
7 Strategi Mendisiplinkan Anak, Sudah Coba MomDad?

Radhita Rara / dr. Dini Astuti Mirasanti Sp.A (Editor)
23 Jul 2022

Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
22 Sep 2025
Topik: helmintiasis, Askariasis, Cacing Gelang, Cacingan, Obat Cacing, Guideline
Kasus cacingan kembali menjadi sorotan publik di Indonesia. Baru-baru ini, dua anak kakak beradik di Kabupaten Seluma, Bengkulu, masing-masing berusia 1 tahun 8 bulan dan 4 tahun, mengalami infestasi cacing usus berat. Salah satu anak harus dirawat intensif karena gejala demam, sesak, dan keluarnya cacing dari hidung serta feses. Peristiwa ini mengingatkan pada kasus serupa di Sukabumi yang sempat menggemparkan masyarakat. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menegaskan bahwa kasus berulang ini menuntut keseriusan negara dalam pencegahan, baik melalui penguatan program kesehatan maupun pola pengasuhan keluarga. Kementerian Kesehatan pun mengonfirmasi bahwa investigasi lapangan sedang dilakukan dan kasus ini dijadikan evaluasi lintas sektor, khususnya terkait efektivitas program, lingkungan, dan pemantauan kesehatan anak.
Beban Penyakit
Cacingan atau soil-transmitted helminthiasis (STH) disebabkan oleh cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura), dan cacing tambang (Ancylostoma duodenale, Necator americanus). Penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara tropis, termasuk Indonesia, terutama di daerah dengan sanitasi rendah. Anak-anak merupakan kelompok paling rentan karena kebiasaan higienitas yang belum berkembang optimal. Infeksi kronik dapat menimbulkan anemia defisiensi besi, gangguan pertumbuhan, stunting, hingga penurunan performa kognitif. Pada infestasi berat, komplikasi serius seperti obstruksi usus atau migrasi cacing ke saluran pernapasan dapat terjadi. (1,2)
Tatalaksana
Pedoman WHO 2017 merekomendasikan pemberian obat anthelmintik sebagai terapi lini pertama. Albendazol dosis tunggal 400 mg atau mebendazol dosis tunggal 500 mg efektif membasmi sebagian besar STH. Pyrantel pamoat dengan dosis 10 mg/kgBB menjadi alternatif, khususnya pada anak kecil. Efektivitas obat sangat tinggi untuk Ascaris dan hookworm, meskipun lebih rendah terhadap Trichuris sehingga terkadang dibutuhkan dosis berulang atau terapi kombinasi. (1)
Permenkes No. 15 Tahun 2017 selaras dengan rekomendasi WHO dalam hal pilihan obat. Permenkes menyebutkan albendazol 400 mg dosis tunggal atau mebendazol 500 mg dosis tunggal sebagai obat utama, dengan keamanan yang baik pada anak usia ≥12 bulan. Kesamaan ini memperkuat bahwa standar internasional telah diadopsi di Indonesia. (3)
Efek samping obat relatif ringan, meliputi mual, nyeri perut, dan diare, yang biasanya hilang spontan. Pada infestasi berat, reaksi gastrointestinal dapat lebih berat akibat kematian cacing dalam jumlah banyak. Dalam kasus demikian, penatalaksanaan suportif termasuk hidrasi, analgesia, dan monitoring rumah sakit perlu dilakukan. (1,3)
Pada kondisi komplikasi seperti obstruksi usus, tatalaksana operatif harus dipertimbangkan. Manajemen preoperatif mencakup stabilisasi cairan dan koreksi elektrolit, sedangkan pascaoperatif pasien tetap memerlukan terapi anthelmintik untuk mencegah reinfeksi. (2,3)
Strategi Preventif
Pencegahan merupakan strategi utama menurunkan prevalensi cacingan. WHO menganjurkan pemberian obat pencegahan massal (preventive chemotherapy) secara periodik pada kelompok berisiko tinggi, yakni anak usia prasekolah (1–4 tahun), anak usia sekolah (5–14 tahun), serta wanita usia subur termasuk ibu hamil pada trimester kedua dan ketiga. Pemberian obat dianjurkan 1–2 kali per tahun tergantung prevalensi lokal. (1)
Permenkes 15/2017 menegaskan program pemberian obat massal di Indonesia dilaksanakan 2 kali per tahun pada anak usia sekolah dan prasekolah, dengan sasaran minimal 85% populasi target. Ibu hamil pada trimester kedua dan ketiga juga direkomendasikan mendapat obat cacing, sesuai keselarasan dengan panduan WHO. Namun, perbedaan terletak pada aspek teknis: Permenkes menekankan integrasi dengan program lintas sektor seperti pendidikan, sanitasi, dan gizi, serta adanya tanggung jawab pemerintah daerah dalam pendanaan dan distribusi obat. (3)
Upaya preventif tidak cukup dengan pemberian obat saja. WHO dan Permenkes sama-sama menekankan pentingnya intervensi perilaku dan lingkungan. Penyediaan air bersih, pembangunan jamban sehat, serta edukasi kebersihan diri seperti mencuci tangan dengan sabun dan menggunakan alas kaki adalah pilar pencegahan yang fundamental. Edukasi kepada orang tua menjadi bagian integral, mengingat pola pengasuhan yang buruk berkontribusi besar terhadap kejadian cacingan. (1,3)
Integrasi dengan Program Gizi dan Kesehatan Anak
WHO menekankan hubungan erat cacingan dengan stunting dan anemia, sehingga merekomendasikan integrasi program deworming dengan suplementasi zat besi dan vitamin A. (1) Permenkes juga menyebutkan bahwa program pemberian obat cacing di Indonesia dilaksanakan bersamaan dengan program kesehatan anak lainnya, misalnya Bulan Penimbangan Balita dan program UKS. Hal ini menunjukkan harmonisasi strategi global dan nasional yang diharapkan mampu memperbaiki status gizi sekaligus menurunkan prevalensi cacingan. (3)
Kesimpulan
Kasus cacingan berat yang kembali terjadi di Bengkulu memperlihatkan bahwa penyakit yang dapat dicegah ini masih menjadi masalah nyata di Indonesia. Tatalaksana utama tetap berupa pemberian obat anthelmintik seperti albendazol dan mebendazol, dengan keamanan dan efektivitas yang telah terbukti. Pada kasus dengan komplikasi, pendekatan operatif mungkin diperlukan dengan manajemen pre dan post operatif sesuai standar. Strategi preventif berbasis komunitas, berupa pemberian obat massal, perbaikan sanitasi, edukasi higienitas, dan integrasi dengan program gizi, merupakan kunci utama pengendalian penyakit.
WHO dan Permenkes RI memiliki keselarasan dalam banyak aspek, terutama dalam pemilihan obat, kelompok sasaran, serta frekuensi pemberian obat. Perbedaan lebih terletak pada aspek implementasi teknis, di mana Permenkes menekankan integrasi program lintas sektor dan peran pemerintah daerah. Dengan kolaborasi kuat antara standar global dan kebijakan nasional, dokter anak di Indonesia memiliki peran sentral dalam memastikan program berjalan efektif, baik dalam aspek terapi maupun pencegahan jangka panjang.
Referensi


Radhita Rara / dr. Dini Astuti Mirasanti Sp.A (Editor)
23 Jul 2022


Dhia Priyanka / dr. Lucyana Alim Santoso, Sp.A (Editor)
30 Mar 2023


dr. Afiah Salsabila
25 Jan 2024


Editorial Primaku
10 Mei 2024