
Tatalaksana Possible Serious Bacterial Infection pada Anak Menurut WHO

dr. Afiah Salsabila
13 Sep 2025

Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
31 Mei 2026
Topik: Tenggelam, Ilmiah
Tenggelam masih menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat cedera pada anak di seluruh dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan lebih dari 300.000 kematian akibat tenggelam terjadi setiap tahun, dengan proporsi besar terjadi pada populasi anak dan remaja. Anak usia balita dan usia sekolah awal menjadi kelompok yang paling rentan karena keterbatasan kemampuan berenang, pengawasan yang kurang optimal, dan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap lingkungan air. (1)
Pada kasus tenggelam anak, tata laksana pra-rumah sakit dan resusitasi awal sangat menentukan luaran pasien. Namun, setelah pasien tiba di fasilitas kesehatan, tantangan berikutnya adalah menangani komplikasi sistemik akibat hipoksia, aspirasi cairan, gangguan ventilasi, hingga disfungsi multiorgan. Oleh karena itu, tata laksana in hospital memegang peran penting dalam menurunkan mortalitas dan mencegah cedera neurologis jangka panjang. (1,2)
Penilaian awal di rumah sakit tetap mengikuti pendekatan airway, breathing, circulation, disability, dan exposure (ABCDE). Fokus utama adalah memastikan oksigenasi dan ventilasi adekuat karena penyebab utama kematian pada tenggelam adalah hipoksia. Anak yang sadar dengan saturasi oksigen baik dapat diberikan oksigen suplementasi dan observasi ketat. Namun, pada pasien dengan distres napas, hipoksemia, atau penurunan kesadaran, diperlukan intervensi jalan napas yang lebih agresif. (1)
Aspirasi cairan dapat menyebabkan kerusakan surfaktan alveolus, atelektasis, edema paru nonkardiogenik, hingga acute respiratory distress syndrome (ARDS). Karena itu, ventilasi mekanik sering kali diperlukan pada kasus sedang hingga berat. Strategi ventilasi protektif paru dianjurkan untuk meminimalkan ventilator-induced lung injury. Positive end-expiratory pressure (PEEP) membantu mempertahankan rekrutmen alveolus dan memperbaiki oksigenasi. (1,2)
Pemeriksaan gas darah penting dilakukan untuk menilai derajat hipoksia, hiperkapnia, dan asidosis metabolik. Hipoksia berat yang berlangsung lama berkaitan erat dengan prognosis neurologis buruk. Selain itu, pemantauan saturasi oksigen kontinu, elektrokardiografi, tekanan darah, dan suhu tubuh harus dilakukan secara serial selama fase akut. (1)
Hipotermia sering ditemukan pada korban tenggelam, terutama bila pajanan terjadi pada air dingin. Rewarming dilakukan secara bertahap menggunakan selimut hangat, cairan intravena hangat, atau perangkat pemanas aktif pada kasus hipotermia sedang hingga berat. Namun, hipertermia pascaresusitasi juga perlu dihindari karena dapat memperburuk cedera neurologis sekunder. (2)
Gangguan neurologis merupakan komplikasi utama pada pasien tenggelam. Penilaian status neurologis serial menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS) penting dilakukan selama perawatan. Kejang dapat terjadi akibat hipoksia serebral dan harus ditangani sesuai protokol standar. Pada pasien dengan penurunan kesadaran berat atau tanda peningkatan tekanan intrakranial, konsultasi intensif pediatrik dan neurologi perlu dipertimbangkan sejak dini. (1)
Pemeriksaan radiologi toraks dapat menunjukkan infiltrat bilateral, edema paru, atau aspirasi. Namun, gambaran foto toraks awal tidak selalu berkorelasi dengan derajat klinis pasien. Oleh karena itu, keputusan rawat inap sebaiknya lebih didasarkan pada kondisi respirasi dan neurologis pasien dibanding temuan radiologis semata. (2)
Penggunaan antibiotik profilaksis secara rutin tidak direkomendasikan pada korban tenggelam. Antibiotik hanya diberikan bila terdapat tanda infeksi, aspirasi cairan yang sangat terkontaminasi, atau bukti pneumonia. Demikian pula, kortikosteroid tidak terbukti memberikan manfaat rutin pada tata laksana tenggelam. (1) Alur tata laksana tenggelam, termasuk indikasi dan dosis antibiotik secara lebih rinci telah digambarkan dalam flowchart yang disusun oleh Children’s Health Queensland. (4)
Gambar 1. Alur Tata Laksana Tenggelam In-Hospital dari Children’s Health Queensland. (4)
Salah satu pertanyaan yang masih sering muncul dalam praktik klinis adalah apakah terdapat perbedaan signifikan antara tenggelam di air tawar dan air laut. Secara historis, keduanya dianggap memiliki mekanisme patofisiologi berbeda akibat perbedaan osmolaritas cairan. Aspirasi air tawar dahulu dipercaya menyebabkan hemodilusi dan gangguan elektrolit, sedangkan air laut dikaitkan dengan perpindahan cairan ke alveolus akibat sifat hipertonik. Namun, bukti terkini menunjukkan bahwa perbedaan tersebut umumnya tidak bermakna secara klinis karena volume cairan yang teraspirasi biasanya relatif kecil. (3)
Baik pada air tawar maupun air laut, mekanisme utama cedera tetap berupa hipoksia akibat gangguan ventilasi dan aspirasi cairan. Oleh karena itu, tata laksana modern lebih berfokus pada stabilisasi respirasi, oksigenasi, dan dukungan organ dibanding membedakan jenis air tempat tenggelam terjadi. Meski demikian, tenggelam di air laut dapat lebih sering menyebabkan edema paru akibat efek hipertonik, sementara air tawar kadang dikaitkan dengan kerusakan surfaktan yang lebih cepat. Akan tetapi, secara praktis pendekatan resusitasi dan tata laksananya tetap serupa. (1,3)
Luaran pasien tenggelam sangat dipengaruhi oleh durasi submersi, waktu hingga resusitasi dimulai, dan derajat hipoksia awal. Anak yang mengalami henti jantung berkepanjangan atau GCS sangat rendah setelah resusitasi memiliki risiko lebih tinggi mengalami cedera neurologis permanen. Karena itu, observasi ketat dan evaluasi neurologis serial menjadi bagian penting dalam tata laksana rumah sakit. (2)
Pada akhirnya, tata laksana tenggelam in hospital pada anak memerlukan pendekatan multidisiplin yang menitikberatkan pada stabilisasi respirasi, pemantauan neurologis, serta pencegahan komplikasi sekunder. Meskipun terdapat perbedaan teoritis antara tenggelam di air tawar dan air laut, prinsip tata laksana modern tetap berfokus pada koreksi hipoksia dan dukungan organ secara optimal. Diagnosis dan intervensi dini tetap menjadi faktor terpenting dalam memperbaiki prognosis pasien anak dengan tenggelam.
Referensi


dr. Afiah Salsabila
13 Sep 2025


Tim Editorial PrimaPro
21 Jan 2026


dr. Afiah Salsabila
29 Jan 2026


dr. Afiah Salsabila
19 Feb 2026