
Webinar PrimaPro Soroti Tantangan Diagnosis dan Penatalaksanaan Asma pada Anak

Tim Editorial PrimaPro
20 Jun 2025

Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
16 Jun 2026
Topik: Liputan, Webinar
Jakarta, 10 Juni 2026 – PrimaPro kembali menyelenggarakan webinar ilmiah bertajuk “Advancing Protection Against Measles and Pertussis in the Modern Era” yang diikuti oleh dokter umum dan dokter spesialis anak dari berbagai wilayah di Indonesia. Webinar ini menghadirkan dua narasumber, yaitu dr. Riyadi, Sp.A., Subsp.IPT, M.Kes yang membahas perlindungan komprehensif terhadap campak melalui vaksin MMR, serta dr. Inke Nadia Diniyanti Lubis, PGDip PID, M.Ked(Ped)., Sp.A., Ph.D yang mengulas perkembangan terkini mengenai pertusis dan peran pertactin dalam perlindungan imun.
Pada sesi pertama, dr. Riyadi menyoroti bahwa campak masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat global. Berdasarkan data WHO periode Agustus 2025 hingga Januari 2026, Indonesia termasuk negara dengan jumlah kasus campak tertinggi di dunia dengan sekitar 8.892 kasus yang dilaporkan. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun campak dapat dicegah dengan vaksinasi, risiko penularan masih tetap tinggi apabila cakupan imunisasi tidak optimal.
Beliau menjelaskan bahwa campak bukan sekadar penyakit yang menyebabkan ruam dan demam, tetapi dapat menimbulkan komplikasi serius seperti pneumonia, diare berat, ensefalitis, kebutaan, hingga kematian. Selain itu, infeksi campak juga dapat menyebabkan immune amnesia, yaitu penurunan memori imun yang membuat seseorang lebih rentan terhadap infeksi lain setelah sembuh dari campak.
Dalam paparannya, dr. Riyadi menekankan pentingnya vaksinasi MMR secara lengkap dan tepat waktu. Antibodi maternal terhadap campak, gondongan, dan rubella akan menurun seiring bertambahnya usia bayi, sehingga perlindungan aktif melalui imunisasi menjadi sangat penting. Data yang dipresentasikan menunjukkan bahwa sebagian besar bayi telah kehilangan perlindungan antibodi maternal terhadap campak pada usia sekitar 9–10 bulan, sehingga vaksinasi campak sejak usia 9 bulan memiliki peran penting dalam memberikan perlindungan dini. Menurut rekomendasi Ikatan Dokter Anak IndonesiaI, MMR dapat diberikan dari usia 12 bulan. Namun demikian, strain Schwarz telah mendapatkan izin BPOM untuk diberikan sejak usia 9 bulan, dan dapat diberikan khususnya jika anak berada di daerah risiko tinggi (KLB atau berpergian ke daerah endemik).
Selain melindungi anak, cakupan vaksinasi MMR yang tinggi juga berperan dalam melindungi remaja, orang dewasa, dan tenaga kesehatan melalui terbentuknya perlindungan komunitas (community protection). Oleh karena itu, upaya meningkatkan cakupan dan ketepatan waktu imunisasi menjadi salah satu strategi utama dalam mencegah terjadinya wabah campak di masa mendatang.
Sementara itu, pada sesi kedua, dr. Inke membahas beban penyakit pertusis yang masih menjadi tantangan kesehatan global maupun nasional. Beliau memaparkan bahwa Indonesia mengalami peningkatan kasus pertusis yang signifikan pada tahun 2023 dengan lebih dari 2.000 kasus dilaporkan di 30 dari 38 provinsi. Sebagian besar kasus terjadi pada kelompok yang belum mendapatkan vaksinasi, dengan proporsi tertinggi pada bayi berusia kurang dari satu tahun.
Dr. Inke menjelaskan bahwa salah satu faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya wabah pertusis adalah menurunnya kekebalan seiring waktu (waning immunity), cakupan vaksinasi yang belum optimal, serta tingginya kemampuan penularan Bordetella pertussis. Risiko komplikasi dan kematian akibat pertusis diketahui paling tinggi pada bayi usia di bawah tiga bulan, sehingga pencegahan melalui imunisasi menjadi sangat penting.
Dalam pembahasan ilmiah mengenai vaksin pertusis, beliau mengulas peran pertactin (PRN), yaitu protein permukaan bakteri yang berperan dalam proses adhesi dan penghindaran sistem imun. Antibodi terhadap pertactin diketahui dapat membantu proses opsonisasi dan eliminasi bakteri secara lebih efektif. Beberapa data yang dipresentasikan juga menunjukkan bahwa vaksin aseluler yang mengandung pertactin memiliki efektivitas yang lebih baik dibandingkan vaksin yang tidak mengandung komponen tersebut dalam mencegah pertusis.
Selain itu, dr. Inke menyoroti bahwa strategi pengendalian pertusis tidak hanya bergantung pada cakupan vaksinasi, tetapi juga pada ketepatan waktu pemberian imunisasi. Menurutnya, dampak program imunisasi sangat dipengaruhi oleh dua aspek utama, yaitu coverage dan timeliness, sehingga keterlambatan pemberian vaksin dapat mengurangi perlindungan optimal pada kelompok yang paling rentan.
Melalui webinar ini, peserta memperoleh pembaruan ilmiah mengenai situasi terkini campak dan pertusis, pentingnya cakupan imunisasi yang tinggi, serta perkembangan bukti ilmiah terkait komponen antigen pada vaksin. Diskusi tersebut kembali menegaskan bahwa imunisasi yang lengkap dan tepat waktu tetap menjadi salah satu intervensi kesehatan masyarakat paling efektif untuk melindungi anak dari penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin.


Tim Editorial PrimaPro
20 Jun 2025


Tim Editorial PrimaPro
24 Nov 2025


dr. Afiah Salsabila
14 Mar 2026


dr. Afiah Salsabila
21 Apr 2026