24 Oktober 2026
Cacar Air pada Bayi, Gejala dan Hal yang Perlu Dipantau
Ditulis oleh

Dhia Priyanka
Topik: Cacar air pada bayi, Gejala cacar air bayi, Varisela pada bayi, Tanda bahaya cacar air, Perawatan cacar air di rumah, Vaksin varisela anak
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Susanti Himawan, Sp. A.
Cacar air pada bayi disebabkan oleh virus varicella-zoster dan biasanya menimbulkan demam serta ruam gatal yang berkembang menjadi lenting berisi cairan. CDC menyebut penyakit ini umumnya berlangsung sekitar 4–7 hari, tetapi bayi termasuk kelompok yang lebih berisiko mengalami komplikasi dibandingkan anak sehat yang lebih besar. Segera cari pertolongan bila bayi sulit bernapas, sangat lemas atau sulit dibangunkan, kejang, tidak mau minum, buang air kecil berkurang, muntah berulang, demam tinggi, atau ruam menjadi sangat merah, panas, nyeri, dan bernanah. Jangan memberikan aspirin; CDC dan AAP juga menyarankan menghindari ibuprofen bila memungkinkan pada cacar air.
Yuk, pelajari mengenali pola ruam, memantau cairan dan kondisi umum bayi, merawat kulit dengan aman, mencegah penularan, serta mengetahui tanda bahaya yang membutuhkan pertolongan medis.
Apa Itu Cacar Air pada Bayi?
Cacar air atau varisela adalah infeksi sangat menular akibat virus varicella-zoster. Penyakit dapat menular melalui udara atau percikan saluran napas serta kontak langsung dengan cairan lenting. Seseorang dapat menularkan virus sejak 1–2 hari sebelum ruam muncul hingga seluruh lesi mengering dan berkerak.
Masa inkubasi biasanya sekitar 10–21 hari setelah paparan. Pada anak, ruam dapat menjadi tanda pertama. Lesi sering bermula di dada, punggung, atau wajah, lalu menyebar; beberapa tahap ruam dapat terlihat bersamaan—bercak merah, bintil, lenting berisi cairan, dan kerak.
Gejala Cacar Air pada Bayi yang Perlu Dikenali
Cacar air pada bayi dapat menimbulkan gejala yang berbeda-beda, mulai dari demam, bayi lebih rewel, hingga munculnya ruam kemerahan yang berkembang menjadi lenting berisi cairan. Pada sebagian bayi, gejala awalnya mungkin sulit dikenali karena menyerupai penyakit infeksi lainnya. Oleh karena itu, penting bagi MomDad untuk mengenali tanda-tanda cacar air sejak dini agar si Kecil dapat segera mendapatkan penanganan yang tepat. Berikut beberapa gejala yang perlu diperhatikan:
- Demam, rewel, atau tampak lebih lelah.
- Nafsu menyusu atau makan menurun.
- Ruam merah yang berubah menjadi lenting berisi cairan dan terasa gatal.
- Lesi dalam berbagai tahap pada saat yang sama.
- Ruam dapat muncul di kulit kepala, wajah, badan, anggota gerak, mulut, kelopak mata, atau area genital.
- Setelah beberapa hari, lenting pecah atau mengering lalu membentuk kerak.
Tidak semua ruam berair adalah cacar air. Impetigo, penyakit tangan-kaki-mulut, herpes, reaksi alergi, gigitan serangga, dan kondisi lain dapat terlihat mirip. Hindari membawa bayi langsung ke ruang tunggu tanpa pemberitahuan; telepon fasilitas kesehatan terlebih dahulu agar risiko penularan dapat dikelola.
Apa yang Perlu Dipantau Orang Tua?
Saat bayi mengalami cacar air, MomDad perlu memantau kondisi si Kecil secara berkala untuk memastikan gejalanya tidak memburuk. Selain memperhatikan perubahan ruam dan demam, penting juga untuk memantau asupan ASI atau susu, jumlah popok basah, serta aktivitas bayi sehari-hari. Pemantauan ini membantu orang tua mengenali tanda dehidrasi atau komplikasi yang membutuhkan penanganan medis. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan selama bayi mengalami cacar air:
1. Suhu dan Kondisi Umum
Ukur suhu dengan termometer dan catat hasilnya. Pantau apakah bayi masih responsif, dapat ditenangkan, bernapas normal, serta tampak lebih nyaman setelah istirahat. Demam yang berlangsung lebih dari empat hari, melebihi sekitar 38,9°C, atau kembali setelah sempat membaik perlu dibicarakan dengan dokter; pada bayi kecil, ambang untuk evaluasi dapat lebih rendah.
2. Asupan Cairan dan Buang Air Kecil
Tawarkan ASI lebih sering. Bila bayi menggunakan susu formula, lanjutkan sesuai arahan dan kebiasaan. Pantau jumlah popok basah, air mata, kelembapan mulut, mata cekung, serta kemampuan minum. Lesi di mulut dapat membuat menelan terasa nyeri dan meningkatkan risiko dehidrasi.
3. Perkembangan Ruam
Catat kapan ruam mulai, bagian tubuh pertama yang terkena, jumlah atau penyebaran lesi, dan kapan lenting mulai mengering. Foto harian dengan pencahayaan serupa dapat membantu dokter menilai perubahan, tetapi jangan membagikan foto area pribadi tanpa perlindungan privasi.
4. Tanda Infeksi Bakteri pada Kulit
Garukan dapat merusak kulit dan memudahkan infeksi bakteri. Waspadai kemerahan yang melebar, kulit terasa panas, bengkak, semakin nyeri, keluar nanah, berbau, atau timbul garis merah dari lesi. Komplikasi kulit dan jaringan lunak merupakan salah satu komplikasi cacar air yang penting pada anak.
5. Napas, Kesadaran, dan Gerakan
Pantau napas cepat atau sulit, tarikan dinding dada, kebiruan, batuk berat, bayi sulit dibangunkan, tampak bingung, leher kaku, kejang, gerakan tidak seimbang, atau kelemahan. Gejala ini memerlukan evaluasi segera karena dapat menandakan komplikasi pada paru, otak, atau sistem tubuh lainnya.
Pemantauan Cacar Air pada Bayi
Pertolongan di Rumah untuk Membuat Bayi Nyaman
Selain mendapatkan penanganan yang sesuai, bayi yang mengalami cacar air juga membutuhkan perawatan di rumah untuk membantu meredakan rasa gatal dan ketidaknyamanan. MomDad dapat melakukan beberapa langkah sederhana agar si Kecil lebih nyaman selama masa pemulihan. Namun, perawatan di rumah tetap perlu disesuaikan dengan usia dan kondisi bayi serta arahan dokter. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:
1. Jaga Kebutuhan Cairan
ASI tetap menjadi sumber cairan utama bagi bayi yang menyusu. Tawarkan lebih sering dalam porsi yang dapat diterima. Jangan memberikan air putih atau minuman lain kepada bayi kecil tanpa arahan tenaga kesehatan.
2. Kurangi Gatal dan Cegah Garukan
Potong kuku bayi pendek dan halus, jaga tangan tetap bersih, serta pilih pakaian lembut dan longgar. Mandi air sejuk atau suam-suam kuku dapat membantu kenyamanan. Tanyakan dokter sebelum menggunakan losion calamine, obat antihistamin, krim, minyak, bedak, atau ramuan pada kulit bayi.
3. Rawat Kulit dengan Lembut
Jangan memecahkan lenting. Bersihkan kulit secara lembut dan keringkan dengan menepuk, bukan menggosok. Jika lenting pecah, cuci tangan sebelum dan sesudah merawat area tersebut. Gunakan handuk serta pakaian terpisah dan ganti bila lembap atau kotor.
4. Gunakan Obat Hanya dengan Arahan
Jangan memberikan aspirin kepada anak dengan cacar air karena berkaitan dengan sindrom Reye, penyakit serius yang menyerang hati dan otak. CDC menyebut parasetamol dapat digunakan untuk membantu demam atau nyeri, tetapi dosis bayi harus berdasarkan berat badan dan arahan dokter. AAP menyarankan menghindari ibuprofen bila memungkinkan karena dikaitkan dengan infeksi kulit bakteri yang berat pada cacar air.
Jangan memberikan antibiotik atau antivirus sendiri. Antibiotik tidak mengobati virus, sedangkan antivirus hanya diberikan pada situasi tertentu dan paling efektif bila dimulai dini. Dokter akan menilai usia, waktu timbulnya ruam, tingkat keparahan, serta faktor risiko.
Tanda Bahaya: Kapan Harus Segera ke Dokter atau IGD?
Cacar air pada bayi umumnya dapat sembuh, tetapi pada beberapa kasus, infeksi ini bisa menyebabkan komplikasi serius yang membutuhkan penanganan medis segera. Mengingat sistem kekebalan tubuh bayi masih berkembang, MomDad perlu lebih waspada terhadap perubahan kondisi si Kecil. Berikut beberapa tanda bahaya yang perlu dikenali agar bayi segera mendapatkan pertolongan yang tepat:
- Bayi baru lahir atau berusia sangat muda terpapar atau mengalami ruam yang dicurigai cacar air.
- Kesulitan bernapas, napas cepat, tarikan dinding dada, batuk berat, atau bibir kebiruan.
- Sangat lemas, sulit dibangunkan, kejang, leher kaku, kebingungan, atau gerakan tidak seimbang.
- Tidak mau menyusu atau minum, muntah berulang, popok basah sangat berkurang, atau tanda dehidrasi lain.
- Demam berlangsung lebih dari empat hari, meningkat di atas sekitar 38,9°C, atau kembali setelah mereda.
- Ruam sangat merah, panas, bengkak, nyeri, keluar nanah, atau berbau.
- Ruam mengenai mata, disertai nyeri mata, bayi terus menyipit, atau tampak mengganggu penglihatan.
- Lesi berdarah, memar tidak biasa, nyeri perut berat, atau kondisi memburuk cepat.
- Bayi memiliki gangguan imun, kanker, HIV, memakai steroid/imunosupresan, atau penyakit kronis berat.
Untuk bayi di bawah 3 bulan, demam 38°C atau lebih memerlukan evaluasi medis segera, terlepas dari dugaan penyebabnya. Jangan menunggu semua ruam muncul.
Paparan Cacar Air pada Bayi Baru Lahir
Bayi baru lahir memiliki situasi khusus. Jika ibu mengalami ruam cacar air dari lima hari sebelum hingga dua hari setelah melahirkan, bayi berisiko mengalami varisela neonatal yang berat dan perlu dinilai segera. Bayi prematur tertentu yang terpapar juga dapat berisiko tinggi. Tenaga kesehatan akan menentukan kebutuhan imunoglobulin varicella-zoster dan penanganan lain; jangan mencoba menanganinya sendiri di rumah.
Cara Mencegah Penularan Cacar Air di Rumah
Cacar air sangat mudah menular, terutama melalui kontak langsung dengan cairan lenting dan partikel infeksius di udara. Jika salah satu anggota keluarga terinfeksi, risiko penularan kepada bayi atau anggota keluarga lainnya perlu diwaspadai. Oleh karena itu, MomDad perlu menerapkan langkah pencegahan yang tepat di rumah untuk mengurangi risiko penyebaran virus. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:
- Pisahkan bayi dari orang yang rentan, terutama ibu hamil tanpa kekebalan, bayi baru lahir, dan individu dengan daya tahan tubuh lemah.
- Tetap di rumah sampai seluruh lesi mengering dan berkerak.
- Cuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah menyentuh bayi atau merawat ruam.
- Jangan berbagi handuk, pakaian, alat makan, atau perlengkapan pribadi.
- Tutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin serta bersihkan permukaan yang sering disentuh.
- Hubungi fasilitas kesehatan sebelum berkunjung agar petugas dapat mengatur pencegahan penularan.
Apakah Bayi Bisa Mendapat Vaksin Varisela?
Vaksin varisela tidak digunakan untuk mengobati cacar air yang sedang berlangsung. Menurut jadwal imunisasi anak IDAI 2024 dan informasi Kemenkes RI, vaksin varisela mulai direkomendasikan pada usia 12–18 bulan. Anak yang belum mencapai usia tersebut dan terpapar perlu dinilai dokter, terutama bila masih bayi baru lahir, prematur, atau memiliki gangguan imun.
Vaksin varisela merupakan vaksin hidup yang dilemahkan. Kehamilan dan kondisi gangguan imun tertentu dapat menjadi kontraindikasi atau memerlukan pertimbangan khusus. Riwayat penyakit, vaksin, obat, alergi, dan rencana kehamilan harus disampaikan kepada dokter sebelum vaksinasi.
Promo Vaksin Varisela di PrimaKu
Booking Vaksin Varisela Rp790.000 di PrimaKu
Lindungi si Kecil dari cacar air melalui vaksinasi sesuai usia dan rekomendasi dokter. Vaksin Varisela tersedia seharga Rp790.000 di PrimaKu, dari harga normal Rp900.000, hemat Rp110.000 selama periode promo.
Harga, periode, kuota, stok, fasilitas peserta, produk vaksin, dan komponen biaya dapat berubah. Periksa halaman promo atau klik banner di atas, serta ringkasan pembayaran di PrimaKu sebelum booking. Promo tidak berlaku sebagai anjuran vaksinasi bagi bayi yang sedang sakit atau belum mencapai usia pemberian.
FAQ Cacar Air pada Bayi
Q: Berapa Lama Cacar Air pada Bayi Berlangsung?
A: Penyakit umumnya berlangsung sekitar 4–7 hari, dan biasanya memerlukan sekitar satu minggu sampai semua lenting menjadi kerak. Durasi dapat berbeda, terutama pada bayi atau anak dengan komplikasi.
Q: Bolehkah Bayi Dimandikan Saat Cacar Air?
A: Boleh dengan air sejuk atau suam-suam kuku bila bayi nyaman. Keringkan dengan menepuk lembut dan hindari menggosok atau memecahkan lenting.
Q: Apakah Bedak Boleh Digunakan pada Ruam Cacar Air?
A: Jangan menggunakan bedak, krim, minyak, atau ramuan tanpa arahan dokter. Produk dapat mengiritasi kulit, terhirup bayi, atau menyulitkan pemantauan infeksi.
Q: Apakah Cacar Air Bisa Menular Sebelum Ruam Muncul?
A: Ya. Penularan dapat dimulai sekitar 1–2 hari sebelum ruam dan berlanjut sampai seluruh lesi mengering serta berkerak.
Q: Bolehkah Memberikan Ibuprofen?
A: Sebaiknya hindari bila memungkinkan dan konsultasikan dengan dokter. CDC merujuk rekomendasi AAP untuk menghindari ibuprofen pada cacar air karena kaitannya dengan infeksi kulit bakteri berat.
Q: Apakah Vaksin Varisela Menjamin Anak Tidak Terkena Cacar Air?
A: Tidak ada vaksin yang memberi perlindungan 100%. Namun, bila infeksi terjadi setelah vaksinasi, penyakit umumnya lebih ringan, dengan lebih sedikit lesi dan demam yang lebih ringan atau tidak ada.
Cacar air pada bayi membutuhkan perhatian pada kondisi menyeluruh: suhu, napas, kesadaran, kemampuan minum, popok basah, serta perubahan kulit. Rawat ruam dengan lembut, cegah garukan dan penularan, serta hindari aspirin dan penggunaan obat tanpa arahan. Sebab, bayi termasuk kelompok berisiko, hubungi dokter sejak awal dan segera cari pertolongan bila muncul tanda bahaya.
Referensi:
1. Centers for Disease Control and Prevention. Chickenpox Symptoms and Complications. CDC; 2024.
2. Centers for Disease Control and Prevention. How to Treat Chickenpox. CDC; 2024.
3. Centers for Disease Control and Prevention. Clinical Guidance for People at Risk for Severe Varicella. CDC; 2024.
4. World Health Organization. WHO Position Paper on Varicella Vaccines-November 2025. Weekly Epidemiological Record; 2025.
5. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jadwal Imunisasi Anak Usia 0–18 Tahun Rekomendasi IDAI Tahun 2024. IDAI; 2024.
6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Manfaat Imunisasi Ganda, Terbukti Aman, Efektif, dan Efisien. Ayo Sehat Kemenkes RI; 2024.
7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Mengenal Cacar Air. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan; 2022.
8. American Academy of Pediatrics. Chickenpox Symptom Checker. HealthyChildren.org; 2026.







