplementasi Zat Besi pada Anak Menurut Pedoman WHO
Isu gangguan pertumbuhan merupakan salah satu perhatian utama dalam penentuan waktu yang optimal untuk pengenalan MPASI. Sebagian besar bukti menunjukkan bahwa introduksi makanan pendamping sekitar usia 6 bulan tidak berkaitan dengan peningkatan risiko stunting, wasting, maupun gangguan pertumbuhan lainnya. Pedoman WHO tahun 2023 melaporkan bahwa analisis yang mencakup sembilan uji klinis acak dan hampir dua ratus studi observasional dengan total lebih dari 800.000 anak menunjukkan bahwa pemberian makanan pendamping yang difortifikasi besi pada usia ≤4 bulan dibandingkan usia 6 bulan tidak menghasilkan perbedaan bermakna pada panjang badan, berat badan, lingkar kepala, maupun indikator obesitas. Studi observasional juga menunjukkan bahwa introduksi MPASI sebelum usia 6 bulan tidak berhubungan dengan stunting atau wasting, meskipun pada beberapa analisis ditemukan sinyal peningkatan indeks massa tubuh dan kombinasi overweight–obesitas. Namun, perlu dicatat bahwa penelitian ini juga menemukan bahwa pengenalan MPASI yang terlambat, yaitu setelah usia 6 bulan, dikaitkan dengan asupan zat besi yang tidak adekuat serta, pada beberapa studi, menyebabkan peningkatan risiko diare dan panjang badan yang sedikit lebih rendah. Temuan-temuan ini menegaskan bahwa usia 6 bulan merupakan titik keseimbangan antara manfaat dan potensi risiko. (1)
Respon Organisasi Kesehatan Lainnya
Publikasi panduan WHO ini menuai respon dari berbagai organisasi kesehatan dunia. Menurut position statement yang disusun oleh berbagai ikatan profesi medis di dunia seperti European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology & Nutrition (ESPGHAN), European Academy of Paediatrics (EAP), European Academy for Allergy and Clinical Immunology (EAACI), terhadap pedoman MPASI dari WHO yang terbaru, rekomendasi yang diberikan belum mempertimbangkan faktor-faktor penting seperti kesiapan bayi dalam menerima MPASI dan penentuan waktu introduksi makanan alergenik. belum sepenuhnya mempertimbangkan faktor lain yang relevan, seperti kesiapan perkembangan bayi dan waktu pengenalan makanan alergenik.
Menurut position paper tersebut, pernyataan WHO yang menyebutkan bahwa kemampuan duduk tanpa bantuan mencerminkan kematangan gastrointestinal, ginjal, dan sistem imun, sehingga menjadi tanda kesiapan MPASI, tidak didukung oleh bukti kua. Walaupun kemampuan-kemampuan tersebut penting untuk konsumsi finger foods tetapi bukan merupakan menjadi prasyarat untuk konsumsi makanan lumat. Selain itu, beban penyakit alergi anak terus meningkat, sementara randomized-controlled studies menunjukkan bahwa pengenalan dini makanan alergenik pada usia 4–6 bulan, dengan tetap melanjutkan pemberian ASI, dapat menurunkan risiko alergi makanan tanpa mengurangi durasi menyusui.belum dibahas secara mendalam. Meskipun demikian, WHO secara eksplisit menyatakan bahwa rekomendasi usia 6 bulan bersifat populasi dan tidak meniadakan pendekatan individual berbasis penilaian klinis. Dengan demikian, pada praktik klinis, dokter anak tetap memegang peran kunci dalam mengevaluasi kesiapan bayi secara menyeluruh, termasuk status pertumbuhan, risiko defisiensi besi, dan konteks lingkungan. (2)
Sebagai kesimpulan, bukti ilmiah terkini mendukung bahwa pengenalan complementary feeding pada usia 6 bulan adalah waktu yang adekuat dan aman bagi sebagian besar bayi, tanpa meningkatkan risiko stunting, wasting, maupun gangguan pertumbuhan lainnya. Pemberian CF yang terlalu dini tidak memberikan manfaat tambahan yang konsisten, sementara keterlambatan justru berpotensi menimbulkan kekurangan zat gizi esensial, khususnya zat besi. Bagi dokter anak di Indonesia, rekomendasi WHO ini dapat dijadikan landasan praktik klinis dan edukasi orang tua, dengan tetap mempertimbangkan evaluasi individual dan intervensi tambahan yang berbasis risiko.
Daftar Pustaka

30 Nov 2025

8 Jan 2026

22 Jan 2026

26 Feb 2026