26 Agustus 2026
Sumber Zat Besi untuk MPASI yang Baik untuk Bayi
Ditulis oleh

Dhia Priyanka
Topik: Zat Besi, kebutuhan zat besi bayi, makanan tinggi zat besi bayi, zat besi untuk MPASI
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Dini Mirasanti, Sp.A.
Sumber zat besi perlu menjadi bagian penting MPASI sejak bayi mulai makan sekitar usia 6 bulan. IDAI menyebut kebutuhan zat besi bayi usia 6-12 bulan mencapai sekitar 11 mg per hari, sedangkan ASI saja tidak lagi mampu memenuhi seluruh kebutuhan tersebut. Zat besi membantu pembentukan hemoglobin, mendukung perkembangan otak, fungsi kekebalan tubuh, pertumbuhan, perhatian, dan kemampuan belajar. Artikel ini membantu Ayah dan Bunda memilih makanan kaya zat besi, mengombinasikannya agar lebih mudah diserap, dan mengenali kapan bayi perlu berkonsultasi dengan dokter.
Mengapa Zat Besi Penting dalam MPASI?
Sebagian besar bayi lahir dengan cadangan zat besi yang membantu memenuhi kebutuhan pada bulan-bulan pertama kehidupan. Namun, cadangan tersebut berangsur berkurang. Sekitar usia 6 bulan, pertumbuhan berlangsung cepat dan kebutuhan zat besi meningkat, sehingga bayi memerlukan sumber zat besi dari luar ASI.
Zat besi merupakan komponen hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh. Mineral ini juga berperan dalam perkembangan saraf dan fungsi imun. Kekurangan zat besi yang berlanjut dapat berkembang menjadi anemia defisiensi besi. CDC mengingatkan bahwa bayi dan anak dengan anemia defisiensi besi dapat mengalami kesulitan belajar.
WHO merekomendasikan MPASI dimulai sekitar usia 6 bulan sambil melanjutkan pemberian ASI. Pada periode 6-23 bulan, makanan perlu padat gizi dan semakin bervariasi, termasuk bahan pangan hewani seperti daging, unggas, ikan, telur, dan produk susu yang sesuai usia.
Berapa Kebutuhan Zat Besi Bayi?
IDAI mencantumkan kebutuhan zat besi sekitar 11 mg per hari untuk bayi usia 6-12 bulan dan 7 mg per hari untuk anak usia 1-3 tahun. Angka tersebut adalah kebutuhan harian total, bukan jumlah suplemen yang boleh diberikan sendiri. Kebutuhan individual dapat berbeda pada bayi prematur, berat lahir rendah, kembar, atau bayi dengan kondisi kesehatan tertentu.
PENTING
Jangan menghitung kebutuhan zat besi hanya dari satu bahan makanan atau memberikan tetes zat besi tanpa arahan. Dokter akan mempertimbangkan usia, berat badan, pola minum, riwayat lahir, hasil pemeriksaan, dan jumlah zat besi dari makanan atau formula.
Sumber Zat Besi yang Baik untuk MPASI
Zat besi dalam makanan terdiri atas zat besi heme dan non-heme. Zat besi heme berasal terutama dari pangan hewani dan umumnya lebih mudah diserap. Zat besi non-heme terdapat dalam pangan nabati serta makanan fortifikasi; penyerapannya lebih dipengaruhi oleh komposisi makanan.
Catatan: Kandungan zat besi berbeda menurut jenis bahan, potongan, metode pengolahan, dan merek produk. Tabel ditujukan sebagai panduan pilihan, bukan perhitungan dosis.
Cara Membantu Penyerapan Zat Besi
- Pasangkan sumber zat besi non-heme dengan vitamin C. Contohnya daging dan tomat, bubur kacang dengan pepaya, atau tahu dengan brokoli. Vitamin C membantu tubuh menyerap zat besi non-heme.
- Sertakan sumber hewani bila keluarga mengonsumsinya. Daging, ayam, ikan, dan telur menambah zat besi yang lebih mudah diserap sekaligus protein berkualitas.
- Hindari teh untuk bayi. Teh mengandung senyawa yang dapat menghambat penyerapan zat besi dan tidak diperlukan dalam pola makan bayi.
- Jangan biarkan susu menggantikan makanan utama. ASI atau formula tetap penting, tetapi setelah usia 6 bulan bayi juga membutuhkan MPASI padat gizi sesuai jadwal dan kesiapan makannya.
- Pilih tekstur yang sesuai perkembangan. Bahan kaya zat besi harus dibuat aman ditelan tanpa selalu disaring sangat encer karena makanan yang terlalu encer memiliki kepadatan zat gizi lebih rendah.
Contoh di atas bukan resep dengan takaran baku. Sesuaikan tekstur, porsi, frekuensi, alergi, kebiasaan keluarga, dan kemampuan makan bayi. Kenalkan satu per satu bahan yang berpotensi memicu alergi dan amati reaksinya sesuai arahan tenaga kesehatan.
Siapa yang Lebih Berisiko Kekurangan Zat Besi?
Berikut adalah kelompok yang perlu membicarakan kebutuhan skrining atau suplementasi dengan dokter:
- Bayi lahir prematur atau memiliki berat lahir rendah.
- Bayi kembar atau mengalami pertumbuhan sangat cepat.
- Bayi yang terutama mendapat ASI tetapi jarang memperoleh MPASI kaya zat besi setelah usia 6 bulan.
- Bayi atau batita yang banyak minum susu sehingga porsi makanan padat berkurang.
- Anak dengan pola makan sangat terbatas, gangguan penyerapan, kehilangan darah, atau penyakit kronis tertentu.
CDC menyebutkan bahwa penilaian anemia sering dilakukan sekitar usia 12 bulan, tetapi waktu pemeriksaan dapat berbeda sesuai risiko dan kebijakan setempat.
Tanda Kekurangan Zat Besi pada Bayi
Kekurangan zat besi ringan dapat tidak menimbulkan tanda yang jelas. Ketika anemia berkembang, anak dapat tampak pucat, mudah lelah, kurang aktif, sulit makan, atau mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Gejala tersebut tidak khusus untuk anemia sehingga diagnosis memerlukan pemeriksaan tenaga kesehatan dan, bila diperlukan, tes darah.
KAPAN PERLU BERKONSULTASI?
Bicarakan dengan dokter bila bayi lahir prematur/BBLR, sulit makan, tampak pucat atau sangat lemas, pertumbuhannya tidak sesuai, hanya menerima sedikit sumber zat besi, atau orang tua mempertimbangkan suplemen. Jangan menunggu sampai gejala berat.
FAQ tentang Sumber Zat Besi untuk MPASI
Q: Apa sumber zat besi terbaik untuk MPASI?
A: Daging merah merupakan salah satu sumber zat besi heme yang baik dan mudah diserap. Ayam, ikan, telur, hati dalam porsi wajar, sereal fortifikasi, tahu, tempe, kacang, lentil, dan sayuran hijau dapat membantu membentuk pola makan yang bervariasi.
Q: Apakah Hati Ayam Baik untuk Bayi?
A: Hati ayam merupakan sumber zat besi yang padat dan dapat menjadi bagian dari MPASI. Namun, hati juga sangat kaya vitamin A. Sajikan sebagai variasi dalam porsi wajar, bukan satu-satunya sumber zat besi setiap hari. Gunakan bahan segar, masak hingga matang, dan konsultasikan frekuensinya bila bayi memiliki kondisi khusus.
Q: Berapa kali bayi perlu mendapat makanan kaya zat besi?
A: IDAI menyarankan makanan tinggi zat besi minimal dua kali sehari. Dalam praktik, memasukkan sumber zat besi pada setiap menu utama dapat membantu, tetapi porsi dan frekuensi perlu disesuaikan dengan usia, kemampuan makan, serta saran dokter.
Q: Apakah Bayam Cukup untuk Memenuhi Zat Besi?
A: Bayam mengandung zat besi non-heme, tetapi tubuh menyerapnya lebih rendah dibandingkan zat besi heme. IDAI mencatat penyerapan dari sumber nabati sekitar 3-8%, sedangkan sumber hewani dapat mencapai sekitar 23%. Karena itu, jangan mengandalkan bayam saja. Kombinasikan dengan protein hewani atau pangan fortifikasi serta makanan kaya vitamin C.
Q: Apakah bayi vegetarian bisa mendapat cukup zat besi?
A: Bisa, tetapi perlu perencanaan lebih cermat karena zat besi non-heme lebih sulit diserap. Gunakan kacang, lentil, tahu, tempe, sereal fortifikasi, serta vitamin C, dan diskusikan kebutuhan pemeriksaan atau suplemen dengan dokter atau ahli gizi.
Q: Apakah hati ayam boleh diberikan setiap hari?
A: Hati ayam kaya zat besi tetapi juga tinggi vitamin A. Gunakan sebagai variasi dalam porsi wajar, bukan satu-satunya sumber zat besi harian. Variasikan dengan daging, ikan, telur, kacang, tahu, tempe, dan pangan fortifikasi.
Q: Apakah bayi perlu suplemen zat besi?
A: Tidak semua bayi membutuhkan dosis yang sama. Bayi prematur, berat lahir rendah, atau yang memiliki asupan tertentu mungkin memerlukan suplementasi. Berikan hanya berdasarkan penilaian dan dosis dari tenaga kesehatan.
Q: Apakah vitamin C perlu diberikan bersamaan?
A: Vitamin C membantu penyerapan zat besi non-heme. Padukan makanan seperti tahu, tempe, kacang, atau sereal fortifikasi dengan tomat, brokoli, pepaya, jeruk yang disajikan aman, atau buah dan sayur kaya vitamin C lainnya.
Sumber zat besi yang baik untuk MPASI tidak terbatas pada satu bahan. Daging merah, ayam, ikan, telur, hati dalam porsi wajar, tahu, tempe, kacang, sayuran hijau, dan sereal fortifikasi dapat saling melengkapi. Prioritaskan makanan padat gizi, variasikan sumber hewani dan nabati, serta padukan zat besi non-heme dengan vitamin C agar penyerapannya lebih baik.
Yang terpenting, jangan menjadikan satu menu atau satu angka sebagai ukuran keberhasilan makan bayi. Pantau pertumbuhan, kemampuan makan, dan variasi asupan secara keseluruhan. Bila bayi memiliki faktor risiko atau tanda kekurangan zat besi, konsultasi lebih awal dapat membantu menentukan apakah perubahan menu, pemeriksaan, atau suplementasi diperlukan.
Referensi:
- World Health Organization. WHO Guideline for Complementary Feeding of Infants and Young Children 6-23 Months of Age. WHO; 2023.
- World Health Organization. Complementary Feeding. WHO; accessed 2026.
- Centers for Disease Control and Prevention. Iron: Infant and Toddler Nutrition. CDC; 2026.
- Centers for Disease Control and Prevention. When, What, and How to Introduce Solid Foods. CDC; 2026.
- Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pastikan Bayi Anda Cukup Zat Besi. IDAI; 2017.
- Ikatan Dokter Anak Indonesia. Anemia Kekurangan Zat Besi. IDAI; 2016.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Mengenal Anemia Defisiensi Besi. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan; 2025.
- World Health Organization. Multiple Micronutrient Powders for Point-of-Use Fortification of Foods Consumed by Children 6-23 Months of Age. WHO; 2023.





