8 November 2026
Anak Terkena Cacar Air? Hindari Kebiasaan Ini agar Tidak Memperparah Gejala
Ditulis oleh

Dhia Priyanka
Topik: obat cacar air anak, cara merawat cacar air, pantangan cacar air anak, cacar air anak, Tanda bahaya cacar air, Vaksin varisela anak
Cacar air anak biasanya dapat pulih dengan perawatan suportif, tetapi garukan, obat yang tidak tepat, dan paparan kepada kelompok rentan dapat memperbesar risiko komplikasi. CDC mencatat varisela sangat menular, dengan penularan sekunder pada 61–100% anggota rumah tangga yang rentan. Jangan menggaruk, memencet, atau memecahkan lepuhan cacar air, dan memberikan aspirin. Hindari ibuprofen kecuali dokter yang menyarankan. Selengkapnya, simak artikel berikut!
Apa Itu Cacar Air?
Cacar air atau varisela adalah infeksi akibat virus varicella-zoster. Gejala cacar air dapat berupa demam, lemas, nafsu makan menurun, dan ruam gatal yang berubah menjadi lepuhan berisi cairan lalu mengering menjadi kerak.
Seseorang dapat menularkan virus sejak sekitar 1–2 hari sebelum ruam muncul hingga seluruh lepuhan mengering dan berkerak. Pada anak yang sudah divaksin dan mengalami ruam tanpa lepuhan, masa menular dinilai sampai tidak ada lesi baru selama 24 jam. Karena ruam lain dapat tampak mirip, hubungi dokter jika diagnosis belum pernah dipastikan.
8 Kebiasaan yang Dapat Memperparah Cacar Air Anak
Saat si Kecil terkena cacar air, ada beberapa kebiasaan sehari-hari yang tanpa disadari bisa memperparah gejala dan menghambat proses penyembuhannya, lho, MomDad! Karena itu, penting untuk mengetahui hal-hal yang sebaiknya dihindari agar si Kecil tetap nyaman dan terhindar dari risiko komplikasi.
1. Membiarkan anak menggaruk atau memecahkan lepuhan
Menggaruk dapat melukai kulit, meningkatkan risiko infeksi bakteri, dan meninggalkan bekas. Memencet lepuhan juga dapat menyebarkan cairan yang mengandung virus ke tangan dan benda di sekitar.
Yang sebaiknya dilakukan: potong kuku anak, jaga tangan tetap bersih, gunakan sarung tangan lembut saat tidur bila perlu, dan alihkan perhatian ketika gatal. Jika lepuhan tidak sengaja pecah, cuci tangan dan bersihkan area dengan lembut.
2. Mandi air terlalu panas atau menggosok kulit
Air panas, pakaian ketat, dan gesekan handuk dapat memperberat rasa gatal. Tidak perlu melarang anak mandi, tetapi hindari menggosok ruam dengan spons atau handuk.
Yang sebaiknya dilakukan: gunakan air sejuk atau suam-suam kuku, sabun lembut bila diperlukan, lalu tepuk kulit hingga kering. Pilih pakaian longgar dan berbahan lembut.
3. Memberikan aspirin kepada anak
CDC menegaskan aspirin pada anak dengan cacar air berkaitan dengan sindrom Reye, kondisi berat yang dapat merusak hati dan otak serta berakibat fatal.
Yang sebaiknya dilakukan: jangan berikan aspirin atau obat mengandung salisilat. Untuk demam atau nyeri, tanyakan pilihan dan dosis parasetamol kepada dokter berdasarkan berat badan anak.
4. Memberikan ibuprofen tanpa arahan dokter
CDC dan NHS menyarankan menghindari ibuprofen pada cacar air bila tidak direkomendasikan dokter karena obat ini dikaitkan dengan infeksi kulit bakteri yang berat pada sebagian kasus.
Yang sebaiknya dilakukan: jangan mengganti atau menggabungkan obat sendiri. Bila demam tidak nyaman, konsultasikan parasetamol dan dosis yang tepat.
5. Memberikan antibiotik atau antivirus sendiri
Cacar air disebabkan oleh virus sehingga antibiotik tidak mengobati infeksi utamanya. Antibiotik hanya diperlukan bila dokter mendiagnosis infeksi bakteri. Antivirus juga tidak rutin dibutuhkan oleh semua anak dan bekerja paling baik bila diberikan lebih awal pada pasien yang memang berisiko.
Yang sebaiknya dilakukan: hubungi dokter terutama bila anak berusia kurang dari 1 tahun, lebih dari 12 tahun, memiliki penyakit kulit atau paru kronis, sedang memakai steroid, atau memiliki daya tahan tubuh lemah.
6. Mengirim anak ke sekolah sebelum tidak menular
Anak yang masih memiliki lepuhan basah dapat menularkan virus kepada teman dan guru. Menutup ruam dengan pakaian tidak otomatis menghilangkan risiko penularan melalui udara atau sekret pernapasan.
Yang sebaiknya dilakukan: anak tetap di rumah sampai seluruh lesi mengering dan berkerak—biasanya sekitar 5–7 hari setelah ruam muncul. Konfirmasikan aturan kembali ke sekolah atau daycare kepada dokter dan institusi.
7. Membiarkan kontak dengan kelompok berisiko tinggi
Cacar air dapat lebih berbahaya bagi bayi baru lahir, ibu hamil yang belum memiliki kekebalan, remaja dan orang dewasa, serta orang dengan sistem imun lemah. Jangan mengajak anak mengunjungi atau berbagi ruangan dekat dengan kelompok tersebut.
Yang sebaiknya dilakukan: beri tahu orang yang mungkin terpapar. Mereka perlu segera menghubungi dokter, terutama bila sedang hamil atau mengalami gangguan imunitas, karena pencegahan setelah paparan mungkin memiliki batas waktu.
8. Mengabaikan dehidrasi dan tanda bahaya
Luka di mulut, demam, atau rasa tidak nyaman dapat membuat anak enggan minum. Menunggu terlalu lama saat anak sulit minum atau kondisi memburuk dapat meningkatkan risiko komplikasi.
Yang sebaiknya dilakukan: tawarkan cairan sedikit tetapi sering, makanan lembut yang tidak asam atau asin, dan pantau frekuensi buang air kecil. Segera periksa bila muncul red flag.
Gejala Ringan vs Tanda Bahaya Cacar Air
Kapan Anak Harus Dibawa ke Dokter?
Hubungi dokter sesegera mungkin bila:
• anak berusia di bawah 1 tahun atau lebih dari 12 tahun;
• memiliki gangguan imunitas, penyakit kulit atau paru kronis, atau menggunakan steroid jangka panjang;
• demam berlangsung lebih dari empat hari atau mencapai sekitar 38,9°C ke atas;
• anak sulit minum, buang air kecil berkurang, mulut kering, atau tidak mengeluarkan air mata;
• ruam mengenai mata atau tampak terinfeksi;
• gejala memburuk setelah sempat membaik.
Segera ke IGD bila anak sulit bernapas, kebiruan, sangat sulit dibangunkan, kebingungan, leher kaku, sulit berjalan, kejang, muntah berulang, batuk berat, nyeri perut berat, atau ruam disertai perdarahan.
Cegah Risiko Cacar Air dengan Vaksin Varisela
Vaksin varisela membantu melindungi si Kecil dari cacar air sekaligus mengurangi risiko gejala berat dan komplikasi. Namun, perlu diingat bahwa vaksin ini bukan untuk mengobati cacar air yang sedang dialami anak, ya! Jika si Kecil sedang sakit, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter untuk menentukan waktu vaksinasi yang tepat.
Kabar baiknya, MomDad bisa mendapatkan promo Vaksin Varisela melalui PrimaKu dengan harga Rp790.000 di klinik partner PrimaKu. Melalui PrimaKu, MomDad juga bisa mencari lokasi klinik, mengecek pilihan vaksin dan harga, hingga melakukan booking sesuai jadwal yang tersedia.
Sebelum booking, pastikan MomDad sudah mengecek jenis vaksin, kesesuaian usia dan dosis, serta rincian biaya yang perlu dibayarkan. Jangan lupa perhatikan juga syarat dan ketentuan promo, termasuk periode, kuota, dan klinik yang berpartisipasi. Jika si Kecil memiliki kondisi medis tertentu, terutama gangguan sistem kekebalan tubuh, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter karena vaksin varisela termasuk vaksin hidup.
Yuk, cek promo Vaksin Varisela di PrimaKu dan jadwalkan vaksinasi si Kecil dengan klik banner di atas.
FAQ seputar Cacar Air pada Anak
Q: Apakah anak yang terkena cacar air boleh mandi?
A: Boleh. Gunakan air sejuk atau suam-suam kuku, lalu keringkan dengan menepuk kulit secara lembut. Hindari air terlalu panas dan menggosok ruam.
Q: Apakah lepuhan cacar air boleh dipecahkan?
A: Tidak. Biarkan lepuhan mengering dengan sendirinya. Memecahkan lepuhan dapat merusak kulit, menyebarkan cairan, dan meningkatkan risiko infeksi.
Q: Obat demam apa yang boleh diberikan?
A: Parasetamol dapat digunakan bila sesuai untuk anak dan diberikan berdasarkan berat badan serta arahan tenaga kesehatan. Jangan berikan aspirin. Hindari ibuprofen kecuali dokter menyarankan.
Q: Berapa lama anak harus tidak masuk sekolah?
A: Anak umumnya perlu tinggal di rumah sampai semua lepuhan mengering dan berkerak, biasanya sekitar 5–7 hari sejak ruam muncul. Jika tidak ada lepuhan, dokter dapat menilai berdasarkan munculnya lesi baru.
Q: Apakah cacar air selalu ringan?
A: Sebagian besar anak sehat pulih tanpa komplikasi berat, tetapi infeksi bakteri pada kulit, dehidrasi, pneumonia, atau gangguan saraf dapat terjadi. Risiko lebih tinggi pada bayi, remaja, orang dewasa, ibu hamil, dan orang dengan gangguan imun.
Q: Apakah anak yang pernah cacar air masih perlu vaksin varisela?
A: Riwayat penyakit perlu dipastikan bersama dokter. Jangan memutuskan berdasarkan dugaan ruam lama saja. Dokter akan menilai bukti kekebalan, usia, kondisi medis, dan riwayat vaksin.
Q: Apakah vaksin varisela dapat diberikan saat anak sedang cacar air?
A: Vaksin tidak digunakan untuk mengobati infeksi aktif. Konsultasikan kapan vaksin dapat diberikan setelah anak pulih, terutama bila diagnosis belum pasti atau jadwal dosis belum lengkap.
Cacar air memang sering sembuh sendiri pada anak sehat, tetapi kebiasaan seperti menggaruk, memecahkan lepuhan, memberikan aspirin atau ibuprofen tanpa arahan, serta membawa anak keluar saat masih menular dapat memperbesar risiko. Jaga kulit tetap bersih dan sejuk, pastikan anak cukup minum, lindungi kelompok rentan, dan segera cari pertolongan bila muncul tanda bahaya.
Referensi:
1. Centers for Disease Control and Prevention. How to Treat Chickenpox. CDC; 2024.
2. Centers for Disease Control and Prevention. Clinical Overview of Chickenpox. CDC; 2024.
3. Centers for Disease Control and Prevention. Manual for the Surveillance of Vaccine-Preventable Diseases: Chapter 17—Varicella. CDC; 2024.
4. National Health Service. Chickenpox. NHS; 2025.
5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Mengenal Cacar Air. Kemenkes RI; 2022.
6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Cacar Air: Gejala, Pencegahan, dan Pengobatan. Kemenkes RI; 2023.
7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Manfaat Imunisasi Varisela untuk Kesehatan Anak. Kemenkes RI; 2025.
8. American Academy of Pediatrics. Varicella-Zoster Virus Infections. Red Book: 2024–2027 Report of the Committee on Infectious Diseases. AAP; 2024.
9. World Health Organization. Varicella and Herpes Zoster Vaccines: WHO Position Paper. Weekly Epidemiological Record; 2014;89(25):265–288.
10. PrimaKu. Vaksin Anak—Varisela: Pilihan Klinik dan Harga. PrimaKu; diakses 5 November 2026.



